ass ww;

no, 
kebanyakan urang koto gadang adalah kolaborator
penjajah belanda;
seperti halnya orang-orang ambon (kristen) dan
minahasa;
jadi jangan dilupakan sisi kongkalingkong dengan
penjajah belanda ini,
apa pun tujuan kongkalingkong ini;

makanya juga orang-orang minahasa dulunya jauh lebih
maju dari etnis-etnis sekitarnya, termasuk gorontalo
islam yang dekat situ;
demikian juga ambon kristen dulu jauh lebih terdidik
dari pada ambon islam;
makanya orang-orang koto gadang jauh lebih terdidik
dari orang-orang minang lain, kecuali saya yang emang
paling pinter sedunia;

jadi kalau setiap saat orang-orang koto gadang
manggadangkan lubang hiduangnyo, jaan lupo kalau itu
berkat kongkalingkong denagn penjajah belanda;
bukan bararti saya meniadakaan usaha dan kerja keras
orang-orang koto gadang;
tapi kontribusi berkongkalingkong dengan penjajah itu
sangat besar.

wass.,
=urpas=

--- Muhammad Yani <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Untuk yang ini saya tertarik dengan statement sdr
> Urpas, apa kira-kira
> maksudnya. 
> Asumsi saya adanya  kristenisasi???
> 
> -----Original Message-----
> From: Urpas [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Saturday, October 27, 2001 8:47 AM
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: Re: [RantauNet] Koto Gadang, Tiap Rumah Ada
> Sarjana
> 
> 
> 
> ass ww;
> 
> koto gadang adalah ambon;
> koto gadang adalah minahasa;
> 
> wass.,
> =urpas=
> 
> 
> ----- Original Message -----
> From: Darwin Bahar
> To: [EMAIL PROTECTED] ;
> [EMAIL PROTECTED] ;
> [EMAIL PROTECTED]
> 
> 
> Republika, Sabtu, 27 Oktober 2001
> 
> Seratus tujuh belas tahun silam, Agus Salim
> terlahir. Meski telah
> teramat lama, di Sumatera Barat, anak-anak sekalipun
> tetap mengenal
> namanya. Betul juga kata orang bijak: harimau mati
> meninggalkan belang,
> manusia mati meninggalkan nama.
> 
> Nama besarnya nyaris tidak tertandingi oleh
> siapapun, kecuali oleh
> sejumlah orang di zamannya yang kemudian menjadi
> 'bapak bangsa' ini.
> Agus Salim adalah tipe orang Minang --yang dalam
> istilah Rosihan Anwar--
> gilo-gilo baso alias gendeng. Semua orang Minang
> yang pintar memang
> memiliki sikap demikian. Ia lahir di nagari Koto
> Gadang pada 8 Oktober
> 1884. Nagari ini senantiasa dibalut kabut. Anginnya
> semilir.
> 
> Jika Anda berada di Bukittinggi, masuklah ke Ngarai
> Sianok, menelusuri
> jalan beraspal yang menurun tajam. Naik mobil
> Chevrolet keluaran tahun
> 1944 atau berjalan kaki, maka Anda akan sampai di
> Koto Gadang. Bisa juga
> dari simpang empat Galudua, Koto Tuo, ruas jalan ke
> Maninjau, di kaki
> Gunung Singgalang. Dari Koto Tuo ini, jaraknya lebih
> pendek, sekitar dua
> kilometer saja.
> 
> Koto Gadang adalah satu dari 61 nagari di Kabupaten
> Agam atau 543 nagari
> di Minangkabau. Masuk ke dalam wilayah administrasi
> kecamatan IV Koto
> (baca: Ampek Koto), yaitu nagari: Koto Tuo, Koto
> Panjang, Sungai Landia,
> Balingka, Malalak, Lubuak Tabek Sarojo, Koto Gadang,
> III Koto,
> Garagahan, Sitanang, dan Manggopoh.
> 
> Di Koto Gadang, Anda akan disambut oleh ciri khas
> nagari Minangkabau:
> rumah berjejer sepanjang jalan, di belakang selapis
> atau dua lapis rumah
> akan ada sawah. Rumah-rumah di sini banyak yang
> kosong. Pemiliknya entah
> di mana kini. Mungkin di Jakarta, Sydney atau
> California, dan bisa juga
> di Surabaya.
> 
> Banyak rumah yang didiami oleh orang upahan. Sebuah
> keluarga digaji
> untuk mendiami rumah oleh keluarga Koto Gadang yang
> sedang berada di
> rantau. Hal semacam ini banyak ditemukan di
> nagari-nagari lain di
> Minangkabau, tapi di Koto Gadang jumlahnya teramat
> banyak.
> 
> Para gadis Koto Gadang yang menetap di kampung
> halaman, selain sekolah
> di kampung sendiri juga di Bukittinggi dan Padang.
> Yang di kampung,
> banyak yang melibatkan diri dalam kerajinan Amai
> Setia yang didirikan
> lebih seabad silam. Hasil kerajinan anak nagari Koto
> Gadang, terkenal
> luas. Tidak saja mengisi etalase pasar konveksi di
> Bukittinggi, tapi
> juga dipesan oleh banyak orang dari berbagai kota.
> 
> Ketika wanita di daerah lain masih 'tidur', di Koto
> Gadang sudah ada
> Kerajinan Amai Setia. Tatkala wanita di daerah lain
> dipasung di rumah,
> Rohana Kudus gadis desa itu, sudah menjadi pemimpin
> redaksi surat kabar
> Soenting Melajoe di Padang awal abad ini. Ia menjadi
> pioner perdebatan
> gender dan hak-hak wanita Minangkabau.
> 
> Nagari ini, kini, juga menjadi desa tujuan wisata.
> Para wisatawan asing
> akan menuju Ngarai Sianok dan seterusnya berjalan
> menuju Koto Gadang. Di
> sana mereka sepertinya memasuki bab demi bab buku
> tua milik kaum
> intelektual bangsa ini.
> 
> Koto Gadang sama terkenalnya dengan Agus Salim atau
> cucunya, Emil Salim.
> Nagari ini berhasil mengambil manfaat yang sempurna
> dari sistem
> pendidikan kolonial yang diterapkan Belanda di
> Minangkabau. Tidak ada
> orang Koto Gadang ketika itu yang tidak pandai
> berbahasa Belanda. Malah
> kini, orang seangkatan Emil Salim atau satu generasi
> di bawahnya,
> biasanya berbicara memakai bahasa Belanda dengan
> kedua orang tuanya.
> 
> Dapat dibayangkan di zaman awal-awal politik etis
> saja orang Koto Gadang
> sudah berbondong-bondong untuk sekolah, apalagi
> sekarang. Maka jangan
> heran dengan kenyataan seperti ini: tiap rumah di
> Koto Gadang pasti
> memiliki sarjana dari bidang ilmu apa saja.
> 
> Dari nagari ini muncul sejumlah menteri, jenderal,
> direktur berbagai
> perusahaan, pakar, ahli politik, dokter. Di mana
> pula di Indonesia tiap
> rumah memiliki sarjana? Dari segi prestasi, tidak
> ada desa di Indonesia,
> bahkan mungkin di dunia yang bisa menandingi Koto
> Gadang. Celakanya
> mereka semua berada di rantau. Koto Gadang mereka
> titipkan pada Gunung
> Singgalang dan Merapi. Mereka mencari hidup dan
> penghidupan di rantau
> orang. Biasanya saat Idul Fitri, Koto Gadang
> sangatlah ramainya. Semua
> perantau intelektual itu pulang kampung.
> 
> Tidak ada yang congkak, merasa hebat satu dari yang
> lainnya. Mereka
> patuh dan santun pada mamaknya yang tinggal di
> kampung. Mereka hormat
> kepada kepala desa, meski ia sendiri seorang
> jenderal. Segenap pangkat,
> atribut, mereka lepas. Maka jadilah mereka Orang
> Koto Gadang yang
> sesunguhnya.
> 
> Agus Salim, tidak meninggalkan apa-apa, kecuali
> spirit yang kuat bagi
> warga Koto Gadang dan rakyat Minangkabau. Orang
> Minang adalah orang
> paling bangga di negeri ini, karena telah
> menyumbangkan Agus Salim,
> Hatta, Yamin, Sjahrir, Natsir, As'ad, dan sejumlah
> nama lainnya bagi
> Indonesia.
> 
> Di Koto Gadang, Agus Salim membuka HIS partikulir
> setelah menamatkan
> pendidikannya pada akhir 20-an. Dia sekaligus pulang
> kampung untuk
> menikah. Sejak itulah orang mengenalinya sebagai
> Haji Agus Salim atau
> Paatje bagi kerabat keluarganya. Sekolah partikulir
> yang ia buka,
> ternyata mendayung Koto Gadang ke laut pendidikan
> yang mahaluas.
> 
> Ia buka sekolah tanpa pamrih. Sifat tanpa pamrih itu
> terus ia bawa
> sampai ia menjadi seorang inteletual terhormat. Ia
> sederhana dan nyaris
> melarat. Anekdot Agus Salim makan dengan tangan,
> sementara orang-orang
> Eropa makan dengan sendok, sampai kini berkembang
> luas di nagari-nagari
> Minangkabau. "Sendok sudah masuk ke seribu mulut
> orang lain, tapi tangan
> ini hanya ke mulut saya sendiri,"begitulah pembelaan
> Agus Salim. Dengan
> dalih serupa, makan dengan tangan seolah mendapat
> pembenaran di Minang.
> khairul jasmi Sabtu, 27 Oktober 2001 H Agus Salim
> Politik Jalan
> Melingkar
> 
> Dalam wacana sejarah, Haji Agus Salim adalah zamrud.
> Ia juga unikum yang
> penuh kontroversi. Hanya sempat menamatkan Hogere
> Burger School (HBS) --
> setingkat SMU - - ia mampu menguasai tujuh bahasa
> asing dan berhasil
> mencapai karir politik sampai menteri. Pengamat
> Barat, seperti MC
> Ricklefs, pun menyebutnya sebagai Grand Old Man of
> the Republic.
> 
> Seorang Snouck Hurgronye -- peletak dasar politik
> Islam pemerintah
> Hindia-Belanda -- juga mengagumi tokoh pergerakan
> nasional ini dan
> dengan terus terang menilainya sebagai intelektual
> muda yang cerdas,
> mempunyai pikiran yang tajam, dan keberanian yang
> luar biasa untuk
> ukuran orang Melayu.
> 
> Sebagai unikum, anak Kepala Jaksa di Padang -- Sutan
> Muhammad Salim --
> ini memang mewarisi karekter yang unik: suka
> berbicara terbuka, sering
> menantang, tapi penuh humor yang cerdas. "Ia tokoh
> nasional yang
> memiliki secara sempurna kemampuan berpikir,
> memimpin, menulis,
> sekaligus berbicara," kata Ridwan Saidi dalam
> diskusi di Gedung
> Republika, belum lama ini.
> 
> Manuver politik yang dilakukan Agus Salim sepanjang
> era pergerakan
> nasional pun sangat unik. Ia menempuh perjalanan
> politik yang sepenuhnya
> melingkar. "Tidak ada tokoh yang menjalani lingkaran
> itu seutuhnya
> selain Haji Agus Salim," kata sejarawan Taufik
> Abdullah pada sebuah
> tulisannya. Yang dimaksud Taufik adalah lingkaran
> dari kooperatif, ke
> non-kooperatif, dan kembali ke kooperatif.
> 
> Arah pergerakan nasional ketika itu memang
> menunjukkan kecenderungan
> melingkar. Dalam waktu hampir 30 tahun, tulis Taufik
> dalam buku Haji
> Agus Salim (Pustaka Sinar Harapan, 1997), pergerakan
> kebangsaan, yang
> bermula dari kooperatif, mengalami proses
> radikalisasi dengan pilihan
> sikap non-kooperatif, untuk akhirnya dipaksa kembali
> menjalankan politik
> kooperatif. Dan, ini dijalani sepenuhnya oleh Agus
> Salim.
> 
> Pada awalnya, sebagai anak seorang pegawai Belanda,
> Agus Salim adalah
> seorang yang kooperatif. Selama belajar di HBS ia
> tinggal di rumah
> keluarga Belanda, Prof TH Kock. Setamat HBS, ia
> bekerja pada Konsulat
> Belanda di Jeddah, dengan gaji sangat besar, 200
> gulden per bulan. "Gaji
> itu sangat besar untuk ukuran orang Melayu. Sebagai
> perbandingan, sebuah
> keluarga dengan satu istri dan tiga anak saat itu
> dapat hidup layak
> hanya dengan 15 gulden per bulan," kata Ridwan
> Saidi.
> 
> Kembali ke Indonesia, Salim tetap bekerja pada
> Belanda. Antara lain,
> pernah bekerja pada kantor dinas informasi politik,
> Politieke
> Inlichtingen Dients (PID), dengan gaji jauh lebih
> besar, 750 gulden --
> tapi soal ini dibantah oleh Agus Salim, dengan
> menyebut isu yang ditulis
> Timboel No 5/1927 itu sebagai kebohongan.
