Mungkin Pandatang dari tanah Jawa ndak....sarupo kasus di pekanbaru...yang basumber dari Berpolitik.com
 



Gugatan Pendukung Gus Dur, Jadikan Riau Seperti Sampit
Berita Selasa, 24 April 2001, @14:43 WIB

Pekanbaru -- Rencana para pendukung Presiden Wahid untuk menggugat tiga tokoh Riau dikhawatirkan bakal menimbulkan masalah serius. Kalau gugatan itu diteruskan dikhawatirkan bakal menimbulkan konflik antaretnis seperti yang terjadi di Sampit, Kalteng.

Hal itu diungkapkan Panglima Laskar Hulubalang Melayu Riau, Asman Yunus kepada wartawan, Selasa (24/4) siang. Diingatkannya, selama ini masyarakat Riau begitu toleran dengan tidak mempersoalkan penduduk pendatang. Namun, kondisi yang seperti ini hendaknya jangan diutak-atik lagi.

"Kalau para pendukung Gus Dur ngotot menggugat tiga tokoh Riau itu, kemungkinan besar konflik antaretnis bisa meletus. Masyarakat Melayu (Riau) sendiri tidak menginginkan terjadinya pengusiran kaum pendatang. Tapi jika kaum pendatang pro Gus Dur yang memulai, kami tentu tak akan tinggal diam," ancamnya.

Ketiga tokoh Riau yang digugat para pendukung Gus Dur itu, yakni seniman Idrus Tintin, pengacara Kapitra Ampera SH, serta mantan anggota DPRD Pekanbaru Abu Samah Amin. Ketiganya dituding telah melecehkan Gus Dur dengan tindakan menurunkan dan menginjak-nginjak foto Presiden sewaktu terjadinya aksi unjukrasa mahasiswa yang menginginkan mantan Ketua Umum PB NU itu mundur.

Kepada Berpolitik.Com, Kapitra menjelaskan, aksi yang dilakukan Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau (FKPMR), Maret lalu hanya semata-mata gerakan politik. Penurunan foto-foto Gus Dur adalah simbol dari keinginan masyarakat Riau supaya yang bersangkutan turun dari kursi Kepresidenannya.

"Kalau Forum Peduli Pembela Marwah Presiden (FPPMP) mau menggugat, sebaiknya mereka minta surat kuasa dulu ke Gus Dur. Kalau belum punya, mereka tidak punya hak untuk itu," tukasnya.

Namun pendapat Kapitra ini dibantah tegas kuasa hukum FPPMP. Selaku penggugat, terang Idham, FPPMP berhak menggugat ketiga tokoh tadi karena masalah tersebut menyangkut marwah seorang presiden bukan atas nama Gus Dur yang orang NU dan deklarator PKB.

”Yang menggugat bukan orang NU, PKB atau Anshor, tapi forum yang mengatasnamakan peduli pembela marwah presiden yang kebetulan didirikan oleh orang-orang NU, PKB dan Anshor,” tandasnya.

Idham mengatakan, tuntutan pelecehan Kepala Negara ini layak diajukan. Sesuai Pasal 134 KUHP, pelecehan dan penghinaan terhadap presiden bisa dituntut enam tahun penjara. *** (wnn)

-----Original Message-----
From: Muhammad Afdal <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tuesday, April 24, 2001 10:41 PM
Subject: Re: [RantauNet] Ilmu - Ilmu Pasukan Berani Mati (mati sasek jo cilako )

itu sabana batua kecek angku boes ko mah...
baraso kiyai2 tu salamoko indak mancogok mungkin sadang batapa di gunung kidul.....
namun baitu ambo juo jadi heran barapo hari nan lalu ambo mambaco barita di harian mimbar minang baraso kini ado pulo pasukan berani mati pandukuang gusdur dari sumbar nan siap pulo membela gusdur.
kalau iko bana ado ambo sangaik sadieh mandanganyo, aleh jaleh nagari awak alah tagadai ka pamerintah pusek kini masih ado pulo urang awak nan amuah manjadi panjilek gusdur, iko sabana rumik etongannyo jadinyo. tapi kalau urang nan dari jawa tingga di sumbar sato pulo mambela gusdur itu mungkin sajo...
tapi itu kanyataannyo aleh jaleh pamimpin buto, nan anak buah mambela bosnyo jo hati buto pulo dan alah bagalemak sajo sado ee..

wassalam
afdal

 

Kirim email ke