|
Dunsanak Administrator RantauNet Yang
Terhormat
Izinkan saya langsung bertanya kepada uda
Mustika Zed.
Terima kasih atas perkenannya.
Uda Mustika Zed Yang
Terhormat.
Assalaamu'alaikum Wr. Wb.
Kalau boleh saya terka, pernahkah uda
berkunjung dan tinggal beberapa lama di Washington, D.C.?
Kalau benar, dapatkah saya memperoleh
e-mail address Uda? saya akan bincang-bincang dengan Uda nanti.
Demikian saja dari saya, sampaikan salam
saya untuk bapak DR.
Mukhtar Naim dan bapak Prof. Agustiar
Syah.
Wabillahit Taufiq Wal Hidayah
Wassalaamu'alaikum Wr. Wb.
Vero Iskandar
----- Original Message -----
Sent: Thursday, November 22, 2001 2:27
PM
Subject: [RantauNet] Re:Hikmah
Puasa
Puasa, Resistensi terhadap Proyek Lupa
Apakah sebenarnya pesan sebuah agama? Dan lebih khusus, apakah pesan
Ramadhan bagi umat Islam? Karl Marx mungkin tak terlalu tertarik dengan
pertanyaan itu. Sebab, baginya --- dan bagi mereka yang menganggap agama hanya
sebagai ketagihan (candu) ritual manusia belaka --- pertanyaan itu malah
sia-sia. Tetapi harap jangan buru-buru mengutuk Marx atheis. Ia hanya ingin
melihat secara kritis bagaimana agama dipraktekkan dalam kenyataan historis
dan empiris di Eropa sana. Abad ke-19, kita tahu dari sejarah, adalah puncak
deisme, ketika manusia tetap percaya kepada Tuhan, tetapi menguncinya dalam
rumah ibadah. Dalam deisme Tuhan hanya diakui dalam fikiran, tetapi tidak
dalam praktek. Atheis di lain pihak adalah bentuk esktrim dari deisme. Artinya
manusia total menolak kehadiran Tuhan. Karena itu Nietzsche berseru _Tuhan
telah mati_, karena manusia telah membunuhnya. Tetapi tidak juga. Manusia
atheis, entah itu Marxist atau PKI, hanya mencoba melupakan Tuhan dalam
mencapai tujua! n hidupnya. Lupa atau sebaliknya inaden? Kalau dibawakan ke
negeri kita sendiri, rangkaian tragedi demi tragedi yang menimpa bangsa kita
dewasa ini nyaris terbenam dalam lupa ketika hari-hari belakangan bangsa kita
dikejutkan lagi dengan tragedi pembunuhan tokoh Papua, Theys Hiyo Eluay
(10/11/01). Peristiwa yang satu membenamkan ingatan terhadap yang lain, alias
lupa. Tetapi lupa, ternyata bukanlah semata-mata soal kodrat manusia. Ia juga
lebih dari sekadar _tidak ingat_. Lupa makin lama makin terkait dengan
peradaban modern. Timbunan informasi ditimbun pula oleh akumulasi informasi
yang lebih baru. Lupa pada gilirannya bukan lagi sebagai kejadian kebetulan,
melainkan sudah menjadi hasil rekayasa media dan orang-orang yang
memanfaatkannya. Begitu masif dan merasuknya _proyek lupa_ lewat media, iklan,
keputusan politik dan janji-janji pejabat (dan bukan pemimpin) dan
tangan-tangan kekuasaan. Simaklah iklan rokok: _Pria punya selera ...._ Di
situ direncana-lupkan penyakit kank! er dan paru-paru. Simaklah janji Presiden
Bush Sr. kepada rakyat Amer iemelintir perut rakyat_. Sementara tragedi
kerusuhan, kekerasan, bunuh membunuh sesama anak bangsa sejak awal Reformasi
kini mulai samar-samar dalam ingatan. Begitulah tragedi demi tragedi membuat
kita _terperangkap_ lupa --- lupa yang berlangsung pada diri dan lingkungan
kita setiap hari. * * * Ke manakah jatuhnya pesan agama yang menyerukan
keselamatan dan kedamaian umat manusia? Mungkin menguap di udara pengap dan
kebisingan rutinitas, karena, Tuhan, seperti yang disinyalir Marx, terkunci
dalam ritual ibadah. Khusus tentang fungsi dan signifikansi puasa menurut
ajaran Islam tentu telah banyak diuraikan oleh para ulama dan da_i lewat
pengajian dan tulisan, lengkap dengan menyetir ayat dan hadithnya. Tetapi
mungkin dapat ditambahkan bahwa hikmah tertinggi dari puasa seharusnya melawan
semua proyek lupa, baik disengaja maupun tidak, dengan meregulerkan memori,
ingatan atau zikr. Dengan berkonsentrasi sehari penuh mulai terbit fajar
sampai terbenam mata hari (maghrib), orang! yang berpuasa tidak hanya dituntut
>From: "panggugek panggugek" <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Re: [RantauNet] Puasa di kutub?
>Date: Wed, 21 Nov 2001 04:18:17 +0000
>
Get your FREE download of MSN Explorer at http://explorer.msn.com
|