----- Original Message -----
From: Oni Yulfian <[EMAIL PROTECTED]>
 Baa kok di Singapura 'jarang' tadanga kasus sogok manyogok
> ko, padohal > 75% penduduknyo keturunan Cino. Malah mereka nan SDAnyo
sangaik
> terbatas bisa jauah di atah awak kesejahteraannyo. Tantu banyak hal-hal
positif
> nan bisa awak pelajari dari si Cino ko. Satu hal nan ambo caliak dari
kawan-
> kawan cino ko adolah keteguhan mereka memegang komitmen dalam 'grup'nya
mungkin
> iko nan awk kenal sabagai kongkow (batua ndak istilah ko Evi???).

----- Original Message -----
From: Oni Yulfian <[EMAIL PROTECTED]>
> ko, padohal > 75% penduduknyo keturunan Cino. Malah mereka nan SDAnyo
sangaik
> terbatas bisa jauah di atah awak kesejahteraannyo. Tantu banyak hal-hal
positif
> nan bisa awak pelajari dari si Cino ko. Satu hal nan ambo caliak dari
kawan-
> kawan cino ko adolah keteguhan mereka memegang komitmen dalam 'grup'nya
mungkin
> iko nan awk kenal sabagai kongkow (batua ndak istilah ko Evi???). Kok ado
> diantaro anggota gup ko nan dapek masalah, mako saluruah anggota grup
turun
> tangan untuak manyalamatkan kawan nan bermasalah ko.

Haiya...Oni, owe tak tau istilah itu. Nan obeh di owe, kalau sekumpulan
orang kumpul-kumpul sambil ngoblol ngalol-ngidul with theil own bussiness
itu memang namanya kongkow.Kalau owe ndak buka gerobak bakmi ayam di Glodok
tapi owe kekurangan modal dan mengajak Oni ikut sekian persen, itu namanya
kongsiii...Kalau ada pendekakal berkelialan dengan pedang panjang sambil
tebas lehel sana tebas lehel sini itu namanya dunia Kangngow. Hehehe...Oni
owe jadi pusiiiing...pusiiing...Cino bilang lang melayu (indonesia) itu
inferiol, bodo, pemalas, tidak dapat dipercaya, belmentalitas "menohok kawan
seiling, menggunting kain dalam lipatan dengan tunjuk lulus (lurus)
kelingking belkait". Sementara olang Indonesia yang melasa dirinya penduduk
asli bilang, olang cino itu penipu, culang, culas, suka menyuap, oportunis,
menjilat ke atas nendang ke bawah, tidak
patriotis..dst...dst...dst...Haiya...owe tambah pusing...kapan ya etnis
india atau alab nyang hidup di indonesia ini kebagian pelang etnis begini.

Sekarang serius:

Oni, ini adalah rahasia umum yang tersimpan  dalam peta DNA kita bahwa we
often feel comfortable with people like ourselves and awkward dealing with
those who are different. Siapa  saja sih orang2 yang membuat kita tidak
nyaman? Mereka adalah orang2 yang datang dari kebuyaan yang berbeda, agama
yang berbeda, geografi yang berbeda, kelas sosial yang berbeda, generasi
yang berbeda, dan mereka yang memiliki ukuran badan, warna kulit atau bentuk
mata yang berbeda dengan kita. Tapi segala hal yang tidak membuat nyaman ini
terpaksa harus dilindas oleh kepentingan ekonomi. Dalih bahwa tanah seberang
bisa merubah nasib "ekonomi" keluarga dan keturunan menjadi lebih baik dari
pada di tetap tinggal di tanah leluhur telah mendorong setiap kelompok yang
berbeda itu harus pindah dari satu geografis ke geografis lain dan deal
dengan hal2 baru yang sangat berbeda dengan kebisaan di tanah leluhur.
Mungkin itulah yang kemudian melahirkankan istilah "awak samo awak" yang
dalam kasus orang-orang cina perantauan mengambil bentuk yang lebih kongrit
dengan lahirnya chinatown di seluruh kota-kota industri dunia.

Tapi cina keturunan yang banyak mendapat "kesulitan" di tanah airnya yang
baru,  tidak hanya terjadi di indonesia.Prinsip "cooperate to achieve," yang
berangkat dari kehidupan klan2 yang terdapat di Tiongkok juga membawa banyak
kesulitan pada mereka yang hidup dalam negara demokrasi seperti Amerika.
Kalau sudah begitu ada baiknya kalau kita menaruh curiga bahwa perbedaan
"sengit" antara orang cina dan orang2 di tanah pribumi ini  dibangun melalui
konstruksi politik. Ambil contoh ke Amerika yang  mengenal undang2 Chinese
Exclusion Laws dimana para imigran ini tidak punya hak sama untuk memperoleh
hak sebagai warga negara. Walau setelah China membantu Amerika dalam perang
dunia II, undang2 ini dicabut oleh Franklin D. Roosevelt dengan di tanda
tanganinya Magnuson Act pada 1943, tapi Magnuson Act ini hanyalah sebuah
token. Ia tidak dengan serta merta merubah nasib para imigran cina dan
memulai kehidupan baru di pantai harapan. Karena hingga detik ini  dalam
wacana publik Amerika, chinatown digambarkan sebagai tempat bobrok, sarat
dengan masalah2 sosial seperti "sweatshops", ilegal immigrants, kemiskinan,
atau organisasi kriminal yang harus dinyahkan demi tegaknya hukum. Dalam
halnya Indonesia, kita tak usah jauh-jauh kembali ke jaman Belanda ketika
orang cina mendapat kedudukan sebagai warga kelas dunia seperti semua warga
timur asing lainnya, atau terjadinya pemberontakan PKI yang di back up oleh
komunis Cina, kembali saja pada tahun tahun 1976 dimana Bank Indonesia
menerbit sirkuler yang membuat perbedaan tajam antara pribumi dan non
pribumi ketika harus berusan dengan para nasabahnya. Pada salah satu
butirnya: "Mereka yang pribumi adalah warga negara Indonesia yang bukan
golongan Cina."

 Hehehe...Heran? Jangan! Karena itu kontrusi politik  pada tahun 1976!!
Sekarang kalangan minoritas ini hanya dibedakan dari KTP-nya yang memiliki
tanda khusus.

Wassalam,

Evi








RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke