Assalamu �alaikum,
Beberapa komentar dari Pak Azizar dan ni Evi saya kira perlu kita renungkan, dan sepertinya kita harus terlebih dahulu membuang ego, like and dislike, serta mengkotak2an masalah dan lebih proporsional dalam menilai.
Dari sisi seorang Muslim, saya mungkin termasuk kelompok orang yang juga kecewa dengan Presiden kito. Baru pertama kali seorang kiay bisa menjadi presiden di Indonesia tapi banyak sekali hal nan indak beres dan �minor� seperti korupsi dll yang masih terjadi, sebagai seorang muslim ambo rasonyo ingin berbuat sesuatu tapi apo dayo kito sbg rakyat kecil. Ironisnya partai (berbau) Islam lainnya cenderung malah labiah suko bacakak, menyingkirkan, bahkan menghujat dari pado memperbaiki, yang mana sebagian menurut hemat ambo seharusnyo bisa dikompromikan dalam persaudaraan muslim. Sadiah kito mancaliak kelompok Islam nan selalu bacakak dari awal kemerdekaan, saliang tubo, gampang dipecah belah, di priok kanai bantai, indak pernah bisa tagak, baru ka membaik posisi kini alah bakalincau pulo.
Untuk kasus-kasus �dugaan� terhadap Presiden, kalau kita memang mau adil kenapa tidak dipengadilankan saja??? Kalau ternyata terbukti salah walau presiden seharusnya dimata hukum kan sama, parantian sudah tu indak baa, yg perlu diadakan adalah pengadilan yang jujur, amanah, dsb spt komentar pak Arisman. Kalau pengadilan yang jujur, hukum yang adil tidak ada dan tidak dapat dijalankan, law enforcement tidakkan ada, pemerintahan juga kacau, sehingga masalah kembali ke wakil kito di DPR/MPR untuk memperbaiki aturan main/tap/konstitusi dll sebagai wakil kito atau lbh tepatnya utusan partai yg kita pilih dalam PENGAMBIL KEPUTUSAN YANG BERKEWENANGAN di DPR/MPR. Pokoknyo dari sisi sebagai warga negara, kito pasti setuju bila hukum ditegakkan, dan sebagai rakyat biasa yang tidak ada kepentingan �kekuasaan dan pengaruh partai�, kita bisa lihat fenomena kemana focus panggung politik ini, apakah sudah betul2 untuk kepentingan rakyat banyak? Jang Berkaitan dengan keinginan seorang Arbi Sanit guna mendapatkan kondisi yang berimbang di tingkat elit politik, semoga semoga perubahan2 ini menuju kearah yang lebih baik, presiden+kabinet yang lebih baik dan yang lebih penting lagi wakil rakyat yang lebih baik (karena dengan sistem perwakilan sulit sekali unt melakukan kontrol). Wassalam, Rudy Gunawan Syarfi (30th) Azizar Aras [EMAIL PROTECTED] wrote: Komentar : *Sangat positif bila kita manyimak komentar dengan kepala dingin dan dada lapang serta *Bijaksana bila kita mau menilai, tidak bias kepada apapun terhadap suatu masalah yang di bicarakan *Sikap mengurangi "Jumping to congclusion " menghindari kita berbuat "mengkondisikan" sehingga kita membantu terjadinya kesan "Fact" lebih memberikan nuansa "Gairah" dalam hidup ini guna melangkah lebih pasti di masa mendatang. Coba kita lihat apa yang disampaikan oleh Arbi Sanit : * Dia tidak mengatakan Abdurrahman Wahid tetapi "Presiden" siapa saja * Dia menjelaskan bahwa Politik dijalankan atas kehendak MPR ( anggotanya )bukan kehendak rakyat, kita cukup maklum untuk ini, setiap sikap anggota bias terhadap keinginan partainya bukan keinginan Rakyat yang seyogyanya keputusan di ambil dari "sinergy" partai partai yang membawa mereka ke gedung MPR sehingga suara rakyat terwakili. Kuncinya begitu mereka menjadi anggota MPR mereka harus segera membuka baju partainya dan menjadi anggota MPR yang mewakili Rakyat.Keputusan di ambil atas kepentingan Rakyat Indonesia dari Sabang sampai Maraoke. * Dia mengatakan bahwa anggota DPR juga berasal dari anggota MPR, sangat sulita bagi setiap orang hari ini sebagai si "A" besoknya sebagai "B" yang harus mengambil sikap yang tidak mungkin harus berbeda sehingga Demokrasi berjalan utuh. keputusan ditingkat DPR tidak jauh beda dari keputusan di MPR karena orang orangnya itu ke itu juga , sangat logis untuk dimengrti dan masuk akal jika anggota DPR dan MPR adalah orang yang berbeda sehingga keputusan di tingkat DPR bisa di cernakan lagi di tingkat MPR dengan pandangan yang lebih luas lagi yang pada akhirnya keputusan betul betul masak. * Beliau juga mengkhawatirkan siapa Komunikator bangsa ini yang sanggup membawa bangsa ini kearah sejahtera sehingga siapa saja menjadi Presiden benar benar menjalankan Negara ini atas kepentingan Bangsa itu sendiri ( pandangan saya Politik silahkan tegang namun kegiatan Ekonomi jalan terus shingga Rakyat tidak tersiksa ) * Dia juga mendambakan kekuasaan yang jelas antara Eksekutif, Legislatif, Yudikatif , ini sangat bisa di mengerti jika memang anggota DPR dan MPR berbeda guna mendapatkan kontrol timbal balik sebelum melakukan tindakan * Dia juga mengharapkan di masing masing sektor tersebut ada hak veto di tingkat legislatif, hak Impeachmernt di tingkat DPR dan Yudicial review di tingkat Yudikatif. Logis kan. Nah kita harus berdoa terhadap keinginan seorang Arbi Sanit ini guna mendapatkan kondisi yang berimbang di tingkat tingkat tersebut, Semoga. Amiiiiiiin Wassalam Azizar Aras "Evi" [EMAIL PROTECTED] wrote : ......>> Rudy, saya juga sependapat dengan Anda atau dengan Arbi Sanit bahwa penempatan orang-orang yang akan mengatas namakan kita, rakyat Indonesia, haruslah orang-orang yang cukup repsentatif dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan individual kita sebagai rakyat suatu bangsa. Kalau tidak bisa; ya bubarkan saja. Sebab apa? Sebab yang mereka wakili adalah rakyat dari suatu bangsa yang sangat majemuk;baik dalam agamanya, geografisnya, asosiasi-2nya, pendapatannya, pendidikannya atau secara keseluruhan adalah sangat majemuk dalam struktur sosialnya. Cuma kita punya masalah, Rudy, siapakah orang-orang yang mewakili kita; rakyat Indonesia ini? Di MPR kita yang terhormat ini, yang setiap kali sidang menghabiskan duit milyaran rupiah itu, yang anggotanya kalau bicara di muka kamera TV Political reprentation jelas dari partai-partai politik dan tujuan partai politik cuma dua yakni ingin merebut atau mempertahankan kekuasaan agar bisa mempengaruhi kebijakan umum. Sementara kalau kita menukik lebih kebawah, tentu dalam perspektif yang lebih luas, yang mereka sebut dengan kebijakan umum itu (kita juga ikut-ikutan)adalah suatu peraturan yang dibuat oleh kelompok minoritas, yang dimanipulasi secara demikian rupa, dengan tujuan akhir sejelas bahwa besok matahari pasti muncul kembali: mempertahankan status quo. Sebenarnya sebagai suatu lembaga, sistem ketatanegaraan kita sudah bagus dengan memberi peluang kepada rakyat yang tidak terwakili dalam partai politik untuk ikutan menjadi wakil di MPR yaitu dengan memberi kursi kepada kelompok profesi (minus ABRI tentu saja :)) yang kita sebut functional represention itu. Tapi apa daya, selama ini peranan mereka tidak lebih dari elitis dan aristikratis ketimbang populis, yang mana tak punya kesesuaian sama sekali dengan harapan perwakilan yang sesungguhnya.So? So, kalau perwakilan-perwakilan yang kita tunjuk itu hanya tenggelam dalam scisme-2 (maksudnya kepentingan) mereka saja, mestinya memang ada yang salah dalam sistem bentuk pemerintahan kita karena tak semua negara yang menggunakan sistem perwakilan ini korup seperti negara Indonesia.Saya kok cenderung melihat bahwa bukan sistemnya yang salah melainkan lebih kepada manusia yang berfungsi sebagai salah satu subsistem yang mewakili negara (negara kan hanya kata benda abstrak). Memang sudah kodratnya bahwa perjuangan manusia itu selalu berupa hirarki yang mengedepankan kepentingan individualnya, kemudian kepentingan kelompoknya, bangsanya dan terakhir mungkin baru kemanusiaannya. Tapi ini bukan berarti