Harian Bernas, Yogyakarta; Sabtu, 29 Desember 2001
 
Catatan Ekonomi Politik 2001
KEMBALI KE NEOLIBERALISME?
Oleh: Revrisond Baswir
 

Perjalanan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2001 terpaksa harus dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, selama tujuh bulan, berlangsung di bawah pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Sedangkan bagian kedua, selama lima bulan, berlangsung di bawah pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri.
 
Dilihat dari segi para pejabatnya, yang duduk sebagai anggota tim ekuin selama tujuh bulan pertama 2001 mencakup sejumlah nama seperti Rizal Ramli, S. Prijadi (alm.), Luhut Panjaitan, Rozy Munir, dan Djunaedi Hadisumarto. Sementara yang duduk sebagai anggota tim ekuin pada lima bulan berikutnya mencakup sejumlah nama seperti Dorodjatun Kuncorojakti, Boediono, Rini Suwandi, Laksamana Soekardi, dan Kwik Kian Gie.
 
Secara keseluruhan, perjalanan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2001 cenderung carut marut dan mematahkan selera. Betapa tidak? Selain ditandai oleh pergantian pejabat dan haluan kebijakan, perjalanan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2001 juga ditandai oleh berlangsungnya beragam konflik kepentingan. Baik antara pemerintah dan parlemen, antara sesama anggota kabinet, antara para menteri dan para birokrat, maupun antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
 
Akibatnya, walau pun perekonomian rakyat terus berputar dengan penuh semangat, prestasi makro yang dicapai ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2001 sangat jauh dari memuaskan. Perhatikanlah misalnya posisi rupiah. Dalam RAPBN 2001, nilai rupiah semula diramalkan akan terangkat ke tingkat Rp7.300 per satu dolar AS. Kenyataannya, ia terus-menerus bergerak di atas Rp10.000 per satu dolar AS.
 
Pada Januari 2001, rupiah masih bertengger pada kisaran Rp9.500. Tetapi setelah itu, menyusul berlanjutnya penundaan pencairan pinjaman IMF dan memanasnya hubungan antara Presiden Wahid dengan Parlemen, posisi rupiah pelan-pelan melorot ke tingkat Rp11.000 per satu dolar AS. Bahkan, pada puncak perseteruan antara Presiden Wahid dan Parlemen, rupiah sempat melorot ke tingkat Rp11.500 per satu dolar AS.
 
Ketika akhirnya tampuk kekuasaan beralih ke tangan Presiden Megawati, semula ada harapan bahwa nilai rupiah akan menguat sebagaimana diharapkan. Tetapi penguatan rupiah menyusul pengangkatan Presiden Megawati hanya berlangsung sesaat. Selama dua minggu pertama rupiah memang sempat menguat ke tingkat Rp8.650. Tetapi setelah itu, sebagaimana berlangsung hingga saat ini, posisi rupiah kembali melorot ke tingkat Rp10.250 per satu dollar AS.
 
Kecenderungan serupa dapat disaksikan pula pada tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan tingkat inflasi. Dalam RAPBN 2001 yang diajukan pemerintah pada Oktober 2000 itu, suku bunga SBI diramalkan akan dapat ditekan ke tingkat 11 persen. Sedangkan inflasi diramalkan akan terkendali pada tingkat tujuh persen.
 
Tetapi sebagaimana dapat kita saksikan hingga saat ini, ramalan pemerintah versi RAPBN 2001 itu, hampir seluruhnya meleset. Sepanjang 2001, tingkat suku bunga SBI tampak seperti enggan bergerak dari kisaran di atas 17 persen. Sedangkan inflasi, diperkirakan dapat melonjak mendekati 12 persen. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi 2001 yang semula diramalkan akan mencapai sekitar 4,5 persen, besar kemungkinan tidak akan lebih dari kisaran 3,0 hingga 3,5 persen.
 
Jika ada yang istimewa dari dua bagian perjalanan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2001 tersebut, hal itu adalah mengenai hubungan pemerintah Indonesia dengan lembaga-lembaga keuangan multilateral seperti IMF, Bank Dunia , dan ADB.
 
Selama di bawah pemerintahan Presiden Wahid, hubungan antara pemerintah Indonesia dengan lembaga-lembaga keuangan multilateral tersebut secara umum cenderung memburuk. Sebagai misal, hubungan buruk antara pemerintah Indonesia dengan IMF, berujung pada tertundanya pencairan paket pinjaman lembaga tersebut selama hampir sembilan bulan. Paket pinjaman sebesar 400 dollar AS yang sedianya akan dicairkan pada Nopember 2000 itu, dalam kenyataannya baru bisa dicairkan setelah kenaikan presiden Megawati pada Agustus 2001.
 
Selain disebabkan oleh memuncaknya ketidak pastian politik sekama tujuh bulan pertama 2001, hubungan buruk antara pemerintah Indonesia dengan lembaga-lembaga keuangan multilateral itu terutama dipicu oleh sikap Menko Perekonomian Rizal Ramli, yang memang cenderung agak sulit didikte oleh lembaga-lembaga keuangan multilateral tersebut.
 
