http://www.republika.co.id/Online_detail.asp?id=34632&kat_id=23

Cendiakiawan Minang Mundur
Laporan: ANTARA

Padang-Rol-- Budayawan Prof. Mursal Esten menilai bahwa saat ini para 
cendekiawan Minang telah mengalami kemunduran dalam cara dan pola berfikir, 
apalagi bila dikaitkan dengan kecenderungan mereka yang suka bernostalgia 
dengan kejayaan masa lalu.

"Saya menilai cendekiawan Minang kini begerak mundur melihat kecenderungan 
mereka yang selalu berupaya keras untuk kembali ke masa lalu," katanya 
kepada pers di Padang, Selasa.

Ia mencontohkan keinginan daerah itu untuk kembali ke sistem Pemerintahan 
Nagari, yang menurut Esten dinilai tidak relevan diterapkan pada masa 
sekarang ini.

"Saya tidak mengerti maksud mereka (cendekiawan, red) dengan Kembali Ke 
Nagari itu. Kembali ke Nagari yang mana? Apa kembali ke jaman feodal dan 
otoriter dulu," tanyanya.

Ia menekankan bahwa rencana Kembali ke Nagari sama saja dengan tidak 
memahami perubahan yang sedang dan akan terus terjadi, dimana masyarakat 
setiap saat terus berkembang sesuai perubahan jaman.

Ia juga menilai gerakan sedemikian rupa tidak akan menghasilkan apa-apa bagi 
daerah itu. "Apa bisa kembali ke Nagari dan mengembalikan segala sesuatunya, 
sementara jaman telah berubah secara drastis," tambahnya.

Esten juga menilai gerakan Kembali Ke Surau yang sedang digalakkan Pemda 
Sumbar bersama sejumlah elemen masyarakat sebagai suatu kemunduran yang 
tidak perlu terjadi, mengingat budaya surau yang tidak lagi relevan dalam 
kondisi yang berubah pesat seperti dewasa ini.

"Kenapa hanya karena tidak tahan dengan tekanan serta berbagai kondisi yang 
tidak menguntungkan saat ini kita harus kembali ke masa lalu. Kenapa kita 
tidak hadapi saja masa depan dengan segala tantangannya dengan perjuangan 
secara terbuka," katanya.

Ia mengajak segenap lapisan masyarakat dan pemerintah di daerah itu agar 
merelakan sebuah kejayaan masa lampu serta membiarkannya hidup dalam 
kenangan manis, sementara yang harus dilakukan sekarang
ini adalah memandang masa depan secara rasional.

Perda maksiat
Pada kesempatan itu, Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padang 
Panjang itu juga menyoroti rencana DPRD Sumbar menelurkan peraturan daerah 
(Perda) tentang maksiat, yang juga dinilainya sebagai sebuah kemunduran.

"Rencana pembuatan Perda itu tidak realisitis, karena semua aturan yang 
sudah ada telah memuat segala sesuatu berkaitan dengan maksiat ini, 
sementara kita tinggal menjalankannya secara konsekuen dan tanpa pandang 
bulu," ujarnya.

Menurut dia, maraknya aksi perbuatan maksiat di Sumbar
lebih dikarenakan ketidakmampuan unsur-unsur dalam keluarga, terutama para 
orang tua dan para ninik mamak, dalam mengatur dan membina keluarganya.

"Jadi, untuk apa Perda itu sebenarnya. Kalau diperuntukkan bagi aparat 
penegak hukum, saya rasa apa yang ada sudah lebih dari cukup dan mereka 
tidak butuh Perda lagi, karena semua sudah diatur. Karenannya saya menilai 
rencana itu masih perlu dikaji
lagi," katanya
_________________________________________________________________
Get your FREE download of MSN Explorer at http://explorer.msn.com


RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke