GAMMA Nomor: 40-3 - 27-11-2001
 
Bersihar Lubis: "KOBOI SOMBRERO MENGANCAM RUMAH GADANG"
 
SENJA itu tiba-tiba aku ingin berbicara dengan dua sahabat yang jauh
dari Jakarta. Satunya adalah Zulqaiyyim. Lainnya adalah Andi Asoka.
Keduanya adalah dosen jurusan sejarah di Fakultas Sastra Universitas
Andalas Padang. Asyik juga. Kugunakan fasilitas teleconference, lalu
kuhubungi dua nomor telepon kedua rekan yang suka berbicara tentang
ikonologi, ilmu tentang patung, lambang, atau logo.
 
Setelah "mohon maaf lahir batin menyambut puasa Ramadan yang suci",
dari seberang kudengar sebuah pernyataan, "Bung, ikon itu amat
filosofis." "Sebab, sebuah lambang mengandung sebuah visi dan misi
dari sebuah lembaga, atau apa pun," kata Zulqaiyyim. "Bahkan, dapat
pula membangkitkan rasa percaya diri," kata Andi Asoka, menyambar
percakapan. "Atau bahkan perang, bila damai semakin jauh," kataku.
Kudengar tawa renyah keduanya. Namun, aku terhening ketika Andi
Asoka berbicara tentang kasus Semen Padang justru dari perspektif
ikonologi, sejarah, dan kebudayaan. Bukan dari pandangan ekonomi dan
politik yang menjemukan dan sok tahu itu.
 
Zulqaiyyim berkisah bahwa logo PT Semen Padang (PTSP) pertama kali
diciptakan pada 1910, semasih bernama Nederlandsch Indische Portland
Cement (Pabrik Semen Hindia Belanda). Logonya berbentuk bulat,
terdiri atas dua lingkaran (besar dan kecil) dengan posisi lingkaran
kecil berada di dalam lingkaran besar. Di antara kedua lingkaran
tersebut terdapat tulisan "Sumatra Portland Cement Works". Di dalam
lingkaran kecil terdapat huruf N.I.P.C.M, singkatan Nederlandsch
Indische Portland Cement Maatschappij, sebuah pabrik semen di
Indarung, 15 km di timur kota Padang.
 
Logo itu hanya berumur 3 tahun karena pada 1913 dibuat sebuah logo
baru, meski bentuk bulat dengan dua garis lingkaran dan kata-katanya
tetap dipertahankan. Hanya saja, NIPCM ditambah dengan NV. Nah, ini
yang menarik: ada gambar seekor kerbau jantan dalam lingkaran kecil
tampak sedang berdiri menghadap ke arah kiri dengan latar panorama
alam Minangkabau. Gambar ini menggantikan posisi huruf NIPCM
sebelumnya.
 
Eh, logo itu diubah lagi pada 1928. Kata Nederlandsch Indische
diubah menjadi I>Padang. Jadi, tulisan di antara kedua lingkaran
tersebut adalah N.V. Padang Portland Cement Maatschapij. Di bagian
bawahnya tertulis Fabrik di Indarung Dekat Padang, Sumatera Tengah,
yang ditulis dengan huruf yang lebih kecil. Wah, telah muncul bahasa
Melayu, setelah Sumpah Pemuda pada 1928. Dalam lingkaran kecil,
selain gambar kerbau, terdapat gambar seorang laki-laki yang sedang
berdiri di depan sebelah kanan kerbau sambil memegang tali
kerbaunya. Ada pula gambar sebuah rumah adat, kelihatan hanya dua
gonjongnya, di belakang sebelah kanan kerbau. Panorama di latar
belakang ditambah dengan lukisan Gunung Merapi, lambang sumarak
ranah Minang. Gambar kerbau tetap ditampilkan mendominasi di
lingkaran kecil tersebut.
 
"Sejarah beredar, logo pun beredar, Bung Zulqaiyyim?" kataku. "Ya,
Jepang kemudian datang membawa perubahan," kata Zulqaiyyim. "Bahkan,
Fort de Kock dan Buitenzorg digantinya dengan Bukittinggi dan Bogor.
NV PPCM diganti dengan Semen Indarung. Logo PTSP tidak diubah,
kecuali perubahan tulisan dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia,"
kata Andi Asoka. Demikianlah sampai Perang Kemerdekaan (1945-1949).
Ada sedikit perubahan, yaitu digantinya tulisan Semen Indarung
dengan Kilang Semen Indarung. Namun, saat Belanda kembali pada 1950,
nama NVPPCM muncul kembali.
 
Logo PTSP dimodifikasi lagi, pada 1958, seiring dengan kebijakan
pemerintah pusat tentang nasionalisasi perusahaan asing. Logonya
yang bulat dipertahankan, tapi tulisan NV PPCM diganti dengan Semen
Padang Pabrik Indaroeng. Gambar kerbau tetap ada. Tapi tiada lagi
gambar seorang laki-laki, rumah adat, dan gambar panorama Gunung
Merapi. Penggantinya adalah gambar atap rumah gadang dengan lima
gonjong di atas gambar kerbau.
 
Logo PTSP diperbarui lagi pada 1970. Dua lingkaran dihilangkan,
sehingga tulisan Padang Portland Cement Indonesia dibuat melingkar
sekaligus menjadi pembatasnya. Gambar kerbau hanya menampilkan
kepalanya saja dengan posisi menghadap ke depan. Di atas kepala
kerbau dibuat pula gambar atap/gonjong (5 buah) rumah adat. Muncul
pula moto PTSP yang berbunyi "Kami Telah Berbuat Sebelum yang Lain
Memikirkan". Namun, pada 1972 logo tersebut dimodifikasi dengan
memunculkan dua garis lingkaran: besar dan kecil. Perubahan terjadi
lagi pada 1991, saat tulisan Padang Portland Cement menjadi Padang
Cement Indonesia.
 
"Wah, logo PTSP sudah berubah delapan kali, dong," kataku. "Tapi,
bila disimak, benang merahnya tak pernah hilang," kata Andi Asoka.
Memang, persamaannya yang pertama terlihat dalam bentuk logo yang
bulat/lingkaran. Yang lainnya, tetap menampilkan gambar kerbau.
Empat logonya yang pertama (1913, 1928, 1950, dan 1958) memuat
gambar seekor kerbau sedang berdiri menghadap ke arah kiri, sedang 3
logo terakhir (1970, 1972, 1991) tetap menampilkan simbol kepala
kerbau.
 
Yang tetap adalah gambar rumah adat. Pada dua logo (1928 dan 1950)
hanya ada anjungan rumah adat sebelah kiri dengan dua gonjongnya.
Empat logo terakhir menampilkan lima gonjong rumah adat yang
terletak di atas gambar kerbau. Memang ada sedikit perbedaan antara
logo tahun 1958 dan logo tahun 1970, 1972, dan 1991. Pada logo tahun
1958 gonjong tersebut menghadap ke kiri, sesuai arah kerbau,
sedangkan sesudahnya menghadap ke depan.
 
"Okelah. Namun, mengapa logo PTSP selalu menggunakan bentuk "bulat"
dengan simbol "kerbau" dan "rumah adat?" tanyaku. "Sebab, kolonial
Belanda paham antropologi, Bung. Saya duga mereka ingin
memperlihatkan "saham" masyarakat Lubuk Kilangan khususnya dan
Minangkabau umumnya, hatta kebanggaan penduduk lokal pun muncul,"
kata Zulqaiyyim.
 
Memang, bentuk bulat (bulek) adalah lambang dari hasil suatu
musyawarah. Kok bulek lah buliah digolongkan, kok picak lah buliah
dilayangkan (kalau bulat sudah dapat digelindingkan, jika pipih
sudah dapat dilayangkan). "Kalau begitu, bisa ditafsirkan bahwa
pendirian Semen Padang merupakan kesepakatan antarninik mamak di
Nagari Lubuk Kilangan dengan pemerintah Hindia Belanda," kataku.
"Ha-ha-ha, bila saja Anda masih lajang, Anda bisa menjadi urang
sumando," kata Andi Asoka terbahak-bahak.
 
Kolonial Belanda tak buruk belaka. Mereka juga menghargai nilai
sejarah dan budaya Indonesia. "Politik utang budi" pun telah dulu
dicanangkan sebelum Semen Padang berdiri pada 1910. Buktinya, hanya
berselang tiga tahun Semen Padang berdiri, muncullah logo yang
menampilkan gambar kerbau. "Kerbau jangan hanya dilihat karena
memiliki kekuatan, tetapi juga sangat erat kaitannya dengan mitos
Minangkabau," kata Andi Asoka.
 
