Assalaamu'alaikum WW.,

Kemunduran itu juga terwakili dari cara Prof. Mursal menyampaikan
pendapatnya. Banyak forum intelektual telah digelar untuk memperdebatkan
Kembali Ke Nagari, Surau dan Maksiat. Seharusnya Prof. itu terlibat
didalam forum tersebut. Tidak langsung menyampaikan ketidak setujuannya
melalui koran yang terkesan mencari populeritas murahan. Ini suatu
kemunduran.

Sistim Nagari esensinya adalah pemerintahan dari rakyat, untuk rakyat
dan oleh rakyat. Cara ini sudah baku di negara maju seperti AS sejak
ratusan tahun. Justru sistim desa yang diterapkan pemerintahan Soeharto,
yang kembali ke feodalistik. Apakah ini kemajuan Prof.?

Surau adalah mengajarkan kemandirian, sekaligus iman. Ini juga menjadi
ciri negara maju. Di AS dari usia remaja sudah diajarkan mandiri.
Bagaimanapun kayanya orangtua, namun sianak berusaha mencari uang saku
sendiri. Mulai dari jadi loper koran atau kerja sambilan direstoran.
Semboyan Amerika "In God We Trust", pencerminan mereka sangat peduli
dengan keimanan. Memang meraka tidak mengenal surau, tapi esensinya
sama.

Setelah tinggal 10 tahun di AS, saya merasakan kemiripan sistim
bermasyarakat dengan di Minangkabau pada era sistim Nagari yang
egalitarian. Saya bangga itu dan mengimpikan cara itu hidup lagi.

Tadinya saya bangga dengan Prof. Mursal yang tanpa banyak
bicara menghidupkan budaya Minang dengan mengelola STSI di
Padang Panjang. Saya bangga dengan para cendekiawan yang
tanpa banyak bicara dan cari populeritas murahan, telah berbuat
banyak untuk masyarakat. Contohnya seperti doktor dari Unand itu,
yang mengembang biakkan ikan Bilih. Dan banyak lagi.

Salam dari negara yang mempraktekkan pemerintahan nagari,

dutamardin umar

ps. Kalau mungkin tanggapan2 untuk Prof. Mursal ini diteruskan
oleh administrator kesumber berita awal (Antara/Republika)



"hendra hendra" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
saya kira kedua pihak , pak Prof Mursal maupun pihak yang di kritiknya ada
benarnya, namun coba lah kita melihat dengan perspektif pandangan yang
terbuka.

menurut saya ide kembali ke nagari , kembali ke surau atau pun Perda maksiat
didasari oleh niat yang bagus , namun memang dalam implementasi nya haruslah
dengan cara yang cantik pulalah. 

Jadi yg diambil adalah esensi dasar dari ide ide tersebut, yang kemudian dalam
implementasinya diolah dengan strategi yang tepat untuk masa saat ini dan masa
yang akan datang. 

menurut saya harusnya pak Mursal Esten , memberikan kiat kiat mengenai
strategi implementasi dari ide ide tersebut yg tepat untuk saat ini, dan bukan
nya langsung menghantam begitu saja.

pak Mursal sebagai orang pintar harus nya memahami bahwa mungkin pihak pemda
ataupun pihak lain yg akan menerapkan rencana tersebut, bisa jadi kurang
bijaksana dalam menjalankan idenya ( maaf mungkin pak Mursal menganggap mereka
kurang pintar mungkin ? ) harusnya pak Mursal memberikan arahannya.

menurut saya kalau kita mau, bisa saja batang terendam ini dibangkit kembali,
namun dengan kiat yang cantik bukan asal asalan saja.

