orang minang itu seperti orang islam;
sibuk mambangga-banggakan masa lalu;
sibuk mancari-cari 'simbol-simbol' untuk mempertontonkan 'kelebihannya';

orang minang itu seperti orang islam,
orang minang masih sibuk berbicara tentang hatta, sjhahrir, tan malaka,
chairil anwar,
maota tentang yamin, natsir, idrus, sta, usmar ismail, agus salim, dll.
orang islam masih sibuk membicarakan kebesaran 'imperium' islam zaman
rasululullah;
zaman 'kebesaran' islam di era kalifah abu, usman, ahmad, abdullah,  ujang,
buyuang ini itu dll.
sibuk membicarakan 'kehebatan' ilmu pengetahuan dan teknologi orang islam;

orang minang itu seperti orang islam;
orang minang lupa kalau itu dulu, 50 tahun yang lampau;
lupa kalau sekarang orang minang relatif bodoh, taimpik main;
not only by javanese, tidak usah jauh-jauh, lihat ke sebelah,
batak yang dulu terkebelakang,
abad 18-19 mereka baru bersentuhan dengan peradaban 'modern';
sekarang mereka beberapa langkah di depan;

orang islam itu seperti orang minang;
entah dimana akal sehatnya, sibuk membicarakan 'kebesaran' 1000 atau 1500
tahun yang lampau!
(itu pun debatable!)
sibuk membesar-besarkan satu dua ilmuwan islam (duluuuu kala);
penemu sabun lah katanya, penemu kacang tojin lah katanya;
seperti lupa entah berapa puluh kali lipat ilmuwan non islam yang
mengkontribusikan olah pikirnya bagi kemajuan umat manusia;

orang minang itu seperti orang islam;
seolah-olah bego dan pandir terhadap kenyataan yang ada;
bahwa kita orang minang, dengan parameter yang commonly accepted,
mulai tertinggal,
lurusnya, kita relatif semakin bodoh, semakin tidak berguna!
benar orang minang sekarang semakin tidak berguna!
boro-boro bagi orang lain,
bagi ranah dan nagarinya sendiri pun banyak tokoh minang tak lebih hanya
parasit!
parasit yang menumpang hidup dan menggerogoti!
bukan parasut yang menyelamatkan;
yang memanfaatkan posisinya ke'tokohan'nya bagi dirinya sendiri;
dan tidak lupa memperbodohi urang banyak yang dibiarkan bertambah bodoh;

orang islam itu seperti orang minang;
pura-pura bego bahwa orang islam itu,
dengan indikator yang commonly accepted, jauh tertinggal;

dan repotnya hampir semua orang minang adalah orang islam!

gejala apakah ini?
itulah 'sindroma ketertinggalan dan ketidak percayaan diri'
dan tidak gentleman!

karena sadar semakin bodoh dan tidak berguna;
(sebagian) dari kita mencari 'jalan pintas'
kalang kabut mempertontonkan kepada orang bahwa kita masih hebat;
lalu berbicaralah tentang masa lalu,
lalu sibuk membesar-besarkan prestasi-prestasi kecil,
lalu sibuk mencari simbol-simbol untuk memperlihatkan 'kehebatan' itu;
misalnya dengan menghitung jumlah menteri orang minang yang masuk kabinet;
atau mengulang-ulang nama orang minang yang jadi 'pengusaha';
menegakkan jati diri lah katanya, spin off lah katanya;
kita butuh simbol! meski semu!

itu semua adalah 'jalan pintas'
itu hanya menghibur diri;
itu hanya masturbasi, onani,  hayalan, semu;
menutupi kebodohan dengan cara bodoh;
sehingga kebodohan terus dipelihara secara bodoh;

mengapa kita tidak lebih jujur?
bahwa kita memang terperosok!
bahwa kita memang relatif semakin bodoh!
bahwa kita relatif semakin miskin!
bahwa kita realtif semakin tidak berguna!

kita coba lebih jantan!
ok, kami semakin terbenam, kami akui;
bahwa memang kami malu oleh karena itu;
kami malu karena pendahulu kami bisa begitu berguna bagi yang lain,
sementara kami tidak;
kami malu, tapi kami tidak akan menundukkan kepala!
ok, beri kami waktu;
tidak mungkin dalam sehari, atau seminggu, sebulan, atau dalam setahun;
beri kami waktu;

kita buka borok-borok kita yang kita sembunyikan;
kita telentangkan bersama-sama;
kita petakan;
ooo, ternyata mutu perguruan tinggi kita cuman ecek-ecek dibandingkan
perguruan tinggi di jawa;
nggak usahlah membela diri, nanti kelihatan makin pandir;
ooo, ternyata daya saing anak sekolah kita untuk sekolah di perguruan tinggi
yang bagus di jawa,
atau di luar negeri semakin payah;
ooo, ternyata tanah kita miskin sehingga kita bergantung pada 'sedekah'
daerah lain;
ooo, ternyata gubernur kita, dprd kita, bupati kita, walikota kita tidak
sehebat yang kita kira;
tidak sebersih yang kita kira, banyak malingnya;
cendeurng parasit daripada parasut;

ooo, ternyata di daerah-daerah masih banyak penduduk miskin,
busung lapar, anak yang tidak mampu sekolah,
jadi malu kalau bicara mengejek orang jawa jadi pembantu atau  miskin makan
kutu;
ooo, ternyata intelektualitas generasi muda kita tidak bergerak paralel
dalam merespon kemajuan zaman dan peradaban;
sehingga tidak bersikap proporsional;
karena itu lebih senang ber levis 501 atau ber joget hosue music atau ber
pesta pantai;
dari pada belajar tentang orang-orang di sekitarnya, tentang negerinya,
dari menambah bekal buat hidupnya;

(memang mustahil dan adalah tindakan bodoh dan egois melarang generasi muda
bersentuhan dengan kebudayaan 'barat';yang perlu dilakukan adalah
meningkatkan intelektualitas dan moral mereka, sehingga bisa merespon secara
proporsional; hidup memang tidak hanya untuk belajar dan mengaji saja; hidup
ini perlu diisi dengan hal-hal indah dan menyenangkan, that's life! tapi
hidup juga pedih sekali jika tersia-siakan untuk sekedar berdandan ria,
berjoget ria, mabuk ria sesaat , terus jadi bego dan miskin sisanya...)

setelah kita petakan borok-borok kita;
kita tegakkan kepala, busungkan dada, kepalkan tangan tinju udara!
lantang kita bersatu-suara:
ayo, kita bergerak!

tidak ada kata terlambat;
hari ini kami memang lebih bodoh dari kalian;
karena salah kami juga;
kalau perlu kami belajar dari kalian;

dari saya,
hanya satu, sisanya yang lain lebih tahu,
yang satu itu adalah PENDIDIKAN dengan moral;
sekolah, dan sekolah;
orang minang dulu relatif maju karena sekolah/belajar;
jumlah sekolah 'per kapita' di sumbar dulu paling tinggi;
tentu juga denagn kualitas;
pendahulu kita dulu sekolah kemana-mana,
tidak ke jawa saja, juga ke belanda, ke mesir ke mekkah;
bahkan ke rusia;
lalu tidak pelit menularkan ilmunya;

kalau sekarang dalam sekian tahun kita belum mampu menyamakan kualitas
perguruan tinggi kita dengan peruguruan tingi di jawa dan di luar negeri;
tentu cara yang baik adalah meningkatkan daya saing siswa kita untuk masuk
perguruan tinggi yang baik di jawa atau di luar negeri; while improving our
university's quality;

sekolah dan belajar 'mungkin' tidak terlihat efeknya dalam jangka pendek
bagi orang kebanyakan terutama yang di kampung-kampung;
di kampung saya seorang saudagar berkata daripada menghabiskan uangnya untuk
menyekolahkan anaknya ke perguruan tingi;
lebih baik dia ajari berdagang, lebih efektif;
betul mungkin;
tapi terbayangkah jika puluhan tahun yang lalu sang saudagar tidak mau
sekolah,
dan buta huruf seperti orang tuanya?
mungkinkah dia bisa berdagang seperti sekarang?
mungkinkah dia bisa ikut tender bikin pasar inpres?
tidakkah sekarang kontraktor kecil pun harus bikin proposal?
cukupkah kalau dulu mereka hanya sekolah sd?

zaman berubah cepat,
mari kita terus belajar, sekolah dan sekolah;
tapi jangan lupa;
hidup itu indah dan hanya sekali (kecuali di surantih)
masa nonton bioskop nggak boleh,
main gitar, main musik nggak boleh,
nonton konser sekali-sekali nggak boleh;
masa nonton bola nggak boleh,
masa sekali-sekali begadang nggak boleh;
masa sekali-sekali konvoi naik motor naik honda nggak boleh;
masa kemping nggak boleh,
masa jalan-jalan sama cewek nggak boleh
he..he...


=urpas=




RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke