>Selasa, 15 Mei 2001 Penampilan seni tradisi Minangkabau berupa randai di University of Hawaii, Manoa, Amerika Serikat, selain mendapat sambutan luar biasa, juga sangat digandrungi mahasiswa. Bahkan, kelompok mahasiswa yang memainkan kesenian randai dalam bahasa Inggris itu berencana tampil di sejumlah tempat di Indonesia. Hal itu dikemukakan ahli seni tradisi Minangkabau yang juga seorang guru randai, Musra Dahrizal, kepada Kompas di Padang, Senin (14/5). "Di luar dugaan, penampilan kesenian randai yang dimainkan oleh kelompok mahasiswa University of Hawaii mendapat sambutan luar biasa. Bahkan, para dosen di sana menilai, sejak 30 tahun terakhir itulah pementasan mahasiswa yang dinilai terbaik," katanya. Musra Dahrizal yang menjadi dosen tamu sejak 17 Agustus 2000 sampai Februari 2001 di University of Hawaii menjelaskan, kesenian tradisi Minangkabau pada program perkuliahan musim panas tahun 2000 menjadi pilihan untuk kegiatan ekstrakurikuler perguruan tinggi tersebut. Kesenian Minangkabau, seperti randai, selain dinilai unik, juga kaya dengan etika dan estetika adat, serta filosofi hidup. Saking terkesan dan tertariknya sivitas akademika di sana, tahun 2002 kesenian Minangkabau ditawari lagi untuk diajarkan dalam kegiatan ekstrakurikuler program musim panas dan kemudian dipentaskan. Pada program tahun lalu, lanjut Musra, ia telah mengajarkan seni bela diri silat, musik tradisi, sastra tutur Minangkabau, dialog dan akting randai; tapuak galembong dan galombang duduak. "Hanya dalam empat bulan, dengan disiplin yang tinggi, mahasiswa berhasil menguasai apa yang diajarkan dan mampu mementaskan kesenian randai dengan cerita umbuik mudo dengan dialog bahasa Inggris di Gedung Kennedy Centre," paparnya. Ia menjelaskan, sebelum kesenian tradisi itu diajarkan di University of Hawaii, salah seorang dosen si universitas itu, Kirsten Panka, melakukan observasi selama tiga bulan di Sumatera Barat. Hasilnya, dosen tersebut terkagum-kagum karena keunikan randai yang kompleks, kaya dengan etika dan estetika adat, serta filosofi hidup sesuai budaya Minangkabau. Menurut Musra, randai digandrungi oleh orang Amerika karena di sana lagi trendi teater arena. Di Minangkabau, keberadaan randai sebagai teater arena sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Sampai sekarang kesenian randai masih hidup subur dan menjadi permainan anak nagari. Sedikitnya ada 400 kelompok randai yang tampil paling kurang masing-masing dua kali sebulan. "Jadi, kebudayaan pop di Ranah Minangkabau tidak membuat kebudayaan tradisi menjadi mati. Yang terjadi justru sebaliknya, kebudayaan tradisi semakin berkembang," kata Musra Dahrizal. (nal) http://www.kompas.com/kompas-cetak/0105/15/DIKBUD/kese09.htm |