Buktinya bangsa Yahudi dan China bisa membangkitkan kembali kejayaan mereka
dalam bidang ekonomi dan budaya.

sekian sumbang pikiran dari saya

malin sinaro
 
--

On Wed, 04 Jul 2001 01:45:30  
 Z Chaniago wrote:
>http://www.republika.co.id/Online_detail.asp?id=34632&kat_id=23
>
>Cendiakiawan Minang Mundur
>Laporan: ANTARA
>
>Padang-Rol-- Budayawan Prof. Mursal Esten menilai bahwa saat ini para 
>cendekiawan Minang telah mengalami kemunduran dalam cara dan pola berfikir, 
>apalagi bila dikaitkan dengan kecenderungan mereka yang suka bernostalgia 
>dengan kejayaan masa lalu.
>
>"Saya menilai cendekiawan Minang kini begerak mundur melihat kecenderungan 
>mereka yang selalu berupaya keras untuk kembali ke masa lalu," katanya 
>kepada pers di Padang, Selasa.
>
>Ia mencontohkan keinginan daerah itu untuk kembali ke sistem Pemerintahan 
>Nagari, yang menurut Esten dinilai tidak relevan diterapkan pada masa 
>sekarang ini.
>
>"Saya tidak mengerti maksud mereka (cendekiawan, red) dengan Kembali Ke 
>Nagari itu. Kembali ke Nagari yang mana? Apa kembali ke jaman feodal dan 
>otoriter dulu," tanyanya.
>
>Ia menekankan bahwa rencana Kembali ke Nagari sama saja dengan tidak 
>memahami perubahan yang sedang dan akan terus terjadi, dimana masyarakat 
>setiap saat terus berkembang sesuai perubahan jaman.
>
>Ia juga menilai gerakan sedemikian rupa tidak akan menghasilkan apa-apa bagi

>daerah itu. "Apa bisa kembali ke Nagari dan mengembalikan segala sesuatunya,

>sementara jaman telah berubah secara drastis," tambahnya.
>
>Esten juga menilai gerakan Kembali Ke Surau yang sedang digalakkan Pemda 
>Sumbar bersama sejumlah elemen masyarakat sebagai suatu kemunduran yang 
>tidak perlu terjadi, mengingat budaya surau yang tidak lagi relevan dalam 
>kondisi yang berubah pesat seperti dewasa ini.
>
>"Kenapa hanya karena tidak tahan dengan tekanan serta berbagai kondisi yang 
>tidak menguntungkan saat ini kita harus kembali ke masa lalu. Kenapa kita 
>tidak hadapi saja masa depan dengan segala tantangannya dengan perjuangan 
>secara terbuka," katanya.
>
>Ia mengajak segenap lapisan masyarakat dan pemerintah di daerah itu agar 
>merelakan sebuah kejayaan masa lampu serta membiarkannya hidup dalam 
>kenangan manis, sementara yang harus dilakukan sekarang
>ini adalah memandang masa depan secara rasional.
>
>Perda maksiat
>Pada kesempatan itu, Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padang 
>Panjang itu juga menyoroti rencana DPRD Sumbar menelurkan peraturan daerah 
>(Perda) tentang maksiat, yang juga dinilainya sebagai sebuah kemunduran.
>
>"Rencana pembuatan Perda itu tidak realisitis, karena semua aturan yang 
>sudah ada telah memuat segala sesuatu berkaitan dengan maksiat ini, 
>sementara kita tinggal menjalankannya secara konsekuen dan tanpa pandang 
>bulu," ujarnya.
>
>Menurut dia, maraknya aksi perbuatan maksiat di Sumbar
>lebih dikarenakan ketidakmampuan unsur-unsur dalam keluarga, terutama para 
>orang tua dan para ninik mamak, dalam mengatur dan membina keluarganya.
>
>"Jadi, untuk apa Perda itu sebenarnya. Kalau diperuntukkan bagi aparat 
>penegak hukum, saya rasa apa yang ada sudah lebih dari cukup dan mereka 
>tidak butuh Perda lagi, karena semua sudah diatur. Karenannya saya menilai 
>rencana itu masih perlu dikaji
>lagi," katanya
>_________________________________________________________________
>Get your FREE download of MSN Explorer at http://explorer.msn.com
>
>
>RantauNet http://www.rantaunet.com
>
>Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
>===============================================
>Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
>http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
>
>ATAU Kirimkan email
>Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
>Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
>-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
>-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
>Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
>===============================================
>


Get 250 color business cards for FREE!
http://businesscards.lycos.com/vp/fastpath/

RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================


RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
==============================================Mendaftar atau berhenti menerima 
RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
==============================================

Kirim email ke