Assalamu'alaykum wr..wb..
Analisis yang cukup menarik, selamat membaca. Mohon
maaf bagi yang sudah pernah membaca.

Wassalam
ONA

 
> MATINYA AKAL SEHAT
>
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0110/14/nasional/foku25.htm
> 
> BETUL sekali apa yang dikatakan oleh Bill Maher,
> pembawa acara 
> Politically Incorrect, sebuah talk show politik di
> sebuah jaringan 
> televisi nasional di Amerika Serikat (AS). Ia
> mengkritik pengeboman 
> bertalu-talu militer AS yang diperintahkan oleh
> Presiden George Bush, 
> sebagai sebuah tindakan yang lebih pengecut, jika
> dibandingkan apa 
> yang dilakukan oleh teroris yang menyerang New York
> City dan 
> Washington DC.
> 
> Pengeboman AS yang dilancarkan terhadap Afganistan
> tidak lebih dari 
> tindakan balas dendam Presiden Bush terhadap
> berbagai "sasaran 
> militer" di Afganistan. Kenyataan menunjukkan,
> banyak bom itu 
> menghujam sasaran-sasaran sipil yang menimbulkan
> korban jiwa di 
> kalangan rakyat biasa.
> 
> Pengeboman membabi buta itu juga nyaris tidak ada
> kaitannya dengan 
> aktivitas Osama bin Laden. Lagi pula, apa betul Bin
> Laden merupakan 
> orang yang bertanggung jawab atas serangan teroris
> ke New York City 
> dan Washington DC? Presiden Bush sampai saat ini
> masih belum bisa 
> membuktikan kepada dunia internasional yang berhak
> mengetahuinya. 
> 
> Padahal, Presiden Bush menggembar-gemborkan perlunya
> sebuah 
> collective effort dunia internasional untuk membasmi
> terorisme. Entah 
> sudah berapa pemimpin internasional yang menyatakan
> dukungan terhadap 
> upaya memerangi terorisme. Sudah ratusan-mungkin
> malahan milyaran-
> juta dollar AS dana yang dikumpulkan untuk membantu
> pemulihan 
> kemanusiaan dan ekonomi AS, yang merupakan bantuan
> dari perseorangan, 
> kelompok, dan negara internasional.
> 
> Akan tetapi, ironisnya, Presiden Bush tidak pernah
> mau memberikan 
> bukti-bukti (to produce evidence) mengenai
> keterlibatan Bin Laden, 
> dengan alasan informasi itu sangat rahasia dan bisa
> membahayakan cara 
> kerja dinas intelijen AS. Yang berbahaya, bagaimana
> kalau kelak yang 
> menabrakkan pesawat ke World Trade Center itu
> ternyata kelompok 
> teroris lainnya? Adalah mungkin jika diandaikan,
> bahwa mereka yang 
> menyebarkan kuman anthrax melalui surat kiriman
> belakangan ini, 
> merupakan kelompok teroris yang lain dari Bin Laden?
> 
> Air bombing bergaya koboi yang diperintahkan
> Presiden Bush memang 
> merupakan opsi militer yang tidak bermoral. Caranya
> juga tidak 
> elegan, yakni ibarat "meminjam rumah orang-orang
> lain untuk melempari 
> batu" ke sebuah rumah yang bernama Afganistan.
> Pengeboman bertalu-
> talu itu bukanlah sebuah perang yang adil (just
> war), melainkan 
> sebuah tindakan kejam terhadap rakyat yang tidak
> mampu memberikan 
> perlawan berarti.
> 
> Namun, lagi-lagi patut dicamkan, bahwa pengemboman
> semacam ini sudah 
> menjadi kebiasaan buruk militer AS sejak dulu, untuk
> menyelesaikan 
> konflik dengan cepat dan murah. Ingat, pengeboman
> yang dilakukan 
> Jepang adalah terhadap sasaran militer di Pearl
> Harbour, bukan Pantai 
> Waikiki. Tetapi, balasan bom atom AS adalah
> membumihanguskan rakyat 
> sipil di Hiroshima dan Nagasaki. Begitu pula saat AS
> melancarkan 
> carpet bombing di Vietnam dan Kamboja, yang membakar
> hidup-hidup 
> rakyat yang tak bersalah.
> 
> Jadi, janganlah mengherani pilihan air bombing yang
> diperintahkan 
> Presiden Bush, yang didukung PM Inggris Tony Blair
> yang oleh stasiun 
> televisi BBC disebut sebagai American poodle. Lagi
> pula, pengeboman 
> terhadap Afganistan merupakan sebuah tujuan politik,
> yang sudah 
> ditetapkan Presiden Bush, bahkan sebelum tragedi 11
> September, untuk 
> mendongkel pemerintahan Taliban yang sah di Kabul. 