Alih-alih didikte, Rizal Ramli bahkan cenderung maju dengan agenda sendiri yang kadang-kadang sangat berlawanan dengan kehendak lembaga-lembaga keuangan multulateral itu. Sehubungan dengan masalah independensi BI misalnya, walau pun IMF telah berulangkali memperingatkan agar pemerintah tidak mengusik UU No.  23/1999, tetapi Rizal Ramli terus maju dengan mengemukakan sejumlah argumen.
 
Bahkan, termasuk dengan menggunakan alibi skandal Bank Bali, dan dengan dukungan penuh dari Presdien Wahid, Rizal Ramli berhasil mengobrak abrik kedudukan para deputi Gubernur BI dan menjebloskan Syahril Sabirin ke penjara. Tetapi karena tindakan tersebut cenderung tumpang tindih dengan agenda perebutan kursi Dewan Gubernur BI, upaya Rizal Ramli itu kandas di tengah jalan.
 
Perlu ditambahkan, selain mengobrak-abrik BI, Rizal Ramli juga berusaha membatasi intervensi IMF dengan menyederhanakan agenda letter of intent (LoI), menunda pelaksanaan program privatisasi BUMN, dan menjajaki kemungkinan dilakukannya program penjaminan aset sebagai alternatif sumber penerimaan negara. Seluruh tindakan Rizal Ramli tersebut jelas sangat bertentangan dengan kemauan IMF.
 
Dengan terpilihnya duet Dorodjatun - Boediono sebagai Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan pemerintahan Presiden Megawati, maka mudah ditebak, agenda ekonomi yang menjadi prioritas pemerintahan Presiden Megawati adalah soal perbaikan hubungan dengan IMF dan kawan-kawannya. Bahkan, diperkuat dengan bercokolnya kembali figur-figur Mafia Berkley sebagai tim penasihat ekonomi Presiden Megawati, sempat mencuat gunjingan bahwa IMF sesungguhnya turut terlibat dalam proses penyusunan tim ekuin Kabinet Gotong Royong.

Sebagaimana dapat disaksikan sepanjang lima bulan belakangan ini, kecenderungan kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Megawati untuk mengikuti jalur neoliberal memang tampak mencolok. Kontroversi amandemen UU BI misalnya, praktis surut ke belakang. Rumusan agenda LoI kembali dibuat agak terinci. Pencapaian target program privatisai BUMN, walau pun menuai protes, cenderung dipaksakan. Bahkan, sebagai bagian dari pelaksanaan program pengencangan ikat pinggang, pemberian berbagai jenis subsidi direncanakan akan dikurangi secara drastis.
 
Tapi apa mau dikata. Di tengah-tengah kecenderungan kuat pemerintahan Presiden Megawati untuk mengikuti jalur neoliberal itu, dua peristiwa tragis meledak di panggung internasional. Pertama, peristiwa peledakan gedung WTC pada 11 September 2001. Dan kedua, tergulingnya pemerintahan Presiden Fernando de la Rua oleh aksi massa anti program pengencangan ikat pinggang IMF di Argentina pada 22 Desember.
 
Sebagaimana diketahui, peristiwa peledakan gedung WTC yang bermuara pada dilancarkannya gerakan internasional anti terorisme dan serangan militer AS ke bumi Afghanistan itu, tidak hanya telah menyebabkan terjadinya guncangan yang cukup serius terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dunia, tetapi juga telah memicu maraknya sentimen anti AS di sejumlah negara yang berpenduduk mayoritas muslim. Perkembangan tersebut tidak hanya dapat menghambat upaya Indonesia dalam menggenjot ekspor, tetapi juga memicu semakin merosotnya minat investor asing untuk menanamkan modalnya di sini.
 
Sementara itu, peristiwa kejatuhan pemerintahan Presiden Fernando de la Rua yang menandai kegagalan program pengencangan ikat pinggang ala IMF tersebut, jelas dapat memicu mencuatnya perlawanan terhadap jalan neoliberal yang sedang dijajakan IMF di sini. Lebih-lebih setelah pemerintahan Presiden Adolfo Rodrigues Saa memutuskan untuk mengemplang utang luar negeri Argentina. Sejumlah negara dunia ketiga yang sedang terbelit utang luar negeri, termasuk Indonesia, besar kemungkinan akan mendapatkan tekanan yang semakin kuat dari sebagian anggota masyarakat untuk melakukan hal serupa.
 
Dengan latar belakang seperti itu, tahun 2002 besar kemungkinan akan ditandai oleh memuncaknya iklim ketidakpastian. Ketidakpastian yang dihadapi perekonomian Indonesia pada tahun 2002 tidak hanya dalam bentuk ketidakpastian domestik, tetapi juga dalam bentuk ketidakpastian internasional. Nah, siapa tahu, tahun 2002 memang pantas disebut sebagai tahun ketidakpastian neoliberalisme? Wallahu a'lam.
 

Penulis adalah staf pengajar Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta
 
 
@Harian Bernas 2001

 

Kirim email ke