|
Selamat Tahun Baru 2001. Selamat berleha-leha. Terlampir tiga
artikel di antara beberapa artikel yang gagal menembus halaman media massa. Tiga
artikel sampah, yang hanya memberatkan harddisk.
Terima kasih untuk rekan-rekan, teman-teman di dunia maya,
baik yang sesekali ketemu, atau memang ndak pernah ketemu, kecuali lewat milis.
Maaf juga atas kiriman tiga artikel ini, karena memberatkan.
Semoga masih ada harapan di tahun 2002.
Salam Damai di Bumi
ijp
<pernah jadi sibutous>
(1) Negeri Ini dalam Kata Inilah ironi demokrasi yang lahir sangat terlambat dalam sebuah negeri yang akan tenggelam, jika tak diselamatkan. Negeri yang dipimpin oleh para raksasa dan dewa-dewa yang memperebutkan singgasana kekuasaan, dengan mengaduk-aduk makna logika, dalam keadaan mabuk dan perut kenyang. Sebuah negeri yang mempesona dunia, terbentang di sudut terindah planet bumi. Negeri yang membiarkan ikan-ikannya mati di sungai, laut dan danau, oleh limpahan racun mercury dari pabrik-pabrik yang hanya menguntungkan satu jenis manusia, pengusaha. Negeri yang berselimutkan seribu mitos, tentang Nyi Loro Kidul, tentang Majapahit, tentang Sriwijaya, tentang pahlawan-pahlawan yang menjadi nama-nama jalan, tentang orang-orang besar, tentang teknologi tinggi yang menguasai udara. Negeri yang memproduksi pesawat-pesawat yang tak sanggup terbang, apalagi dilirik para pembeli luar negeri, disaat orang-orang butuh makan karena lapar sejak pertama lahir di muka bumi, lalu mati di jalanan dan kamp-kamp pengungsian. Inilah negeri yang telah luluh-lantak oleh sebuah kata, kursi. Negeri besar yang harus berurusan dengan sebuah benda karena kekerdilan pikiran. Negeri yang sering membakar karya-karya pujangganya. Negeri yang menempatkan sebuah kata lagi, mahasiswa, yang belum pandai berkata-kata sebagai tumbal-tumbal penebus dosa. Negeri yang tak lagi merdeka, sejak proklamasinya, hanya karena ada deretan kata "atas nama" bangsa Indonesia, dalam naskah proklamasinya. Dan senjata "atas nama" itu pulalah yang dipakai orang-orang yang mengaku pemimpin, lebih dari 55 tahun, padahal hakekat kata-kata itu hanyalah upaya mengangkangi kemolekan dan kesederhanaan jutaan manusia miskin di negeri ini. "Atas nama" rakyat, "atas nama" ideology, "atas nama" agama, "atas nama" stabilitas, "atas nama" pembangunan, "atas nama" reformasi, terjadilah penghambaan terhadap sebuah kursi dan sekaligus penginjak-injak sebuah kata lagi, manusia. Inilah negeri yang tak peduli pada genangan darah, kepala terpenggal, pelacur-pelacur intelektual, pemerkosaan, perampokan, pembakaran jasad orang-orang mati. Inilah negeri yang membiarkan bayi-bayi butuh gizi langsung hadir meminta-minta di depan mall-mall yang berisikan produk mahal luar negeri. Inilah negeri yang membiarkan anak-anaknya bodoh, yang dididik oleh telenovela, komik-komik penuh berahi, dan tontotan kekerasan setiap harinya. Inilah negeri yang membiarkan orang-orang dewasa, menumpuk lemah di perutnya, mengkonsumi pil-pil viagra untuk bawah perutnya, meniduri perempuan-perempuan muda di hotel-hotel yang sengaja dibangun untuk itu. Inilah negeri yang membiarkan kata-kata yang berada di kitab-kitab suci sebagai sesaji, sebagai mantra, untuk membunuh lawan-lawannya, menginjak-injaknya, lalu menyiramkan bensin, memotong kemaluannya, lalu berteriak, "Mati kau, Iblis!!" Lalu mereka merapal doa-doa. Tragedi telah menjadi akrab dengan negeri ini, juga komedi dan sensasi. Negeri penuh umpatan, caci maki, baik di jalanan, parlemen, istana, angkutan umum, bahkan dalam rumah-rumah ibadah. Negeri yang menyuruh anak-anak mudanya mengambil kesimpulan secara cepat: salah atau benar, tanpa harus memahami mengapa sebuah kesalahan muncul, mengapa kebenaran terjadi. Negeri yang membiarkan ruang udaranya terbuka oleh masuknya produk kebudayaan global yang menghimpit mati kebudayaan local, hanya karena ketidak-arifan, dan rasa rendah diri. Negeri yang tak peduli pada harga diri, padahal ketika awal didirikan, harga diri begitu ditonjolkan sebagai modal awal kemerdekaan. Inilah negeri, bagaikan dongeng, yang tak pernah berhenti memilih pemimpin-pemimpinnya, lalu menjatuhkannya beramai-ramai, sebagai ritual suci dalam bungkus feodalisme. Negeri yang kehilangan tenaganya, kekayaannya, optimismenya, hati nuraninya, tenggang-rasanya, akibat kesalahan pilihan kata para pimpinannya dari ruang-ruang anti peluru dan berpengawal, dengan gaji besar. Negeri yang dihasut oleh pemimpin-pemimpinnya untuk saling bertempur, mengumbar hawa nafsu hewani. Inilah negeri yang penuh luka, karena sejarah, karena agama, karena partai, karena pengagum seseorang, atau karena berbeda tempat kelahiran. Inilah negeri yang menyiram tanamannya dengan darah manusia, memberi makan buaya-buaya lapar dengan daging manusia, dan membiarkan jeritan bayi-bayi mungkin kehilangan masa depannya ketika dilahirkan. Inilah negeri yang lebih menghendaki kematian, daripada kehidupan. Inilah negeri yang membentuk pasukan-pasukan berani mati, untuk membela pimpinan-pimpinannya yang bersengketa, tanpa pelu tahu mereka mendapat apa. Negeri yang dulunya molek, kini berubah tua, keriput, dan kehilangan seluruh memory tentang mimpi-mimpinya. Negeri yang membiarkan kata-kata menjadi basi, berlumut, hanya karena kata-kata itu mengalami inflasi makna karena digunakan berkali-kali oleh politisi-politisi bermental kerupuk, lemah, tidak berpendirian, dan berpikiran busuk. Inilah negeri yang memberikan seluruh energinya untuk sebuah kata, sengketa, yang dikorek-korek dari masa lalu. Inilah negeri yang hanya dibelit lakon-lakon angkara murka dari kisah Baratayudha, tanpa pernah tahu siapa Kurawa atau Pandawa Limanya. Negeri ini tidak lagi punya masa depan, karena masa depan sudah dimonopoli oleh dendam yang ditanam sejak masa lalu dan masa kini. Negeri ini memerlukan sebuah kata, darurat, sebagai keadaan yang tak pernah berakhir, bahkan hampir menjadi tujuan. Negeri ini lahir secara darurat, dengan UUD darurat, pemerintahan darurat, ekonomi darurat, politik darurat, empat presiden darurat, pendidikan darurat, kebudayaan darurat, lalu masuk kedalam Unit Gawat Darurat (UGD) yang ditangani lembaga-lembaga darurat internasional. Negeri ini menjadi negeri darurat yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Inilah negeri yang hampir kehilangan kata, harapan. Inilah negeri yang gagap berkata-kata, rikuh menyimpuh di kaki algojo-algojonya (IMF dan Tentara), yang memberikan setiap jengkal tanahnya, diinjak-injak, diteliti, tanpa boleh disembunyikan satu incipun. Inilah negeri yang membolehkan ruang tidur anak-anak gadis dan istri-istrinya, ditatapi oleh jutaan mata di penjuru dunia, hanya untuk menunjukkan bahwa anak-anak gadis dan istri-istri itu mengerti tentang mode terbaru. Negeri ini, dulu, bernama kabut. Kabut yang dihembuskan oleh angin tropika dari hutan-hutan lebat dan gunung-gunung yang menjulang ke langit. Kabut yang menghembuskan kesegaran, sebelum orang-orang merambah hutan-hutan itu, membakarnya, membunuh bibit-bibit yang hendak tumbuh, membiarkan ribuan jenis binatang mati kelaparan. Kabut itu, kini, berganti asap kotor, polusi, dengan tingkat yang diluar ambang batas normal. Hutan yang dibabat, uangnya masuk kantong manusia-manusia rakus berperut buncit, yang tak pernah menginjakkan kaki kepada yang namanya kehidupan. Asap kotor itu datang, masuk ke tenggorokan penduduk, sementara pemilik pabrik, tinggal di lereng-lereng bukit bebas polusi. Inilah negeri, yang kehilangan kata, keindahan. Adakah ia mampu bertahan, menghela nafas tuanya, menatap ribuan mata menangis tiap hari, kehilangan sentuhan perasaan? Adakah kata yang masih berarti di negeri ini? (Jakarta, 30 Juli 2001) *** (2) Kanibalisme Politik Global Tak ada peristiwa demi peristiwa paling seru untuk dilihat, dibaca, serta dinilai penuh emosi sekarang ini, dalam pentas politik global, selain meluncurnya bom-bom di Afghanistan. Kehancuran yang diciptakan bom-bom itu mampu memotong kaki anak-anak kecil, menimbulkan hysteria massa, menghancurkan rumah-rumah penduduk, serta menimbun depa demi depa tabungan dendam. Perang telah masuk ke bilik-bilik pribadi ummat manusia. Di negara-negara muslim, pemboman Amerika-Inggris atas tanah air Afghanistan telah membawa ribuan massa ke jalan-jalan. Di Jakarta, polisi bentrok dengan warga negara yang melakukan aksi-aksi penentangan perang. Terlepas dari siapa yang benar, siapa yang salah dalam bentrokan itu, nyatanya sekarang situasi keamanan global sangat berpengaruh kepada keamanan domestik. Apa yang kita bisa baca dari tragedi perang abad ini, dari perspektif politik? Hanya satu, seiring dengan "kemajuan" zaman, politik telah kehilangan basis nuraninya. Modernisme politik, berupa penghormatan hak-hak individual, bahkan untuk membunuh dirinya sendiri - eutanasia - sekarang telah kehabisan energi. Yang terjadi adalah praktek-praktek politik paling primitif, bahkan kanibal, dengan tak memberi harga pada nyawa manusia. Perang yang sekarang dilakukan atas nama "anti terorisme" ternyata telah melanggar batas-batas yang bisa dibenarkan oleh logika dan nurani. Perang telah meletakkan masa depan ummat manusia, sekaligus dunia, pada titik ledak yang siap menyediakan kata akhir: kiamat. Ketika sebutir peluru ditembakkan, saat itu pertimbangan kemanusiaan lenyap, juga akal budi, hukum, dan keimanan. Manusia menjadi mesin dalam sekrup politik. Manusia-manusia kaleng yang hanya mengenal "kill or killed". Ketika sebutir peluru itu mengenai manusia-manusia tak berdosa, baik akibat peluru nyasar atau karena ketidak akuratan sasaran akibat cuaca gelap, saat itu kebenaran hakiki dibungkam. Orang-orang mati, tanpa pernah tahu mengapa mereka mati, dan apakah mereka menerima kematian itu dengan ikhlas atau justru menjerit dengan mata penuh tanda tanya. Peluru-peluru yang ditembakkan dengan bantuan teknologi jarak jauh, telah berfungsi menjadi jari-jemari malaekat pencabut nyawa. Peluru-peluru itu menentukan dengan persis, dari hitungan menit dan jam, kapan seseorang harus mati. Malaekat asli di dunia maya, tinggal mencatatnya, lalu membuat laporan kepada Tuhan. Peluru telah menjelma Tuhan, sekaligus hantu, untuk "menyelesaikan persoalan ummat manusia". Dan lihatlah perang opini yang keluar, pasca pembunuhan. Juru bicara Taliban bicara bahwa yang mati seratus orang, sedangkan juru bicara USA mengatakan yang mati hanya 10. Padahal, hakekat kematian penduduk tak berdosa bukan persoalan angka atau statistik, melainkan seberapa pantaskah mereka mati? Kalau mereka mati tanpa ada hak untuk mempertanyakan absah-tidaknya, hanya karena sebuah stigma dan kampanye politik "anti terorisme", saat itulah manusia menjadikan politik dan, lebih rendah lagi, retorika, sebagai senjata. Ketika seorang anak Afghanistan mati terbunuh, tanpa tahu bahwa mereka tak berhak mati, saat itulah orang yang memencet tombol kematiannya telah menjadi seorang kanibal, manusia yang suka memangsa manusia lain hanya karena naluri hewan yang masih tersisa dalam diri mereka. Politik global sekarang tak lebih dari pertunjukan manusia-manusia kanibal itu, atas nama perlindungan kepada komunitas masing-masing. Mirip sekawanan hewan yang membunuh hewan lainnya yang mengusik mereka. Manusia-manusia itu tak cukup hanya mempertahankan diri di lingkungan masing-masing, tetapi malahan berburu manusia lain keluar batas-batas wilayah tradisionalnya. Inilah perang, yang membawa kelelahan batin. Inilah perang yang tak lagi bersandarkan kepada teologi, ideologi, atau konvensi internasional yang dirintis selama berabad-abad. Perang yang hanya berdasarkan kepada "hukum" kuno: anda boleh membalas, kalau anda diserang, tanpa pernah diketahui pasti, siapakah yang menyerang, dan kepada siapa balasan itu diberikan. Tentu artikel ini tak saya tujukan kepada Bush atau Osama bin Laden, tetapi kepada perang. Bush dan Osama hanyalah dua anak manusia yang telah menyeret dunia pada mimpi kanak-kanak, atau mimpi teknologi moderen, seperti yang banyak ditemukan dalam buku, game watch, film-film, atau sejarah. Ketika game watch mengajarkan kepada anak-anak untuk main perang-perangan, main pesawat-pesawatan, sekarang ini justru anak-anak itu dijadikan mainan dalam dunia real. Manusia akhirnya menjadi permainan, dan bahkan dikendalikan, oleh sesuatu yang dulunya hanyalah sebuah keisengan dari mesin-mesin pembunuh waktu. Kanibalisme politik itu pula yang dipertontonkan oleh jaringan media global ke seluruh penjuru dunia. Padahal, sebagaimana dicatat oleh Paulo Grassi, ahli sejarah Italia, kritikus sandiwara dan produser, bahwa "...pesan kekerasan - malahan bukan merupakan himbauan untuk menciptakan perdamaian dan harapan - melainkan selalu mempunyai akibat yang tidak dapat dikendalikan dan seringkali menggoncangkan, terutama akibat disebarluaskan melalui bahasa citra (language of image)...Setiap perubahan tidak akan terjadi hanya dengan mengibar-ngibarkan bendera, dengan menggedor-gedor meja atau merusak dan melakukan pembongkaran. Bukan bom dan senjata api yang akan mengubah sejarah, tetapi justru kecerdasan, pemikiran dan dialektika atau secara singkat, yaitu kebudayaan dan kadang-kadang juga imajinasi..." (1989: 39-41). Kekhawatiran Grassi itu diungkapkan dalam pertemuan Meja Bundar Unesco, Juni 1978. Tema pertemuan itu : "Dunia Macam Apa yang Akan Kita Wariskan pada Anak-anak Kita?". Kini, setelah lebih dari dua dekade, temuan itu kembali menyeruak di tengah teater kanibalisme politik global. Sebab, anak-anaklah yang akan menjadi korban dari labirin kekerasan yang menguasai pikiran mereka. Anak-anak korban perang, bahkan anak-anak yang hidup jauh dari jangkauan perang tetapi menonton adegan perang, akan mendapatkan dampak psikologis sama: ketakutan, kegelisahan, atau bahkan heroisme. Di medan Aceh dan Ambon, anak-anak juga menjadi korban, sekaligus mendapat latihan, akibat perang. Begitu juga di Palestina, dan kini di Afghanistan. Padahal yang berperang adalah orang tua, dengan pikiran karatan, lalu kehendak untuk mengangkangi dunia untuk alasan-alasan pribadi masing-masing. Orang-orang tua yang mempraktekkan kanibalisme politik itu, sedikit sekali berpikir, berkata, atau bahkan bersimpati kepada anak-anak yang akan melanjutkan peradaban manusia. Seakan, mereka akan berkuasa selamanya. Seakan, mereka tak melihat bahwa masa depan anak-anak mereka akan dipertaruhkan, akibat dendam yang menahun, akibat ibu-bapak-saudara mereka dilumatkan oleh mesin perang. Kehancuran WTC, serta leburnya Afghanistan, telah memenjarakan pikiran dan mimpi masa kecil anak-anak kepada kepercayaan akan kekuatan material. Heroisme muncul sebagai racun turun temurun yang bisa meluluh-lantakkan kemanusiaan di masa depan. Perang telah menghancurkan masa lalu, masa kini, dan juga masa depan. Satu-satunya jalan untuk menghentikan kekerasan demi kekerasan itu adalah dengan menghentikan perang. Tak ada aturan agama apapun yang mengatakan, bahwa korban kemanusiaan dari orang-orang tak bersalah, adalah patut mati atas nama Tuhan, atas nama norma-norma kemanusian, atau atas nama moralitas. Ketika sebutir peluru ditembakkan dan mengenai orang-orang tak bersalah, saat itu juga norma-norma yang menopang kemanusiaan luruh dan lenyap. Inilah elegi bisu abad ini, ketika manusia makin dipinggirkan oleh mesin-mesin pembunuh kelas satu. Inilah tragedi kemanusiaan universal, ketika kanibalisme politik dipentaskan dengan ledakan-ledakan bom yang memekakkan seluruh penjuru dunia. Tapi inilah saatnya untuk berkata "hentikan perang!!!" Menolak perang adalah hukum kemanusiaan tertinggi yang masih tersisa dalam nurani ummat manusia. Wallahu 'Alam. Jakarta, Oktober 2001. *** (3) Elite dan Rakyat Adegan perkelahian antara anggota MPR menghidangkan tontonan pembuka dari ST MPR 2001. Persoalan itu bermula dari keinginan untuk langsung mensyahkan Fraksi Utusan Daerah (FUD) yang ternyata harus melalui rapat-rapat di Komisi. Di tengah krisis yang semakin menjadi-jadi dalam tubuh ini, apa yang bisa kita analisa dari perkembangan itu? Benarkah premanisme politik sudah menjadi bagian dari tradisi demokrasi yang ingin kita bangun? Tetapi, tunggu dulu, siapapun pemenang dalam tragedi politik bangsa ini, pihak yang kalah sudah jelas: rakyat. Siapapun yang menjadi lapisan elite berikutnya, dalam fase-fase konsolidasi demokrasi yang berjalan banci, margin lapisan rakyat miskin tak berubah malah bertambah. Tingkat pengangguran yang mencapai 40 Juta jiwa, jumlah pengungsi yang melebihi angka 1 Juta jiwa, korban penggusuran nelayan yang bertambah, seakan-akan hirau dari agenda pembicaraan elite politik. Belum lagi tatanan politik baru terbentuk, tatanan lama hendak bangkit kembali, lewat sejumlah pernyataan. Sungguh, Indonesia berada di titik nol, ibarat kapal yang sudah penuh air di tengah samudera. Sedikit saja goncangan atau ombak datang, maut akan menjemputnya. Dalam masa-masa revolusi kemerdekaan, kawan dan lawan bisa dibedakan. Sekarang? Siapa lawan, siapa kawan, sungguh kabur. Otoritarianisme negara Orde Baru yang memerangkap kekuatan-kekuatan oposisi dalam penjara besar Indonesia, sekarang digantikan penjara-penjara kecil berdasarkan afiliasi politik dan kepentingan. Lantas mereka juga ada di seluruh lembaga-lembaga negara, baik eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Tak jelas mana yang oposisi, mana yang pemerintah. Sedangkan frustrasi sosial menyelusup kedalam relung-relung kalbu rakyat kebanyakan, dan berubah menjadi kepasrahan. Setiap ada komponen-komponen masyarakat yang mengaku rakyat atau mengatasnamakan rakyat, tinggal berhadapan dengan data-data keras hasil Pemilu 1999 yang demokratis. Sungguh beruntung orang-orang yang menjadi bagian dari elite kekuasaan di Indonesia. Sepanjang sejarah dan pra sejarah, rakyat Indonesia termasuk paling patuh kepada penguasanya. Kolonialisme ratusan tahun yang membelenggu Indonesia, ternyata sekarang telah berubah menjadi benteng-benteng budaya yang dipahat oleh kalangan elite. Medan kesadaran rakyat telah dihipnotis menjadi takluk, kepada penguasa asing atau pribumi. Pantas saja Indonesia menjadi sorga kalangan penguasa, penghasil konglomerat, koruptor, juga para pembantai kemanusiaan tanpa sentuhan hukum. Sejumlah perlawanan yang terjadi dimasa silam, atau sekarang, bisa ditarik kepada sebuah garis merah sejarah: pertikaian di kalangan elite, baik sipil, apalagi militer. Aru Palaka-Sultan Hasanuddin, Kaum Adat-Kaum Paderi, lalu sekarang yang