Untuk kasus ini bisa juga kita carikan solusinya berupa tekanan opini publik , seperti yg dilakukan YLKI ( Yayasan lembaga konsumen Indonesia ) untuk membela kepentingan konsumen menghadapi produsen.
Cara 1 ; Lakukan polling penilaian kinerja layanan transportasi darat ke Sumbar dari Rantau , thd berbagai perusahaan bis yg ada. Dari hasil polling ini dibuatkan rating nya dari yg terbaik sampai terjelek kualitas layanannya. Hasil polling dikirimkan ke berbagai mass media di sumbar seperti Haluan , Mimbar minang , Singgalang atau koran nasional sekalian seperti Kompas , Republika dll.Hasilnya ditembuskan juga pada berbagai perusahaan bis tsb. Polling bisa dilakukan terbuka untuk perantau minang secara umum atau terbatas misalnya di lapau Rantaunet ko. Polling ini dilakukan secara berkala. Tekanan publik spt ini mungkin bisa efektif untuk membuat berbagai perusahaan bis tsb ber kompetisi secara sehat dalam hal layanan konsumen. Cara 2; Melakukan tekanan publik melalui mass media atau lembaga perantau minang spt Gebu Minang dll , agar dibuat kompetisi bisnis yg terbuka untuk bisnis transportasi darat ke Sumbar . Kalau jelek semua , konsumen bisa menyampaikan opini publik pula kepada dinas perhubungan Sumbar agar, perusahaan bis luar bisa ikut melayani trayek tsb. ( Spt Kramat Jati, Arimbi dll ). Kalau parah sekali , bisa pula lembaga perantau minang membuat suatu pernyataan bersama. Misal ; Para perantau agar tidak lagi menaiki bis ANS kalau pulang ke kampung . Pernyataan dibuat secara resmi oleh misalnya Persatuan perantau minang di Jakarta dan disampaikan ke mass media dan pengusaha bis bersangkutan. Agar dibuka kesempatan bisnis transportasi darat ke Sumbar bagi perusahaan bis non Sumbar . Nampaknya memang ada semacam oligopoli terselubung diantara berbagai perusahaan bis tsb. Dan kita para perantau sebagai konsumen harusnya sudah bisa meningkatkan posisi tawarnya menghadapi produsen ( perusahaan bis yg semena mena ) . saat ini posisi tawar konsumen memang lemah. Saya kira ini bisnis yg cukup besar , saya pernah tinggal di dekat terminal bis rawamangun ( terminal bis sumatera ) dalam sehari betapa banyaknya bis dari Sumbar yg masuk ke Jakarta. Cara 3 ; Para perantau ( mungkin bisa pulo di rantaunet ko ) membuat perusahaan bis yg lebih profesional, sebagai alternatif . Cara 4; Opini publik tentang perlunya jalan kereta api lintas sumatera sudah mendesak untuk diwujudkan. Setidaknya kereta api bisa menjadi alternatif layanan transportasi darat yg lebih ekonomis dan nyaman. Di pulau Jawa perusahaan bis nggak bisa seenaknya thd konsumen sebab kalau begitu perusahaan bis tsb akan ditinggalkan oleh konsumenya, karena banyaknya alternatif perusahaan bis. Selain itu bis harus bersaing pula dg Kereta api. Selama ini sebenarnya sudah banyak keluhan tdh perusahaan bis tsb , tapi karena tak ada alternatif dan saking berkuasanya penjual ( perusahaan bis ) mereka bagaikan pepatah ; Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Sekarang sudah saatnya perantau sebagai konsumen harus bersatu dan bisa memberikan tekanan publik yg nyata dan membuat jera para pengusaha bis bersangkutan. Mungkin dunsanak nan ado di lapau rantaunet ko ado nan kenal siapa sih itu para pemilik bis ANS, NPM dll ? dima kampuangnyo ? supaya kita semua tahu siapa sih sebenarnya mereka itu ! kok tega tega nya menyengsarakan orang lain. Mungkin bisa disampaikan secara baik baik kepada pengusaha bersangkutan kita hanya bisa bicara kepada pemilik bis , wahai pemilik bis kalau seperti ini terus layanan anda , bisa bangkrut usaha anda ! Janganlah sampai terjadi bis dibakar atau loket nya dihancurkan oleh konsumen. secara sosiologis para petugas langsung ( supir, kenek, petugas loket ) dll nampaknya mengalami semacam perasaan minder ( inferior ) melihat para perantau ( konsumen ) yg naik bis nya. inyo bisa sukses di rantau ambo bantuak iko juo nasibnyo mungkin begitu rasa hati mereka, sehingga ada semacam rasa minder yg menimbulkan dendam atau rasa tak suka lainnya, sehingga malah timbul rasa senang bila para pemakai bis mengalami kesulitan ( rasain lu ! ) Nah kepada mereka kita tak bisa bicara , kita harus bisa memahami pula kondisi kejiwaan mereka yg looser / minder. orang Minang yg egaliter nampaknya susah untuk bisa menerima bahwa ia lebih rendah "kasta" dibanding urang awak lainnya . berbeda dengan orang jawa kalangan rendah ( kawula alit/ orang kecil ) yg bisa menerima ( nrimo ) kalau ia berada di " bawah " sehingga tidak merasa sungkan kalau melayani orang lain. Sekian ide ringkas dari saya HM RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ATAU Kirimkan email Ke/To: [EMAIL PROTECTED] Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama: -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda] -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda] Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung ===============================================

