> > KETIKA membaca koran sambil makan pagi di Bangkok Jumat minggu lalu,
saya
> > terkesima melihat foto mobil mewah Ferrari sedang ditonton para peminat
> > pada sebuah pameran di Indonesia. Judul keterangan gambarnya: Life goes
on
> > in Indonesia ... for the rich.
> >
> > Saya kehilangan selera makan. Rasanya, semua orang di coffee shop itu
> > sedang melihat ke arah saya. Bubur ayam masih tersisa setengah di
mangkuk.
> > Saya lipat surat kabar itu, meninggalkan sekadar uang tips di meja, dan
> > pergi.
> >
> > Masih pada hari yang sama, ketika pesawat yang membawa pulang ke Jakarta
> > singgah di Singapura, berita yang sama terpampang pula di koran The
> > Straits Times.
> >
> > Penasaran, setiba di rumah, saya buka Internet. Ternyata, kantor berita
> > Reuters telah sehari sebelumnya menampilkan berita itu di bawah rubrik
> > Oddly Enough. Reuters jarang memakai tanda tanya pada judul. Tetapi,
> > khusus untuk berita ini, Reuters memakai tidak kurang dari empat tanda
> > tanya. A Ferrari Showroom in Impoverished Indonesia???? Wah! Hebat 'kali
> > bangsaku ini!
> >
> > Sebuah pertanyaan sinis dikemukakan Reuters kepada seorang peminat mobil
> > mewah itu di ruang pamer. Di mana Anda akan mencoba kehebatan laju mobil
> > cepat ini di tengah lalu lintas Jakarta yang padat dan kondisi jalan
raya
> > yang tidak kondusif? Si peminat menjawab dengan enteng, "Dibiarin di
> > garasi aja sudah bisa kita nikmati, kok."
> >
> > Tega amat sih orang itu berkomentar sedemikian? Hidup lagi...
> >
> > ***
> >
> > PERISTIWA-peristiwa dan komentar-komentar dungu semacam itulah
sebenarnya
> > yang membuat kondisi kita tidak semakin baik- secara internal maupun
> > eksternal. Warga bangsa kita yang menjadi semakin kesrakat tentu tambah
> > sakit hati melihat selapis tipis warga bangsanya ternyata masih
> > berkemampuan membeli benda-benda yang bahkan tidak akan mampu mereka
beli
> > dengan bekerja keras tanpa berbelanja apa-apa selama 200 tahun.
> >
> > Di kalangan warga bangsa tetangga, kita pun jadi bermuka buruk. Berita
di
> > The Bangkok Post itu pastilah dicibir oleh eksekutif Thailand yang
karena
> > krisis terpaksa harus berjaja roti isi di stasiun bus, dan melelang
habis
> > seluruh asetnya untuk membayar utang. Di Indonesia, "demonstrasi"
> > kesungguhan para pengutang membayar utangnya belum kelihatan. Para
pelaku
> > bisnis yang menjadi isu utama media massa karena tunggakan utangnya -
atau
> > karena penggelapan pajak -masih punya dua puluh mobil di garasinya.
> >
> > Pada halaman depan The Straits Times edisi hari yang sama dimuat sebuah
> > berita yang menunjukkan betapa bedanya sikap orang kaya Singapura
> > dibanding orang kaya Indonesia. Berita itu adalah tentang seorang pelaku
> > bisnis Singapura yang merogoh setengah juta dollar Singapura dari kocek
> > pribadinya untuk menambahi pesangon bagi karyawan yang terpaksa
dirumahkan
> > karena penurunan volume usaha. Pengusaha itu tampil sederhana-tanpa jas
> > dan dasi- serta dengan air muka yang tulus menyatakan maaf bahwa
tindakan
> > pengurangan karyawan itu tidak terelakkan. Di Indonesia, kita belum
pernah
> > mendengar ihwal serupa terjadi. Agaknya, karitas dan filantropi belum
> > menjadi bagian penting dalam kehidupan kita.
> >
> > Episode mobil mewah ternyata berlanjut -dan tidak sekadar terbatas pada
> > Ferrari dan Maserati. Pemerintah minggu lalu mengumumkan akan membeli
400
> > mobil mewah guna menyambut kehadiran tamu-tamu terhormat yang akan ikut
> > serta dalam KTT G-15 di Jakarta bulan Mei mendatang. Masyarakat bereaksi
> > keras terhadap rencana Pemerintah. Tetapi, Pemerintah tetap bergeming.
> > Kalaupun 400 dianggap terlalu banyak, paling tidak akan tetap dibeli 50
> > mobil bagi para tamu agung.
> >
> > ***
> >
> > KALAU sudah begitu, media massa cenderung dipersalahkan. Kenapa sih
media
> > massa reseh dan nyinyir amat? Kita boleh saja mengatakan citra bangsa
kita
> > ini dibikin buruk media massa, khususnya media asing. Tetapi, sebelum
> > berita itu di-blow up media asing, siapa sebetulnya yang punya ulah?
> > Bukankah ulah kita jua yang membuat media massa berpesta?
> >
> > Saya teringat sebuah kejadian dua setengah tahun lalu di Frankfurt.
Ketika
> > itu saya diundang bicara di depan sekitar 200 pengusaha Jerman. Ketika
> > jeda minum kopi, saya dengar kebanyakan peserta dengan prihatin
> > membicarakan berita CNN semalam sebelumnya yang menggambarkan seorang
bayi
> > penderita kwashiorkor (penyakit karena kurang nutrisi) di Indonesia.
> >
> > Ketika tiba giliran saya bicara, saya bertanya kepada hadirin, "Apakah
> > berita CNN semalam membuat Anda berpikir bahwa sebagian besar bayi
> > Indonesia menghadapi nasib malang seperti itu?" Semua hadirin terdiam.
> > "Setiap hari saya melihat puluhan pengemis di perempatan-perempatan
> > Jakarta. Sebagian besar membawa bayi untuk mengungkit rasa iba. Tetapi,
> > bahkan di antara para pengemis itu pun saya tidak pernah melihat
penderita
> > kwashiorkor."
> >
> > Ketika itu saya tidak membantah di Indonesia tidak ada penderita
> > kwashiorkor. Saya ungkapkan Indonesia memang sedang didera krisis yang
> > berat. Tetapi, jangan membantu Indonesia hanya dengan memberi bantuan
> > kemanusiaan. Kalau mau bantu Indonesia sambil berlena-lena, datanglah
> > berwisata ke Indonesia agar hotel, taksi, dan sarana umum pariwisata
> > lainnya bisa berdenyut hidup. Kalau mau bantu Indonesia sambil melakukan
> > bisnis, pesanlah jutaan pasang sepatu atau meja-kursi kayu agar
> > pabrik-pabrik bisa buka lagi dan mempekerjakan puluhan ribu karyawan.
> >
> > Sialnya, kini kita tampil lagi di mata dunia dengan Ferrari, Maserati,
dan
> > potensi mempunyai 50-400 mobil mewah KTT. Padahal, belum tentu tiap
sejuta
> > warga bangsa ini diwakili seorang pemilik Ferrari. Dalam soal citra
> > bangsa, sepuluh penderita kwashiorkor sama perannya dengan sepuluh
pemilik
> > Ferrari.
> >
> > Mengomentari situasi runyam ini, Pradjoto, seorang teman saya, berkata,
> > "Inilah, malangnya, Indonesia kita. Rasionalitas dimatikan, sementara
> > irasionalitas dihidupkan."
> >
> > Selama irasionalitas menjadi the order of the day, jangan kaget bila
> > rasionalitas Anda harus menghadapi hal-ihwal aneh -untuk tidak
menyebutnya
> > irasional -dalam hari-hari mendatang. *
RantauNet http://www.rantaunet.com
=================================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
ATAU Kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
- mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda]
- berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda]
Ket: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
=================================================
WebPage RantauNet dan Mailing List RantauNet adalah
servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
=================================================