Pada saat emosi sering menenggelamkan rasionalitas, tulisan Prof Dr.
Emil Salim di Republika Jumat, 12 Oktober 2001 ini bisa dijadikan bahan
renungan. Menurutku sebahagian ummat saat ini sering kehilangan
rasionalitas. Saya setuju simpati demi kemanusiaan akan nestapa yang
diderita oleh Rakyat Afganistan akibat perang yang sama sekali tidak
mereka inginkan. Namun kenapa solidaritas kepada masyarakat Aceh atau
kepada lebih dari 1,5 juta pengungsi Bamgsa sendiri yang waktu ini dalam
keadaan nyaris tanpa harapan tidak �seheboh� dan �segreget� solidaritas
kepada Rakyat Afganistan?
Tetapi selalu ada yang tidak kehilangan rasionalitasnya, misalnya Ketua
Umum PP Muhammadyah Prof. Syafii Maarif seperti yang diberitakan Kompas
yang diposkan oleh IJP. Saya percaya pendapat Prof Syafii Maarif
mewakili �the silent majority� kaum muslimin Indonesia.
Salam, Bandaro Kayo
Dengan Ilmu Menghayati Agama
Republika Jumat, 12 Oktober 2001
Emil Salim
Mantan Menteri Lingkungan Hidup
(Bagian Pertama)
Pada 4 November 1954, Haji Agus Salim meninggal karena serangan jantung,
beberapa hari setelah ia memperingati ulang tahunnya yang ke-70, pada 8
Oktober 1954. Pada perayaan ulang tahun itu diterbitkan buku Djedjak
Langkah Hadji Agus Salim yang memberikan sedikit gambaran tentang alam
berpikir almarhum. Ia juga menulis buku Filsafat tentang Tauhid, Takdir
dan tawakkal. Dalam buku itu, alam berpikirnya tentang peran
rasionalitas dalam menghayati agama sangat menonjol.
Ketika saya masih jadi mahasiswa pada 1951, materi kuliah waktu itu
belum terlalu banyak. Saya tinggal bersama kakak-kakak, tidak jauh dari
rumah H. Agus Salim (HAS). Saya sering singgah ke rumah Agus Salim �
saya memanggilnya Oom Agus-- saat ia bermain kartu "pasians" dan memberi
kesempatan mengobrol. Saat itu belum ada tape recorder sehingga
pembicaraan tak bisa direkam.
Sebagai seorang mahasiswa yang sedang digodok berpikir ilmiah, saya
bertanya kepada Agus Salim bagaimana sebaiknya mempelajari agama Islam.
Banyak yang ia ceritakan, tapi ujungnya ia meminjamkan buku filsafat
karangannya itu. "Pelajari dan pahami buku ini," katanya berpesan. Buku
ini menjelaskan tentang filsafat di mata Agus Salim, yang tak ubahnya
kebun berisikan pohon-pohon ilmu. Pertama, pohon ilmu logika; yaitu cara
berpikir, berkata secara teratur.
Kedua, pohon estetika yaitu cabang filsafat membahas seni dan keindahan,
hal ikhwal, kesenian, keindahan budaya. Itulah yang dibahas dalam cabang
falsafah estetika. Ketiga, pohon cabang filsafat metafisika, yaitu
membahas hal-hal nonfisik yang tidak tampak. Keempat, pohon
epistemologi, yaitu cabang ilmu filsafat tentang dasar dan batas
pengetahuan.
Dalam alam berpikirnya, ada wilayah yang bisa digarap dengan ilmu, namun
ilmu punya batas yang memisahkan kita dengan bidang agama, setelah
melalui bidang tahap nonfisik/metafisika. HAS ingin mendesak batas
tersebut sejuah mungkin menarik garis ilmu mengenali agama. Agama
bertolak dari "believe", percaya. Sedangkan ilmu bertolak dari
"doubt"/atau kesangsian (keraguan). HAS menghendaki agama dapat kita
jelajahi, masuki dengan cara berpikir ilmu agar kita memiliki satu
keyakinan penuh. Atas dasar ilmu logika dan ilmu falsafah, berkembanglah
kehendak
mengembangkan pendekatan falsafah dalam memahami agama. Bukti alur
pikiran ini, di mata Agus Salim, terdapat dua bahan filsafat: 1) Alam
dan lingkungan hidup dalam alam, seperti gunung, laut, manusia dan
sebagainya. 2) Alam pikiran.
