|
>Sabtu, 23 Februari
2002
Paradoks Indonesia INDONESIA itu suatu paradoks. Marilah kita lihat riwayat pemerintahan kita. Presiden pertama kita, dipilih secara formal oleh Komite Nasional alias MPR Darurat, kemudian oleh MPR Sementara. Akan tetapi, presiden ini jatuh oleh "MPR jalanan" alias demonstrasi "rakyat". Dipilih secara formal kenegaraan, dan jatuh secara nonformal. Presiden kedua juga berkali-kali dipilih secara formal, dan jatuh secara nonformal pula. Anehnya, presiden ketiga tidak dipilih secara formal, justru jatuh secara formal. Sedangkan presiden keempat kembali dipilih secara formal, tetapi, sekali lagi, juga jatuh secara demonstrasi nonformal, yang diperkuat secara formal. Presiden kita yang kelima ini dipilih secara formal (sembari nonformal pula), apakah akan dijatuhkan secara formal atau nonformal, atau secara gabungan seperti pendahulunya? Ada kecenderungan, pilihan wakil-wakil rakyat itu selalu berakhir dengan ketidakpercayaan rakyat. Bahkan wakil-wakil rakyat itu pernah menjilat ludahnya sendiri dengan pilihannya. Lantas, apakah lembaga perwakilan rakyat itu benar-benar mewakili rakyat? Ya, jelas, dong, karena mereka dipilih oleh seluruh rakyat dengan pemilihan umum. Akan tetapi, mengapa pilihan mereka selalu ditolak rakyat? Wah, itu akibat kesalahan presidennya. Namun, mengapa harus dijatuhkan oleh rakyat? Apakah lembaga perwakilan rakyat itu hanya berarti "lembaga pemilih presiden"? Paradoks terbesar ditunjukkan Orde Baru. Lembaga perwakilan rakyat kita itu berkali-kali mencanangkan gelar Bapak Pembangunan kepada presiden. Ternyata gelar itu hanya sebuah paradoks. Alih-alih Bapak Pembangunan, yang terjadi adalah Bapak.... (maaf). Semboyan "demi persatuan dan kesatuan" yang setiap hari diperlihatkan lewat layar televisi, hasilnya adalah "perpecahan dan keterpecahan". Berkali-kali pemerintah melakukan "pengamanan", dan yang terjadi adalah "tidak aman". Gerakan "cinta Tanah Air" dengan cara mewarisi nilai-nilai 1945, dengan cara P4, hasilnya malah generasi muda "mencurigai" Tanah Air dan jatuh dalam pemikiran-pemikiran perenial. Mereka sama sekali tidak bangga dengan Republik Indonesia. Dalam masa-masa maraknya pembangunan, justru banyak rakyat berduyun-duyun keluar negeri "membangun" negeri orang. Apakah yang sebenarnya sedang terjadi dengan bangsa dan negara ini? Apakah orang Indonesia pada dasarnya paradoks dalam dirinya? Mentalitasnya ganda? Psycho? Atau pada dasarnya orang Indonesia itu normal-normal belaka, sedangkan yang mengidap mentalitas demikian itu hanya mereka yang terjebak dalam jaring-jaring kekuasaan negara? Atau sebenarnya sistem jaring-jaring kekuasaan negara itu sendiri memiliki daya gaib mengubah orang menjadi psycho? Namun, gejala paradoks itu juga ada di masyarakat. Proyek-proyek rumah sangat sederhana (RSS) jelas tidak akan terbeli masyarakat kota yang penghasilannya amat sederhana. RSS juga amat berat dicicil pegawai negeri golongan IV sekalipun. Dosen, atau pegawai negeri semacam itu, yang berhasil mencapai golongan IV, bekerja lebih dari 20 tahun, paling banyak hanya menerima Rp 2 juta. Bagaimana bisa membeli RSS yang harganya di atas Rp 10 juta? Inilah sebabnya, dosen filsafat, kalau pensiun lebih baik membuka warung tongseng saja. Dijamin mampu beli RSS.
***DI masa-masa krisis ekonomi (Indonesia terkenal sebagai "negara krisis" akibat secara ritmis mengalami peristiwa itu), selalu ada yang "di bawah krisis" dan "di atas krisis", meski sama-sama rakyat, sama-sama pendidikan, sama-sama pegawai. Ada yang berpendidikan puncak, doktor, tetap jalan kaki atau naik angkot bila mengajar. Sedangkan tetangganya yang lulusan STM mampu mengisi garasinya dengan dua mobil mutakhir. Pendidikan di Indonesia tak ada gunanya, meski tiap orangtua berlomba-lomba memasukkan anaknya sekolah taman kanak-kanak dengan uang muka jutaan rupiah. Yang terkena dan tak terkena krisis ekonomi, grafiknya tak terduga, zig-zag melewati garis-garis batas golongan pendidikan, golongan jabatan, golongan kelas. Dibaca: paradoks Indonesia. Indonesia itu bangsa dan negara jungkir balik. Penuh misteri. Tidak diduga-duga. Belum mapan. Zaman revolusi terus. Revolusi belum selesai adalah benar. Cara hidup gerilya ada di mana-mana. Serangan kecil-kecilan, dari muka, belakang, samping, bawah, dengan cara sembunyi-sembunyi dan penyamaran diri yang sempurna, terjadi di seluruh wilayah kehidupan. Strategi: korban sekecil-kecilnya, hasil sebanyak-banyaknya. Seyogianya, buku AH Nasution, Pokok-Pokok Gerilya, dijadikan bacaan wajib di seluruh Indonesia. Filosofinya bisa dipraktikkan di seluruh lini kehidupan. Berbahagialah bangsa Indonesia yang selalu ada dalam krisis-krisis besar. Krisis besar, biasanya, menghasilkan pemikir-pemikir besar, juga pemimpin-pemimpin besar. Itulah yang terjadi bila kita membaca buku-buku sejarah bangsa-bangsa lain. Akan tetapi, Indonesia itu, kan, sebuah paradoks. Yang terjadi bukan pemikiran-pemikiran orisinal, tetapi pemikiran-pemikiran pinjaman. Filsuf-filsuf besar perenial amat laku di pasaran buku Indonesia. Filsuf-filsuf lokal ditertawakan. "Pemimpin-pemimpin besar" memang muncul di Indonesia, dalam bacaan semakin besar tubuhnya, rumahnya, kendaraannya, rekening banknya, tanahnya. Apa penyebab semua itu? Anda boleh menganalisis dengan filosofi masing-masing. Bagi mereka yang percaya bahwa hidup ini sebuah proses, maka penyakit "kanker" sekarang ini tentu ada prosesnya, dan ada gen penyebab di baliknya. Ada genealoginya. Yang jelas, kita belum mampu berpikir secara post-kolonial. Pikiran kita masih "kolonial". Bukan hanya software kita kolonial, tetapi juga hardware kita masih kolonial. Lihatlah peta kita. Di sana masih tergambar jalan rel kereta api yang pada zaman kakek buyut kita, beliau ini pernah lewat di rel-rel yang sekarang kita lewati tiap hari. Begitu juga gambar-gambar jalan raya, masih sama dengan yang kita hafalkan di sekolah rakyat lima puluh tahun lalu. Ajaibnya, banyak gambar sungai, rawa-rawa, danau kecil, hutan, yang kini telah lenyap entah ke mana. Juru peta kita lebih pintar dari Juru Peta Agung Semesta.
***SECARA software, konstruksi pikiran, kita masih mewarisi cara berpikir kolonial. Apa yang kita kerjakan adalah apa yang dulu juga dikerjakan kaum kolonial. Sentralisasi kekuasaan di pusat, tentara sebagai "alat" pemerintahan, pembentukan kelas elite penguasa, tiadanya tradisi kontrol yang diperintah dengan yang memerintah, selalu waspada menjaga ketertiban dan keamanan dengan kekerasan, membiarkan rakyat bawah tidak sadar pemerintahan, sekolah untuk mencetak pegawai, dan banyak lagi. Etika dan nilai-nilai kolonial masih dipakai setelah kemerdekaan. Kita memang telah merdeka secara badan, tetapi tetap tidak merdeka secara jalan pikiran. Bedanya, bila dulu kaum elite itu warna kulitnya bule, kini "Belanda item". Belanda-belanda item itu masih menempati gedung-gedung resmi gubernuran dan kementerian-kementerian yang sama di zaman kolonial. Apalagi rumah-rumah bupati dan wedana zaman kolonial. Bedanya lagi, bila dulu kaum elite itu benar-benar profesional dan kerja penuh disiplin, perencanaan, dan evaluasi, maka kini kaum amatiran mendadak yang berkuasa. Orientasinya hanya hasil kerja, bukan proses. Kaum elite penguasa itu dulu hidup enak, tetapi tidak pernah tahu bahwa proses mereka mencapai kedudukan elit itu "tidak enak". Mentalitas kolonial yang hanya dilihat dari sisi terangnya, dan bukan sisi gelapnya ini, telah membuat zaman pascakemerdekaan jatuh ke paradoks-paradoks. Melihat hasil tanpa melihat kerja. Dan rakyat pun masih melihat kaum elitenya sebagai rakyat zaman kolonial. Sampai sekarang tidak pernah tahu adanya lembaga perwakilan dirinya, karena di zaman kolonial memang tak ada. Rakyat hanya mengenal siapa yang memerintah, dan bila bersalah akan dibawa ke pengadilan. Pemikiran pascakolonial tidak dijalankan. Rakyat tidak mengenal lembaga perwakilan rakyat, karena di desa-desa, di kecamatan, di kabupaten, lembaga semacam itu tak ada. Presiden sama saja dengan lurah, yang akan menentukan "hitam-putih"-nya kehidupan rakyat. Gedung pengadilan dari dulu hanya di tingkat kabupaten. Begitulah adanya, hantu kolonial itu masih bergentayangan di kepala kita. |
- Re: [RantauNet] Paradox Indonesia Titik
- Re: [RantauNet] Paradox Indonesia hendra . messa
- Re: [RantauNet] Paradox Indonesia hendra . messa