Tak ayal, Zulqaiyyim bersorak dan berkata bahwa Minangkabau, menurut
tambo, berasal dari menang dan kerbau.
 
Alkisah, ketika pasukan dari luar Sumatera menyerbu Ranah Minang,
para pemuka adat berunding untuk menghadapi musuh yang banyak dan
tangguh. Musuh tidak dihadapi secara fisik, tetapi diajak bertarung
berupa "adu kerbau". Para penghulu memilih anak kerbau yang sedang
menyusu, sedangkan pasukan lawan menampilkan seekor kerbau besar.
Ketika "perang" dimulai, anak kerbau yang telah diberi "tanduk"
langsung mengejar kerbau besar itu dan menyerunduk untuk menyusu.
Sang kerbau besar tidak menghiraukannya, sehingga perut kerbau besar
itu pun tabusai (berserakan) ditanduk si anak kerbau. Telah menang
sang kabau, berubah menjadi Minangkabau.
 
Kemudian, Andi Asoka memetik Prof. Nasroen dalam bukunya Dasar
Falsafah Adat Minangkabau. Menurutnya, masyarakat Minangkabau
sengaja memilih totem kerbau karena mengandung filosofi, yaitu
konflik dalam keseimbangan. "Jika dibandingkan dengan binatang
lainnya yang menundukkan kepalanya untuk menunjukkan ketundukannya
kepada siapa yang di depannya, kerbau menundukkan kepala justru
hendak melakukan penyerangan kepada siapa yang ada di hadapannya,"
kata Andi Asoka.
 
Filosofi itu menunjukkan adanya pertentangan dalam keseimbangan,
yakni antara individu dan masyarakat. Dalam masyarakat Minangkabau
tidak dikenal istilah individualisme, dan sebaliknya juga tidak
mengenal istilah totaliterisme. Keberadaan individu dan masyarakat
diakui dengan konsep seorang untuk bersama dan bersama untuk
seorang.
 
Rumah adat Minangkabau alias rumah gadang melambangkan kebesaran
pemiliknya. Bisa pula berupa balairung, tempat bersidang para ninik
mamak untuk membicarakan kemaslahatan anak nagari, sebuah
nilai-nilai demokrasi Minangkabau. Semua anggota keluarga mempunyai
hak yang sama untuk menyampaikan pendapatnya. Hasilnya
sedapat-dapatnya dimufakati secara bulat, sehingga tidak ada yang
merasa dikalahkan atau sebaliknya.
 
Ya, ya. Aku semakin mafhum mengapa masyarakat Sumatera Barat
memperjuangkan spin-off alias pemisahan diri dari Semen Gresik, dan
sekaligus menolak rencana put option, penjualan saham pemerintah
sebesar 51% kepada Cemex Meksiko. Sebab, jika sampai Cemex menguasai
saham Grup PT Semen Gresik Tbk. sampai senilai 25% + 51%,
dikhawatirkan Cemex akan mempunyai wewenang menetapkan harga semen
sesuka hatinya. Memang, untuk jangka pendek dapat membantu beban
keuangan negara yang berat. Tapi, untuk jangka panjang, tidak
mustahil rakyat akan terbebani, seperti yang terjadi di Filipina
sekarang.
 
Apabila itu terjadi, mungkin, Andi Asoka akan menangis sembari
menyanyikan kembali lagu Elli Kasim, yang salah satu baitnya
mempunyai sampiran yang berkaitan dengan keberadaan Semen Padang:
"Sajak pabirik di Indaruang, lori bajalan di ateh kawek.
Sajak maningga mande kanduang, nasi diminta sumpah nan dapek".
(Semenjak pabrik didirikan di Indarung, lori berjalan di atas kawat.
 
Semenjak meninggal ibu kandung, nasi diminta sumpah yang dapat)
Bait lagu itu pula, dalam mimpi buruk Zulqaiyyim, akan mengiringi
pergantian logo Semen Padang menjadi seekor kuda yang ditunggangi
oleh seorang koboi yang memakai topi sombrero dari Meksiko. Tidak
ada lagi rumah gadang......dan sang kerbau pun akan menundukkan
kepalanya.
-Bersihar Lubis, Wartawan
 
GAMMA Digital News: Bersih, Berani, Mandiri - Interaktif!
(c) Hak Cipta Dilindungi oleh Undang-Undang, 1999. - Webmaster info
 
 
 
 

Kirim email ke