BAGUS.

Tapi ngomong-ngomong di zaman Bundo Kandung sudah ada silet Goal apa
ya? Cukurnya pakai pilah buluh atau apa? Albino-nya kok banyak
sekali? Kira-kira dong. Ada yang keriput nggak tuh?

Konon kabarnya di zaman Bundo Kandung, baik laki maupun perempuan
giginya pada bertaring semua. Benar nggak tuh? He...he....he...

Esteranc Labeh
JKT



--- In [EMAIL PROTECTED], sutan iwan soekri munaf <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
> Pak Gubernur Belum Mendengar Cerita Ini
> Cerpen Sutan Iwan Soekri Munaf
>
> Ranah Minang terguncang. Bundakandung pun termenung.
> Sebuah kabar beredar, hingga jantung masyarakat pun
> berdebar. Ranah Minang akan diserang. Seluruh
> masyarakat bingung.
> Malin Deman menghadap ke Pagaruyung. Penuhi panggilan
> Bundakandung. Duduk di balairung, beberapa pejabat
> agung.
> Bersabdalah Bundakandung: "Wahai Malin Deman,
> anakkandung. Sudah dengar kabar yang tersiar?
> Majapahit akan menyerang Pagaruyung. Bagaimana kita
> dapat membendung? Masyarakat kita tak pernah ingin
> berperang. Kedamaian selalu jadi impian alang-
> kepalang. Solusi anakkandung ingin Bundakandung
> dengar.."
> Malin Deman menghatur sembah. Ingin turunkan rasa
> gundah.
> "Hamba sudah mendengar kabar itu, Bundakandung. Hati
> hamba pun bingung. Ranah Minang yang tenang, kini
> berguncang. Masyarakat semakin tegang. Hari ke hari
> menunggu, dengan hati tak menentu."
> Datuk Ketemanggungan tampak cemas.
> Datuk Perpatih nan Sebatang pun was-was.
> Hadirin menahan rasa gemas.
> Bundakandung mencoba melempar senyum, walau cemas di
> hati tetap dikulum.
> "Tiadakah solusi itu, anakkandung?" tanya Bundakandung.
> "Belum lagi, Bunda," jawab Malin Deman sahaja.
> Bundakandung melempar pandang ke hadapan sidang.
> Suasana rapat semakin tegang. Hadirin tak kuasa
> menahan bimbang.
> Datuk Ketemanggungan angkat bicara. Seluruh pandangan
> tertuju padanya.
> "Daulat hamba, Bundakandung. Hamba bicara karena tak
> kuasa membendung, seluruh rasa hati masyarakat yang
> murung�"
> Bundakandung memberi waktu, agar Datuk Ketemanggungan
> menyampaikan pendapat. Hadirin tampak menunggu, ingin
> tahu jalan keluar yang tepat.
> "Kita harus siapkan anak negeri, melawan setiap
> agresi."
> Hadirin agaknya setuju. Mengangguk-angguk di jalan
> buntu.
> Bundakandung tetap murung.
> Hadirin makin bingung.
> "Jika kita lawan agresi dengan perang, berapa banyak
> darah anak negeri tergenang di Ranah Minang?"
> Hadirin terdiam seketika. Membayang sungai darah di
> mana-mana.
> Malin Deman tampil ke muka.
> "Hamba kira, jika kita berperang, kalah jadi abu
> menang jadi arang. Apalagi kita tahu, Majapahit sebuah
> negeri kuat. Hamba kira, kita tak kuasa menahan
> serangan dahsyat�."
> Hadirin mengangguk-angguk setuju. Semakin tersesat ke
> jalan buntu.
> Datuk Perpatih nan Sebatang tampak semakin bimbang.
> "Realitasnya bala memang sedang menghadang?" ungkap
> Datuk Perpatih nan Sebatang melontarkan rasa bimbang.
> Bundakandung melempar pandang ke hadirin. Tatapannya
> menginginkan jalan keluar dari bala. Suasana panas pun
> segera mendingin. Hadirin menginginkan menarik rambut
> dalam tepung, rambut ditarik, tepung tak rusak.
> "Kita sadar, tentara kita tak sejajar. Majapahit
> negeri kuat. Tentara mereka tangguh di laut dan di
> darat. Mereka selalu menang dalam setiap perang,"
> tutur Bundakandung dengan suara hati yang murung.
> "Tapi kita tidak mau dijajah," kata Datuk
> Ketemanggungan dengan gagah.
> "Daripada berputih mata, lebih baik berputih tulang,"
> kata Datuk Perpatih nan Sebatang.
> "Setuju! Setuju!" Hadirin riuh berseru.
> Bundakandung mengetukkan palu.
> Hadirin pun diam terpaku.
> Malin Deman menghatur sembah. Semua mata menatap
> dengan rasa gelisah.
> Bundakandung memberi waktu.
> "Hamba sependapat, negeri kita tak boleh dijajah.
> Biarkan hamba jadi mayat, jika Ranah Minang ada yang
> jamah.�," kata Malin Deman dengan nada paling nyaman.
> Raut wajah Bundakandung semakin bingung. Apakah Mailn
> Deman inginkan juga perang tanding?
> Malin Deman menarik nafas. Ingin lepaskan seluruh was-
> was.
> Hadirin ingin mendengarkan. Adakah solusi yang
> menggembirakan?
> "Adakah jalan keluar yang menggembirakan,
> anakkandung?" tanya Bundakandung dalam nada
> bersenandung.
> "Ananda belum tahu pasti, Bunda. Tapi boleh kita
> coba," jawab Malin Deman seketika.
> "Apakah rencanamu, anakkandung?" tanya Bundakandung.
> "Kita tak mampu berperang dengan tentara. Tapi kita
> mampu berperang dengan otak kita."
>
> *
>
> Mendengar pendapat Malin Deman, hadirin semakin
> bersemangat
> "Kumpulkan orang dewasa yang albino
> dari seluruh negeri.
> Dapatkah dari seluruh negeri,
> kita kumpulkan orang dewasa yang albino?"
> Tanya Malin Deman seketika. Hadirin matanya bertanya-
> tanya, orang dewasa albino bagaimana berperang lawan
> tentara?
> Bundakandung pun tak mengerti. Apa maksud sang putera
> hati.
> "Sila anakkandung ungkap rencana, agar puas hati kita
> semua," kata Bundakandung yang masih bingung.
> Malin Deman segera menghatur sembah, Bundakandung
> ingin mendengar titah.
> "Maafkan Bundakandung. Bukan lancang anakkandung. Atur
> rencana boleh terbentang, hanya pada orang dalam
> kalang. Banyak sekali agen rahasia asing, yang mencari
> informasi untuk perang tanding," kata Malin Deman
> dalam nada paling nyaman.
> Bundakandung paham. Hadirin setuju pun mendeham.
> Rapat anak negeri pun ditutup. Detak jantung anak
> negeri makin berdegup. Apakah kiranya atur rencana
> Malin Deman, sehingga orang dewasa albino dikumpulkan.
> Kemudian Bundakandung, Datuk Ketemanggungan, Datuk
> Perpatih nan Sabatang dan Malin Deman, masuk ke dalam.
> Duduk berempat, atur rencana dalam rapat, bagaimana
> caranya serangan Majapahit dapat teredam.
> Akhirnya lahir kata bulat, hasil dari mufakat.
>
> *
>
> Datanglah menghadap seorang agen rahasia ke balairung.
> Di sana ada Bundakandung. Juga Datuk Ketemanggungan,
> Datuk Perpatih nan Sabatang dan Malin Deman. Suasana
> hening. Semua ingin mendengar kabar penting.
> Bundakandung mempersila agen rahasia untuk bercerita.
> "Duhai Bundakandung yang hamba hormati, atur rencana
> Majapahit menyerang ini negeri, pada tanggal empat
> bulan ke sembilan, mereka datang dengan penuh
> kekuatan. Saya dapat kabar, Armada ke Tujuh yang
> tenar, akan masuk ke Pauh Kambar. Pariaman menjadi
> negeri tempat pendaratan. Atas dukungan seluruh
> pasukan marinir Majapahit, dengan sasaran Pagaruyung
> pun terjepit. Mereka namakan ini amukti Sumpah Palapa.
> Sumpah yang bikin kita menderita," kata agen rahasia
> terbata-bata.
> Bundakandung mendengar kabar dengan tenang. Padahal
> hadirin duduk berwajah tegang.
> "Bila harga diri kita diinjak, kita akan berdiri dan
> tegak. Kita tidak akan mau berperang, tapi lawan yang
> datang ditolak pantang," kata Bundakandung dalam nada
> bersenandung.
> Kendati Bundakandung terlihat tenang, hati hadirin
> yang mendengar tetap terguncang. Tentara Majapahit
> yang tenar, sudah tersiar ke mana-mana itu kabar.
> Amukti Sumpah Palapa Gajahmada, artinya peperangan
> terjadi di mana-mana, sudah bikin banyak negeri
> menderita.
>
> *
> Pada tanggal tiga bulan ke sembilan, berkumpul dua
> puluh dua orang albino dewasa, baik laki maupun
> perempuan. Wajahnya siap membela negara, mati pun
> hadangan jadi pahlawan. Dan mereka berkumpul di
> Pariaman.
> Mereka dicukur gundul. Tak ada rambut yang tersisa.
> Segala macam rambut dicukur gundul. Baik di kepala, di
> alis mata, kumis dan janggut, di ketiak, dan di mana
> saja yang ada rambut. Semua dicukur gundul.
> Kemudian Malin Deman memperhatikan semua calon
> pahlawan. Pukul sembilan malam semua sudah seragam.
> Tak ada lagi rambut yang tumbuh. Betul-betul gundul
> yang utuh.
> "Kalian adalah calon pahlawan, pembela ini negeri dari
> negeri lawan," kata Malin Deman.
> Kedua puluh dua orang albino mendengarkan. Gelora di
> dada tumbuh menjadi pahlawan.
> "Malam ini, akan dicabut seluruh gigi. Ini sakit. Tapi
> lebih baik daripada dijajah Majapahit," kata Malin
> Deman menjelaskan.
> Dua puluh dua orang albino dewasa nyaris ciut. Seluruh
> gigi mereka akan dicabut.
> Malin Deman paham melihat reaksi. Setelah dicabut tak
> pernah tumbuh lagi.
> "Semua bergantung pada tuan-tuan dan puan-puan.
> Pagaruyung mengharapkan pengorbanan tuan-tuan dan puan-
> puan, agar kita menang berperang, atas ancaman yang
> datang. Pagaruyung takan akan melupakan, segala
> pengorbanan tuan-tuan dan puan-puan," kata Malin Deman
> menenangkan.
> Kemudian mereka sepakat. Mencabut seluruh gigi yang
> melekat.
> Sesekali terdengar suara mengaduh. Namun ditimpali
> dengan suara gaduh. "Pagaruyung menang! Pagaruyung
> menang!"
> Menjelang tengah malam larut. Seluruh gigi telah
> dicabut. Hadirin diminta berkumpul. Malin Deman ingin
> memberi kata simpul.
> "Tugas kita sekarang, membakar semua rumah di tepi
> pantai. Jangan lupa memanggang beberapa ekor kerbau
> yang telah dibantai. Panggang di atas rumah yang
> terbakar. Ini juga pengorbanan yang harus kita bayar,"
> kata Malin Deman penuh pengertian.
> Seluruh rumah di tepi pantai terbakar sebelum
> dinihari. Malam itu langit dipenuhi bunga api. .
>
> *
>
> Mentari baru saja mencogok di ufuk timur. Tampak
> ribuan orang bergolok siap bertempur. Mereka adalah
> pasukan Armada ke Tujuh, langsung dipimpin Mahapatih
> Gajahmada berlabuh.
> Pantai dipenuhi marinir Majapahit. Namun Pariaman
> terlihat sepi. Terkaget-kaget pasukan Majapahit,
> seakan masuk ke suatu negeri, tanpa manusia. Lengang
> tak ada siapa-siapa. Di beberapa tempat, hanya ada
> onggokan abu. Dan tengkorak beberapa kepala kerbau
> mengabu.
> Mahapatih Gajahmada menyuruh periksa seksama. Namun
> Kolonel Marjono bersama anak buahnya, tidak menemukan
> apa-apa. Sebagai pasukan pendarat, baru sekali ini
> mendarat, tanpa ada perlawanan. Hanya ada sisa-sisa
> bakaran.
> Namun tiba-tiba terdengar suara tangisan. Seperti
> suara bayi kelaparan.
> Kolonel Marjono bersama anak buah mencari arah suara.
> Tak ada siapa-siapa, tapi ada suara tangisan bayi
> menghiba.
> Kemudian Kolonel Marjono melihat ke atasnya. Terdapat
> gantungan kain antara pohon kelapa dengan pohon
> kelapa. Bukan hanya satu. Setelah dihitung, ada dua
> puluh dua tergantung. Pikir Sang Kolonel, apakah itu?
> Diperintahkannya seorang sersan memanjat pohon kelapa.
> Ingin tahu ada apa gerangan di sana.
> Sang Sersan memanjat pohon kelapa. Begitu tiba, dia
> kaget. Untung tidak mencret.
> Tampak seorang bertubuh putih. Meronta merintih.
> Tangisan pun lirih. Seperti ingin menyusu. Lapar perut
> ingin mengadu kepada ibu. Tubuh bayi itu telanjang.
> Tangan-tangan dan kaki-kakinya bergelinjang. Lapar
> sekali tentu. Mengapa belum datang sang ibu�.
> "Inikah suara bayi itu? Besar sekali bayi itu�" gumam
> Sang Sersan bergetar, denyut jantungnya segera
> berdenyar.
> Dia pun segera turun. Ingin melapor hasil penglihatan.
> "Lapor, Kolonel. Bayi yang menangis itu, di atas sana.
> Tubuh bayi itu sebesar kita. Bagaimana pula besar
> tubuh orangtuanya?" papar Sang Sersan gemetar.
> `Hah?" Sang Kolonel pun ikut bergetar.
> "Betul, Kolonel. Apakah ingin lihat, Kolonel?" tanya
> Sang Sersan sambil tangan mempersilakan.
> Kolonel Marjono pun melapor tergopoh-gopoh. Semua
> pasukan heboh. Mahapatih Gajahmada bengong melihat
> Kolonel Marjono. Perwira andalannya tampak kuyu dan
> loyo.
> "Sebaiknya kita naik kapal lagi, Paduka�" kata Kolonel
> Marjono terbata.
> "Naik ke kapal lagi?" bentak Mahapatih Gajahmada murka
> sekali.
> "Ya, Paduka. Di sana ada dua puluh dua bayi raksasa.
> Bayinya saja sebesar kita, bagaimana tubuh
> orangtuanya. Ini negeri raksasa, Paduka. Dan itu,
> bekas tungku-tungku yang mengabu. Mereka memasak di
> sana. Melihat besar tungkunya saja, hamba yakin ini
> negeri raksasa, Paduka. Untung orangtua bayi itu tak
> di sana. Jika di sana, entah bagaimana celaka kita,,"
> ungkap Kolonel Marjono bernada ciut dengan pikiran
> yang kalut.
> Mahapatih Gajahmada mendengarkan seksama. Kolonel
> Marjono adalah perwira andalannya. Tak mungkin sampai
> salah menilai sebuah masalah.
> "Baiklah. Pasukan kembali ke kapal, ini perintah!"
> tegas sekali suara Mahapatih Gajahmada.
> Seketika seluruh pasukan kembali. Dan kemudian kapal
> berlayar menuju Majapahit lagi. Esok lusa, entah
> negeri mana lagi, akan jadi korban amukti Sumpah
> Palapa.
> Pagaruyung pun kembali tenang. Suasana rakyat pun
> senang.
> Sejak saat itu, seluruh orang albino di ranah Minang
> dihormati. Bila bertemu, segera mencium tangannya,
> puaslah hati.
>
> *
>
> "Begitulah orang Minang menghormati pahlawan," kata
> Ajo Buyung Blando yang albino itu berkisah di lepau
> Kampung Sudut, Pariaman.
> Berkisah yang dikenal sebagai bakaba (berkabar),
> bercerita sambil berdendang. Suara Ajo Buyung Blando
> merdu ikut melenakan pendengarnya di lepau.
> "Masak begitu?" tanya Herman Pengkar tak percaya.
> "Kalian ini tak tahu sejarah. Tak mau menghormati
> pahlawan kalian. Kalian di sini hanya mengolok-olok
> pada orang albino seperti saya. Kalau saja kalian tahu
> sejarah seperti Pak Guru Usman, kalian akan lakukan
> hal yang sama. Akan mencium tangan saya. Mengucapkan
> terimakasih atas kepahlawanan orang albino seperti
> saya," kata Ajo Buyung Blando,
> "Apa Pak Gubernur akan mencium tangan Ajo Buyung?"
> tanya Herman Pengkar lagi.
> "Sayang, Pak Gubernur belum mendengar cerita ini.
> Kalau sudah, dia musti cium tangan orang albino
> seperti saya," katanya mengkahiri kisahnya sambil
> beranjak dari duduknya, dan meninggalkan para
> pendengarnya..
> Pendengarnya masih duduk terpana.
>
>
> Ragunan � Jakarta Agustus 2001 � Pebruari 2002
>
>
>
>
>
> mau baca karanganku:
> http://www.angelfire.com/id2/iwansoekri
> mau baca berita:
> http://www.wacanamarket.com/
> mau baca karangan sastra lainnya:
> http://www.cybersastra.net
> selamat membaca
>
>
> _______________________________________________________
> _________________
> Layanan e-mail gratis, cepat dan terpercaya -
> http://webmail.astaga.com
>
>
>
> RantauNet http://www.rantaunet.com
>
> Isikan data keanggotaan anda di
http://www.rantaunet.com/register.php3
> =======================Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet
Mailing List di
> http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
>
> ATAU Kirimkan email
> Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
> Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
> -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
> -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
> Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda
kurung
> =======================


RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
==============================================Mendaftar atau berhenti menerima 
RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
==============================================

Kirim email ke