Sekadar posting ringan untuk dunsanak2 RN
Dari email seorang sahabat...
Sembilan Asas Akhlak Mulia
-------------------------
Para ulama dan muballigh seringkali mengutip sabda Nabi s.a.w. bahwa
beliau diutus ''hanyalah untuk melengkapkan berbagai keluhuran akhlak.''
Dalam sabda lain beliau menegaskan bahwa ''yang paling banyak memasukkan
manusia ke dalam surga ialah taqwa kepada Allah dan keluhuran akhlak'',
dan bahwa ''tidak ada sesuatu apapun yang lebih berat timbangannya
daripada keluhuran akhlak.''=20
Kutipan sabda Nabi s.a.w. ini menggambarkan betapa sentralnya masalah
akhlak --tingkah laku kita di dunia ini.
Pengertian akhlak dapat kita telusuri dari makna kebahasaan perkataan
Arab ''akhlaq'' itu sendiri (bentuk jamak dari ''khuluq'', yang
pengertiannya tercantum dalam al-Qur'an sebagai pujian kepada Nabi
s.a.w. bahwa beliau ''berada pada khuluq yang agung,'' (Q. 68: 4) yakni
berakhlak sangat mulia. Maka teladan akhlak mulia itu, sebagaimana kaum
Muslim sepenuhnya menyadari, ialah Rasulullah, Muhammad s.a.w. Al-
Qur'an memang menyebut Nabi s.a.w sebagai teladan yang baik bagi kita
berkenaan dengan akhlak mulia yang berasaskan kesadaran akan kehadiran
Allah dalam hidup, dengan senantiasa berharap kepada-Nya dan kepada
kebahagiaan di Hari Kemudian (Q. 33: 21). Al-Qur'an juga menyebutkan
bahwa keteladanan yang baik serupa itu juga tersedia untuk umat manusia
(Q. 60: 6).
Makna kebahasaan ''akhlaq'' atau ''khuluq'' itu sendiri sudah
mengisyaratkan kepada pengertian yang mendasar itu, yang satu akar kata
dengan ''khalq'' (penciptaan), ''khaliq'' (pencipta), dan ''makhluq''
(ciptaan). Dengan demikian, istilah ''akhlaq'' atau ''khuluq'' mengacu
kepada pandangan dasar Islam bahwa manusia diciptakan dalam kebaikan,
kesucian, dan kemuliaan, sebagai ''sebaik-baik ciptaan''
(ahsan-utaqwim). Manusia harus memelihara kebaikan, kesucian, dan
kemuliaan itu, dengan beriman kepada Allah dan berbuat baik kepada
sesamanya. Jika tidak dapat memeliharanya, manusia dapat jatuh
martabatnya menjadi serendah-rendah makhluk (Q. 95: 4-6).
Kita semua mengetahui bahwa kesucian asal manusia itu dinamakan fitrah
(fithrah). Al-Qur'an menyebutkan bahwa fitrah adalah dasar keruhanian
manusia untuk mampu menangkap ajaran kebenaran dari Tuhan. Dengan
perkataan lain, ajaran Tuhan, berupa agama yang lurus dan logis (hanif), adalah
kelanjutan atau pemenuhan fitrah manusia yang suci itu. Dari sinilah
kita peroleh pengertian, mengapa Nabi s.a.w. menegaskan bahwa beliau
tidaklah diutus melainkan untuk melengkapkan berbagai keluhuran akhlak.
Dari sudut lain, kita dapat memahami akhlak dalam pengertian dasar
tersebut dengan mengaitkannya dengan ''perjanjian primordial'' antara
manusia dan Tuhan. Disebut ''primordial'', karena terjadi sebelum
kelahiran di dunia. Dalam al-Qur'an digambarkan bahwa sebelum kita, umat
manusia, lahir ke dunia ini sebagai ''anak cucu Adam,'' kita dipanggil
oleh Allah dan dimintakan persaksian bahwa Allah adalah Tuhan (Rabb)
kita dan kita membenarkan (Q. 7: 172).
Konsekuensi perjanjian primordial itu ialah, manusia lahir di dunia
dengan mambawa kecenderungan ruhani untuk tunduk dan berbakti kepada
Allah serta kerinduan kembali kepada-Nya dengan penuh pasrah dan rela
(ridla)<.I>. Kerinduan kembali kepada Allah adalah bentuk mutlak
kerinduan kembali ke asal. Setiap makhluk, khususnya manusia, sangat
merindukan untuk dapat kembali ke asal. Seperti anak yang berhasil
kembali ke pangkuan ibundanya, setiap keberhasilan kembali ke asal
selalu menimbulkan kebahagiaan yang tinggi. Dan setingi-tinggi
kebahagiaan itu ialah keberhasilan kembali kepada Asal segala asal,
yaitu Allah SWT.
Oleh karena itu disebutkan dalam al-Qur'an bahwa ingat kepada Allah,
suatu bentuk sikap kembali, akan menimbulkan ketenteraman batin (Q. 13:
28), dan bahwa jiwa yang tenang ialah yang berhasil kembali kepada Allah
dengan rela kepada-Nya dan karena itu Allah pun rela kepada jiwa itu (Q.
89: 27-30). Sebaliknya, orang yang gagal kembali ke Asal, dalam hal ini
ke Tuhan, dalam peristilahan agama disebut ''kesesatan'' (dalalah),
suatu ungkapan kebingungan dan keadaan tidak tahu arah (''kehilangan
orientasi'') dengan segala perasaan jiwa dan pengalaman batin yang
samasekali tidak membahagiakan.
Kembali kepada Tuhan jelas menuntut berbagai konsekuensi dalam tingkah
laku kita di dunia. Karena kembali kepada Tuhan merupakan kemestian
akibat adanya perjanjian primordial, dan karena perjanjian primordial
itu, pada urutannya, merupakan pangkal fitrah manusia yang suci,
kemudian fitrah itu sendiri mewujud dalam kerinduan jiwa dan sukma
kepada kebaikan, kesucian, dan kebenaran (manusia sebagai makhluk
hanif<.I>), maka gerak perjalanan kembali kepada Tuhan itu menyatakan
diri dalam akhlak mulia.
Jadi, berakhlak mulia adalah tindakan memenuhi kemestian kemanusiaan
primordial yang suci, karena itu bersifat alamiah dan wajar, memberikan
rasa tenteram, aman, dan sentosa, unsur-unsur pokok kebahagiaan.
Tuntutan tindakan nyata itu membuat kebajikan (al-birr<.I>) tidak dalam
bentuk-bentuk kesalehan formal, seperti ''menghadap ke timur dan ke
barat''. Menarik sekali merenungkan makna mendalam firman Allah berikut
(dalam terjemahan): ''Bukanlah kebajikan bahwa kamu menghadapkan wajahmu
ke arah timur dan barat, akan tetapi sesunguhnya kebajikan itu ialah
orang yang beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat,
kita-kitab, nabi-nabi; dan yang mendermakan harta yang dicintai kepada
kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang dalam
perjalanan, para peminta-minta dan orang yang dalam perbudakan; dan
(kebajikan) ialah orang yang menegakkan sembahyang dan menunaikan zakat;
dan orang-orang yang menepati janji apabila mereka berjanji, dan
orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam saat
bahaya. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah
orang-orang yang bertaqwa.'' (Q. 2: 177).
Firman tersebut meneguhkan bahwa kebajikan --dasar akhlak mulia atau
budi pekerti luhur, yang dalam firman itu disebut sebagai ''orang-orang
yang benar dan bertakwa''-- adalah asas kehidupan beragama. Asas itu
dapat diperinci: (1) Asas iman kepada Allah, sebagai asal dan tujuan
hidup, yang mutlak senantiasa hadir beserta manusia di manapun dan
kapanpun; (2) Asas kesadaran pertangungjawaban mutlak di Hari Kemudian
atas segala tingkah laku di dunia; (3) Asas kepercayaan kepada adanya
makhluk gaib, khususnya para malaikat, yang selalu mengawasi tingkah
laku sehari-hari manusia; (4) Asas kesediaan menerima ajaran kebenaran
universal seperti termuat dalam kitab-kitab suci dan dibawakan oleh para
nabi sepanjang sejarah umat manusia di masa lalu; (5) Asas kesadaran
sosial, dengan memperhatikan nasib sesama manusia dalam masyarakat luas;
(6) Asas memenuhi kewajiban beribadat kepada Allah, dengan kesadaran
penuh sebagai hamba Allah yang harus tunduk dan pasrah (islam)
kapada-Nya; (7) Asas kesadaran fungsi sosial dari harta kekayaan, bahwa
semuanya itu adalah amanat Allah; (8) Asas kesetiaan kepada janji dan
perjanjian sesama manusia (dalam hal ini, secara syrai'ah, termasuk
hukum-hukum kenegaraan); dan (9) Asas ketabahan menghadapi kesulitan
hidup, penuh harapan kepada Allah, tidak putus asa.
Kesembilan asas tersebut adalah asas kehidupan orang-orang yang
berakhlak mulia --orang-orang yang benar-- yang menurut al-Qur'an mereka
itulah orang-orang yang bertakwa.
Tulisan Ini Pernah Dimuat di MBP Tekad edisi No. 17/II=20
bisa di-search di Republika Online (http://www.republika.co.id)
Semoga bermanfaat,
Love
Esteranc Labeh
JKT
------------------------------------------------------------
Free Web-email ---> http://mail.rantaunet.web.id
Komunitas Minangkabau ---> http://www.rantaunet.com
RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================