"Khusus kepada saudara-saudaraku di Aceh, bersabarlah. Bila
     kelak Cut Nyak memimpin negeri ini, tak akan saya biarkan
     setetes pun darah rakyat menyentuh tanah rencong yang begitu
     besar jasanya dalam menjadikan Indonesia merdeka. Kepada
     kalian saya berikan cinta saya, saya akan berikan hasil
     Arun-mu ...." Cuplikan Pidato Megawati---yang diselingi isak
     tangis---di depan massa PDIP dalam Tahun 1999

Sejarah menyimak, bahwa Aceh adalah perjalanan panjang dari kisah heroik
kisah perjuangan melawan penjajah. Bahkan manakala komando dipegang oleh
seorang perempuan yang bernama Cut Nyak Din, tentara kolonialpun tetap
dibuat terpontal-pontal.

Kemudian sejarahpun mencatat bahwa Aceh, melalui tokoh sentral mereka
ulama yang sangat kharismatik dan fenomenal, Alm Tengku Daud Beureueh
adalah salah satu yang wilayah pertama yang menyambut Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia yang dibacakan oleh Soekarno-Hatta pada Tanggal 17
Agustus 1945, dan menyatakan bahwa Aceh merupakan bagian dari Republik
Indonesia.

Lalu dengan mobilisasi para ulama pula, Aceh berjuang bersama bangsa
melawan penjajah lama yang tidak rela melepaskan wilayah yang disebut
mutiara khatulistiwa ini dan menjadikan Aceh neraka bagi mereka.

Tidak itu saja, rakyat Aceh, terutama kaum perempuannya, menyisihkan
harta yang tidak seberapa untuk membeli sebuah pesawat terbang untuk
Republik yang diberi nama �Seuluwah� itu.

Tetapi entah kenapa---namun sejarah mencatat---Pemerintah Pusat
mengambil kebijakan, Aceh yang waktu itu merupakan provinsi tersendiri
dilebur dengan Provinsi Sumatera Utara. Tidak itu saja, jabatan Tengku
Daud Beureueh sebagai Gubernur Militer dicopot dan kemudian
dipermalukan: mobil dinasnya ditarik ke Medan dan digunakan oleh
petinggi provinsi gabungan itu.

Air susu dibalas dengan tuba. Aceh terhina dan Aceh membara.

Lalu sejarah mencatat, tiga orde berganti, Aceh merupakan peristiwa duka
tentang darah anak bangsa yang tumpah, nyawa anak bangsa yang melayang
percuma. Banyknya anak yang kehilangan bapak, isteri kehilangan suami
dan kaum perempuan dihina dan dinistakan.

Aceh kemudian reda sejenak. Lalu muncul Hasan Tiro menjual Aceh Merdeka.
Awalnya Aceh Merdeka adalah jualan yang tidak laku. Tidak kurang Sang
Tokoh Sentral: Tengku Daud Beureueh---yang ketika itu sudah kembali
kepangkuan RI---dan para pengikutnya menolak Aceh Merdeka. Tetapi
tindakan Rezim Suharto yang sangat berlebihan dan tidak jarang sangat
keji, menjadikan Gerakan Aceh Merdeka tumpuan harapan. Dan Aceh kembali
berdarah-darah.

Jelas masalah Aceh bukan Aceh vs. Indonesia. Darah Aceh adalalah darah
Indonesia. Luka Aceh adalah luka Indonesia, luka kemanusiaan.

Dengan berakhirnya Orde Baru yang sentralistik dan represif, kita pantas
berharap bahwa masalah Aceh bisa diatasi secara cepat tepat dan adil.

Tidak kurang Presiden ke IV yang �legitimate� dan terpilih secara
demokratis menjanjikan: �referendum tujuh bulan lagi!� menanggapi
kerasnya tuntutan referendum waktu itu.

Tetapi kita semua tahu, tidak ada referendum tujuh bulan kemudian dan di
Aceh berlanjut untaian peristiwa tumpahnya darah anak bangsa,
melayangnya nyawa anak bangsa, dengan sia-sia.

Dan kita pantas sedih dan kecewa kepada Menhan Profesor Doktor M.
Mahfud---yang
tadinya diharapkan bisa melihat permasalahan Aceh dengan cerdas,
humanis, historis dan komprehensif---ternyata tidak banyak berbeda
dengan para pendahulunya, para jenderal tua yang suka memberhalakan
negara---yang dengan enteng bersedia memberikan sesajen darah dan nyawa
manusia kepada sang berhala�

�Tidak ada referendum bagi Aceh!�, pekiknya tidak lama setelah ditunjuk
menjadi Menteri.

�Pemerintah akan melakukan apa saja untuk mempertahankan integritas
NKRI!�, sergah beliau dengan gagah bekali �kali.

Suatu statemen yang sia-sia dan percuma. Tidak diomonginpun orang tahu.

Kemudian Sang Professor lebih beken sebagai juru runding, dan lengser
bersama lengsernya Sang Presiden..

Lalu Megawati terpilih menjadi presiden. Dan orang ingat janjinya yang
saya kutip di atas. Adalah sangat bijaksana tatkala beliau menempatkan
penyelesaian masalah Aceh, di samping Irja---luka Indonesia yang
lain---di bawah beliau. Dan juga sangat bijaksana langkah SBY seperti
diceritakan oleh Indra Piliang. Semoga dengan segera---sekali
lagi---dengan segera, tidak lagi setetes pun darah rakyat menyentuh
tanah rencong yang begitu besar jasanya dalam menjadikan Indonesia
merdeka

Stop pertumpahan darah di Aceh !
Darah Aceh adalah Darah Indonesia.
Stop penistaan terhadap Indonesia di Aceh !
Penistaan terhadap Aceh adalah penistaan terhadap Indonesia
Stop penistaan terhadap kemanuasiaan di Aceh !
Penistaan terhadap Aceh adalah penistaan terhadap kemanusiaan

Salam Damai, Darwin



RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke