|
Rekan, teman sejawat dan sejerawat, serta netters
Yth
Kolom yang ditulis oleh Gede Prama ini begitu menggoda.
Sungguh menyentuh. Kita seakan dicampakkan ke putaran arus waktu tak bertepi,
juga kumpulan berbagai teori lintas ilmu yang sungguh sulit menyatukan. "Inilah
elegi bisu abad ini," sebagaimana penggalan refleksi akhir tahun yang saya
sempat fw. Sering kita meyakini, sesuatu sudah selesai dengan hanya
menganalisis, padahal itu baru langkah permulaan. Pola "cara kerja berpikir"
terbalik yang ditawarkan oleh Gede Prama ini, sungguh memikat. Kita memulai
dengan sintesis, lalu baru menganalisis.
Kolom ini mengingatkan saya pada pidato kebudayaan Taufik
Rahzen , dedengkot Kelompok Studi Teknosofi di Yogya Tahun 1980-an, di TIM malam
tahun baru 2001-2002, yang memulai dengan sebuah analogi, juga data, tentang 193
jenis kera di dunia. Satu yang paling besar kepalanya, juga paling besar (maaf)
kemaluannya, adalah manusia. Manusia adalah kera paling sedikit punya bulu, yang
tampil dengan satu budaya: budaya pembunuhan. Pidato Taufik, yang sengaja saya
tunggu dalam acara di TIM dengan naik ojek di tengah kemacetan, lalu meneruskan
jalan kaki dari Patung Tani ke TIM karena tak ada lagi ruang untuk jalan motor,
sungguh mewakili apa yang memang jadi kekhawatiran saya.
Tidak politik, tidak ekonomi, keadaan dunia seniman juga sama
saja. saya beruntung melewatkan dini hari sampai pagi tanggal 1 Januari 2002,
bersama dua orang seniman: Soetardji Calzoum Bachrie dan Danarto, sambil
tiduran, minum kopi susu dan indomie goreng. Saya berniat menulisnya dalam
sebuah kolom pertama tahun ini, termasuk sejumlah persoalan, dialog, yang
terjadi malam itu.
Entahlah. Apakah kita memang termasuk jenis manusio idiot dan
satu jenis kera dengan budaya pembunuhan itu, satu-satunya kebudayaan yang hanya
dimiliki oleh kera manusia. 192 kera lain tak memiliki budaya pembunuhan itu.
Entahlah....
ijp
Menjadi
Idiot Penulis: Gede Prama *
Menurut orang yang sekarang sudah jadi sahabat saya, perguruan tinggi adalah institusi yang memproduksi man of analysis. Sebagai anak muda yang baru lulus SMU, tentu saja saya hanya mengangguk-angguk keheranan. Baik karena kedengaran canggih, dan juga karena baru bagi telinga. Disamping juga berharap, suatu saat kelak saya akan diproduksi menjadi manusia komprehensif dalam memandang dunia. Belasan tahun telah berlalu, sejumlah Universitas – baik di luar maupun di dalam negeri - sudah saya lewati, namun saya merasa belum menjadi manusia komprehensif sebagaimana bayangan dulu. Saya fikir, ini hanya terjadi pada diri ini seorang diri. Akan tetapi, pergaulan intensif saya dengan tidak sedikit pengusaha terdidik, manajer bergelar akademis, atau kaum akademisi yang berat membawa gelar ke mana-mana, merekapun tidak memenuhi syarat untuk disebut sebagai manusia komprehensif sebagaimana terbayangkan sebelumnya. Meminjam argumen Scott Adams, penulis The Dilbert Principle yang jernih itu, kita justru sedang diproduksi dan memproduksi diri menjadi masyarakat idiot melalui analisis. Kartunis cemerlang ini menulis, semua orang – termasuk dia sendiri menurut pengakuannya – sebenarnya idiot di bidang yang berbeda-beda. Tergantung bidang pengalaman dan bidang studinya terdahulu. Manusia manajemen seperti saya ini, tentu saja menjadi idiot kalau disuruh mengelola teknologi pesawat terbang. Ekonom yang cemerlang sekalipun, tentu saja mengalami kesulitan bila diminta mempelajari data-data astronomi. Coba cermati cara anak-anak dalam mempelajari mekanisme kerja sebuah mainan baru. Pertama tentu saja mainan tersebut akan dilepas dan dibongkar ke dalam bagian-bagian. Mekanisme kerja mainan akan bisa diketahui – demikian anggapan anak-anak – kalau kita mengenali cara kerja setiap komponen. Interaksi antarkomponen dianggap sepi saja oleh cara berfikir terakhir. Atau dalam bahasa orang perguruan tinggi, hanya ada analisis tanpa sintesis. Setali tiga uang dengan anak-anak dalam mempelajari mainan baru, banyak dari kita yang juga hanya mengenal analisis tanpa sintesis. Atau, kalaupun sintesis itu dikenal biasanya dilakukan kemudian setelah analisis. Lihat saja cara kita memandang krisis. Ekonom memandangnya dari segi ekonomi, bila kewalahan dilempar ke bidang lain seperti politik. Pakar politik mencermatinya dari segi politik, bila kehabisan fikiran sekali lagi dibuang ke keranjang sampah (baca : bidang lain). Manajemen juga sama saja. Sejak dulu sejarah manajemen sudah ditandai oleh lempar melempar monyet (baca : persoalan) tanpa akhir. Kalau prestasi tinggi berebut menyebutnya dengan prestasi bagian sendiri. Jika timbul masalah, berebut melemparnya ke tempat lain. Sintesis bukannya tidak ada. Namun, karena analisisnya sudah penuh dengan nafsu melempar monyet, maka sintesispun ikut kisruh dan keruh tidak karuan. Saya tidak anti spesialisasi, namun analisis yang melupakan sintesis telah berkontribusi besar terhadap penciptaan masyarakat idiot. Pemahaman kita terhadap bidang masing-masing memang mengagumkan, namun krisis telah membuktikan betapa idiotnya kita ketika memahami persoalan. Bayangkan sebuah hutan belantara. Kalau pohon cemara menyebut hutan itu sama dengan kumpulan pohon cemara, serigala menyebutnya dengan kumpulan serigala, lumpur menyebutnya sebagai kumpulan lumpur, tentu saja pemahaman akan hutan akan berantakan. Lebih-lebih kalau ditambah dengan fanatisme dan egosime berlebihan. Sintesis tidak bisa diharapkan muncul sebagai penyelamat kejernihan. Scott Adams di bagian tertentu bukunya menulis : ‘If you’re a ”normal” person, you tend to believe any studies that support your current view and ignore everything else. Therefore, any reference I might make to legitimate research is wasted’. Jika benar demikian, betapa banyaknya manusia ‘normal’ yang sebenarnya idiot. Sedang dibuat buta oleh bayangan sendiri, tetapi pura-pura bisa melihat dan menganalisis. Diskursus publik maupun diskursus manajemen – kalau mau jujur – sebenarnya sedang dibuat riuh oleh model manusia-manusia ‘normal’ ala Scott Adams. Dalam keadaan begini, Anda bebas memilih menjadi normal atau menjadi idiot, namun saya menolak mengidiotkan diri melalui analisis. Untuk itulah saya memilih sintesis dulu, kemudian analisis. Atau, sebelum kepala dibuat berantakan oleh analisis, sebaiknya kita lihat sintesisnya. Ini memang kedengaran tidak biasa, jarang diajarkan di sekolah, bahkan pernah dicaci maki sebagai pendekatan dangkal oleh seorang rekan guru besar. Namun, seberapa idiotpun ide ini saya meyakininya. Sebut saja sebuah organisasi perusahaan. Sintesisnya terletak pada keuntungan yang dibangun di atas kepuasan stakeholders jangka panjang. Atau republik ini, sintesisnya ada pada tumbuhnya ekonomi di atas tegaknya hukum dan hak azasi manusia. Ini titik berangkat dalam melakukan analisis. Dalam sintesis, bagian tidak dipandang secara terpisah dan independen. Namun dibingkai oleh interaksi antarbagian. Setelah bingkai terakhir terbentuk, baru analisis boleh dilakukan. Dan, inilah wajah analisis tanpa proses menjadi idiot. Ah, jangan-jangan ini hanya kesimpulan seorang idiot !. Dan Anda yang membaca
tulisan ini sampai habis, sudah diperingatkan lewat judul, toh ikut-ikutan
menjadi idiot.@ * Konsultan manajemen |

