Komentar: Membedakan mana wilayah ikhtiar (yang tunduk kepada hukum alam atau sunatullah dan sebagian besar bisa dikendalikan dan diprediksi dengan ilmu dan pengetahuan) dan mana yang wilayah tawakal (yang berada di bawah kendali manusia) agaknya sering dirancukan sebagian ummat dewasa ini. Masih segar dalam ingatan kita sejumlah �do�a istighotsah� yang digelar ummat dan ulama pengikut fanatik Gus Dur beberapa bulan yang lalu yang memohonkan kepada Allah SWT agar Gus Dur tetap jadi Presiden s.d. Tahun 2004. Dan kita semua tahu bagaimana hasilnya. Hal serupa juga terlihat dari bagaimana sebagian ummat menyikapi konflik Taliban dengan AS, yaitu dengan klaim bahwa Allah SWT �pasti� berpihak kepada Taliban, maka Taliban pasti akan mengalahkan mesin perang dan sekutu-sekutunya. Semangat semacam ini sah-sah saja. Bahkan tidak sedikit para pejuang kita yang dengan senjata seadanya dahulu melawan penjajahan Belanda yang dengan semangat seperti ini (saya pernah membaca dengan perasaan kagum bagaimana Panglima Sudirman yang paru-parunya tinggal satu dan salatnya tidak pernah tinggal mememimpin perang gerilya melawan Belanda). Tetapi dalam perperangan manapun, yang sering menang adalah mereka yang punya strategi di samping kekuatan dan moral pasukan yang lebih baik. Dan itu pulalah yang selalu diperhatikan oleh Rasulullah SAW dalam perperangan-perperangan yang beliau lakukan dalam menghadapi kaum Kafir Qureish. Bahkan dalam perperangan Uhud, terjadinya kekalahan pasukan Rasulullah SAW disebabkan sebagian pasukannya tidak mentaati strategi yang beliau tetapkan, yaitu para pemanah yang berada di atas bukit yang diperintahkan beliau tetap berada di sana sampai perang selesai, meninggalkan posisinya untuk mengejar harta rampasan.
Tetapi saya percaya kepada teori bandul jam. Saya yakin ummat akan belajar dari keterbelakangan dan pengalaman pahit menjadi yang terbelakang. Saya yakin ummat akan semakin cerdas dalam beragama sehingga bisa dengan damai mewujudkan Islam sebagai rakhmat bagi sekalian alam. Saya yakin di tengah keterbelakangan ummat---relatif terhadap Barat---tetap saja Barat bisa melihat nur kebenaran Islam. Seorang teman saya yang aktif disebuah organisasi dakwah yang dimotori oleh para profesional (ada yang bergaji di atas US$ 10 ribu perbulan) baru-baru ini menceritakan bahwa organisasi tersebut banyak menerima permintaan dai dari Australia, AS dan Suriname. Bahkan pada saat krismon dalam tahun 1998, organisasi tersebut berhasil membangun sebuah Masjid dengan biaya sebesar Rp 5 M di Sidney. Dan saya setuju dengan pendapat: Taliban memang Islam, tetapi Islam bukan Taliban. Selain itu saya yakin, bahwa Islam tidak menghalalkan semua cara untuk mencapai tujuan. Catatan tambahan: Haji Agus Salim (HAS) yang lahir pada Tahun 1884 di Kota Gadang, Sumbar adalah salah seorang founding father RI yang dikenal sangat cerdas dan alim. Setelah Indonesia merdeka beliau menjabat sebagai Menter Luar Negeri (1946-1947) dan Muda Luar Negeri (1947-1949). Almarhum yang juga dikenal sebagai diplomat tangguh ini menguasai sejumlah Bahasa Asing, yaitu Bahasa-Bahasa Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, Arab dan Turki. Salam, Darwin (Mohon maaf kepada yang menerima posting ganda) Dengan Ilmu Menghayati Agama Republika, Sabtu, 13 Oktober 2001 Oleh :Emil Salim Mantan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup (Bagian Kedua, Habis) Haji Agus Salim mencoba memahami tauhid itu dari filsafat dan bertolak dari keesaan Allah. Ia membantah orientalis yang menuduh Islam sebagai agama yang menyuruh umatnya selalu pasrah, tabah, tawakal, dan sabar. Oleh mereka, Islam direduksi hanya sebagai agama yang berpendapat bahwa Tuhan menentukan segala hal di bumi ini, sehingga umat Islam hanya harus menerima, bersabar, bertawakal, menyerah, pasrah, nerimo. HAS membantah semua ini. Menurut dia, hal pokok dalam Islam bukanlah tawakal, namun tauhid. Ciri khas Islam adalah tauhid, yaitu mengejar keesaan Tuhan. Dengan tauhid, keseluruhan perbuatan, hidup, dan mati manusia adalah untuk Tuhan, sehingga langkah apa pun yang kita perbuat kita dahului dengan ucapan ''bismilahirrahmannirahim.'' Itu berarti senantiasa dengan nama Allah kita memasuki prakehidupan di dunia ini. Sebagai contoh, polisi tidak bisa seenaknya masuk dan duduk di rumah kita, kecuali kalau mereka membawa surat perintah atau surat izin sesuai perundangan yang berlaku. Pendek kata, seseorang harus tunduk pada peraturan hukum sebelum berbuat sesuatu. Begitu pula manusia di alam bumi (rumah Tuhan). Untuk melakukan pekerjaan, berusaha di alam rumah Tuhan, mereka harus mendapat izin Tuhan. Karena itu wajar jika apa yang kita perbuat di rumah Tuhan ini harus selalau dengan nama Allah. Cara berpikir ini mengandung makna bahwa kita mengakui keesaan Allah. Takdir adalah pintu pokok kedua yang terpenting dalam Islam menurut HAS. Kita hidup, tapi kita tidak dapat menentukan kapan kita lahir dan mati. Ketentuan itu bukan di tangan manusia. Saya berpikir, kenapa saya jadi ekonom, padahal tidak ada bayangan saya suatu ketika jadi ekonom. Siapa yang menentukan kau jadi ekonom, bukan kita. Sehingga dalam seluruh perikehidupan manusia sejak lahir, tumbuh, dewasa, kita mengalami bermacam tahap. Bayi tumbuh, sang ibu merasa harus menyusui dan senang menyusui. Mengapa ibu senang menyusui, mengapa bayi tidak dicampakkan kepada ayah, mengapa bukan ayah yang melakukan semua itu. Ini semua berada di luar keadaan kita dan semua itu adalah takdir, ketentuan Allah. Jadi seluruh siklus kehidupan, siklus dari lahir sampai mait, berada di tangan Allah (takdir). Maka timbul pertanyaan ''apabila semua menjadi takdir Allah, segala sesuatu ada di bawah ketentuan Allah, ya kalau begitu kita tawakal saja. Kau akan begini, begitu, kau lahir begini, ayah ibunya begini, mengapa kita harus bersusah payah bekerja mati-matian dan sebagainya. Maka pokok ketiga yang dianjurkan oleh HAS adalah tawakal. Haji Agus Salim berkata adanya takdir sebetulnya kita tidak tahu. Saya baru tahu bahwa takdir menjadi ekonom setelah terjadi, tapi sebelum terjadi saya tidak tahu. Jadi bila takdir seseorang sudah ada, tidak berarti orang itu sudah tahu tentang takdirnya. Hanya Tuhan yang mahatahu sedangkan manusia tidak mengetahuinya. Ini yang disebut dengan ''expost facto'', yaitu kita mengetahui tentang keadaan setelah sesuatu terjadi. Berbeda dengan ''exante facto'', yaitu mengetahui sebelum sesuatu terjadi. Kita tidak dapat mengetahui apa yang terjadi dengan diri kita sebelum semua itu terjadi. Hanya Tuhan yang tahu dan pengetahuan Tuhan tidak kita miliki. Jadi kalau ada sikap agar kita bersikap pasrah dan nerimo, itu keliru. Tawakal (pasrah) harus diterjemahkan menjadi ''pengakuan Islam terhadap takdir Tuhan mengandung kepercayaan pada Tuhan''. Kalau takdir sudah menjadi ketentuan, Tuhan menetapkan segala dan kita menjalani kehidupan dengan takdir yang kita percayakan ditentukan oleh Tuhan. Karena itu sikap kita kepada Tuhan adalah percaya, believe. Di sini maksudnya adalah believe yang didominasi agama. Dalam hal percaya itu, ada satu hal bahwa Tuhan adalah Pengasih dan Penyayang (Rahman dan Rahim). Tuhan tidak akan menjerumuskan kita, kecuali kita yang menjerumuskan diri sendiri. Maka apa yang harus kita perbuat jika memasuki rumah Tuhan? Ucapkan ''Bismilahirahmannirahim'', mintalah restu dan izin Allah yang Rahman dan Rahim. Kita juga mengatakan ''aku percaya kepada-Mu Tuhan dan bagaimana arah kehidupanku di bumi. Kaulah yang menentukan karena rahmat dan rahim-Mu tak akan menjerumuskan diriku, kecuali kalau aku sendiri membuat kerusakan dan menjerumuskan diri.'' Dari sikap ini lahirlah hubungan antara tauhid, takdir, dan tawakal. Sifat tawakal bukanlah sifat pasif, namun aktif, yang dijiwai dan disemangati oleh semangat believe, percaya pada Tuhan yang Rahman dan Rahim. Dengan rahman dan rahim, Al Qur'an berkata ''kalau kamu menanam satu biji, Aku memberikan lebih banyak. Kalau kau berbuat baik, Aku mengganjarinya dengan banyak.'' Artinya bila kita berusaha maka hasil usaha kita itu akan diganjari berlimpah ruah. Bila petani menanam satu biji padi, hasilnya akan berkilo-kilo biji padi. Kita mempelajari ilmu dan ilmu yang kita peroleh akan luas sekali atas hasil pengetahuan kita. Dalam suasana tawakal kita mengharapkan rahman dan rahim Tuhan atas perbuatan baik kita. Tawakal artinya menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, sambil kuat berusaha. Kemudian timbul pertanyaan ''apa yang menguasai takdir?'' Telah diketahui bahwa banyak hal tidak kita kuasai, misalnya kita tidak menguasai nyawa kita, organ fisik kita. Tiba-tiba mata kita tidak bisa melihat baik, atau tiba-tiba pendengaran kita tidak bisa mendengar baik, mengapa demikian?'' Orang-orang menjawab, ini mungkin saja karena faktor usia. Bukan hanya demikian, kita tidak menguasai organ-organ dan fisik yang kita miliki, kita tidak menguasai kesehatan. Yang tadinya sehat, tiba-tiba menjadi sakit. Mengapa dan bagaimana itu timbul? Kita tidak menguasai paham pikiran, pengetahuan dan keyakinan, kita tidak menguasai faktor-faktor yang berada di luar diri kita. Maka semua ini berada di bawah ridha Allah, dan inilah yang kita sebut ''takdir''. Jadi kita hidup dalam suasana giat berusaha, tetap saja hasil usaha kita ditetapkan oleh takdir Tuhan. Takdir bergantung dari kekuasaan di luar diri kita oleh kekuasaan yang menguasai segenap alam dan isi kehidupan. Jika usaha kita berhasil, kita tidak boleh sombong, membanggakan diri sendiri, menganggap bahwa kita berhasil karena diri kita semata. Ini salah. Kita memperoleh itu semua karena takdir Allah, kekuasaan Tuhan mengizinkan kita begitu. Begitu pula bila kita gagal, menderita, tiba-tiba ada anggota keluarga kita yang meninggal dunia, kita tidak boleh berkata: Tuhan tidak adil, Tuhan tidak benar, Tuhan telah mengambil anggota keluarga kita, Tuhan menyebabkan kita sakit, dan kita marah pada Tuhan. Itu keliru karena di balik itu semua ada hikmah yang kelak, nanti akan kita ketahui karena itu adalah bagian takdir dari Allah. Sehingga apa pun yang kita lakukan, baik atau buruk, sehat atau sakit, ada takdir, ada sebab, ada sesuatu yang nanti akan kita ketahui, bukan sekarang. Karena kita belum tahu sebelumnya, maka tidak boleh kita menganggap hal tersebut sebagai hukuman atau hal yang kita cerca pada Tuhan. Ini mencerminkan perikehidupan yang semakin meningkat. Kalau manusia berada dalam tingkat peradaban masih rendah, maka sakit, baik, buruk, ada dewa dan hantu, ada ormuda dan ada ahrimati, dua kekuatan yang mengatur baik dan buruk kehidupan manusia. Bila orang ditimpa baik oleh dewa orang kemudian akan bersyukur dengan memberikan bermacam-macam pengorbanan, sesajen, upeti kepada dewa-dewa, tuhan-tuhan kecil bagi mereka yang belum mengenal agama tersebut sebagai penghargaan. Mengapa hal tersebut terjadi? Ini karena orang-orang tahu di luar dirinya ada kekuasaan yang menentukan baik buruknya, arah hidupnya itu, sehingga bila hidupnya baik, maka ia percaya bahwa ia harus memberikan jasa. Maka kepada tuhan kecil itulah ia memberikan korban atau persembahan. Begitu pula untuk mencegah buruk, kita harus menghambat datangnya keburukan dalam rumah kita dengan memasang berbagai alat penangkal setan, penangkal sial dan lain-lain. Bila manusia berada pada tingkat peradaban kecerdasan yang masih rendah, ia percaya kepada tuhan-tuhan kecilnya itu. Tetapi berangsur-angsur kita bergerak dari ilmu pengetahuan kepada ilmu alam gaib ke pintu agama, meningkatlah pengetahuan agama kita, pemahaman akal pikiran meningkat maka kesadaran kita meningkat bahwa tuhan kecil hilang dan berlaku adalah Tauhid, atau keesaan Tuhan. Kita pahami takdir dan tawakal dalam kerangka luas filsafat kehidupan beragama ini. Inilah inti pesan Haji Agus Salim dalam buku berjudul Keterangan Filsafat tentang Tauhid, Takdir dan Tawakal. -- suatu pesan yang hingga kini masih relevan untuk disimak dan direnungkan. RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ATAU Kirimkan email Ke/To: [EMAIL PROTECTED] Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama: -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda] -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda] Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung ===============================================