> 
> Lingkaran perjalanan politik Agus Salim kemudian ia
> lengkapkan dengan
> masuk ke SI. Namun, manuver ini sempat mengundang
> kecurigaan bahwa Agus
> Salim bermaksud memata-matai kegiatan SI, terutama
> HOS Tjokroaminto.
> Dalam tulisannya di majalah berbahasa Belanda, Het
> Lich No 4/Th III Juni
> 1927, Salim membantah tuduhan tersebut. Namun, pada
> bagian lain tulisan
> bertajuk Ben Ik Een Spion (Adakah Saya Seorang
> Intel)? itu ia mengakui
> bahwa perkenalannya dengan SI dimulai dari tugasnya
> di PID pada tahun
> 1915.
> 
> Ketika itu memang berkembang isu bahwa SI, dengan
> bantuan Jerman, akan
> melakukan pemberontakan besar-besaran terhadap
> pemerintah Hindia
> Belanda. "Bantuan saya diminta (oleh PID -- pen)
> dalam suatu
> penyelidikan berhubung tersiarnya desas-desus bahwa
> Tjokroaminoto
> menjual SI kepada Jerman seharga 150.000 gulden.
> Dengan dana itu
> Tjokroaminoto akan melancarkan pemberontakan besar
> di tanah Jawa, sedang
> senjata dan perlengkapan lainnya disediakan oleh
> Jerman," kata Agus
> Salim dalam tulisan tersebut.
> 
> Di sinilah titik kontroversi sejarah perjuangan
> Salim. Di satu sisi ia
> membantah tuduhan bahwa dia mata-mata Belanda, namun
> di sisi lain ia
> mengakui mendekati SI dengan mengemban tugas dari
> PID untuk menyelidiki
> kegiatannya. Baru di kemudian hari, tentang isu
> pemberontakan SI itu, ia
> mengatakan, "sejak awal saya telah merasa yakin akan
> dua hal. Pertama,
> desas-desus itu hanya isapan jempol belaka. Kedua,
> usaha pemberontakan
> itu, seandainya dilakukan, hanyalah akan menjadi
> bencana bagi bangsa dan
> negara."
> 
> Tugas tersebut, aku Salim, pada akhirnya memang ia
> terima, tapi setelah
> ia menyampaikan dua keyakinan di atas kepada pihak
> PID. Namun, tidak
> jelas apakah Salim sempat melaporkan hasil
> penyelidikannya ke Belanda.
> Yang jelas, akunya, perkenalan itu membuat ia
> bergabung dengan SI dan
> memutuskan hubungan dengan dinas informasi politik
> Belanda tersebut.
> Tapi, ia tetap mempertahankan keanggotaannya di
> Nederlandsch Indische
> Vrijzinnigen Bond (NIVB) dan Indische Sociaal
> Democratische Partij
> (ISDP).
> 
> Keanggotaan di dua organisasi itu, menurutnya, tidak
> bertentangan dengan
> keanggotaannya di SI. Namun, terhadap SI, Salim
> mengeritik sebagai
> organisasi yang belum memiliki sikap politik yang
> tegas. Antara lain, ia
> menyebut banyak bupati, patih, pejabat pamong praja,
> dan petugas
> pengadilan, yang menjadi anggota SI. Sementara,
> banyak juga tokoh SI
> yang merangkap menjadi pengurus Boedi Oetomo, dan
> sejumlah organisasi
> lain.
> 
> Sedangkan tentang sikap politiknya sendiri, Agus
> Salim mengatakan,
> "dalam perkumpulan apapun dan di manapun saya
> tampil, saya selalu dengan
> mantap mengatakan kecenderungan politik saya yang
> bersifat Islam
> radikal, malahan lebih tegas lagi sebagai aktivis
> SI."
> 
> Sampai tahun 1921 Agus Salim masih menampakkan sikap
> kooperatif.
> Misalnya, ia bersedia menjadi anggota Volksraad
> (1921-1924) mewakili SI.
> Namun, di Dewan Rakyat bikinan Belanda inilah sikap
> radikalnya mulai
> tampak menonjol. Ia biasa bicara terbuka, keras, dan
> 'menantang'.
> Bahkan, meskipun menguasai bahasa Belanda dan
> mendapat teguran dari
> pimpinan Dewan, ia nekat menggunakan bahasa
> Indonesia (ketika itu masih
> disebut bahasa Melayu) dalam pidato dan rapat Dewan
> -- ia orang pertama
> yang menggunakan bahasa Indonesia di Volksraad.
> 
> Sikap radikalnya makin menguat seirama dengan
> pergeseran SI menjadi PSI
> pada 1924 yang memilih sikap non-kooperatif --
> tokoh-tokoh SI menyebut
> ini sebagai 'politik hijrah'. Dialah yang
> mencanangkan program baru:
> politik non-kooperatif dengan Volksraad. Salim pula
> yang dengan
> sarkastis menyebut Volksraad tak lebih dari sebuah
> 'komedi omong'.
> 
> Meskipun pilihan politik non-kooperatif PSI ketika
> itu banyak diikuti
> organisasi-organisasi lain, namun sikap keras Agus
> Salim bersama
> partainya ini banyak juga mendapat benturan dan
> tekanan dari berbagai
> pihak, terutama pemerintah Belanda. Kematian singa
> podium yang
> kharismatis HOS Tjokroaminoto, politik rust en orde
> Belanda yang
> dibarengi security approach para intel PID, menurut
> Taufik Abdullah,
> memaksa Agus Salim meninjau kembali strategi
> 'politik hijrah' itu. Ia
> pun akhirnya dikalahkan dan tersingkir dari PSI --
> saat telah menjadi
> PSII(ndonesia).
> 
> Seperti yang dilakukan Hatta pada tahun 1930, yang
> mendirikan Pendidikan
> Nasional Indonesia sebagai protes terhadap bubarnya
> PNI (lama), Salim
> dan kawan-kawannya kemudian mendirikan Pergerakan
> (Partai) Penyadar.
> Melalui organisasi barunya ini, Salim menyempurnakan
> lingkaran
> perjalanan politiknya: kembali kooperatif dengan
> Belanda. Dan, seperti
> ditulis Taufik Abdullah, sambil berkooperasi secara
> politik, Salim
> menjalankan strategi sosial yang bercorak pendidikan
> rakyat.
> 
> Yang menarik, dan ini jarang dilihat oleh para
> pengamat sejarah, adalah
> hadirnya seorang Belanda yang berkali-kali disebut
> namanya oleh Agus
> Salim, yakni S Koperberg, di tengah-tengah
> kontroversi tersebut. Ia
> adalah propagandis ISDP dan pejabat pada
> Encilopaedisch Bureau
> Departemen Dalam Negeri, yang kemudian menjadi
> penasehat majalah
> Timboel.
> 
> Menariknya, tuduhan bahwa Agus Salim intel Belanda
> muncul di majalah itu
> setelah tokoh pergerakan nasional ini keluar dari
> ISDP serta membawa PSI
> bersikap non-kooperatif. Saat itu pula, S Koperberg
> sedang menjadi
> penasehat Timboel. Ada dugaan, fitnah itu merupakan
> skenario Belanda
> untuk memecahbelah PSI dan potensi Islam pada
> umumnya -- ingat, Belanda
> memang mempraktekkan politik devite et impera --
> sekaligus meredam
> vitalitas Agus Salim. Dan, orang yang dipakai untuk
> itu adalah Mr
> Singgih.
> 
> Namun, bagaimanapun dan di manapun posisi
> politiknya, seperti diakui
> banyak pengamat sejarah, Agus Salim tetaplah zamrud
> sekaligus unikum. Ia
> juga sastrawan, spiritualis, bapak cendekiawan
> Muslim, dan perumus
> ideologi politik Islam. Tidak cukup empat halaman
> koran ini untuk
> mengkaji seluruh sisi menarik tokoh teladan yang
> meninggal pada 4
> November 1954 ini. ahmadun yh
> 
> 
> 
> RantauNet http://www.rantaunet.com
> 
> Isikan data keanggotaan anda di
> http://www.rantaunet.com/register.php3
> ===============================================
> Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing
> List di
> http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
> 
> ATAU Kirimkan email
> Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
> Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
> -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
> -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
> Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda
> tanpa tanda kurung
> ===============================================
> 
> 
> RantauNet http://www.rantaunet.com
> 
> Isikan data keanggotaan anda di
> http://www.rantaunet.com/register.php3
> ===============================================
> Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing
> List di
> http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
> 
> ATAU Kirimkan email
> Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
> Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
> -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
> -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
> Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda
> tanpa tanda kurung
> ===============================================
> 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Make a great connection at Yahoo! Personals.
http://personals.yahoo.com

RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke