http://www.detik.com/peristiwa/2001/12/02/2001122-212903.shtml
Revrisond: Pemerintahan Mega Cenderung Lakukan Resentralisasi
Reporter: Bagus Kurniawan
detikcom - Yogyakarta, Pemerintahan era Habibie, Gus Dur hingga Megawati
dilihat dari sisi kemajuan publik yang dikelola, dinilai pengamat ekonomi
Revrisond Baswir belum ada perubahan dibandingkan era Soeharto.
Menurutnya, yang ada hanya gembar-gembor seolah-olah banyak uang
didaerahkan. Revrisond mengkhawatirkan, di era Mega dalam hubungan antara
pusat dan daerah, yang akan terjadi adalah resentralisasi bukan
desentralisasi. Demikian dikemukakan oleh pengamat ekonomi UGM Revrisond
Baswir dalam acara Dialog Ramadhan II,
"Prospek Demokratisasi Indonesia Di bawah Kepemimpinan Megawati" di Masjid
Kampus UGM Yogyakarta, Minggu (2/12/2001).
Menurut Revrisond, kecenderungan ke arah resentralisasi terlihat setelah
adanya berbagai masalah mengenai otonomi daerah, terutama setelah ada
Peraturan Daerah (Perda) bermasalah. "Mungkin benar banyak perda yang
bermasalah dan mungkin benar ada perda yang tidak masuk akal dalam konteks
pungutan-pungutan daerah seperti PAD dsb," katanya.
Sony panggilan akrabnya, mempertanyakan, kalau Pemda sekarang ini sampai
mengalami kesulitan dana tidak mampu membayar gaji itu siapa yang salah.
"Kira-kira yang mendorong-dorong agar Pemda kreatif mencari tambahan
penghasilan itu juga pemerintah pusat. Sehingga bagi orang daerah untuk
kreatif artinya membikin saja perda dan melakukan pungutan, sebagai cara
yang paling mudah," kata Sonny.
Sonny juga menilai ungkapan Ketua Komisi Anggaran DPR Benny Pasaribu bahwa
ada Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar 45 persen bocor sebagai lelucon. "Bahwa
uang APBD di daerah itu 80-90 persen untuk belanja rutin, bagaimana mungkin
DAU bisa bocor 40 persen, kan tidak masuk akal sama sekali," tegas direktur
Institute Developement Economics dan Analysist (IDEA) itu.
Menurut dia, sampai hari ini hampir 95 persen penerimaan publik itu masih
dipungut oleh pusat, sehingga Pendapatan Asli Daerah (PAD) diseluruh
Indonesia dari tingkat I sampai tingkat II jumlahnya hanya 5 persen saja.
Inilah yang menyebabkan mengapa parlemen atau DPRD gila-gilaan ingin
menggenjot PAD. Sebab, PAD hanya 5 persen saja sedangkan seluruh keuangan
negara mulai dari PPh, PPN, cukai itu masih dipungut pusat.
Sonny mencurigai, saat ini ada upaya melakukan kampanye negatif terhadap
otonomi daerah. "Jadi ada semacam propaganda sistematik agar otonomi daerah
tidak kebablasen kalau perlu dikurangi. Kalau begini bukan demokrasi lagi
tetapi resentralisasi," ujarnya.
Sementara itu disisi lain, pemerintahan Megawati ada upaya melakukan
tindakan tidak ada ampun bagi separatisme sehingga upaya-upaya dialog
menjadi tertutup. "Jadi kalau itu yang terjadi maka ada penafsiran yang
keliru bahwa dalam rangka pemulihan ekonomi maka kalau perlu kekerasan harus
dilakukan," ujar Sonny.
Dengan demikian, lanjut dia, bisa jadi upaya pemulihan ekonomi menjadi
instrumen untuk membungkam demokrasi. Kalau seperti itu berarti kembali lagi
di zaman Soeharto yang mengatakan perlu tumbuh sehingga stabilitas
ditegakkan dan artinya berarti pembungkaman. "Jadi gejala yang perlu
dicermati dalam pemerintahan era
Megawati ini akan meneruskan proses demokrasi atau secara pelan-pelan akan
kembali mengurangi," kata staf pengajar FE UGM itu
======================================================================
Alam Takambang Jadi Guru
======================================================================
_________________________________________________________________
Get your FREE download of MSN Explorer at http://explorer.msn.com/intl.asp
RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================