SIAPA YANG MAMPU MENOLAK IDE ANDA

Jangan anggap anda tertolak atau dicampakkan hanya karena orang lain
mengatakan "tidak" pada usul anda. Jangan anggap apa yang ada dalam benak
anda harus dapat diiyakan oleh orang lain. Bila anda merasa berhak memiliki
pendapat sendiri, maka orang lain juga bebas mempunyai pemikirannya sendiri.
Bukalah kesempatan lebar-lebar dengan tidak menutup kesempatan bagi orang
lain.

Saat usul anda tidak disepakati, sebenarnya terbuka pilihan lain bagi anda.
Bila anda mengiranya sebagai penolakan, anda menjauhkan diri dari
kemungkinan yang lebih luas. Penolakan takkan kuasa menahan bertambahnya
bobot suatu ide. Namun, bila anda bersempit-sempit pikiran, ide itu gugur
begitu saja, tanpa sempat berusaha menegakkan kepala. Perbedaan bukan hanya
melahirkan keindahan, melainkan juga kekuatan dan manfaat. Hanya mereka yang
tak mengerti yang menganggapnya sebagai bencana.

****************************************************************************

****************************************************************************
Soul's Bread:
YANG MANAKAH ANDA?
Unknown

Seorang anak mengeluh pada ayahnya tentang hidupnya yang sulit. Ia tidak
tahu lagi harus berbuat apa dan ingin menyerah saja. Ia lelah berjuang.
Setiap saat satu persoalan terpecahkan, persoalan yang lain muncul.

Ayahnya, seorang juru masak, tersenyum dan membawa anak perempuannya ke
dapur. Ia lalu mengambil tiga buah panci, mengisinya masing-masing dengan
air dan meletakkannya pada kompor yang menyala. Beberapa saat kemudian air
dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama, ia memasukkan wortel.
Lalu, pada panci kedua ia memasukkan telur. Dan, pada panci ketiga ia
memasukkan beberapa biji kopi tumbuk. Ia membiarkan masing-masing mendidih.
Selama itu ia terdiam seribu basa.

Sang anak menggereget gigi, tak sabar menunggu dan heran dengan apa yang
dilakukan oleh ayahnya. Dua puluh menit kemudian, sang ayah mematikan api.
Lalu menyiduk wortel dari dalam panci dan meletakkanya pada sebuah piring.
Kemudian ia mengambil telur dan meletakkanya pada piring yang sama. Terakhir
ia menyaring kopi yang diletakkan pada piring itu juga. Ia lalu menoleh pada
anaknya dan bertanya, "Apa yang kau lihat, nak?"

"Wortel, telur, dan kopi, " jawab sang anak.

Ia membimbing anaknya mendekat dan memintanya untuk memegang wortel. Anak
itu melakukan apa yang diminta dan mengatakan bahwa wortel itu terasa lunak.
Kemudian sang ayah meminta anaknya memecah telur. Setelah telur itu dipecah
dan dikupas, sang anak mengatakan bahwa telur rebus itu kini terasa keras.
Kemudian sang ayah meminta anak itu mencicipi kopi. Sang anak tersenyum saat
mencicipi aroma kopi yang sedap itu. "Apa maksud semua ini, ayah?" tanya
sang anak.

Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda tadi telah mengalami hal yang sama,
yaitu direbus dalam air mendidih, tetapi selepas perebusan itu mereka
berubah menjadi sesuatu yang berbeda-beda. Wortel yang semula kuat dan
keras, setelah direbus dalam air mendidih, berubah menjadi lunak dan lemah.
Sedangkan telur, sebaliknya, yang semula mudah pecah, kini setelah direbus
menjadi keras dan kokoh. Sedangkan biji kopi tumbuh berubah menjadi sangat
unik. Biji kopi, setelah direbus, malah mengubah air yang merebusnya itu.

"Maka, yang manakah dirimu?" tanya sang ayah pada anaknya. "Di saat
kesulitan menghadang langkahmu, perubahan apa yang terjadi pada dirimu?
Apakah kau menjadi sebatang wortel, sebutir telur atau biji kopi?"


****************************************************************************
Stopper:

Dalam rangkaian persitiwa di dalam hidup saya, tak satu pun yang kebetulan.
Setiap hal terjadi sesuai dengan kebutuhan batin kita. (Hannah Senesh)

Jiwa harus selalu terbuka, siap menyambut pengalaman yang mengesankan.
(Emily Dickinson)

Bila kita menjadi diri kita sendiri, bila kita hidup secara sederhana, maka
hidup yang indah akan kita nikmati. (Alexandra Stoddard)

****************************************************************************

Kirim email ke