Urpas <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
"Melintasi Embun"
-----------------------------------------------------------------
by : urpas ====================================Edi Nofendra: bagus, gaya bahasanya menarik. :)
Edi Nofendra
Klayan, Cirebon
Ayah sudah berdiri di sampingku, tersenyum, sedikit saja, dan mengacak-acak
rambutku. "Ayo bangun, sembahyang, dan kita melintasi embun..."
Betul, ayah berjanji semalam, janji lama ayah yang tak pernah sempat
tertepati. Pagi ini kami akan melintasi embun di lutut Gunung Sago, jauh
dari tanah pesisirku yang berkelapa berangin berombak.
Pintu rumah tua ini berderit ketika kami melangkah keluar. Angin gunung
menghujam-tikam dalam sekali ke pusat tulang. Aku mengikuti langkah ayah
menuruni tangga kayu. Seekor kupu-kupu hinggap di bahu ayah. "Ayah seperti
Aladin," aku tertawa karena ayah membiarkan saja kupu-kupu itu rebah di
bahunya.
"Ayah, embun mana?"
"Semuanya embun"
"Semuanya?"
"Semuanya, dimana-mana...," ayah merentangkan tangan.
"Embun di atas kepala kita, embun kita pijaki, embun kita hirup, embun
membasah daun-daun, putik-putik, bunga-bunga, rumput, tanah. Embun membaluri
kita..."
Kami berbelok ke kiri, melangnuju gelanggang. Rumpun pimping menyemak tebing
sebelah kanan, tiga rangkiang, lumbung padi, berjejer.
"Dulu, ayah di atas rangkiang, kakek dan Paman Tabano melemparkan karung
padi dan beras ke atas"
"Sampai penuh, ayah?"
"Penuh"
"Lalu bagaimana ayah keluar?"
"Sebelum dua karung terakhir"
Angin gunung tetap dingin. Kami sampai di sisi gelanggang. Pemandangan yang
menggetarkan. Sepercik merah di langit timur, sisanya gelap, satu dua
bintang berpijar mekar. Gelanggang luas, dilingkari tebing di sekelilingnya.
Seberang tebing gelanggang sana, kiri tebing gelanggang sana, kanan tebing
gelanggang sana, yang kulihat hanya hutan, pepohonan rimbun dalam gelap.
"Dulu, kuda-kuda berpacu di sini, di gelanggang ini. Kuda berpuluh berpeluh
berpacu berdebu. Sekeliling tebing penuh orang bersorak sorai. Bendera
merah, biru, hijau, kuning berkibar. Penjaja kacang goreng, lotere,
berteriak-teriak diantara sorak sorai. Lalu kakek akan membelikan ayah
sebungkus kac aR>"Menunggu nenek dan Mak Leman membawa bekal, membawa berita. Nenek dan Mak
Leman menunggu malam sepekat-pekatnya, kelam sehening-heningnya di hutan
ini"
"Ayah kenapa? Nenek dan Mak Leman kenapa?"
"Ayah harus masuk hutan"
"Bukankah ayah dulu tinggal di hutan?"
"Ayah harus mencari hutan yang lebih jauh lagi, lebih rimbun lagi, lebih
dalam lagi, lebih pekat lagi"
"Ayah kenapa, sih?"
Ayah menghela nafas, mendongak ke langit sesaat, untuk kemudian meluruskan
pandangannya lagi.
"Ayah berperang"
"Ayah berperang?"
Aku memutar duduk menghadap ayah. Ayah berperang! Hebat!
"Ayah menyandang meriam, senapan, atau bom atom?"
"Senapan"
"Wow!"
"Ayah berperang dengan siapa di hutan? Dengan Belanda?"
"Bukan"
"Jepang?"
"Bukan"
"Inggris, ya?"
"Bukan juga"
"Melawan Amerika?"
Ayah menggelengkan kepala.
"Sepanyol?"
"Juga bukan"
"Lawan Arab?"
"Bukan Arab"
"Perang dengan Orang Indian?"
"Bukan"
"Ayah berperang denelawan tirani"
"Tirani?"
Ayah hanya diam.
"Ayah pasti menang! Ayah menembak semua Tentara Pusat itu 'kan? Lalu mereka
mati berdarah-darah, teman-temannya menyerah, mengangkat tangan. Kemudian
ayah akan membentak-bentak mereka dan merantai mereka. Mereka merangkak
memohon-mohon ampun pada ayah, 'Ampun.ampun...'. Benar 'kan, ayah?"