bahwa kepentingan individual kita harus berbeda tajam dengan kepentingan , kelompok, atau kepentingan masyarakat luas karena masyarakat itu sendiri merupakan sistem. Seperti hal wassalam, Evi Rudy Gunawan Syarfi wrote: Yth. Pak Arisman, Sasuai kito sabananyo tu Pak, memang diperlukan orang2 nan jujur dan disinan itu bana masalahnyo, kalau kito adoan razia urang buruak laku/indak jujur pasti panuah tansi dek politisi kito nan kanai tangkok, namonyo juo politisi. Menengenai profesionalisme mukasuik ambo disiko sarupo jo pandangan dulu dalam konteks yg lain di rantaunet, baraso kalau ahli hukum yang professional pasti akan berpikir secara adi, adil, dan adil itu sajo akan lebih sempurna dengan criteria nan Bapak sabuikkan� masalahnyo pada saat ahli hukum itu berpolitik inyo cenderung indak lai professional. Law enforcement keceknyo, tiok sabanta baceramah di TV, nan hukumnyo sendiri indak dipeloki, hukum nan ka ditagakan masih bisa ditarik kian kamari, konstitusi nan alah basi masih dipakai, kan mangicuah rakyat namonyo lai tu. Tapi mengenai orang �baik dan benar� nan Uda mukasuikan, ambo iyo setuju bana, dek karano system awak dg perwakilan mako seharusnyo setiap partai bertanggung jawab untuak mancarian urang nan seperti itu. Yth. Pak Rijal, Pakaro kritis memang alah banyak perkembangan DPR ambo juo sesuai, mengenai wakil rakyat spt nan ambo sampaikan awak iyo pakai perwakilan dan kalau ditanyo ciek2 pandapek kito nan mamiliah partai nan samo ternayto banyak nan babeda jadinyo. Kalau kito fokuskan berarti permasalahan system nan masih kurang bagus, kaitannyo dengan topik kito adolah DPR/MPR itu sendiri nan manantuan hitam putiah system ma nan ka dipakai. Untuak ambo masalah2 ko balain kotaknyo jo Gusdur dan kekurangannyo tu; iko panyakik mato, pikun atau parkinson mungkin hahaha dan DPR/MPR ko panyakik hepatitis. Nan namonyo panyakik iyo harus capek diubeki, bisa mati pulo beko rakyat kalau DPR/MPR indak dibenahi. Sakian sajo dulu pak, kalau ado nan salah ambo mohon maaf. Wassalam, Rudy 30th >From: Arisman Adnan >Reply-To: [EMAIL PROTECTED] >To: [EMAIL PROTECTED] >Subject: Re: Comment 1,Re: [RantauNet] Kaba dari Berpolitik.com >Date: Wed, 25 Apr 2001 11:34:13 +0100 (GMT) > >On Wed, 25 Apr 2001, Rudy Gunawan Syarfi wrote: > > Menurut hemat saya negara ini hancur karena kebanyakan kita terutama > > politisi dan penguasa bekerja asal2an, tidak menguasai disiplin ilmu > > utama, tidak professional, egois, munafik; mementingkan golongan dengan > > mengatas namakan rakyat, dan yang paling parah lagi adalah KESALAHAN CARA > > BERPIKIR: DARI LUAR KE DALAM. > >Sanak Rudi, >Bagi saya profesionalisme 'tidak terlalu' penting dibandingkan dgn sifat >amanah dan jujurnya seorang pemimpin. Iko nampaknyo nan ndak banyak tasuo >di nagari awak. Repotnyo, baa caro melakukan assesment thdp sifat2 bantuak >iko? Kalaupun alah ado alat ukurnyo nan mungkin dibuek dek para psikolog, >tapi kalau digunokan pulo oleh urang nan indak amanah dan jujur .... >mako kaji tu ka babaliak ka pangka. > >Baa gak ati? > >Wallahu'alam, >Gindo,--- >(ampia kapalo 4)
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com.
RantauNet http://www.rantaunet.com ================================================= Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ATAU Kirimkan email Ke / To: [EMAIL PROTECTED] Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama: - mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda] - berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda] Ket: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung ================================================= WebPage RantauNet dan Mailing List RantauNet adalah servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA =================================================

