Dear Afdalus.

Lee Kuan Yew berani karena tahu
banyak "gangsters" Indonesia punya
kepentingan nyimpan "borok"
di sana
financial value-nya? Alamaaaak!

Ide anda untuk mencaplok Singapura
sedang saya pikirkan masak-masak.
usul anda diterima, 
jangan kuatir.

Tapi kalau saya gangster,
dan kebetulan lagi berkuasa 
atau pernah berkuasa
politik maupun ekonomi
di Tanah Air,
saya tak mau ganggu Singapura
karena tak ada negara lain
"semanis" Singapura buat 
menjaga (borok-borok) saya

Pokoknya,
Lee Kuan  Yew
anak manis, deh.

Love
Estearanc Labeh
JKT


-- In [EMAIL PROTECTED], "MUHAMMAD AFDAL" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> KOLOM AKTUAL  
> Yang Besar dan yang Remeh
> Oleh Prie GS  
> PASPOR Indonesia ditolak di Singapura, Lee Kuan Yew menganggap 
Indonesia sebagai sarang teroris. Jika kita seorang patriot, maka tak 
ada ajakan yang lebih menarik selain ayo segera mengangkat senjata, 
berperang membela negara.
> Perang jihad, yang bagi para patriot pasti tak lebih dari sekadar 
pesta. Sekadar permainan yang bahkan mati pun kita anggap sebagai 
kegembiraan. Lagipula luas Singapura cuma sebercak saja. Dibanding 
kita yang besar, negeri itu tak lebih dari sebuah kotamadya. Caplok, 
habis perkara!
> Persoalannya sekarang ialah, benarkah kita seorang patriot? Jika 
para pemimpin saja masih sibuk berantem, jika bangsa masih pecah 
dalam banyak partai, jika tiap partai sendiri masih sibuk berpecah-
belah, jika wakil rakyat cuma sibuk studi banding ke luar negeri, 
sibuk mengurus kapentingannya sendiri, di mana gerangan para patriot 
itu akan kita cari?
> Jika harus berperang, siapa pula yang akan kita percaya untuk 
memimpin kita ke medan laga? Jangan lupa, kritik Lee itu hampir 
bersamaan dengan bertiupnya kabar tentang para jenderal pemilik vila 
liar. Ya ampun, jenderal yang begini pasti telah terbiasa hidup enak. 
Perang pasti akan menjadi sesuatu yang asing dan membosankan. Maka 
jika kita harus berperang pasti cuma akan menjadi arena buang nyawa 
belaka.
> Jangan pula pernah meremehkan bahwa Singapura hanya negara kota. 
Jangan pernah menduga kita akan selalu menang hanya karena musuh itu 
kecil. Sejarah mengajarkan, kapan kita pernah menang melawan pihak 
yang kecil. Nederland itu cuma selebar Jawa Barat, tapi ratusan tahun 
mereka sanggup menjajah kita. Di peta dunia, Jepang itu cuma sederet 
noktah, tapi bahkan sampai sekarang pun kita masih tetap 
mereka ''jajah''.
> Maka jika seumpama kita diminta tersinggung berlebihan atas ulah 
Singapura, apalagi jika diminta untuk berperang beneran, katakanlah: 
semua penghinaan terhadap negaraku adalah hidup dan matiku. Sialnya, 
jika cuma soal hinaan, bagi kami bukan hal baru. Tabiat bangsaku 
sendiri adalah sumber hinaan yang sesungguhnya.
> Jika aku sedang di luar negeri, selalu tersiarlah cerita tentang 
buruknya gambaran negaraku. Tentang pejabat anu yang punya rumah 
mewah di negara bagian anu. Tentang diplomat anu yang sibuk 
menginteli warganya sendiri, yang lebih kedapatan sibuk berbelanja 
dan menyelenggarakn pesta katimbang melakukan tugas-tugas diplomasi. 
Ya ampun, begitu populer ternyata gambaran kita sebagai tukang 
belanja tak peduli kita sedang studi banding, berpkinik, atau malah 
berhaji.
> Hanya dengan dua kata, ''Indonesia? Good!'', pedagang Arab langsung 
bisa membobol real di kantong kita. Maka oleh-oleh haji Indonesia 
selalu kedapatan bikin repot bagasi. Indonesia boleh dianggap negeri 
yang bangkrut, tapi jangan heran jika sebagian rakyatnya masih 
sanggup mempertahankan gelar sebagai pembelanja ulung.
> Jika kita sudah kembali ke dalam negeri, dongeng tentang 
penderitaan itu muncul jelas sekali. Sementara aku melihat orang-
orang mengantre minyak tanah, di sudut yang lain malah terlihat orang-
orang saling bertengkar mempertahankan rangkap jabatan. Jabatan 
rangkap berarti kekuasaan rangkap, pendapatan rangkap, kekayaan 
rangkap! Begitu saja cara pandang rakyat tentang para kolektor 
jabatan itu. Wajarlah jika di sini, rakyat menjadi begitu 
berkekurangan karena di situ, banyak pihak berlomba dalam kelebihan.
> Jangan pernah menyangka aku, rakyat ini, sedang malas menjadi 
patriot. Jangan pula menyangka kami tidak terhina oleh kekurangajaran 
bangsa tetangga. Tapi kami sekarang ini sedang bingung memilih antara 
terhina dan terpukul. Kami begini besar, tapi begini diremehkan 
bahkan oleh yang kecil, pasti karena kebesaran kami dianggap kosong 
belaka. Untuk itulah, kami lebih memilih terpukul katimbang terhina.  
> http://www.suaramerdeka.com/cybernews/priegs/priegs.htm


RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke