Ass. Wr. Wb. Ambo sangaik satuju bahwa sumbar tidak lagi membanggakan...!!!!!!!
Tapi kesadaran dari urang awak masih kurang.....!!! Urang awak masih bangga jo sejarah lamo....!!! (Wukatu dulu iyo banyak pamimpin urang awak) Tapi kini dan masa yg akan datang .....antalah..!!! Dan nan sabana sangaik disayangkan awak masih maraso paliang cadiak...!!! Kalau awak caliak dari kalangan bawah sajo....urang awak marandahkan etnis lain indak tangguang tanguang bantuaknyo urangtu bisa diatua se sadonyo...!! Tapi tampa disadari urangtu kini labiah maju dari awak. Sabana paralu dikaji ulang dima posisi awak sabananyo kini...!!! Kalau iyo alah tatingga apo solusi bisa mangaja katinggalan awaktu. Dari segi pendidikan misalnyo : Kalau indak salah Fakultas Pertanian UNAND itu dulu labiah maju dari pado IPB, tapi dampak kemajuan dari hasil pertanian di sumbar hampia dikatokan indak ado. Bakti kampus ka masyarakattu indak ado nampak di ambo di Sumbartu Kok disabuik bana banyak nan lain lai...!! Manuruik ambo mari kito kaji ulang di ma posisi awak kini sacaro jujur.. Sudahtu dari tungku tigo sajarangan alim ulama, cadiak pandai, pamuka adaiktu, bisa mambuek visi awak kamuko. Baik dari pambangunan, agamo, maupun adat. Nan lain lainnyo Is, 32 -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]] On Behalf Of Z Chaniago Sent: Wednesday, November 14, 2001 7:18 AM To: [EMAIL PROTECTED] Subject: [RantauNet] Sumbar Tak Lagi Membanggakan Assalamu'alaikum WW, Sumbar memang tak lagi membanggakan ?? .. Wassalam Z Chaniago http://www.kompas.com/kompas-cetak/0111/14/DAERAH/sumb25.htm >Rabu, 14 November 2001 Sumbar Tak Lagi Membanggakan Dok Kompas/yurnaldi HAMPIR tidak ada yang bisa dibanggakan di Sumatera Barat (Sumbar) dewasa ini, kecuali menyebut kebesaran/keberhasilan masa lalu. Soal olahraga, misalnya, pada PON XV tahun 2000 di Surabaya, Sumbar menduduki peringkat juru kunci dari 26 provinsi yang ambil bagian. Prestasi ini melorot tajam, dibanding PON XIV yang menduduki peringkat 13. Soal pendidikan? Prestasi Sumbar pun berada pada posisi yang memalukan. Menurut Gubernur Sumbar Zainal Bakar, pada bidang sains dan matematika, daerah ini hanya menempati urutan ke-15 dari 16 provinsi yang dinilai. "Padahal, kita pernah menjadi salah satu provinsi yang mengandalkan kualitas pendidikan, dan juga pernah mengklaim diri sebagai daerah yang berbasis sumber daya manusia. Bahkan telah mencanangkan industri otak segala," katanya. Indikator lain soal pendidikan yang terpuruk di Sumbar itu disebutkan, pada jenjang pendidikan SD ditemukan kenyataan, 10 dari 100 anak usia sekolah dasar ternyata tidak bersekolah. Pada SLTP, terdapat 41 dari 100 anak usia SLTP tidak bersekolah. Dan, kenyataan lebih tak menggembirakan pada jenjang pendidikan di SLTA; ada 67 dari 100 anak pada usia jenjang pendidikan tersebut, juga tidak bersekolah. Dok Humas Pemda Tk I Sumbar Konkretnya, umur 7-12 tahun (anak usia SD) yang tak bersekolah sebanyak 12.666 orang, usia 13-15 tahun (usia SLTP) sebanyak 19.293 orang, dan anak tak bersekolah usia 16-18 tahun (usia SLTA) sebanyak 24.987 orang. Yang bersekolah, lalu DO tercatat 1.951 murid SD/MI atau (1,38 persen), SLTP/MTs sebanyak 5.773 siswa (2,45 persen), dan DO dari SLTA/MA sebanyak 2.027 siswa (1,99 persen). Angka murid yang tinggal kelas di setiap jenjang pendidikan pun relatif besar. "Kenyataan ini perlu disikapi dengan penuh kearifan," tandas Gubernur Zainal Bakar. *** BILA dicermati dan dicari akar persoalannya, maka semuanya berawal dari status kesehatan dan gizi masyarakat. Atlet bisa berprestasi bagus, kalau kebutuhan gizi mereka tercukupi. Begitu juga para pelajar bisa pintar dan berprestasi, karena kebutuhan gizi terpenuhi dan seimbang. Kalau gizi tidak tercukupi dan tak seimbang, yang terjadi sebaliknya. Soal gizi ini, Ny Surjadi Soedirdja (waktu itu Ketua Kesatuan Gerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga), mengungkapkan sesuatu kenyataan pahit. "Sekitar 840.000 jiwa penduduk Sumbar belum terjangkau program iodinesasi (iodiumisasi), atau sekitar 20 persen dari jumlah penduduk. Kondisi ini dikhawatirkan memperbesar peluang peningkatan jumlah generasi "otak jongkok", lemah, dan tak produktif di masa datang," katanya akhir Februari 2001. Soal gizi ini, sebenarnya Sumbar sejak 12 tahun lalu (1989) sudah mengalami krisis. Prof Dr Ir Thamrin Nurdin MSc (waktu itu Sekretaris Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup) mengatakan, Provinsi Sumbar adalah daerah yang paling rawan penyakit kekurangan gizi. Sedang untuk kualitas gizi anak bawah lima tahun (balita), provinsi yang mencanangkan "industri otak" ini termasuk terburuk di Indonesia. Apa yang diungkapkan Thamrin, sepertinya tetap dipertahankan hingga sekarang. Tidak ada perubahan ke arah perbaikan. Soal balita penderita gizi buruk (marasmus, khashiorkor, dan marasmic kwashiorkor) atau busung lapar, Sumbar tergolong terparah di Indonesia. Sejak tahun 1994 kasus balita gizi buruk sudah bermunculan. Puncaknya, tahun 1999 lalu sekitar 10.000 anak balita ditemukan menderita gizi buruk, 30 anak balita di antaranya meninggal, karena terlambat mendapat pertolongan. Tahun 2000 diharapkan kasus yang, di tahun 1999 jadi "komoditas politik calon Gubernur Sumbar" itu habis, ternyata muncul lagi kasus gizi buruk dan kurang energi protein (KEP) baru, yang jumlahnya sedikitnya 5.000 anak. Jumlah sebanyak itu, terdata karena standarnya dinaikkan, malu kalau angkanya besar lagi, sebab dana yang dihabiskan sudah bermilyar-milyar rupiah. Pada tahun 2001 ini, jangan dikira krisis gizi di Sumbar sudah berakhir. Kasus gizi buruk dan kurang gizi (KEP) masih ada dan angkanya relatif besar. Menurut perkiraan pakar gizi dari Universitas Andalas, Padang, Dr Zulkarnain Agus MPH, sedikitnya ada sekitar 30.000 balita di Sumbar yang mengalami dan atau rawan gizi buruk dan kurang gizi. Dampak gizi buruk dan kurang gizi ini dalam jangka pendek adalah tingginya angka kesakitan dan angka kematian. Karena kekurangan gizi membuat daya tahan tubuh menurun, yang pada akhirnya bisa menyebabkan kematian. Menurut WHO faktor gizi merupakan 54 persen kontributor penyebab kematian. Dalam jangka panjangnya adalah rendahnya kualitas sumber daya manusia generasi mendatang, dilihat dari kecerdasan, kreativitas, dan produktivitas. Pengukuran IQ penderita gizi buruk setelah mereka mencapai usia sekolah menunjukkan, IQ mereka 10-15 poin lebih rendah dari anak pada komunitas yang sama, namun bukan penderita gizi buruk. Demikian pula pertumbuhan tinggi badannya, sekitar delapan sentimeter lebih rendah. *** APA dan bagaimana kinerja Departemen Kesehatan di daerah berpenduduk 4,2 juta jiwa itu? Kenapa selama kurang lebih 12 tahun krisis gizi yang dialami masyarakat tak bisa diantisipasi bahkan cenderung lebih memburuk? Padahal, dana yang sedemikian besar sudah dikucurkan pemerintah, Unicef, dan dibantu banyak pihak untuk mengantisipasinya. Program Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan (JPS-BK) tahun 1999/2000 di Sumbar, menurut penilaian sejumlah LSM dan Bank Dunia, adalah gagal. Diduga ada penyelewenangan, terbukti salah seorang pimpinan Puskesmas di Kota Padang kini tengah dalam penyidikan. Karena sekitar Rp 60 juta dana JPS tak bisa dipertanggungjawabkan. Anggaran JPS-BK untuk Sumbar adalah Rp 26,099 milyar. Bukti gagalnya program JPS-BK bisa dilihat dengan masih ditemukannya kasus baru balita gizi buruk dan kurang gizi di hampir seluruh kabupaten/ kota, sampai Oktober 2001. Kegagalan ini, sempat dipertanyakan Komisi VII DPR, dengan Ketua Tim Dr Surya Chandra MPH PhD, ketika melakukan kunjungan kerja ke Padang, Sumbar, awal April lalu. Anehnya, Dr Rasyidah Rasyid MPH (waktu itu Kepala Kanwil Wilayah Departemen Kesehatan Sumbar) masih berani-beraninya membohongi Komisi VII DPR dan mengatakan pihaknya sudah sukses menanggulangi kasus ribuan balita gizi buruk dan kurang gizi di daerah ini. "Memang masih ada sebanyak 1.554 kasus gizi buruk di daerah ini dan itu tidak bisa diperbaiki lagi karena sudah sangat akut dan balitanya dalam kondisi cacat. Akan tetapi, selebihnya berhasil kita tanggulangi dengan baik dan kondisi penderitanya pun sudah kembali normal," kata Rasyidah. Apa yang dikatakan Rasyidah itu adalah data lama, data kasus tahun 1999. Sedangkan yang dipertanyakan Komisi VII itu adalah kasus gizi buruk dan kurang gizi tahun 2000 dan 2001. Kalau dikatakan berhasil, hanya sebatas berhasil mengibuli wakil rakyat. Sebab, data yang diperoleh Kompas di lapangan menunjukkan, angka balita gizi buruk dan kurang gizi (KEP) masih relatif besar. Contoh, di Kabupaten 50 Koto, dari 126 anak balita yang dibantu melalui Dana Kemanusiaan Kompas (DKK) senilai Rp 11,5 juta, April lalu, terdapat 26 anak balita gizi buruk dan 99 anak balita KEP. Sedang di Kota Sawahlunto terdapat 48 anak balita dan, Kabupaten Tanahdatar 135 kasus balita gizi buruk yang sudah mendapat bantuan melalui Dana Kemanusiaan Kompas. Seharusnya, kasus gizi buruk (KEP) di Sumbar yang sudah menjadi sorotan nasional dan internasional ini, tak perlu lagi ditutup-tutupi, apalagi membohongi Tim Komisi VII DPR RI. Bukankah kita tak lagi hidup di era Orba, tapi era Reformasi? Semua orang sudah tahu, kok, kini Sumbar mengalami krisis gizi pada tingkat yang mengkhawatirkan! Sayangnya, sampai sekarang belum terlihat penanganan yang serius, terpadu, dan lintas sektoral terhadap kasus marasmus/KEP. Sementara wakil rakyat di DPRD Sumbar tak ada pula yang menyorot soal krisis gizi ini. Jangan-jangan (mudah-mudahan tak) anggota dewannya sendiri 'tak bergairah' mempersoalkan ini karena kekurangan gizi pula ====================================================================== Alam Takambang Jadi Guru ====================================================================== _________________________________________________________________ Get your FREE download of MSN Explorer at http://explorer.msn.com/intl.asp RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ATAU Kirimkan email Ke/To: [EMAIL PROTECTED] Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama: -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda] -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda] Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung =============================================== RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ATAU Kirimkan email Ke/To: [EMAIL PROTECTED] Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama: -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda] -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda] Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung ===============================================

