Bung Indra yang budiman,
 
Assallamualaikum Wr. Wb.,
 
Terima kasih atas tanggapan Bung yang panjang lebar. Saya mohon maaf karena baru bisa memberi tanggapan balik sekarang. Oh ya, agar tanggapan saya lebih terarah, saya akan mengelompokkannya menjadi sepuluh bagian:
 
Pertama, saya sepenuhnya setuju bahwa pinjaman (bukan BANTUAN!) asing atau pun bukan,  bila digunakan dengan baik, terukur, dan dilandasi oleh kepentingan yang lebih besar, mampu mengangkat perekonomian negara yang menerima pinjaman. Pertanyaannya Bung, apakah Indonesia (setidak-tidaknya hingga sejauh ini) memang memiliki kapasitas untuk menggunakan pinjaman dengan baik, terukur, dan untuk kepentingan yang lebih besar itu? Jika tidak (atau mungkin belum), lalu bagaimana Bung?
 
Kedua, saya juga setuju bahwa memang tidak masuk akal bila kapitalisme berkepentingan dengan tumbuhnya negara-negara miskin di berbagai penjuru dunia. Tapi itu adalah karena kapitalisme memang tidak mengenal batas-batas kenegaraan Bung. Yang dipentingkan oleh kapitalisme adalah soal pemusatan pemilikan modal (faktor-faktor produksi) di tangan segelintir orang. Sejarah sudah membuktikan, kapitalisme sangat tidak sensitif terhadap ketidakmerataan, baik pada tingkat global maupun pada tingkat nasional. Dengan pertimbangan politik tertentu, seperti pada kasus Jerman Barat dan Jepang pada masa perang dingin, atau Indonesia ketika memerangi komunisme, kapitalisme mungkin terdorong untuk berbuat sesuatu dalam memperkuat sebuah negara. Tetapi kalau tidak ada alasan politik seperti itu, mereka cenderung tutup mata.
 
Ketiga, saya setuju bahwa banyak para penerima suap yang turut berlindung di balik issue PT SP. Tapi justru karena itu, ketika saya mulai terlibat dalam perjuangan spin-off PT SP, saya memulainya dengan mengangkat issue suap (insider trading) yang terjadi pada tahun 1998. Sebagaimana dapat Bung baca dalam artikel saya yang berjudul 'RAMPOKISASI,' nama-nama yang diduga terlibat dalam sinyalemen insider trading itu adalah Tanri Abeng, Herwidijatmo, Danareksa, dan Cemex sendiri. Logikanya, dengan memulai perjuangan dari pengungkapan issue suap, ia akan mendorong terungkapnya issue-issue suap yang lain.
 
Hasilnya, sebagaimana terungkap kemudian, Gebu Minang ternyata menerima kredit dari Citibank dengan jaminan deposito dari PT Semen Gresik. Hasilnya, sebagaimana dikaui oleh yang bersangkutan, Basril Bashar ternyata menerima suap Rp500 juta dari Cemex. Hasilnya, sebagaimana Bung dan Faisal ceritakan kepada saya, Cemex ternyata membayar para kolumnisnya (kecuali Faisal) sebesar Rp10 juta per artikel. Hasilnya, keterlibatan Wimar Witular dalam perjuangan anti spin-off ternyata berkaitan dengan sebuah kontrak yang bernilai Rp5 milyar. Jadi begini saja Bung, mari sama-sama kita perpanjang daftar praktik suap tersebut dengan menjadikan perjuangan spin-off PT SP sebagai entry point.
 
Keempat, saya sepenuhnya setuju bahwa persoalan korupsi lebih merupakan persoalan dalam negeri. Tetapi masalah yang kita hadapi tidak hanya masalah korupsi. Selain masalah korupsi kita juga menghadapi masalah eksploitasi kapitalisme. Jika masalah korupsi lebih merupakan persoalan dalam negeri, maka persoalan ekploitasi kapitalisme lebih merupakan persoalan hubungan kita dengan kaum kapitallis yang sebagian besar bermukim di luar negeri. Nah, dengan menjadikan issue spin-off sebagai entry point (di samping melalui berbagai entry point yang lain), saya ingin memerangi kedua-duanya secara bersamaan. Menurut Bung (saya sekali lagi minta tolong agar Bung Indra tidak mencampur adukkan antara pinjaman dan bantuan), adakah kira-kira pihak di dalam dan di luar negeri yang mau menyediakan dana untuk membiaya paket kegiatan anti korupsi dan anti eksploitasi kapitalisme tersebut?
 
Kelima, saya setuju bahwa di daerah (termasuk di Sumbar) cukup banyak terdapat jago korupsi, baik dari kalangan pemerintah daerah, DPRD, mau pun dari kalangan NGO. Tapi Bung Indra saya kira tidak bisa tutup mata bahwa sekorup-korupnya orang daerah, tetap lebih korup orang Jakarta (baca: pusat). Sebanyak-banyaknya pelaku ekonomi politik masa lalu yang berdiaspora ke daerah, tetap lebih banyak yang bertahan di Jakarta. Termasuk berdiaspora ke PAN khan Bung (he, he, he....)? Sebab itu saya setuju saja jika diam-diam Bung ternyata juga mendukung ide "potong satu generasi," itu Bung. Tapi penataan aturan main kan tidak bisa menunggu sampai ide potong satu generasi itu selesai dilaksanakan. Saya kira keempat agenda perjuangan yang Bung usulkan itu, tidk bisa tidak, harus berjalan secara simultan. Nah justru karena itu (disini gagasan saya agar segera dibuat UU Privatisasi didukung oleh Faisal--baca Bisnis Indonesia), proses privatisasi yang berlangsung tanpa UU sekarang ini perlu dikritisi secara tajam (bila perlu ditentang), agar kekayaan publik tidak begitu saja diobral oleh para koruptor di Jakarta serta dijarah oleh kaum kapitalis mancanegara.
 
Keenam, saya tidak ada urusan (utang budi atau apa pun) dengan orang-orang yang Bung Indra tidak sukai itu. Saya besar kemungkinan juga tidak menyukai sebagian di antara mereka. tapi karena saya tidak kenal secara pribadi dengan mereka, saya tidak terlalu peduli. Perlu Bung ketahui, Harun Zain pernah pucat pasi dalam sebuah forum pertemuan urang awak di Jakarta, gara-gara saya memberi orasi yang pada intinya menghidupkan kembali semangat PRRI. Bahkan, Gubernur Sumbar (yang sejak sekitar Maret itu) belum pernah lagi bertemu dengan saya, hingga saat ini cenderung alergi dengan saya, karena saya dituduhnya mengajak masyarakat Sumbar untuk berperang melawan Jakarta. Tapi saya tidak peduli, sebagaimana saya katakan tadi, pada intinya saya ingin mengajak masyarakat Sumbar (dan seluruh anggota masyarakat Indonesia dan dunia lainnya) untuk "berperang" melawan korupsi dan eksploitasi kapitalisme.
 
Ketujuh, saya setuju bahwa negara Indonesia yang ada selama dan sekarang ini belum demokratis, baik secara politik apalagi secara ekonomi. Tapi Bung Indra rasanya tidak bisa menolak bahwa secara hakiki kedaulatan ada di tangan rakyat, dan sebab itu secara hakiki BUMN adalah perusahaan seluruh rakyat Indonesia. Dengan diprivatisasi (baca: diprivatisasi, bukan di go public), segelintir orang seperti saya dan Bung mungkin bisa turut memiliki saham secara langsung. Tapi bagaimana dengan mayoritas rakyat, yang jangankan ikut memiliki saham, memiliki pekerjaan pun mereka tidak. Tidakkah mereka berarti kehilangan hak kepemilikannya yang hakiki tadi pada setiap transaksi privatisisasi BUMN? Jadi Bung Indra, karena 1000 atau sejuta privat tetap tidak sama dengan 210 juta rakyat Indonesia, privat + privat yang tidak mencapai 210 juta tetap tidak sama dengan publik.
 
