Onde, yo bana santiang adiek ambo nan surang ko (Tapi ko' manjadi Muslim, jadilah muslim nan kaffah. Baa pulo tu, rajin puaso tapi maleh sumbayang)
Salam, Darwin --- In [EMAIL PROTECTED], "Urpas" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > * > tadi siang ada yang mati, dik; > melepaskan nyawa yang selama ini bersatu badan di aspal panas yang keras; > tubuhnya terbanting, kepalanya terhempas, > remuk segenap tubuhnya, darah menebari jalanan; > rengkah tengkoraknya, tak hanya darah, otaknya pun terhambur; > lima enam orang berkerumun, berkomentar ini itu sambil menutup mulut dan > hidung; > seseorang mengambil koran dan menutupi jasadnya; > lalu menunggu polisi, ambulans, > atau wartawa, jika 'beruntung' lewat di sini dan menyiarkan fresh news dari > sejasad mayat segar; > tak ada yang menangis, dik; > mungkin nanti atau esok, atau lusa, atau someday > atau memang tak pernah ada yang akan menangisi; > > tadi pagi, subuh-subuh, ada yang mati, dik; > berkelejot sejenak sebelum lepas hembusan pamungkas itu; > good bye sudah tiga bulan derita telentang di 'rumah' pinggir rel kereta; > (jika beberapa lembar kardus dan tripleks -- yang sebagian sudah menjadi > dupleks atau simpleks-- yang disambungkan satu sama lain memenuhi kategori > definisi 'rumah'); > dua tiga orang menangis, mungkin istri dan anak-anaknya; > tak lama, setelah itu mereka harus berfikir keras, > dan sebentar lagi mungkin berselisih kata, > kematian, meski hakikat alam, kadang memang bencana; > pagi ini, beberapa anak manusia di bedeng sebelah rel kereta ini, mendapat > bencana; > setelah ditinggalkan lelaki yang sekian lama bersama; > bencana lain, taklah mudah menguburkan lelaki itu; > tidak lah sedikit biaya untuk itu; > > tadi malam -- hampir pagi, sih -- ada yang mati, dik; > tercekat melepaskan co2 terakhir; > selang-selang oksigen percuma sudah, > but, thanks untuk jasanya selama dua minggu terakhir mengalirkan titipan > perpanjangan kehidupan dari sang pencipta; > jagoan-jagoan berjas putih dan berkalung selang hitam berujung besi, masih > mencoba mengumbar jurus-jurus mereka; > menekan-nekan dada si manusia-just-converted-to-benda-called-jenazah itu; > atau jurus lain, memberikan kejutan elektrik; > seperti bocah kecil yang lagi jahil mengagetkan teman yang tidur; > tapi, gagal, tuhan sudah bulat hatinya menjadikan manusia itu jenazah; > lalu, biasa...ada yang menangis-nangis, bahkan ada yang meratap-ratap; > yang lain sibuk menekan tuts telepon genggamnya mengirimkan sinyal > berairmata melalui frekuensi 900 mhz kemana-mana; > > kemudian ada lagi yang mati, dik, > bocah kecil ini terpeleset di tangga belakang rumahnya, ketika hendak menuju > kamar mandi; > sendalnya licin, lalu ia jatuh terjengkang, > setelah sebelumnya sempat berakrobat ria seperti gambar lelucon di kartun > penghias buku tts; > gambar seekor anjing yang berputar-putar terinjak kulit pisang; > bocah kecil harapan ayah bunda, nusa bangsa serta agama itu; > terjengkang dengan kepala bagian belakang terbanting; > benturan yang keras itu menghentikan fungsi otaknya serta merta; > secara klinis diakhiri dengan kompaknya sang jantung berhenti mendentingkan > irama kehidupan; > nggak jadi mandi, dah; > menunggu esok dimandikan dalam kesedihan yang dalam; > > yang kemaren sore mati, dik, adalah wanita muda itu; > wanita cantik jelita indah seksi semlehoi menggiurkan rupawan; > lidahnya terjulur seperti anjing kelaparan di terik siang; > mulutnya berair-ludah menetes mencapai dadanya yang 36 b; > tubuhnya yang aduhai mantap terbalut dalam kaos merah ketat yang tidak cukup > menutupi pusarnya; > matanya mendelik seperti mata mak lampir naik pitam di serial tivi swasta; > celana jeans ketatnya, levis with newest serial number, dibasahi air > kencingnya; > dia memilih itu, dik; > memilih mati, tergantung, daripada tetap hidup; > mungkin hidup teramat berat baginya; > entahlah mati, dia kan baru mengalaminya; > > nah, yang rame kemaren itu, dik, > itu kan bapak pejabat pemda itu; > matinya di mobil, > barengan, duaan sama wanita yang teridentifikasi bukan istrinya; > matinya bugil, dik; > maksud saya telanjang, total-tal; > tanpa sehelai benang pun, pujangga punya istilah; > why? > bego, lu, dasar anak kecil; > ya, begituan, ngeseks! > mati model begini bukan sekali dua di negeri bedebah ini, > lelah bertempur dalam mobil tertutup, namun mesin menyala buat suplai ac; > membiarkan carbon monoksida yang bocor dari rangka mobil yang tak sempurna > meresapi paru-paru, > pelan-pelan letih, fly, dan tewas; > > muhammed atta juga mati , dik; > orang-orang bilang sih, dalam pesawat yang dihantamkannya ke sebuah gedung; > gedung di sebuah negara yang penguasanya telah terlanjur merasa terlalu > serta selalu kuat dan benar; > lalu kehilangan sedikit banyak objektivitas dan sensitivitas; > sialnya, si atta biadab juga, ngajak mati tanpa ngomong punten dulu, ribuan > manusia tak berdosa; > (i mean, dosa yang berkaitan dengan kebijakan khilaf penguasanya, dosa > lain-lain mah banyak juga kayaknya, seperti kita-kita ini); > > ada pak sarip, dik; > matinya ketika tertidur nyenyak; > ada babah liem, dik; > matinya tenang tersenyum dikelilingi anak-anaknya yang berurai air mata; > ada somad, dik; > matinya ditusuk anak gang mangga, gara-gara ngelemparin petasan tiga hari > sebelumnya; > ada donny, dik; > mati di jalan tol cawang, lagi ngebalap pas malam tahun baru; > ada riana, dik; > mati kejang mulut berbusa, kebanyakan nyuntik; > > ada mpok ati, dik; > mati disambar truk gandeng di jalan by pass subuh-subuh pas lagi nyapu > jalan; > ada jatmiko, dik; > matinya didor polisi di gang sempit deket pasar senen, > ketika sedang berlari-lari ketakutan; > sebelumnya jatmiko berlutut mohon ampun dan menolak ketika disuruh lari > oleh polisi ; > (besoknya berita di koran: 'jatmiko, buronan polisi mati ditembak, karena > ybs melarikan diri ketika diminta polisi menunjukkan lokasi persembunyian > rekannya; tembakan peringatan polisi tidak diindahkan'); > > ada mr. robert, dik; > bule ekspatriat mati ketika lagi ketawa-ketawa sama istri jawa simpanannya > sambil nyeruput coca-cola di pantai sanur; > ada om ahmad; > mati pas lagi sibuk bersidang dalam gedung rakyat; > > nah, barusan, dik, baru banget; > ada lagi yang mati; > di teras depan rumahnya; > tubuh dan kepala lelaki sehat tampan empat puluh tahunan itu tersandar > santai ke sandaran kursi goyang; > di pelukannya beberapa lembar koran, wall street journal, herald tribune, > yang belum semuanya usai dibaca; > ada segelas capuccino dan biskuit impor di meja kecil sebelahnya; > di halaman rumah, dedaunan beberapa pohon bergerak pelan digelitik angin > tipis; > sepohon cemara di pojok gemetar sedikit pucuknya; > gemericik air dari taman kecil dihadapan lelaki itu, ditingkahi siul tak > menentu > seekor burung indah, dalam sangkar, tergantung di atas; > sayup-sayup suara musik jazz ringan bernuansa bossanova masih mengalun dari > dalam; > > "... > D6/9 Dmaj7 E7/9 Em9 A7/6 > F#m7/-5 F#dim > Se voce disser que eu desafino amor, Saiba que isso em mim > provoca imensa dor > Em7 F#7/+5 Bmaj7 F#dim E7/9 > Cm9/G Cm7/G > S� privilegiados tem ouvido igual ao seu, Eu possuo apenas o que > Deus me deu > Love is like a never ending melody, > Poets have compared it to a symphony, > A symphony conducted by the lighting of the moon, > But our song of love is slightly out of tune ... > ................ > ................. > Gmaj7 Gm6 F#m7 Bm9/F# Bm7/F# E7 > Voce com a sua m�sica esqueceu o principal, Que no > peito dos desafinados > Cm9/G Ebmaj7 E7/9 A13/-9 Dmaj7 > C6 Dmaj9 > No fundo do peito bate calado, Que no peito dos desafinados, Tamb�m > bate um cora�ao > Tune your heart with mine the way it used to be, > Join with me in harmony and sing a song of love, > We're bound to get in tune again before too long, > There'll be no Desafinado when your heart belongs to me > completely > Then you won't be slightly out of tune, you'll sing along > with me! " > > **** > > aduh, dik, > kematian datang dimana saja dengan berbagai cara; > tiap sebentar ada yang mati; > ternyata maut itu berputar-putar di sekitar kita; > maut bisa truk, bisa sendal, ayam goreng, bola; > bisa virus, bisa angin, bisa baygon, bisa pesawat, > bisa listrik, bisa air, bisa nasi, bisa sex, bisa udara kosong hampa... > maut bisa nothing tapi mematikan.. > > ah, maut bermain-main di sekitar kita rupanya; > di setiap langkah kita maut mengintai : gotcha! katanya.. > > dan, tahu nggak dik? > meski mati bisa datang bagi siapa saja, kapan saja, dimana saja; > meski mati banyaaaaak sekali; > jalanan tetap saja ramai, di jakarta macet terus, > pasar juga ramai, bioskop juga ramai, cafe, bar, diskotik juga ramai; > masjid ramai, gereja juga; > kantor-kantor juga ramai, > dunia terus berputar, dik! > > jadi, dik; > ketika beberapa waktu lalu, > dunia seakan berkeping-keping berderai ketika saya kehilangan orang yang > saya cintai; > saya terceguk, segerombolan manusia lewat tengah tertawa riang bercanda ria; > saya terceguk, ketika puluhan ratusan orang berseliweran di sekitar saya, > seperti tidak terjadi apa-apa; > lha, mereka emang nggak tau apa-apa... > > ketika langit seperti runtuh menumpahkan airnya melalui mata saya, > saya mendengar jerit histeris penuh kegirangan gambler saham di bursa efek > kegirangan, > hari itu indeks saham naik 4 poin; > ketika melesat di jalan tol mengejar pesawat, penyiar di radio cekikikan > membahas 'vcd itenas' > di bandara pedagang liar masih saja menawarkan parfumnya seperti tanpa dosa; > lha, dosa mereka emangnya, apa, ya? > > ah, kematian... > apa, sih??? > dunia terus berputar dik, > indeks saham tetap saja naik turun, > restoran padang laris aja, > pelacur tetap aja cengar-cengir menjual tubuh dan organ seksnya... > > meski kematian datang memberondong dimana-mana > lha, matahari masih aja benderang, > tiap pagi nongol lagi, senyam-senyum dari balik gedung-gedung tinggi > jakarta; > bintang sama bulan juga, asal langit bersih aja, > mereka rame banget di atas sana; > begitu terus, dik; sudah berjuta-juta tahun menurut orang-orang pintar; > berjuta-juta tahun! > dan masih entah berapa juta tahun lagi; > > tiba-tiba, saya merasa menciut, dik; > seperti dalam film 'honey, i shrunk the kids' > betapa langit berkeping bagi saya, dunia lebur berantakan; > ternyata kagak ngaruh, tidak memberikan efek apa-apa; > dunia tetap berputar, kehidupan terus menggelinding; > > tiba-tiba saya merasa kecil, dik; > kematian yang dahsyat itu, bagi saya, kepergian orang tercinta itu; > tidak berarti apa-apa bagi dunia, > saya, orang yang saya cintai, hanya satu dari 6 miliar manusia penghuni bumi > ini; > dan entah telah berapa miliar akumulasi mansuia yang pernah ada; > dan entah berapa miliar pula terjadi kematian.. > dik, saya merasa kecil banget di dunia besar ini; > saya makin mengkerut mengecil, ketika sadar bahwa, > bahwa bumi yang gedenya naudzubillah ini, > ternyata cuman biji kacang kecil di tata surya ini, > cuman secuil gedenya jika dibandingkan matahari, bintang kita; > dan saya makin menciut lagi, ketika ingat bahwa tata surya yang ampun > besarnya cuman titik kecil, > hanya ceceran kecil tak berarti;di pinggiran sayap galaksi bima sakti, > dan saya sudah merasa sebesar tungau, > ketika tersentak-sadar bahwa galaksi-galaksi itu jumlahnya miliaran, yang > diketahui manusia; > > kecil, ternyata saya ini kecil; > apalagi, kematian detik itu, hanya bagian kecil dari berapa ribu kematian > lainnya hari itu di belahan bumi yang lain; > hanya satu dari jutaan kematian, > satu dari miliaran kematian yang pernah ada dalam lintasan waktu yang > panjangnya berjelo-berjelo, berjuntai-juntai; > kita hanya kebagian 'ngetrack' sekian puluh tahun saja dari lintasan yang > panjangnya tak terukur itu; > ya, hanya sekian puluh tahun dari ratusan juta tahun entah lebih yang sudah > terlewati, > dan entah berapa juta, miliar, triliun lagi ke depan; > > shit! > saya tiba-tiba semakin mengkerut! > saya hanya menjejaki kaki sesaat di lintasan waktu dunia yang sangat panjang > ini; > untuk kemudian didepak dari lintasan; > > buset! > kecilnya saya...dalam alam raya ini yang maha luas tak terhitung ini; > dalam lintasan waktu yang berjuta, miliar tahun, > > o, mama... > saya hanyalah titik yang tiada berarti di alam ruang-waktu yang super maha > luas > > o, mama... > saya hanyalah tungau, > yang gemetar berpegang erat pada sehelai debu yang singgah di karpet lembab; > > =urpas= > iimid, 2100020102 > > ---------------------------------------------------------------------- - > ps: > --lu juga tungau, tau! RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 ==============================================Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ATAU Kirimkan email Ke/To: [EMAIL PROTECTED] Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama: -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda] -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda] Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung ==============================================

