*
tadi siang ada yang mati, dik;
melepaskan nyawa yang selama ini bersatu badan di aspal panas yang keras;
tubuhnya terbanting, kepalanya terhempas,
remuk segenap tubuhnya, darah menebari jalanan;
rengkah tengkoraknya, tak hanya darah, otaknya pun terhambur;
lima enam orang berkerumun, berkomentar ini itu sambil menutup mulut dan
hidung;
seseorang mengambil koran dan menutupi jasadnya;
lalu menunggu polisi, ambulans,
atau wartawa, jika 'beruntung' lewat di sini dan menyiarkan fresh news dari
sejasad mayat segar;
tak ada yang menangis, dik;
mungkin nanti atau esok, atau lusa, atau someday
atau memang tak pernah ada yang akan menangisi;

tadi pagi, subuh-subuh, ada yang mati, dik;
berkelejot sejenak sebelum lepas hembusan pamungkas itu;
good bye sudah tiga bulan derita telentang di 'rumah' pinggir rel kereta;
(jika beberapa lembar kardus dan tripleks -- yang sebagian sudah menjadi
dupleks atau simpleks-- yang disambungkan satu sama lain memenuhi kategori
definisi 'rumah');
dua tiga orang menangis, mungkin istri dan anak-anaknya;
tak lama, setelah itu mereka harus berfikir keras,
dan sebentar lagi mungkin berselisih kata,
kematian, meski hakikat alam, kadang memang bencana;
pagi ini, beberapa anak manusia di bedeng sebelah rel kereta ini, mendapat
bencana;
setelah ditinggalkan lelaki yang sekian lama bersama;
bencana lain, taklah mudah menguburkan lelaki itu;
tidak lah sedikit biaya untuk itu;

tadi malam -- hampir pagi, sih -- ada yang mati, dik;
tercekat melepaskan co2 terakhir;
selang-selang oksigen percuma sudah,
but, thanks untuk jasanya selama dua minggu terakhir mengalirkan titipan
perpanjangan kehidupan dari sang pencipta;
jagoan-jagoan berjas putih dan berkalung selang hitam berujung besi, masih
mencoba mengumbar jurus-jurus mereka;
menekan-nekan dada si manusia-just-converted-to-benda-called-jenazah itu;
atau jurus lain, memberikan kejutan elektrik;
seperti bocah kecil yang lagi jahil mengagetkan teman yang tidur;
tapi, gagal, tuhan sudah bulat hatinya menjadikan manusia itu jenazah;
lalu, biasa...ada yang menangis-nangis, bahkan ada yang meratap-ratap;
yang lain sibuk menekan tuts telepon genggamnya mengirimkan sinyal
berairmata melalui frekuensi 900 mhz kemana-mana;

kemudian ada lagi yang mati, dik,
bocah kecil ini terpeleset di tangga belakang rumahnya, ketika hendak menuju
kamar mandi;
sendalnya licin, lalu ia jatuh terjengkang,
setelah sebelumnya sempat berakrobat ria seperti gambar lelucon di kartun
penghias buku tts;
gambar seekor anjing yang berputar-putar terinjak kulit pisang;
bocah kecil harapan ayah bunda, nusa bangsa serta agama itu;
terjengkang dengan kepala bagian belakang terbanting;
benturan yang keras itu menghentikan fungsi otaknya serta merta;
secara klinis diakhiri dengan kompaknya sang jantung berhenti mendentingkan
irama kehidupan;
nggak jadi mandi, dah;
menunggu esok dimandikan dalam kesedihan yang dalam;

yang kemaren sore mati, dik, adalah wanita muda itu;
wanita cantik jelita indah seksi semlehoi menggiurkan rupawan;
lidahnya terjulur seperti anjing kelaparan di terik siang;
mulutnya berair-ludah menetes mencapai dadanya yang 36 b;
tubuhnya yang aduhai mantap terbalut dalam kaos merah ketat yang tidak cukup
menutupi pusarnya;
matanya mendelik seperti mata mak lampir naik pitam di serial tivi swasta;
celana jeans ketatnya, levis with newest serial number, dibasahi air
kencingnya;
dia memilih itu, dik;
memilih mati, tergantung, daripada tetap hidup;
mungkin hidup teramat berat baginya;
entahlah mati, dia kan baru mengalaminya;

nah, yang rame kemaren itu, dik,
itu kan bapak pejabat pemda itu;
matinya di mobil,
barengan, duaan sama wanita yang teridentifikasi bukan istrinya;
matinya bugil, dik;
maksud saya telanjang, total-tal;
tanpa sehelai benang pun, pujangga punya istilah;
why?
bego, lu, dasar anak kecil;
ya, begituan, ngeseks!
mati model begini bukan sekali dua di negeri bedebah ini,
lelah bertempur dalam mobil tertutup, namun mesin menyala buat suplai ac;
membiarkan carbon monoksida yang bocor dari rangka mobil yang tak sempurna
meresapi paru-paru,
pelan-pelan letih, fly, dan tewas;

muhammed atta juga mati , dik;
orang-orang bilang sih, dalam pesawat yang dihantamkannya ke sebuah gedung;
gedung di sebuah negara yang penguasanya telah terlanjur merasa terlalu
serta selalu kuat dan benar;
lalu kehilangan sedikit banyak objektivitas dan sensitivitas;
sialnya, si atta biadab juga, ngajak mati tanpa ngomong punten dulu, ribuan
manusia tak berdosa;
(i mean, dosa yang berkaitan dengan kebijakan khilaf penguasanya, dosa
lain-lain mah banyak juga kayaknya, seperti kita-kita ini);

ada pak sarip, dik;
matinya ketika tertidur nyenyak;
ada babah liem, dik;
matinya tenang tersenyum dikelilingi anak-anaknya yang berurai air mata;
ada somad, dik;
matinya ditusuk anak gang mangga, gara-gara ngelemparin petasan tiga hari
sebelumnya;
ada donny, dik;
mati di jalan tol cawang, lagi ngebalap pas malam tahun baru;
ada riana, dik;
mati kejang mulut berbusa, kebanyakan nyuntik;

ada mpok ati, dik;
mati disambar truk gandeng di jalan by pass subuh-subuh pas lagi nyapu
jalan;
ada jatmiko, dik;
matinya didor polisi di gang sempit deket pasar senen,
ketika sedang berlari-lari ketakutan;
sebelumnya jatmiko berlutut mohon ampun dan menolak  ketika disuruh lari
oleh polisi ;
(besoknya berita di koran: 'jatmiko, buronan polisi mati ditembak, karena
ybs melarikan diri ketika diminta polisi menunjukkan lokasi persembunyian
rekannya; tembakan peringatan polisi tidak diindahkan');

ada mr. robert, dik;
bule ekspatriat mati ketika lagi ketawa-ketawa sama istri jawa simpanannya
sambil nyeruput coca-cola di pantai sanur;
ada om ahmad;
mati pas lagi sibuk bersidang dalam gedung rakyat;

nah, barusan, dik, baru banget;
ada lagi yang mati;
di teras depan rumahnya;
tubuh dan kepala lelaki sehat tampan empat puluh tahunan itu tersandar
santai ke sandaran kursi goyang;
di pelukannya beberapa lembar koran, wall street journal, herald tribune,
yang belum semuanya usai dibaca;
ada segelas capuccino dan biskuit impor di meja kecil sebelahnya;
di halaman rumah, dedaunan beberapa pohon bergerak pelan digelitik angin
tipis;
sepohon cemara di pojok gemetar sedikit pucuknya;
gemericik air dari taman kecil dihadapan lelaki itu, ditingkahi siul tak
menentu
seekor burung indah, dalam sangkar, tergantung di atas;
sayup-sayup suara musik jazz ringan bernuansa bossanova masih mengalun dari
dalam;

         "...
        D6/9      Dmaj7           E7/9      Em9                   A7/6
F#m7/-5   F#dim
        Se voce disser que eu desafino amor,    Saiba que isso em mim
provoca imensa dor
        Em7         F#7/+5     Bmaj7         F#dim E7/9
Cm9/G      Cm7/G
        S� privilegiados tem ouvido igual ao seu,  Eu possuo apenas o que
Deus me deu
                Love is like a never ending melody,
                Poets have compared it to a symphony,
                A symphony conducted by the lighting of the moon,
                But our song of love is slightly out of tune ...
        ................
        .................
        Gmaj7        Gm6         F#m7            Bm9/F# Bm7/F#        E7
        Voce com a sua m�sica esqueceu o principal,              Que no
peito dos desafinados
         Cm9/G        Ebmaj7       E7/9            A13/-9        Dmaj7
C6 Dmaj9
        No fundo do peito bate calado, Que no peito dos desafinados, Tamb�m
bate um cora�ao
                Tune your heart with mine the way it used to be,
                Join with me in harmony and sing a song of love,
                We're bound to get in tune again before too long,
                There'll be no Desafinado when your heart belongs to me
completely
                Then you won't be slightly out of tune, you'll sing along
with me! "

                                    ****

aduh, dik,
kematian datang dimana saja dengan berbagai cara;
tiap sebentar ada yang mati;
ternyata maut itu berputar-putar di sekitar kita;
maut bisa truk, bisa sendal, ayam goreng, bola;
bisa virus, bisa angin, bisa baygon, bisa pesawat,
bisa listrik, bisa air, bisa nasi, bisa sex, bisa udara kosong hampa...
maut bisa nothing tapi mematikan..

ah, maut bermain-main di sekitar kita rupanya;
di setiap langkah kita maut mengintai : gotcha! katanya..

dan, tahu nggak dik?
meski mati bisa datang bagi siapa saja, kapan saja, dimana saja;
meski mati banyaaaaak sekali;
jalanan tetap saja ramai, di jakarta macet terus,
pasar juga ramai, bioskop juga ramai, cafe, bar, diskotik juga ramai;
masjid ramai, gereja juga;
kantor-kantor juga ramai,
dunia terus berputar, dik!

jadi, dik;
ketika beberapa waktu lalu,
dunia seakan berkeping-keping berderai ketika saya kehilangan orang yang
saya cintai;
saya terceguk, segerombolan manusia lewat tengah tertawa riang bercanda ria;
saya terceguk, ketika puluhan ratusan orang berseliweran di sekitar saya,
seperti tidak terjadi apa-apa;
lha, mereka emang nggak tau apa-apa...

ketika langit seperti runtuh menumpahkan airnya melalui mata saya,
saya mendengar jerit histeris penuh kegirangan gambler saham di bursa efek
kegirangan,
hari itu indeks saham naik 4 poin;
ketika melesat di jalan tol mengejar pesawat, penyiar di radio cekikikan
membahas 'vcd itenas'
di bandara pedagang liar masih saja menawarkan parfumnya seperti tanpa dosa;
lha, dosa mereka emangnya, apa, ya?

ah, kematian...
apa, sih???
dunia terus berputar dik,
indeks saham tetap saja naik turun,
restoran padang laris aja,
pelacur tetap aja cengar-cengir menjual tubuh dan organ seksnya...

meski kematian datang memberondong dimana-mana
lha, matahari masih aja benderang,
tiap pagi nongol lagi, senyam-senyum dari balik gedung-gedung tinggi
jakarta;
bintang sama bulan juga, asal langit bersih aja,
mereka rame banget di atas sana;
begitu terus, dik; sudah berjuta-juta tahun menurut orang-orang pintar;
berjuta-juta tahun!
dan masih entah berapa juta tahun lagi;

tiba-tiba, saya merasa menciut, dik;
seperti dalam film 'honey, i shrunk the kids'
betapa langit berkeping bagi saya, dunia lebur berantakan;
ternyata kagak ngaruh, tidak memberikan efek apa-apa;
dunia tetap berputar, kehidupan terus menggelinding;

tiba-tiba saya merasa kecil, dik;
kematian yang dahsyat itu, bagi saya, kepergian orang tercinta itu;
tidak berarti apa-apa bagi dunia,
saya, orang yang saya cintai, hanya satu dari 6 miliar manusia penghuni bumi
ini;
dan entah telah berapa miliar akumulasi mansuia yang pernah ada;
dan entah berapa miliar pula terjadi kematian..
dik, saya merasa kecil banget di dunia besar ini;
saya makin mengkerut mengecil, ketika sadar bahwa,
bahwa bumi yang gedenya naudzubillah ini,
ternyata cuman biji kacang kecil di tata surya ini,
cuman secuil gedenya jika dibandingkan matahari, bintang kita;
dan saya makin menciut lagi, ketika ingat bahwa tata surya yang ampun
besarnya cuman titik kecil,
hanya ceceran  kecil tak berarti;di pinggiran sayap galaksi bima sakti,
dan saya sudah merasa sebesar tungau,
ketika tersentak-sadar bahwa galaksi-galaksi itu jumlahnya miliaran, yang
diketahui manusia;

kecil, ternyata saya ini kecil;
apalagi, kematian detik itu, hanya bagian kecil dari berapa ribu kematian
lainnya hari itu di belahan bumi yang lain;
hanya satu dari jutaan kematian,
satu dari miliaran kematian yang pernah ada dalam lintasan waktu yang
panjangnya berjelo-berjelo, berjuntai-juntai;
kita hanya kebagian 'ngetrack' sekian puluh tahun saja dari lintasan yang
panjangnya tak terukur itu;
ya, hanya sekian puluh tahun dari ratusan juta tahun entah lebih yang sudah
terlewati,
dan entah berapa juta, miliar, triliun lagi ke depan;

shit!
saya tiba-tiba semakin mengkerut!
saya hanya menjejaki kaki sesaat di lintasan waktu dunia yang sangat panjang
ini;
untuk kemudian didepak dari lintasan;

buset!
kecilnya saya...dalam alam raya ini yang maha luas tak terhitung ini;
dalam lintasan waktu yang berjuta, miliar tahun,

o, mama...
saya hanyalah titik yang tiada berarti di alam ruang-waktu yang super maha
luas

o, mama...
saya hanyalah tungau,
yang gemetar berpegang erat pada sehelai debu yang singgah di karpet lembab;

=urpas=
iimid, 2100020102

-----------------------------------------------------------------------
ps:
--lu juga tungau, tau!

Kirim email ke