Dengan itu, filsafat tumbuh menjadi filsafat alam yang bersifat empiris,
dan alam berpikir yang bersifat abstrak rasional. Karena itu kita harus
memahami alam, seperti diungkap dalam surat Al Baqarah, tentang laut,
burung, gunung dan angin dll, sebagai tanda-tanda yang harus kita
pelajari dan membawa kita pada filsafat berpikir rasional. Maka filsafat
yang ingin dikembangkan HAS adalah filsafat alam dan filsafat akal yang
berbeda namun menyatu. Satu bertolak pada empiris dan yang lain bertolak
pada rasionalisme. Tapi untuk mengaji itu ada arahan dan tujuannya.
Arahannya didasarkan pada etika, yaitu etika mengejar pemahamam tentang
penciptaan kebahagiaan di jalan Tuhan. Timbul pertanyaan: "Apa tugas
kita hidup di alam nyata ini?" Intinya adalah untuk mengenali dan
memahami alam, dan dengannya kita dalami alam pikiran. Dari situ kita
kembangkan paham metafisika untuk kemudian mencari dan memahami alam
mencari kebenaran hakiki dalam diri Tuhan. Maka pada garis
horisontalnya, ada alam fisik benda yang dapat kita pegang (gunung, batu
dan sebagainya), kemudian kita berangkat ke alam pikiran immaterial yang
tidak ada bendanya. Melalui alam pikiran itu kita menembus hakikat
perikehidupan, dan dengan pemahaman hakikat itu kita masuki bidang
agama.
Mengapa filsafat agama penting? Mengapa pendekatan akal dalam agama
perlu? Ini karena pada 527 M, ada Raja Romawi, Kaisar Yustinianus, dan
istrinya Theodora, yang mempunyai paham bahwa agama dipakai untuk
memberi legitimasi atas kekuasaan yang mereka miliki. Saat itu, Kerajaan
Romawi menguasai praktis sebagian besar daratan Eropa sehingga keduanya
sangat berkuasa. Tapi, untuk keberlajutan kuasanya itu harus dikuasai
pula alam pikiran manusia. Zaman itu kaisar menguasai gereja sehingga
saat itu dikembangkan pemikiran bahwa pemahaman ilmu di luar kitab Injil
dan di luar peraturan gereja dilarang. Ilmu yang boleh dipahami hanyalah
ilmu agama, yang bertumpu pada ajaran baku yang ada dalam kitab Injil
dan
peraturan-peraturan gereja. Setiap orang yang mencoba memahami
pengembangan alam di luar ilmu agama akan dihukum, dibunuh, dan dikejar.
Dalam zaman itu agama terabdikan pada penguasa, dan ilmu sama sekali
tidak berkembang. Zaman kekuasaan kerajaan Romawi adalah masa kegelapan
abad peradaban. Beberapa tahun kemudian, tahun 571 M, lahir Muhammad di
Timur Tengah, jauh dari kekuasaan Romawi itu, jauh dari pengaruh cara
berpikir bahwa ilmu tak boleh dikembangkan di luar agama.
Rasul Allah ii tumbuh dalam alam yang tidak membendung kebebasan untuk
menggali ilmu pengetahuan itu. Sangatlah menarik bahwa Rasul di Gua Hira
mendapatkan wahyu pertama yang memerintahkannya untuk membaca -- iqra'
"bacalah". Membaca bukan hanya yang ada dalam kitab agama dan bukan pula
hanya membaca alam, tapi membaca berbagai tulisan yang telah terpendam
tentang ilmu-ilmu yang ada.
Karena itu dalam semangat pembebasan ilmu dari belenggu ikatan agama,
Rasul dan Islam berhasil menjadikan agama justru sebagai pendorong
pengembangan ilmu. Islam sangat berkembang dan bertumpu padahasrat
mengembangkan ilmu. Ilmu pengetahuan alam bertolak pada Al Qur'an ("Ayo
manusia, kau perhatikan bagaimana terjadinya bumi, kau pelajari alam,
kau bawa akal dan pikiranmu, kemudian kau bawa dan kembangkan akal
pikiranmu").
Dengan demikian, berbeda dengan keadaan di dunia Barat (kerajaan
Romawi), di mana perkembangan ilmu pengetahuan terhenti, di Timur Tengah
(Arab) ilmu itu justru berkembang. Aljabar berkembang di Arab, astronomi
tumbuh di zaman Islam, begitu pula alat kesenian seperti piano, ilmu
kedokteran, dan lain-lain. Ilmu-ilmu berkembang subur, pada kejayaan
Islam dan tumbuh berkembang mencuat ke atas mengatasi kemajuan peradaban
dunia Barat. Di sini ilmu adalah pendorong kemajuan agama. Sehingga
garis pikiran HAS bahwa ilmu harus dikembangkan untuk memahami agama dan
agama mendorong pengembangan ilmu mendapatkan relevansinya.
Tapi kenapa kemudian ada semacam "leveling off" (pendataran) dari
pertumbuhan ilmu di dunia Islam itu. Para ulama mengembangkan fiqih,
mengutamakan pengaturan yang membatasi kreativitas. "Kau harus begini,
kau harus begitu, ini boleh, itu tidak boleh, ini haram, itu halal, dan
sebagainya." Dengan demikian Islam tumbuh dalam koridor "haram" dan
"halal" sehingga menumbuhkan konservatisme bahkan anggapan bahwa
berkembangnya ilmu pun dianggap sebagai bisa membahayakan agama.
Seperti dianut aliran Mutazzilah, Imam Ghazali, salah satu tokoh
pemikirnya, menentang pemasungan Islam dalam membatasi alam pikir dalam
koridor fiqih. ia ingin tetap mengembangkan pendekatan rasional dalam
mengembangkan agama. Di Indonesia, salah satu tokohnya adalah bekas
Rektor IAIN Syarif Hidayatullah, Prof Dr Harun Nasution. Melalui Al
Ghazali kemudian tumbuh alur-alur pikiran, antara lain, 1) alur pikiran
Qadariyah, yaitu manusia bebas, untuk berbuat dan bertanggungjawab atas
perbuatannya itu, 2) aliran Jabariyyah, yakni aliran yang berpandangan
bahwa manusia seperti benda, dia sudah "pre-determent, yaitu telah
ditetapkan, sudah ditakdirkan ("he has no freedom at all"); 3) aliran
ketiga adalah kombinasi aliran pertama dan yang kedua.
Pertentangan alur pikiran fiqih dengan kebebasan rasionalitas dalam
pengembangan Islam tidaksepenuhnya tepat dan memerlukan pembahasan
tersendiri. Yang ingin ditonjolkan di sini adalah tumbuhnya koridor
dalam kebebasan alur rasionalisme sehingga yang mencetakkan pengaruhnya
pada perkembangan rasionalitas memahami agama Islam.
Saya menangkap bahwa HAS menginginkan ilmu dibiarkan berkembang dalam
arah menuju ke etika dan kebahagiaan atas dasar Islam. Namun dalam garis
menuju ke sana, biarlah manusia bebas mengembangkan ilmu berpikirnya dan
masuk ke dalam alam gaib dengan rasionalitasnya (filsafat alam dan
akal), untuk menembus ke alam gaib, mencari pintu-pintu masuk ke dalam
ilmu ketuhanan. Pintu-pintu itulah yang dibuka melalui agama. Keadaan
ke-Esa-an, hakikat Tuhan, "as far as possible use your brain power",
maksudnya adalah menggunakan akal tidak dibatasi oleh fiqih, tapi menuju
pada mencari hakikat Tuhan itu.
Pekerjaan ini ia anggap belum selesai. HAS mengatakan pada penutup
bahwa, "yang saya kerjakan adalah baru menyentuh permukaan, apabila saya
punya waktu, niat saya adalah meneruskan perjalanan ini." Namun karena
waktunya kemudian terbatas, ia meminta generasi selanjutnya melanjutkan
perjalanan, dengan mengembangkan, menggali ilmu, memahami alam gaib itu
untuk dapat menemukan macam-macam pintu agama. Karena Alqur'an penuh
dengan pintu-pintu yang belum terbuka, maka kitab suci ini perlu
dipahami dengan pendekatan ilmu. Di sinilah letak tugas kita menggali
ilmu memahami alam gaib yang dibuka pintunya oleh agama, memahami agama
dan mencari pintu-pintu agar dapat menembus alam gaib itu. Nah, salah
satu pintu pokok itu adalah Tauhid.
RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================