> 
> Jangan lagi heran kalau pers AS sendiri kelak akan
> mengungkap semua 
> hal yang "berbau rahasia" mengenai sepak terjang
> para pejabat tinggi 
> AS, yang membohongi publiknya sendiri. Ingat
> bagaimana dulu Presiden 
> Ronald Reagan ketahuan menjual senjata ke musuh
> besar AS, Iran, yang 
> keuntungannya disalurkan kepada gerilyawan Contra di
> Amerika Tengah. 
> Atau skandal "Pentagon Papers" ketika Presiden
> Richard Nixon 
> membohongi rakyatnya sendiri soal Perang Vietnam.
> 
> Hanya sebuah ilusi
> 
> Kita di Indonesia sebaiknya memahami bahwa premis
> mengenai benturan 
> antara peradaban Barat dan Islam, seperti yang
> sering diulas di media 
> massa, hanyalah sebuah ilusi. Apa yang terjadi
> sebetulnya kekeliruan 
> Presiden Bush dan sebagian rakyat serta media massa
> AS, yang sejak 
> awal sudah memiliki sebuah purbasangka yang keliru
> terhadap Islam.
> 
> Masih segar dalam ingatan bagaimana sikap
> diskriminatif sebagian 
> rakyat AS, terhadap komunitas Islam dan Arab di
> sana. Tercatat ada 
> ratusan insiden, mulai dari penghinaan sampai
> pembunuhan, yang 
> dilakukan terhadap orang-orang warna kulit dan
> rambutnya tampak 
> seperti orang-orang di Timur Tengah. Bahkan, seorang
> anggota parlemen 
> lokal di sana, sudah menganjurkan dilancarkannya
> semacam sweeping 
> terhadap "orang-orang bersorban" di jalan-jalan
> bebas hambatan.
> 
> Adalah Presiden Bush sendiri yang mengobarkan
> semangat anti-Islam, 
> tatkala ia memakai kata crusade (perang salib)
> terhadap terorisme, 
> yang kurang mengindahkan perasaan umat Islam. Dunia
> Islam patut 
> curiga, wacana tentang threat perception yang dianut
> oleh Presiden 
> Bush kini ditujukan kepada agama kedua terbesar di
> dunia itu, setelah 
> rubuhnya komunisme Uni Soviet.
> 
> Yang paling menghebohkan adalah ucapan PM Italia
> Silvio Berlusconi, 
> yang mengatakan bahwa peradaban Barat lebih unggul
> dibandingkan 
> peradaban Islam. Masa? Lalu, siapa yang membunuhi
> orang-orang Yahudi 
> di Eropa, kalau bukan para pemimpin di Eropa
> sendiri, termasuk 
> pemimpin tiran Italia Benito Mussolini? Bagaimana
> pula menjelaskan 
> bahwa kekejaman penjajahan kolonialisme Eropa di
> Asia dan Afrika 
> merupakan sebuah peradaban yang unggul?
> 
> Oleh sebab itulah tidak pada tempatnya, jika
> Presiden Bush 
> mengeluhkan muncul reaksi keras, berupa
> demonstrasi-demonstrasi di 
> berbagai negara menentang serangan ke Afganistan.
> Harus dicamkan 
> pula, demonstrasi-demonstrasi itu juga terjadi di
> negara-negara non-
> Islam seperti di Korsel, Jepang, Brasil, bahkan di
> AS sendiri. 
> 
> Dan menjadi aneh mendengar keluhan duta besar AS di
> Jakarta, Robert 
> Gelbard yang mengeluhkan minimnya pengamanan aparat
> keamanan kedutaan 
> besar di Jalan Merdeka Selatan. Apa yang terjadi di
> Jakarta dan kota-
> kota lainnya sebetulnya masih termasuk tertib, jika
> dibandingkan 
> kekerasan yang dialami berbagai pusat Islam (Islamic
> centers) di AS. 
> 
> Sebetulnya, kepentingan-kepentingan politik dan
> bisnis AS di 
> mancanegara, jarang menjadi sasaran permusuhan
> (hostile) dari pihak-
> pihak yang anti-Amerika. Malahan, meminjam teori
> dependensi Johan 
> Galtung, perusahaan-perusahaan multinasional Amerika
> sudah sangat 
> leluasa untuk memetik keuntungan di mana-mana.
> Mereka tidak 
> mengindahkan kesejahteraan rakyat setempat, lebih
> memilih kerja sama 
> yang saling menguntungkan dengan kelompok borjuasi
> dan komprador 
> pemerintahan dan swasta di masing-masing negara.
> 
> Itu yang terjadi di beberapa negara di Teluk Persia,
> yang menjadi 
> sumber minyak bumi AS, termasuk yang pengelolaannya
> dilakukan 
> perusahaan-perusahaan minyak milik keluarga Presiden
> Bush dan Wakil 
> Presiden Dick Cheney. Perlindungan untuk keluarga
> kerajaan Arab Saudi 
> oleh pangkalan militer AS, menjadi salah satu
> rangsangan bagi Bin 
> Laden untuk memulai upayanya melawan keluarga
> kerajaan dan AS.
> 
> Matinya akal sehat
> 
> Itu juga sebabnya mengapa, misalnya, reaksi di
> beberapa negara 
> Amerika Latin banyak yang tidak bersimpati terhadap
> peristiwa 11 
> September. Sebab, selama berpuluh-puluh tahun rakyat
> di sana tidak 
> pernah menikmati kemajuan (underdeveloped) sekalipun
> sumber-sumber 
> daya dan alam mereka sudah habis terkuras.
> 
> Banyak orang di Cina yang juga bersikap sama dengan
> mereka yang di 
> Amerika Latin. Pasalnya, mereka justru menganggap,
> adalah AS sendiri 
> yang bersikap hostile karena surplus perdagangan
> bilateral memang 
> berada di pihak Cina. Mereka memahami bahwa persepsi
> di kalangan 
> Presiden Bush yang menilai Cina sebagai "pesaing
> strategis" 
> ketimbang "mitra strategis", lebih bermotivasi
> ekonomi ketimbang 
> militer. 
> 
> Apa yang dialami Cina saat ini pernah juga dirasakan
> oleh bangsa 
> Jepang, saat mereka menerobos hegemoni ekonomi dan
> industri AS, 
> misalnya melalui mobil-mobil yang lebih hemat bensin
> atau walkman. 
> Saat Jepang memulai proses relokasi industri dengan
> mendirikan pabrik-
> pabrik di AS, mereka merasakan juga sikap hostile di
> sana. Etos kerja 
> mereka disepelekan, pola hemat mereka untuk tidak
> sembarangan belanja 
> secara konsumtif, ditertawakan.
> 
> Kita pun di Indonesia selama ini selalu bersikap
> ramah terhadap 
> berbagai kepentingan ekonomi dan politik AS, yang
> tentu juga sudah 
> memetik keuntungan ekonomi dan bisnis yang jumlahnya
> tentu tidak 
> sedikit. Kita juga mengalah saat mereka ikut campur
> dalam proses 
> pemilihan dan penggulingan presiden kita, juga saat
> kita dipermalukan 
> karena harus rela melepas Timtim. Kita pun tidak
> marah sewaktu mereka 
> mengajari kita bagaimana menyelenggarakan pemilu
> yang jurdil, atau 
> bagaimana caranya mengembalikan tentara ke barak. 
> 
> Jadi, apa yang terjadi dewasa ini lebih tepat
> disebut sebagai 
> perbenturan kepentingan AS melawan kepentingan
> sebagian besar negara 
> di dunia. Tampaknya, sebagai satu-satunya negara adi
> daya, Presiden 
> Bush masih merasa semua negara sa-habatnya akan
> tunduk seperti kerbau 
> yang dicocok hidungnya, sama seperti yang dulu
> sering dilakukan AS 
> pada era Perang Dingin.
> 
> Sayangnya, zaman sudah berubah. Tidak ada lagi yang
> mau menuruti 
> Presiden Bush, yang tampaknya semakin banyak
> ditinggalkan para 
> sahabat internasionalnya, karena sudah kehilangan
> akal sehat dengan 
> terus mengebomi Afganistan tanpa ampun. Untuk
> Presiden Bush: selamat 
> datang di tata dunia baru yang tidak bersahabat
> kepada Anda! 
> (Budiarto Shambazy) 
> 
> ------------------------------------------------
> Muhammad Salman
> School of Comp.Science and Software Engineering
> Faculty of Information Technology
> Monash University, Australia
> 
> Phone : +61 3 9540 0085
> Mobile: 0402 987 273
> Email : [EMAIL PROTECTED]
>         [EMAIL PROTECTED]
> -------------------------------------------------
> 
>
---------------------------------------------------------------------
> Listen to your emails from any telephone
> http://www.mbox.com.au
> 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Make a great connection at Yahoo! Personals.
http://personals.yahoo.com

RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke