Puasa, Resistensi terhadap Proyek Lupa

Apakah sebenarnya pesan sebuah agama? Dan lebih khusus, apakah pesan Ramadhan bagi umat Islam? Karl Marx mungkin tak terlalu tertarik dengan pertanyaan itu. Sebab, baginya --- dan bagi mereka yang menganggap agama hanya sebagai ketagihan (candu) ritual manusia belaka --- pertanyaan itu malah sia-sia. Tetapi harap jangan buru-buru mengutuk Marx atheis. Ia hanya ingin melihat secara kritis bagaimana agama dipraktekkan dalam kenyataan historis dan empiris di Eropa sana. Abad ke-19, kita tahu dari sejarah, adalah puncak deisme, ketika manusia tetap percaya kepada Tuhan, tetapi menguncinya dalam rumah ibadah. Dalam deisme Tuhan hanya diakui dalam fikiran, tetapi tidak dalam praktek. Atheis di lain pihak adalah bentuk esktrim dari deisme. Artinya manusia total menolak kehadiran Tuhan. Karena itu Nietzsche berseru _Tuhan telah mati_, karena manusia telah membunuhnya. Tetapi tidak juga. Manusia atheis, entah itu Marxist atau PKI, hanya mencoba melupakan Tuhan dalam mencapai tujuan hidupnya. Lupa atau sebaliknya inaden? Kalau dibawakan ke negeri kita sendiri, rangkaian tragedi demi tragedi yang menimpa bangsa kita dewasa ini nyaris terbenam dalam lupa ketika hari-hari belakangan bangsa kita dikejutkan lagi dengan tragedi pembunuhan tokoh Papua, Theys Hiyo Eluay (10/11/01). Peristiwa yang satu membenamkan ingatan terhadap yang lain, alias lupa. Tetapi lupa, ternyata bukanlah semata-mata soal kodrat manusia. Ia juga lebih dari sekadar _tidak ingat_. Lupa makin lama makin terkait dengan peradaban modern. Timbunan informasi ditimbun pula oleh akumulasi informasi yang lebih baru. Lupa pada gilirannya bukan lagi sebagai kejadian kebetulan, melainkan sudah menjadi hasil rekayasa media dan orang-orang yang memanfaatkannya. Begitu masif dan merasuknya _proyek lupa_ lewat media, iklan, keputusan politik dan janji-janji pejabat (dan bukan pemimpin) dan tangan-tangan kekuasaan. Simaklah iklan rokok: _Pria punya selera ...._ Di situ direncana-lupkan penyakit kanker dan paru-paru. Simaklah janji Presiden Bush Sr. kepada rakyat Amer iemelintir perut rakyat_. Sementara tragedi kerusuhan, kekerasan, bunuh membunuh sesama anak bangsa sejak awal Reformasi kini mulai samar-samar dalam ingatan. Begitulah tragedi demi tragedi membuat kita _terperangkap_ lupa --- lupa yang berlangsung pada diri dan lingkungan kita setiap hari. * * * Ke manakah jatuhnya pesan agama yang menyerukan keselamatan dan kedamaian umat manusia? Mungkin menguap di udara pengap dan kebisingan rutinitas, karena, Tuhan, seperti yang disinyalir Marx, terkunci dalam ritual ibadah. Khusus tentang fungsi dan signifikansi puasa menurut ajaran Islam tentu telah banyak diuraikan oleh para ulama dan da_i lewat pengajian dan tulisan, lengkap dengan menyetir ayat dan hadithnya. Tetapi mungkin dapat ditambahkan bahwa hikmah tertinggi dari puasa seharusnya melawan semua proyek lupa, baik disengaja maupun tidak, dengan meregulerkan memori, ingatan atau zikr. Dengan berkonsentrasi sehari penuh mulai terbit fajar sampai terbenam mata hari (maghrib), orang yang berpuasa tidak hanya dituntut





>From: "panggugek panggugek" <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Re: [RantauNet] Puasa di kutub?
>Date: Wed, 21 Nov 2001 04:18:17 +0000
>


Get your FREE download of MSN Explorer at http://explorer.msn.com


Kirim email ke