ambo satuju..kito harusnyo malu jo tetangga kito yang sagadang lapek tapi masalah managakkan hukum kito jauh tatingga ratusan taun...jadi kalo inyo malarang pasport indonesia masuak kananagarinyo bukan artinyo kasado yang mamacik pasport indonesia indak buliah kasitu..cuma urang2 yang indak bisa manjalehkan untuak apo inyo kasingapur sajo yang inyo larang..sabab biaya hiduik disitu "teramat" tinggi.. wasalam yansen
> "MUHAMMAD AFDAL" <[EMAIL PROTECTED]>Date: Tue, 26 Feb 2002 11:57:00 -0500 > [RantauNet] Yang besar dan yang remehReply-To: [EMAIL PROTECTED] > >KOLOM AKTUAL >Yang Besar dan yang Remeh >Oleh Prie GS >PASPOR Indonesia ditolak di Singapura, Lee Kuan Yew menganggap Indonesia sebagai >sarang teroris. Jika kita seorang patriot, maka tak ada ajakan yang lebih menarik >selain ayo segera mengangkat senjata, berperang membela negara. >Perang jihad, yang bagi para patriot pasti tak lebih dari sekadar pesta. Sekadar >permainan yang bahkan mati pun kita anggap sebagai kegembiraan. Lagipula luas >Singapura cuma sebercak saja. Dibanding kita yang besar, negeri itu tak lebih dari >sebuah kotamadya. Caplok, habis perkara! >Persoalannya sekarang ialah, benarkah kita seorang patriot? Jika para pemimpin saja >masih sibuk berantem, jika bangsa masih pecah dalam banyak partai, jika tiap partai >sendiri masih sibuk berpecah-belah, jika wakil rakyat cuma sibuk studi banding ke >luar negeri, sibuk mengurus kapentingannya sendiri, di mana gerangan para patriot itu >akan kita cari? >Jika harus berperang, siapa pula yang akan kita percaya untuk memimpin kita ke medan >laga? Jangan lupa, kritik Lee itu hampir bersamaan dengan bertiupnya kabar tentang >para jenderal pemilik vila liar. Ya ampun, jenderal yang begini pasti telah terbiasa >hidup enak. Perang pasti akan menjadi sesuatu yang asing dan membosankan. Maka jika >kita harus berperang pasti cuma akan menjadi arena buang nyawa belaka. >Jangan pula pernah meremehkan bahwa Singapura hanya negara kota. Jangan pernah >menduga kita akan selalu menang hanya karena musuh itu kecil. Sejarah mengajarkan, >kapan kita pernah menang melawan pihak yang kecil. Nederland itu cuma selebar Jawa >Barat, tapi ratusan tahun mereka sanggup menjajah kita. Di peta dunia, Jepang itu >cuma sederet noktah, tapi bahkan sampai sekarang pun kita masih tetap mereka >''jajah''. >Maka jika seumpama kita diminta tersinggung berlebihan atas ulah Singapura, apalagi >jika diminta untuk berperang beneran, katakanlah: semua penghinaan terhadap negaraku >adalah hidup dan matiku. Sialnya, jika cuma soal hinaan, bagi kami bukan hal baru. >Tabiat bangsaku sendiri adalah sumber hinaan yang sesungguhnya. >Jika aku sedang di luar negeri, selalu tersiarlah cerita tentang buruknya gambaran >negaraku. Tentang pejabat anu yang punya rumah mewah di negara bagian anu. Tentang >diplomat anu yang sibuk menginteli warganya sendiri, yang lebih kedapatan sibuk >berbelanja dan menyelenggarakn pesta katimbang melakukan tugas-tugas diplomasi. Ya >ampun, begitu populer ternyata gambaran kita sebagai tukang belanja tak peduli kita >sedang studi banding, berpkinik, atau malah berhaji. >Hanya dengan dua kata, ''Indonesia? Good!'', pedagang Arab langsung bisa membobol >real di kantong kita. Maka oleh-oleh haji Indonesia selalu kedapatan bikin repot >bagasi. Indonesia boleh dianggap negeri yang bangkrut, tapi jangan heran jika >sebagian rakyatnya masih sanggup mempertahankan gelar sebagai pembelanja ulung. >Jika kita sudah kembali ke dalam negeri, dongeng tentang penderitaan itu muncul jelas >sekali. Sementara aku melihat orang-orang mengantre minyak tanah, di sudut yang lain >malah terlihat orang-orang saling bertengkar mempertahankan rangkap jabatan. Jabatan >rangkap berarti kekuasaan rangkap, pendapatan rangkap, kekayaan rangkap! Begitu saja >cara pandang rakyat tentang para kolektor jabatan itu. Wajarlah jika di sini, rakyat >menjadi begitu berkekurangan karena di situ, banyak pihak berlomba dalam kelebihan. >Jangan pernah menyangka aku, rakyat ini, sedang malas menjadi patriot. Jangan pula >menyangka kami tidak terhina oleh kekurangajaran bangsa tetangga. Tapi kami sekarang >ini sedang bingung memilih antara terhina dan terpukul. Kami begini besar, tapi >begini diremehkan bahkan oleh yang kecil, pasti karena kebesaran kami dianggap kosong >belaka. Untuk itulah, kami lebih memilih terpukul katimbang terhina. >http://www.suaramerdeka.com/cybernews/priegs/priegs.htm > ><< msg2.html >> ------------------------------------------------------------ Free Web-email ---> http://mail.rantaunet.web.id Komunitas Minangkabau ---> http://www.rantaunet.com --------------------------------------------------------------------- Express yourself with a super cool email address from BigMailBox.com. Hundreds of choices. It's free! http://www.bigmailbox.com --------------------------------------------------------------------- RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ATAU Kirimkan email Ke/To: [EMAIL PROTECTED] Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama: -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda] -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda] Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung ===============================================