membawa idiom-idiom organisasi keagamaan, juga kelompok-kelompok primordial, pada dasarnya tumbuh dari pertikaian yang terjadi di kalangan elite. Rakyat, tetap tak berdaya. Elite Indonesia betul-betul mengalami krisis moral dan etika. Padahal mereka adalah pemimpin-pemimpin politik dan agama. Politik dan agama, selama sejarah yang kita kenal, menurut Bertrand Russell (1953) adalah sumber etika dan moral seseorang. "Didalam Taurat politik dan agama tidak saling berhubungan: yang satu sebagai undang-undang, sedangkan yang lain sebagai nabi-nabi. Dalam Abad Pertengahan Eropa, perbedaan semacam itu tampak dalam moral resmi yang dijalankan oleh sistem monarki, dan oleh kesucian pribadi yang dipelajari dan dipakai oleh ahli-ahli tasawuf yang besar-besar. Moral kembar itu, yaitu moral umum dan moral pribadi, yang masih hidup terus, adalah suatu hal yang mesti diperhatikan oleh teori etika yang tepat," demikian Russell (hal. 110). Di Indonesia, politik menjadi sampah, dan agama seringkali menjadi masker yang menutupi kejahatan politik perseorangan. Bagi penganut teori evolusi, keheningan yang terjadi sesungguhnya perubahan yang lambat. Tetapi bagaimana bisa perubahan bisa disebut sebagai perubahan, apabila yang terbangun justru pemakaman demi pemakaman bagi pihak-pihak yang kalah, tanpa pertarungan? Rakyat Indonesia adalah contohnya: mereka selalu kalah, padahal tak pernah benar-benar bertarung dengan pihak-pihak yang tiba-tiba saja menjadi pemenang. Rakyat memang pernah menang dalam menentang kolonialisme, tetapi setelah kemerdekaan diperoleh, apakah rakyat menikmati kemenangan itu? Yang menjadi penikmat, selalu lapisan elite yang jumlahnya segelintir. TNI yang menggunakan slogan dari rakyat untuk rakyat, dalam berbagai kesempatan, oknum-oknumnya justru telah menghadapkan senjatanya ke kalangan rakyat itu. TNI sekarang tak lebih dari institusi yang ditarik beragam kekuatan politik, dan yang jelas bukan rakyat. Contohnya adalah soal lembaga peradilan yang berhak mengadili pelaku-pelaku penembakan rakyat dalam Tragedi Semanggi I dan II. Beragam kasus class action antara rakyat dengan pemerintah, terutama kasus tanah, sekalipun di tingkat peradilan tertinggi dimenangkan rakyat, tetap saja sulit mengeksekusinya. Rakyat Indonesia sebenarnya tak perlu begini merana, apabila sedikit saja kepala ditolehkan keluar dari kesumpekan sosial-politik yang terjadi dalam tubuh bangsa ini, kesumpekan yang dicari-cari dan diciptakan sendiri oleh kalangan penguasa. Dalam setiap nyanyian revolusi, suara rakyat adalah suara Tuhan. Ketika para penguasa tak lagi mendengar suara rakyat, jangan jengah kalau Tuhan menegur dengan cara-Nya. Revolusi juga tak perlu hadir, apabila teguran Tuhan itu sudah menunjukkan dirinya dalam bentuk yang paling halus, sampai yang paling kasar. Apabila rakyat telah menyatakan keinginannya, dan keinginan itu merupakan hak-hak lahiriyah yang dijamin oleh undang-undang dasar, lalu keinginan itu tak didengarkan karena ada suara lain dari Dewan Perwakilan Rakyat, Majelis Permusyawaratan Rakyat, atau Pemerintah yang mengemban amanat penderitaan rakyat, apa yang mesti dilakukan? Di Indonesia, rakyat menjadi diam. Sebagian yang melakukan perlawanan, terjebak dalam anarki, padahal anarki adalah musuh demokrasi. Untuk mengatasi kenaikan harga-harga barang, jalan yang ditempuh rakyat bukan lagi mogok, melainkan menurunkan standar hidup dan makanannya. Kemaren makan pepes ikan, sekarang ganti dengan pepes tahu. Kemaren bisa beli sabun merek X yang mahalan, sekarang ganti pakai sabun solek yang kiloan. Posisi rakyat menjadi sulit, ketika sejuta orang (taruhlah jumlah para pengatasnama rakyat jumlahnya satu juta), mengatasnamakan 200-an juta lainnya. Tak terkecuali media massa yang hampir seluruhnya menyebut diri sebagai pengemban kedaulatan rakyat, amanat rakyat, hati nurani rakyat, atau harapan rakyat. Hidup memang tak berhenti, sekalipun hak-hak rakyat dirampas. Indonesia berada di titik nol, tetapi titik nol bukan berarti halte pemberhentian. Titik nol adalah sebuah fase diam. Apakah diam dalam geram, diam dalam sekam, atau diam yang benar-benar diam, hanya rakyat yang tahu. Tapi diamnya rakyat adalah kekuatan, karena rakyat bukan patung-patung tanpa nyawa. Siapa yang merasa diam merupakan kelemahan, tentu akan kecele melihat kondisi Indonesia akhir-akhir ini. Ambil contoh Megawati. Bagi Mega, diam adalah kekuatan. Tanpa harus capek-capek membereskan persoalan seputar kelemahan dirinya, orang lain yang dulu menghinanya telah menutupi kelemahan itu. Mega telah menjadi maghnet bagi batu-batu penghalang yang dulu dengan garang menghadangnya. Dan ketika Mega berbicara, sekarang, mulailah beragam terlihat antara apa yang dibicarakan dengan realitas di lapangan. Tinggal menghitung, apakah kata-kata yang disampaikan Mega itu benar adanya, atau hanyalah bagian dari retorika politisi biasa. Massanya yang bermata merah, bermulut putih, sekarang juga sudah menggeliat, dengan membentuk sejumlah organisasi pendukung, sambil sesekali melakukan kegiatan sosial di ribuan posko-posko bambu yang tersebar di Indonesia. Massa yang sebetulnya bergerak, tetapi gerakannya dalam diam. Amboi, air tenang menghanyutkan. Air beriak tanda tak dalam. Begitulah kekayaan pepatah lama yang sekarang dikembalikan ke panggung kehidupan Indonesia, paling tidak oleh Megawati. Bisakah elite dan rakyat bergerak beriringan, tanpa terjebak pavoritisme, elitisme, atau eksklusifisme? Lalu bisakah seluruh pergerakan itu dilakukan dengan dengan diam. Indonesia yang sebetulnya berisik, tetapi lewat sunyi. Kata-kata bersiponggang kalangan politisi yang kini hadir bak raja, akan tertelan oleh diam ini. Perkelahian mereka mungkin cuma bagian dari fase kekanak-kanakan yang belum sempat disalurkan. Kata-kata dan perkelahian itu akan membentur diri sendiri, karena memantul dari rumah-rumah kumuh atau jalanan berdebu yang sibuk dalam pergulatan hidup, lalu kembali ke pemiliknya yang beristirahat di hotel-hotel berbintang. Saya masih ingat, tahun ini adalah tahun ular. Bagi pecinta filsafat yang dilahirkan berabad-abad silam di pedalaman China sana, tahun ular adalah tahun pergerakan, tetapi pergerakan dalam diam. Diam yang siap menerkam. Diam yang menakutkan. Bagi siapapun yang mendongakkan kepalanya, lalu berkata-kata menunjukkan jumawanya, siap-siaplah untuk rebah, diterkam diam, digulung kekuatan diam. Tahun ular, yang tentunya sebagai filosofi pemikiran, sungguh enak untuk dicerna. Indonesia mungkin sedang berada di titik nol, tetapi bukanlah kematian. Indonesia yang sejajar dengan bumi, tapi tak dibawah bumi. Indonesia yang sejajar langit, tapi tak diatas langit. Kapal Indonesia yang sejajar air, tapi tak dibawah air, dan juga tak diatas air. Indonesia yang menyimpan energi besar, energi perubahan. Dan perubahan itu, tak tergantung elite, tak tergantung penguasa, tetapi tergantung rakyat. Indonesia yang berubah, dengan kekuatan rakyat yang sedang diam. Bentuknya apa? Entah. Akibatnya apa? Entah. Apakah kekuatan itu akan menerkam kekuasaan? Entah. Tapi yang jelas, kekuasaan yang sekarang seolah-olah dikendalikan oleh elite, tak akan mampu menahannya. Diam yang bergerak, siapapun tak akan mampu menahannya. Ibarat sungai, siapa yang bisa menahannya? Bendungan terkokoh pun akan hancur, dengan sangat perlahan. Wallahu 'Alam. (Jakarta, November 2001.) |

