Minang News Brief & Commentaries
# 3 -------------- January 2002
Lords of the Rim dan Minang - Kiau
oleh: MC Baridjambek (Jakarta)
Ilustrasi
Masalah
ekonomi Indonesia tak kunjung selesai apalagi setelah dibebani hutang konglomerasi
yang hampir menyamai hutang Pemerintah dan dijamin negara walaupun kualitas
assetnya akal-akalan. Akal-akalan tersebut mengingatkan kita kepada buku
Lords
of the Rim karya Sterling Seagrave (Gorgi Books, 1996) yang mengulas
prilaku, sejarah dan sistem kerja Cina perantauan (overseas Chinese) yang
bermukim di kawasan Asia Pacific (disebut the Rim).
Laporan
investigative Seagrave itu mengulas bagaimana kekuatan ekonomi 55 juta
orang Hua Kiau (julukan perantau Cina yang populer pada tahun 60-an) yang
bergabung dalam kerajaan maya (invisible empire of the overseas Chinese),
berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi 1,2 milyar jiwa penduduk Cina
daratan yang semula terbelakang menjadi kekuatan yang sangat diperhitungkan
dalam tatanan ekonomi dunia.
Menurut
World Bank, jika tidak ada hambatan, Cina akan menjadi kekuatan utama ekonomi
dunia pada tahun 2010, mengalahkan Jepang dan Amerika Serikat. Tingkat
pertumbuhan Cina mencapai 19% selama tiga tahun berturut-turut pada tahun
1994. Tingkat pertumbuhan itu malah 2 kali lipat untuk daerah Hokkien
dan Teochiu, dari mana umumnya sindikat perantau Cina kaya raya itu
berasal. Merekalah yang disebut Seagrave sebagai : Lords of the Rim,
penguasa (ekonomi) Kawasan Asia Pasifik.
Keberhasilan
kelompok perantau yang menguasai berbagai sumber ekonomi dengan perkiraan
produk nasional bruto (bagi mereka yang tinggal di kawasan Asia saja) mencapai
$ 450 milyar per tahun atau 125% dari GNP Cina sendiri, pada tahun 1990
memiliki dana bersih sebesar $ 2 triliun, di luar surat berharga dan asset
lainnya, terletak pada kemampuan mereka membangun solidaritas yang
tinggi dan jaringan kerjasama erat di antara mereka. Wujud kerjasama
itu dimulai dari kongsi dagang sampai kepada triad dan tongs yang
spesialisi dalam bidang kriminal, atau bentuk kerjasama lain yang menyebabkan
setiap kelompok menjadi saling terkait.
Dana
mereka yang tersimpan diberbagai tempat dapat dimanfaatkan untuk kepentingan
pengembangan upaya strategis tanpa dapat dijangkau oleh kekuasaan Pemerintah
manapun. Temuan itu mungkin dapat menjelaskan mengapa Pemerintah Indonesia
tidak berhasil menyelesaikan masalah divestasi beberapa lembaga keuangan
dan badan usaha yang menguasai hajat hidup ekonomi bangsa.
Menarik
untuk diamati adalah efektifitas mereka dalam menguasai pasar. Terlihat
sejak hubungan ekonomi Indonesia - Cina resmi dibuka pada era Presiden
Wahid, penetrasi produk Cina berjalan sangat cepat melalui jaringan
ritel yang telah lama terbentuk, menggeser supremasi produk Jepang
yang semula menguasai pasar. Terlihat bagaimana produk Cina mulai dari
kendaraan bermotor sampai ke komoditas elektronik dan barang konsumen lainnya
yang sebelumnya masuk melalui jaringan illegal, segera membanjiri pasar
dengan harga bersaing dan sarat pembayaran yang lebih mudah.
Ilustrasi
ini mengambarkan setidaknya ada tiga faktor kunci keberhasilan Hua Kiau,
1). Adanya solidaritas dan persamaan kehendak yang tinggi, 2). Terbentuknya
sistem jaringan kerjasama yang erat, dan 3). Tersedianya gunggungan dana
strategis yang semakin berkembang.
Minang - Kiau ?
Pada dekade 1960-an perantau Minang pernah
mendapat julukan plesetan "Minang - Kiau". Keberhasilan mereka mengembangkan
usaha dan akhirnya menjadi besar, menjadikan mereka menonjol dalam khazanah
entrepreneurs bangsa. Jumlahnya yang relatif besar menyebabkan orang Minang
dianggap sebagai pengusaha berhasil, dan julukan Minang-Kiau mensejajarkan
mereka dengan Hua Kiau. Saat itu berkembang opini bahwa hanya pengusaha
Minanglah yang mampu mengimbangi dominasi Hua Kiau ini.
Tercatat
nama seperti antara lain Haji Abdul Latief dengan tenun Padang, Rahman
Tamin dengan Ratatexnya, Baharuddin Dt. Bagindo (BDB) dengan pabrik korek
api, dan Hasyim Ning si Raja Mobil yang saat itu menguasai keagenen beberapa
merk dan komoditas lain, yang berlanjut kepada generasi Aminuzal Amin,
Nasroel Chas di samping banyak lagi deretan nama besar pengusaha sukses
Minang dan lainnya. Mereka itu perantau Minang yang berhasil mengembangkan
usaha di luar Sumatera Barat..
Seperti
Hua Kiau, perantau Minang juga menguasai usaha ritel dengan keahlian menjual
dagangan di pasar akhir. Mereka pekerja keras yang tahan tempaan. Hanya
saja mereka tidak terkoordinasi seperti kelompok Hua Kiau yang karenanya
selain tidak dapat menguasai berbagai sumber daya, juga tidak mampu menggunggungkan
kapital untuk membiayai kegiatan strategis bagi peningkatan penguasaan
(bersama) pasar, di samping tidak berusaha menggalang kerjasama dalam satu
sistem yang menjadikan mereka secara otomatis dapat saling dukung dan tunjang
(cross fertilization) untuk menjadi lebih kuat.
Masyarakat
Minang sendiri memiliki pengalaman panjang dalam industri rumah tangga
(cottage industry), yang seperti juga halnya di RRC dapat ditumbuh-kembangkan
dengan sentuhan teknologi melalui program inkubator ekonomi rakyat. Pandai
Sikek dengan tenun yang indah dan Tilatang Kamang dengan usaha konpeksi
rakyatnya merupakan contoh dari pengalaman itu. Terdapat pula industri
rumah makanan seperti karupuak Sanjai, kalamai (dodol) Payakumbuh dan sejenisnya
yang bertebaran di Ranah Minang.
Komentar positif
Keberadaan
perantau Minang sebagai pengusaha dan pedagang, termasuk pedagang ritel
merupakan keunggulan komparatif etnis tersebut dalam bidang ekonomi. Keberanian
bersaing dan daya tahan menghadapi tempaan merupakan asset yang besar bagi
pengembangan diri dan masyarakat di masa depan.
Masalahnya
bagaimana cara membangun kesepakatan dalam menggabungkan kekuatan ritel
itu untuk membentuk saluran distribusi yang secara sistemik terkelola
dan menguasai pasar untuk ditingkatkan guna menyalurkan komoditas yang
dihasilkan masyarakat dengan lebih efisien dan saling menguntungkan.
Hal
lain adalah bagaimana membangun kerjasama yang membentuk sinergi besar
untuk meningkatkan posisi runding di pasar, dengan membangun sistem kerja
yang holistik seperti kelompok Lords of the Rim di atas.
Pembangunan
sumber keuangan untuk menunjang peningkatan usaha merupakan
keharusan. Program seperti itu bukan hanya dilakukan oleh overseas Chinese
saja, tetapi juga sejak lama dikembangkan oleh MITI Jepang dan juga baru
saja dicanangkan oleh Menteri Perdagangan Rini Suwandi untuk membangun
dana strategis bagi pengembangan pengusaha nasional.
Jika
kedua pilar perdagangan tersebut dapat terbentuk, selanjutnya dapat dilakukan
peningkatan efisiensi dan pemberdayaan produksi masyarakat (capacity
building) sesuai dengan kehendak pasar, yang dengan baik dan terarah dapat
meningkatkan pendapatan masyarakat dan mensejahterakan mereka agar mampu
pula membiayai pendidikan keluaarga mereka untuk kembali membangun keunggulan
masyarakat Minang sepertti yang pernah dicapai pada masa lalu (lihat Minang
News Brief terdahulu).
Pendidikan
merupakan sumber keunggulan jangka panjang setiap masyarakat. Pencanangan
Bill Clinton pada masa jabatannya bahwa pada tahun 2004 seluruh tenaga
kerja Amerika Serikat sudah berkualifikasi S1 (menurut Thurow, pada tahun
1996: 95% berpendidikan SLTA), menyebabkan Amerika Serikat mampu mempertahankan
super powernya dan tidak tertandingi dalam hampir segala bidang.
Kualitas SDM seperti itu menjadikan
masyarakat menjadi mumpuni. Negara-negara tetangga kita juga selalu berusaha
meningkatkan kualitas pendidikannya. Singapura dikenal sebagai masyarakat
yang menguasai teknologi informasi yang canggih, Malaysia dengan sungguh-sungguh
membangun cyber super highwaynya, sedangkan Phillippine dikenal sangat
menguasai bidang keuangan.
Masyarakat
Minang dengan track record terdahulunya dapat membangun kembali
keunggulan kompetitif mereka dengan mambangkik batang tarandam, dan
kembali menjadikan Minang sebagai center of exellence. Keinginan
dan kerjasama berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk mewujudkan visi tersebut.
Kalau
mereka mampu,Minang - kiau juga pasti bisa, asalkan �� (saluang sajo nan
manyampaikan).
________________________________________________
Kami mohon tanggapan dan saran anda. Semoga
Allah memberkahi dan menunjuki kita, Amin. (** Mac)
Salam dari rekan-rekan dari :Lembaga
Kajian Dan Pemberdayaan Masyarakat
Yayasan Imam Bonjol
Jl. Walang Baru VII A
No. 7 � Jakarta 14260
Telephone: (062-21) 430.6813
� Fax & Voice mail: (062.21) 430.6811
Pengurus:
Aswin Jusar, Ketua : <[EMAIL PROTECTED]>
M.C. Baridjambek, Sekretaris:
<[EMAIL PROTECTED]>
Darmansyah Darwis, Bendahara
Anggota:
Abdul Razak, M.Sc: <[EMAIL PROTECTED]>
Drs. Asmun A. Syueib: <[EMAIL PROTECTED]>
DR.Ir. Suheimi Nurusman:
<[EMAIL PROTECTED]>
Ir. Ridwan M. Risan: <[EMAIL PROTECTED]>
Chairil Anwar S.E: <[EMAIL PROTECTED]>
Risda Djambek: <[EMAIL PROTECTED]>
--------------------------------------------------------------------------
RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
==============================================Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
==============================================