Kedelapan, saya tidak ada masalah dengan privat pribumi atau asing. Tidak juga dengan privat Mexico, Amerika, Inggris, Jepang, atau Cina. Yang saya permasalahkan, negara yang menurut Bung identik dengan Soekarno, Soeharto atau Megawati itu, jangan berbuat seenak perutnya sendiri. Siapa pun mereka, dengan siapa pun mereka hendak bekerja sama, mereka wajib berbuat berdasarkan aturan main yang dibuat secara demokratis. Jika tidak ada aturan main (UU Privatisasi), maka ia wajib untuk dibuat terlebih dahulu. Lebh-lebih kalau belum apa-apa sudah terlanjur tercium KKN dan insider trading. Dalam rangka itulah kita perlu mendorong agar rakyat banyak (sebanyak-banyaknya), agar berani bersuara. Sebab rakyat banyak itulah seharusnya yang menentukan merah birunya UU Privatisasi atau merah birunya BUMN. Sikap IMF, Bank Dunia, ADB dan Amerika dan kaki tangannya dalam hal ini, hemat saya, sungguh keterlaluan. Sudah jelas negeri ini tidak memiliki aturan main yang jelas mengenai privatisasi, mereka tetap ngotot agar negara yang identik dengan Soekarno, Soeharto dan Megawati itu nekad melaksanakan privatisasi. Bukankah itu melecehkan rakyat namanya Bung Indra? Lebih celaka lagi, entah bagaimana asal muasalnya, mereka malah menekan kita untuk membuat UU Money Laundering dan UU Anti Terorisme.
 
Oh ya, ADB yang diam-diam turut menjadi anggota sindikat Cemex Asia Holding itu, baru-baru ini memberi hibah kepada pemerintah Indonesia sebesar 3,6 juta dollar AS, bukian untuk membuat UU Privatisasi, melainkan semata-mata untuk membiayai program sosialisasi privatisasi. Sekedar tahu saja Bung, sebagaimana ditulis oleh Farazmand (Profesor di Florida Atlantic University), dalam artikelnya yang berjudul "Privatization or Reform? Public Management Enterprise in Transition," sepanjang dekade 1990-an, Bank Dunia telah membelanjakan 200 milyar dollar AS semata-mata untuk mempromosikan privatisasi dan pasarisasi "public enterprise" di negara-negara Dunia Ketiga.
 
Kesembilan, saya mengucapkan terima kasih atas koreksi Bung mengenai kedudukan FHB di Ombudsman BPPN. Tapi saya perlu memberi tahu Bung Indra bahwa saya, atas permintaan Faisal, turut membantu membeberkan masalah uang Rp120 juta itu ke media masa. Saya kebetulan waktu itu bertemu dengan Faisal di Yogyakarta. Masalah tersebut baru menjadi rame setelah Faisal dikonfirmasi oleh media massa mengenai pernyataan yang saya buat.
 
Mengenai PAN terima sekoper dollar, informasinya pun langsung saya terima dari Faisal. Lagi-lagi juga karena saya bertemu secara kebetulan dengan Faisal di Yogyakarta (ada saksi Bung Zulkifli Halim, yang baru-baru ini dilantik menjadi anggota DPR dari PAN untuk komisi IX). Maksud saya membeberkan informasi itu ke media massa (sama seperti informasi uang BPPN yang Rp120 juta tadi), adalah untuk membantu Faisal agar ia tidak terus menerus berada dalam posisi dilematis dalam menghadapi sebuah perkara. Bung kan tahu karakter Faisal yang cenderung 'sungkan' itu, lebih-lebih--sebagaimana Bung akui sendiri, ketika menghadapi sebuah perkara sulit yang berkaitan dengan partainya sendiri. 
 
