*
kemana sih dia?
anak muda itu bertanya
ia pergi, pagi-pagi, seorang lelaki yang lebih tua menjawab
dan belum kembali?
belum;
kemana sih dia? ada yang bertanya lagi;
sepertinya ke kota, kan ada anaknya di situ, istrinya juga sering ke sana;
ah, dia kan jarang lama meninggalkan rumah besarnya itu;
kemana sih dia? masih saja ada yang bertanya;
mungkin pulang ke kampungnya, sahut lelaki yang lebih tua;
kampungnya?
ah, anak muda kemarin petang;
sebelum kau lahir rumah besar itu adalah rumah kayu kecil tua
dengan rawa-rawa di kiri kanan belakang;
puluhan pohon rumbia menjulang, ratusan biawak bersarang;
lalu sebelum kau lahir juga, anak muda kemarin petang;
lelaki itu datang, mengisi rumah itu, merubah rumah itu,
merubah rawa itu menjadi kebun;
ooo...
darimanakah dia?
dia adalah lelaki gunung, lelaki darek;
datang ketika tanah pesisirmu ini masih setengah rimba;
datang mempersunting seorang gadis di sini;
puluhan tahun hidupnya sudah di sini, di tanah pesisir;
dia mengenal baik hampir setiap inci kampung ini
dari pinggir muara situ hingga ke pinggang bukit barisan sana;
bahkan dia mengenal baik nama-nama orang di pedalaman kampung;
dia menjelajahi pelosok-pelosok kampung sini;
berpuluh tahun itu dia lakukan, anak muda...
tapi dia bukan lelaki darek lagi, anak muda;
dia adalah lelaki pesisir,
yang kebetulan berasal dari darek;
lalu kemanakah dia sekarang? tanya yang tak terjawab juga
kemana ya....
sepertinya tak pernah ia rela meninggalkan kampung ini sekian lama,
rasa-rasanya ia tengah bersenang-senang dengan anak-anaknya di negeri mana,
anak-anaknya merantau dan bertebaran di mana-mana,
aku tahu sekali, anak muda, tak pernah sekalipun ia lupa bercerita tentang
anak-anaknya di negeri antah berantah;
tak pernah lekang sinar kebahagiaan di matanya ketika bercerita tentang
anak-anaknya;
tak pernah redup binar pandangan matanya bercerita
tentang surat, kiriman baju, sarung, pantalon, kopiah, sajadah, uang...
dari anak-anaknya yang dimana-mana;
iya, anak muda;
tak mungkin ia rela pergi sekian lama meninggalkan tanah yang dicintainya
ini
kalau bukan untuk sesuatu yang sangat membahagiakannya;
iya, aku yakin pastilah ia tengah bercengkerama, tengah berjalan-jalan di
kota besar,
jalan bertingkat, mobil mewah mengkilat, gedung tinggi melesat,
dengan anak-anaknya;
dari sinar matanya selama ini tak mungkin ada yang mampu membuat dia
meninggalkan kampung ini
tak ada kecuali anak-anak kebanggaannya itu;
pastilah ia tengah berkumpul dengan anak-anak tercintanya;
***
'rang kampuang, semua...
ini urpas...dengar ceritaku ini;
mudah-mudahan terjawab segala tanya;
'rang kampuang,
pagi-pagi sekali lelaki tua itu meringis,
(tadi tidak menangis, karena ia hampir tidak pernah menangis)
setelah memetik beberapa buah mangga,
memeramnya di bawah tempat tidur, dibungkus suratkabar 'haluan',
'buat istriku nanti, begitu ia pulang', gumamnya
pagi-pagi ia meringis,
(tadi tidak menangis, karena ia hampir tidak pernah menangis)
setelah meletakkan senapan angin di atas lemari tua,
dadanya sakit;
ia tiba-tiba merasa sakit!
'aku sakit...'
o, rumah besar tua yang lengang...
angin pagi menyelinap meluncur pelan;
beberapa semburat cahaya menerobos kisi-kisi;
sebagian besar ruang masih tetap muram, suram, buram;
o, lelaki tua sendiri di ujung hari;
rumah besar tua, pohon rumbia, kelapa, mangga, jambu, pepaya, adalah
anak-anakmu kini;
upik, ujang, urpas...nun jauh di sana,
entah di mana,
bahkan ia sering ragu mengarahkan telunjuknya
ketika mencoba mengira-ngira
di negeri manakah gerangan bocah-bocah kebanggaannya itu mengadu nasib;
lelaki tua terceguk,
tak pernah ia merasa sakit seperti ini,
tidak karena sakit itu sendiri,
namun entah dorongan dari mana yang sekonyong-konyong membuat dia bergumam:
'o, anak-anakku...aku sakit'
lelaki tua kaget,
tak pernah ia merasa sakit seperti ini,
tidak karena sakit itu sendiri,
namun tuhankah yang menghadirkan bayangan anak-anaknya?
sehingga ia menjadi begitu cengeng
berharap anak-anaknya berebut memapahnya ketika ia meringis;
lelaki tua itu memaki dalam hati:
aku adalah lelaki tegar!
menutupi rasa rindu cengeng yang tiba-tiba menerjang;
lalu berucap dalam hati menghibur diri:
ah, lebaran lima bulan yang akan datang mereka pasti pulang..
tapi, rang kampuang...
lelaki
tua-sendiri-dalam-sepi-tak-bertepi-di-ujung-hari-menjelang-terjungkal-mataha
ri itu sakit
ia sakit, sakit...
sepertinya ia tak kuat menahan sakit menghantam dadanya,
'rang kampuang,
lelaki tua itu sakit, dan ia sendiri...
ia hanya bisa memanggil seorang bocah kecil,
yang berlari mengabari tetangga sebelah pagar seberang jenjang,
sekian menit melewati jam delapan;
sebuah mobil bak pengangkut karambie kelapa berbaik hati membatalkan
angkutan pagi itu,
membawa ia meninggalkan kampung itu;
meninggalkan nagari pinggir laut, tepi pantai, sisi ombak,
nagari dibaluri matahari, dilumuri angin, diteduhi tujuh puluh empat miliar
helai daun kelapa;
ia berangkat sambil meringis memegangi dadanya;
ia sakit, 'rang kampuang...
lalu, rang kampuang,
ia memang pergi pagi itu dan belum kembali juga;
namun, benarkah ia tengah berkumpul bersama penuh canda tawa gelak
cengkerama dengan anak-anaknya?
benarkah berkumpul dalam suasana gembira bahagia bersama seperti tiga puluh
tahunan lalu?
ketika bocah-bocah itu masih sepinggangnya?
let me tell you the truth, 'rang kampuang;
sore itu, ia sampai di kota, di sebuah gedung bercat putih;
esok harinya, 'rang kampuang;
ia sampai di kampungnya, tempat di mana ia dilahirkan;
kampung di pinggang gunung sago, ratusan kilometer dari tanah pesisir;
tak lama kemudian sontak semua anak-anaknya satu persatu berdatangan;
dari ujung pulau, dari seberang pulau, dari ujung seberang pulau, dari
mana-mana...
semuanya lengkap;
you know, rang kampuang,
kapan terakhir lelaki tua itu dikelilingi lengkap semua anak-anaknya?
kapan?
bahkan aku pun tak ingat;
mungkin 5, 6, atau 10 atau 15 tahun yang lalu, terakhir kali berkumpul
lengkap,
duduk bercerita di teras rumah, diiringi tawa, kunyahan pisang goreng,
gigitan kue talam, kacang goreng;
duduk bersama di meja makan melalap beras ir 54 berlauk gulai ambu-ambu
serta goreng petai plus ikan bada teri;
dengan lalap jengkol muda dan daun singkong,
namun, 'rang kampuang
dalam pertemuan lengkap kali ini
tak ada pisang goreng, tak ada kue talam, juga tak ada kacang goreng atau
juga kacang miang;
belum ada gulai ikan ambu-ambu atau timpiak, tak kulihat jengkol muda, juga
tak nampak goreng petai;
namun juga, rang kampuang..
jangankan tertawa bercengkerama gelak bercanda;
bahkan kami tak sempat saling bercerita, meski lama sudah tak bersua
bersama;
karena kami semua menangis, rang kampuang;
kami berlomba-lomba menguras habis air mata,
palung penyesalan yang dalam, jurang kesedihan yang dalam terus kami gali,
sehingga air mata kami tak pernah habis;
hanya dia yang tidak menangis, rang kampuang;
hanya lelaki tua itu yang tidak menangis
ia terbaring tenang di tengah-tengah kami;
wajahnya tenang damai, sungguh damai;
tersungging senyum tipis di bibirnya, damai sekali;
indah sekali...
***
rang kampuang,
tolong sampaikan pada yang belum tersampaikan,
memang lama sudah ia tak pulang ke negeri pesisir yang ia cintai itu;
memang ia berangkat ke kota pagi itu,
betul, ia meneruskan perjalanannya ke kampungnya nun di pinggang gunung
sago, di darek sana;
namun, rang kampuang
perjalanannya jauh lebih jauh dari itu,
ia menembus batas dimensi fana ini,
dan ia tak akan pernah kembali lagi ke tanah pesisir itu;
lelaki itu tak akan pernah kembali lagi;
dan, rang kampuang;
puluhan tahun ia berhidup di sini, di negeri pesisir ini;
banyak kata terucap, banyak laku terbuat;
ia bukan nabi, ia lelaki biasa;
dalam dan tulus keinginan kami, 'rang kampuang;
maafkanlah segala kesalahan beliau,
ayah kami.
tarimo kasih, 'rang kampuang.
=urpas=
iimiid, 2025561101
---in memoriam my beloved father---
*let met tell the another truth, ayah.. : 'i love you so much..'
(kali ini urpas meneteskan air mata)
RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================