Assalamu'alaikum WW,

Sumbar memang tak lagi membanggakan ??
..


Wassalam
Z Chaniago



http://www.kompas.com/kompas-cetak/0111/14/DAERAH/sumb25.htm

 >Rabu, 14 November 2001

Sumbar Tak Lagi Membanggakan


Dok Kompas/yurnaldi

HAMPIR tidak ada yang bisa dibanggakan di Sumatera Barat (Sumbar) dewasa 
ini, kecuali menyebut kebesaran/keberhasilan masa lalu. Soal olahraga, 
misalnya, pada PON XV tahun 2000 di Surabaya, Sumbar menduduki peringkat 
juru kunci dari 26 provinsi yang ambil bagian. Prestasi ini melorot tajam, 
dibanding PON XIV yang menduduki peringkat 13.
Soal pendidikan? Prestasi Sumbar pun berada pada posisi yang memalukan. 
Menurut Gubernur Sumbar Zainal Bakar, pada bidang sains dan matematika, 
daerah ini hanya menempati urutan ke-15 dari 16 provinsi yang dinilai.

"Padahal, kita pernah menjadi salah satu provinsi yang mengandalkan kualitas 
pendidikan, dan juga pernah mengklaim diri sebagai daerah yang berbasis 
sumber daya manusia. Bahkan telah mencanangkan industri otak segala," 
katanya.

Indikator lain soal pendidikan yang terpuruk di Sumbar itu disebutkan, pada 
jenjang pendidikan SD ditemukan kenyataan, 10 dari 100 anak usia sekolah 
dasar ternyata tidak bersekolah. Pada SLTP, terdapat 41 dari 100 anak usia 
SLTP tidak bersekolah. Dan, kenyataan lebih tak menggembirakan pada jenjang 
pendidikan di SLTA; ada 67 dari 100 anak pada usia jenjang pendidikan 
tersebut, juga tidak bersekolah.


Dok Humas Pemda Tk I Sumbar

Konkretnya, umur 7-12 tahun (anak usia SD) yang tak bersekolah sebanyak 
12.666 orang, usia 13-15 tahun (usia SLTP) sebanyak 19.293 orang, dan anak 
tak bersekolah usia 16-18 tahun (usia SLTA) sebanyak 24.987 orang. Yang 
bersekolah, lalu DO tercatat 1.951 murid SD/MI atau (1,38 persen), SLTP/MTs 
sebanyak 5.773 siswa (2,45 persen), dan DO dari SLTA/MA sebanyak 2.027 siswa 
(1,99 persen). Angka murid yang tinggal kelas di setiap jenjang pendidikan 
pun relatif besar.

"Kenyataan ini perlu disikapi dengan penuh kearifan," tandas Gubernur Zainal 
Bakar.


***
BILA dicermati dan dicari akar persoalannya, maka semuanya berawal dari 
status kesehatan dan gizi masyarakat. Atlet bisa berprestasi bagus, kalau 
kebutuhan gizi mereka tercukupi. Begitu juga para pelajar bisa pintar dan 
berprestasi, karena kebutuhan gizi terpenuhi dan seimbang. Kalau gizi tidak 
tercukupi dan tak seimbang, yang terjadi sebaliknya.

Soal gizi ini, Ny Surjadi Soedirdja (waktu itu Ketua Kesatuan Gerak 
Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga), mengungkapkan sesuatu kenyataan 
pahit.

"Sekitar 840.000 jiwa penduduk Sumbar belum terjangkau program iodinesasi 
(iodiumisasi), atau sekitar 20 persen dari jumlah penduduk. Kondisi ini 
dikhawatirkan memperbesar peluang peningkatan jumlah generasi "otak 
jongkok", lemah, dan tak produktif di masa datang," katanya akhir Februari 
2001.

Soal gizi ini, sebenarnya Sumbar sejak 12 tahun lalu (1989) sudah mengalami 
krisis. Prof Dr Ir Thamrin Nurdin MSc (waktu itu Sekretaris Menteri Negara 
Kependudukan dan Lingkungan Hidup) mengatakan, Provinsi Sumbar adalah daerah 
yang paling rawan penyakit kekurangan gizi. Sedang untuk kualitas gizi anak 
bawah lima tahun (balita), provinsi yang mencanangkan "industri otak" ini 
termasuk terburuk di Indonesia.

Apa yang diungkapkan Thamrin, sepertinya tetap dipertahankan hingga 
sekarang. Tidak ada perubahan ke arah perbaikan. Soal balita penderita gizi 
buruk (marasmus, khashiorkor, dan marasmic kwashiorkor) atau busung lapar, 
Sumbar tergolong terparah di Indonesia.

Sejak tahun 1994 kasus balita gizi buruk sudah bermunculan. Puncaknya, tahun 
1999 lalu sekitar 10.000 anak balita ditemukan menderita gizi buruk, 30 anak 
balita di antaranya meninggal, karena terlambat mendapat pertolongan.

Tahun 2000 diharapkan kasus yang, di tahun 1999 jadi "komoditas politik 
calon Gubernur Sumbar" itu habis, ternyata muncul lagi kasus gizi buruk dan 
kurang energi protein (KEP) baru, yang jumlahnya sedikitnya 5.000 anak. 
Jumlah sebanyak itu, terdata karena standarnya dinaikkan, malu kalau 
angkanya besar lagi, sebab dana yang dihabiskan sudah bermilyar-milyar 
rupiah.