Ayah masih memandang jauh ke seberang tebing itu, ke sungai itu. Selintas
bintang jatuh menyilang di langit, sebelum tenggelam di pelukan rimbun
pepohonan.
"Lalu, perang makin keras, Tentara Pusat berpuluh-puluh ribu memasuki negeri
kita. Mereka ada di mana-mana. Hampir semua laki-laki muda seperti ayah lari
ke hutan. Yang tinggal ditangkap, atau harus bekerja sama atau melayani
mereka"
"Ayah lari makin jauh ke dalam hutan, mungkin ayah sudah sampai di daerah
Riau. Berbulan-bulan lamanya ayah di hutan pekat belantara, ayah tidak
kembali ke hutan kampung ini. Sampai hari itu..."
"Sampai hari itu seseorang mem baa liar, suara jengkerik di beberapa
sudut.
Aku tersentak, langkahku tertahan, refleks kutarik tangan ayah mundur. Aku
sungguh takut pada orang mati.
"Jangan takut, nak,"ayah berujar pelan. Jarang sekali ayah memanggilku 'nak'
."Itu kakek. Kakek ada di dalam situ, di bawah timbunan tanah itu"
"Kakek?"
"Iya, waktu itu, nenek dan yang lain menangis di tepi sungai itu. Kemudian,
mereka membawa ayah ke sini, ke tebing ini. Ayah hanya bisa melihat
gundukan tanah berpagar bambu. Kakek pergi menghadap tuhan, tak pernah
pamit. Ayah tak pernah sempat memohon maaf pada kakek"
Suara ayah berubah sedikit parau. Aku mendongak: oh, ayah menangis....Air
mata jelas bergulir di muka ayah.
"Ayah kenapa menangis?"
"Ayah menangis karena ayah sedih, ayah menangis karena ayah tidak pernah
sempat meminta maaf"
Aku belum pernah melihat ayah menangis. Aku pun menangis, aku sedih melihat
ayah menangis.
"Ayah bertemu kakek terakhir kali setahun sebelumi sungai itu"
Ayah mengusap airmata di pipinya. Ayah mengusap airmata di pipiku.
"Ayah tidak boleh memarahi kakek"
"Iya, tidak boleh"
"Ayah berdosa pada kakek"
"Iya, ayah berdosa"
"Ayah harus minta maaf pada kakek"
"Tidak bisa lagi"
"Minta tolong tuhan menyampaikannya, ayah"
"Iya"
Ayah tersenyum dan membelai kepalaku.
"Tapi akhirnya ayah menang perang "kan?"
"Kakek meninggalkan pesan buat ayah lewat nenek sebelum beliau gugur. Bahwa
darah harus berhenti ditumpahkan, bahwa perusakan rumah dan kampung-kampung
harus dihentikan, bahwa penyiksaan orang-orang harus dihentikan, bahwa
penghinaaan perempuan kita harus dihentikan, bahwa anak-anak harus sekolah
lagi. bahwa kita harus berhenti berperang, bahwa mereka terlalu besar dan
kejam untuk dilawan. Namun apa? Kakek gugur juga di tangan mereka! Tentara
Pusat itu menembak kakek! Ayah geram sekali!"
"Ayah tidak menunggu pagi, waktu itu. Ayah langsung memanggul senapan ayah,
setenga h bang bisa ayah lakukan untuk kakek kecuali ayah mengangkat
senjata ayah, dan menyerahkannya pada Tentara Pusat yang kebingungan itu.
Tak ada lagi yang bisa ayah lakukan untuk kakek. Ayah menyerah. Kakek
mungkin benar, mereka memang terlalu besar dan kejam untuk dilawan. Kita
terpaksa bicara dengan mereka, meski berarti kita kalah"
Seekor elang melengking dan melayang di atas kepala kami. Pimping-pimping
bergoyang, bambu-bambu bergetar. Pagi dingin dalam embun. Ayah memeluk aku
di depan gundukan tanah ini.
"Waktu cepat berlalu," ayah menggumam.
"Karena kita tenggelam 'kan ayah?"
*****
Aku masih menangis, termangu di depan gundukan tanah ini, di tebing ini.
Nyanyian Al Quran terakhir, penutup Subuh dari surau, berhenti mengalun.
Ayah benar, waktu cepat berlalu, karena kita tenggelam di dalamnya. Dua
puluh tahun yang lalu, baru kemarin rasanya ayah memeluk aku di sini,
memandangi makam kakek. Dan kemarin aku memeluk jenazah ayah membaringkannya
di daFind the one for you at Yahoo! Personals.