Dalam waktu dekat, mudah-mudahan saya juga akan segera membeberkan informasi suap Rp10 juta per artikel dari Cemex yang Bung dan Faisal ceritakan secara langsung kepada saya (saya bertemu dengan Faisal di Jakarta baru-baru ini). Sebab itu, kalau Bung Indra baca e-mail saya terdahulu baik-baik, saya sama sekali tidak pernah menyinggung masalah artikelnya yang di Kompas tersebut, apalagi menuduh ybs telah menerima suap dari Cemex. Saya baru tahu mengenai adanya tawaran suap kepada Faisal dari Cemex itu, justru setelah Faisal bercerita secara langsung kepada saya. Kalau saya boleh tahu, siapakah urang awak dan atau anggota PAN yang mendorong-dorong Faisal menerima suapan tersebut? Kalau Bung memang ingin memerangi korupsi di negeri ini, saya rasa tidak ada salahnya jika hal itu kita ungkapkan pula ke media massa. Setuju Bung .....?
(Saya jangan dikira anti PAN. Baru-baru ini saya sempat mengisi pelatihan untuk anggota DPRD PAN se Jateng mengenai peranan DPRD dalam pengawasan APBD).
 
Akhirnnya, kesepuluh, saya kira Bung tentu tahu bahwa saya juga turut merintis berdirinya PAN sejak pagi-pagi sekali (selain PUI bersama Pak Deliar Noer). Termasuk ketika rapat lengkap di Mega Mendung sebelum dideklarasikan. Beda saya dengan FHB, saya sudah tahu lebih banyak mengenai kawan-kawan saya sesama orang Yogya. Saya tahu kalau PAN 1 turut membuat surat pengaduan bersama Muhammadiyah 1, PDR 1, dan Pak SE, kepada BJH mengenai ajakan makar AP, yang berbuntut heboh skandal Hotel Radison tersebut.Saya kira hal inilah antara lain, walaupun AP turut hadir di Mega Mendung, yang mendorong AP untuk menyeberang ke PDI-P. Saya tahu bahwa PAN 1 sangat bersemangat mendorong Gus Dur jadi Presiden semata-mata karena ingin menjegal Mega dan karena berharap Gus Dur bisa dikendalikan. Saya tahu kalau Bambang Sudibyo, ketika sudah di PAN, masih meletakkan sebelah kakinya di Golkar (ybs memang pemegang kartu anggota Golkar). Saya tahu, Bambang Sudibjo adalah staf ahli Tanri Abeng (ketika itu Menneg BUMN) ketika yang terkahir ini melego PT Semen Gresik kepada Cemex. Saya juga tahu peranan FB yang orang Cendana itu dalam mengongkosi PAN. Saya sudah tahu jauh-jauh hari kalau AMF lebih suka PAN menjadi partai orang Muhammadiyah daripada partai terbuka. Nah, soal DJR, menurut Bung siapa kira-kira yang menempatkan anggota KPPU tersebut sebagai komisaris PT Angkasa Pura? Menurut Bung mengapa DJR tidak mengembalikan honorariumnya dari BPPN (Ombudsman dan Oversight Committee) sebagaimana dilakukan Faisal? Ketika saya bertemu DJR beberapa waktu yang lalu, Bung tahu apa komentarnya mengenai perjuangan spin-off PT SP (disaksikan Rizal Ramli, Arriman, dan Umar Juoro, "kalau kasus PT SP terjadi di Madura, saya pun akan bersikap seperti Soni." Jadi soal keragaman sikap para fungsionaris PAN terhadap perjuangan spin-off PT SP, saya persilahkan Bung Indra untuk menyimpulkan sendiri. Termasuk mengenai sikap Patrialis Akbar, yang bertanggungjawab atas jatuhnya kursi Gubernur Sumbar kepada Partai Golkar itu.
 
Sekian Bung. Jika ada waktu untuk copy darat di Jakarta, silahkan hubungi saya melalui HP 081 128 3506.
 
Wassallamualaikum Wr. Wb.,
 
Revrisond Baswir
Anggota Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah, Jakarta 

Kirim email ke