Pada tahun 2001 ini, jangan dikira krisis gizi di Sumbar sudah berakhir. 
Kasus gizi buruk dan kurang gizi (KEP) masih ada dan angkanya relatif besar. 
Menurut perkiraan pakar gizi dari Universitas Andalas, Padang, Dr Zulkarnain 
Agus MPH, sedikitnya ada sekitar 30.000 balita di Sumbar yang mengalami dan 
atau rawan gizi buruk dan kurang gizi.

Dampak gizi buruk dan kurang gizi ini dalam jangka pendek adalah tingginya 
angka kesakitan dan angka kematian. Karena kekurangan gizi membuat daya 
tahan tubuh menurun, yang pada akhirnya bisa menyebabkan kematian. Menurut 
WHO faktor gizi merupakan 54 persen kontributor penyebab kematian.

Dalam jangka panjangnya adalah rendahnya kualitas sumber daya manusia 
generasi mendatang, dilihat dari kecerdasan, kreativitas, dan produktivitas. 
Pengukuran IQ penderita gizi buruk setelah mereka mencapai usia sekolah 
menunjukkan, IQ mereka 10-15 poin lebih rendah dari anak pada komunitas yang 
sama, namun bukan penderita gizi buruk. Demikian pula pertumbuhan tinggi 
badannya, sekitar delapan sentimeter lebih rendah.


***
APA dan bagaimana kinerja Departemen Kesehatan di daerah berpenduduk 4,2 
juta jiwa itu? Kenapa selama kurang lebih 12 tahun krisis gizi yang dialami 
masyarakat tak bisa diantisipasi bahkan cenderung lebih memburuk? Padahal, 
dana yang sedemikian besar sudah dikucurkan pemerintah, Unicef, dan dibantu 
banyak pihak untuk mengantisipasinya.

Program Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan (JPS-BK) tahun 1999/2000 di 
Sumbar, menurut penilaian sejumlah LSM dan Bank Dunia, adalah gagal. Diduga 
ada penyelewenangan, terbukti salah seorang pimpinan Puskesmas di Kota 
Padang kini tengah dalam penyidikan. Karena sekitar Rp 60 juta dana JPS tak 
bisa dipertanggungjawabkan.

Anggaran JPS-BK untuk Sumbar adalah Rp 26,099 milyar. Bukti gagalnya program 
JPS-BK bisa dilihat dengan masih ditemukannya kasus baru balita gizi buruk 
dan kurang gizi di hampir seluruh kabupaten/ kota, sampai Oktober 2001.

Kegagalan ini, sempat dipertanyakan Komisi VII DPR, dengan Ketua Tim Dr 
Surya Chandra MPH PhD, ketika melakukan kunjungan kerja ke Padang, Sumbar, 
awal April lalu.

Anehnya, Dr Rasyidah Rasyid MPH (waktu itu Kepala Kanwil Wilayah Departemen 
Kesehatan Sumbar) masih berani-beraninya membohongi Komisi VII DPR dan 
mengatakan pihaknya sudah sukses menanggulangi kasus ribuan balita gizi 
buruk dan kurang gizi di daerah ini.

"Memang masih ada sebanyak 1.554 kasus gizi buruk di daerah ini dan itu 
tidak bisa diperbaiki lagi karena sudah sangat akut dan balitanya dalam 
kondisi cacat. Akan tetapi, selebihnya berhasil kita tanggulangi dengan baik 
dan kondisi penderitanya pun sudah kembali normal," kata Rasyidah.

Apa yang dikatakan Rasyidah itu adalah data lama, data kasus tahun 1999. 
Sedangkan yang dipertanyakan Komisi VII itu adalah kasus gizi buruk dan 
kurang gizi tahun 2000 dan 2001. Kalau dikatakan berhasil, hanya sebatas 
berhasil mengibuli wakil rakyat.

Sebab, data yang diperoleh Kompas di lapangan menunjukkan, angka balita gizi 
buruk dan kurang gizi (KEP) masih relatif besar. Contoh, di Kabupaten 50 
Koto, dari 126 anak balita yang dibantu melalui Dana Kemanusiaan Kompas 
(DKK) senilai Rp 11,5 juta, April lalu, terdapat 26 anak balita gizi buruk 
dan 99 anak balita KEP. Sedang di Kota Sawahlunto terdapat 48 anak balita 
dan, Kabupaten Tanahdatar 135 kasus balita gizi buruk yang sudah mendapat 
bantuan melalui Dana Kemanusiaan Kompas.

Seharusnya, kasus gizi buruk (KEP) di Sumbar yang sudah menjadi sorotan 
nasional dan internasional ini, tak perlu lagi ditutup-tutupi, apalagi 
membohongi Tim Komisi VII DPR RI. Bukankah kita tak lagi hidup di era Orba, 
tapi era Reformasi?

Semua orang sudah tahu, kok, kini Sumbar mengalami krisis gizi pada tingkat 
yang mengkhawatirkan! Sayangnya, sampai sekarang belum terlihat penanganan 
yang serius, terpadu, dan lintas sektoral terhadap kasus marasmus/KEP.

Sementara wakil rakyat di DPRD Sumbar tak ada pula yang menyorot soal krisis 
gizi ini. Jangan-jangan (mudah-mudahan tak) anggota dewannya sendiri 'tak 
bergairah' mempersoalkan ini karena kekurangan gizi pula

======================================================================
                       Alam Takambang Jadi Guru
======================================================================


_________________________________________________________________
Get your FREE download of MSN Explorer at http://explorer.msn.com/intl.asp


RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke