untung indak ditanyo, apokah ajo elo zainal bakar alah 
baco carito iko.
namun, apokah sanak lai mancium tangan blando albino 
di kampung awak?
salam
iwan

mau baca karanganku:
http://www.angelfire.com/id2/iwansoekri
mau baca berita:
http://www.wacanamarket.com/
mau baca karangan sastra lainnya:
http://www.cybersastra.net
selamat membaca

----- Original Message -----
From: esteranc <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thursday, February 28, 2002 10:15 am
Subject: Re: [RantauNet] Apa Pendapat Anda tentang 
Buyung Blando?

> 
> BAGUS. 
> 
> Tapi ngomong-ngomong di zaman Bundo Kandung sudah 
> ada silet Goal apa 
> ya? Cukurnya pakai pilah buluh atau apa? Albino-
> nya kok banyak 
> sekali? Kira-kira dong. Ada yang keriput nggak 
> tuh? 
> 
> Konon kabarnya di zaman Bundo Kandung, baik laki 
> maupun perempuan 
> giginya pada bertaring semua. Benar nggak tuh? 
> He...he....he... 
> 
> Esteranc Labeh
> JKT
> 
> 
> 
> --- In [EMAIL PROTECTED], sutan iwan soekri munaf 
> <[EMAIL PROTECTED]> 
> wrote:
> > Pak Gubernur Belum Mendengar Cerita Ini 
> > Cerpen Sutan Iwan Soekri Munaf 
> > 
> > Ranah Minang terguncang. Bundakandung pun 
> termenung. 
> > Sebuah kabar beredar, hingga jantung masyarakat 
> pun 
> > berdebar. Ranah Minang akan diserang. Seluruh 
> > masyarakat bingung.
> > Malin Deman menghadap ke Pagaruyung. Penuhi 
> panggilan 
> > Bundakandung. Duduk di balairung, beberapa 
> pejabat 
> > agung.
> > Bersabdalah Bundakandung: "Wahai Malin Deman, 
> > anakkandung. Sudah dengar kabar yang tersiar? 
> > Majapahit akan menyerang Pagaruyung. Bagaimana 
> kita 
> > dapat membendung? Masyarakat kita tak pernah 
> ingin 
> > berperang. Kedamaian selalu jadi impian alang-
> > kepalang. Solusi anakkandung ingin Bundakandung 
> > dengar.."
> > Malin Deman menghatur sembah. Ingin turunkan 
> rasa 
> > gundah.
> > "Hamba sudah mendengar kabar itu, Bundakandung. 
> Hati 
> > hamba pun bingung. Ranah Minang yang tenang, 
> kini 
> > berguncang. Masyarakat semakin tegang. Hari ke 
> hari 
> > menunggu, dengan hati tak menentu."
> > Datuk Ketemanggungan tampak cemas.
> > Datuk Perpatih nan Sebatang pun was-was.
> > Hadirin menahan rasa gemas.
> > Bundakandung mencoba melempar senyum, walau 
> cemas di 
> > hati tetap dikulum.
> > "Tiadakah solusi itu, anakkandung?" tanya 
> Bundakandung.> "Belum lagi, Bunda," jawab Malin 
> Deman sahaja.
> > Bundakandung melempar pandang ke hadapan 
> sidang. 
> > Suasana rapat semakin tegang. Hadirin tak kuasa 
> > menahan bimbang.
> > Datuk Ketemanggungan angkat bicara. Seluruh 
> pandangan 
> > tertuju padanya.
> > "Daulat hamba, Bundakandung. Hamba bicara 
> karena tak 
> > kuasa membendung, seluruh rasa hati masyarakat 
> yang 
> > murung�"
> > Bundakandung memberi waktu, agar Datuk 
> Ketemanggungan 
> > menyampaikan pendapat. Hadirin tampak menunggu, 
> ingin 
> > tahu jalan keluar yang tepat.
> > "Kita harus siapkan anak negeri, melawan setiap 
> > agresi."
> > Hadirin agaknya setuju. Mengangguk-angguk di 
> jalan 
> > buntu.
> > Bundakandung tetap murung.
> > Hadirin makin bingung.
> > "Jika kita lawan agresi dengan perang, berapa 
> banyak 
> > darah anak negeri tergenang di Ranah Minang?"
> > Hadirin terdiam seketika. Membayang sungai 
> darah di 
> > mana-mana.
> > Malin Deman tampil ke muka.
> > "Hamba kira, jika kita berperang, kalah jadi 
> abu 
> > menang jadi arang. Apalagi kita tahu, Majapahit 
> sebuah 
> > negeri kuat. Hamba kira, kita tak kuasa menahan 
> > serangan dahsyat�."
> > Hadirin mengangguk-angguk setuju. Semakin 
> tersesat ke 
> > jalan buntu.
> > Datuk Perpatih nan Sebatang tampak semakin bimbang.
> > "Realitasnya bala memang sedang menghadang?" 
> ungkap 
> > Datuk Perpatih nan Sebatang melontarkan rasa 
> bimbang.> Bundakandung melempar pandang ke 
> hadirin. Tatapannya 
> > menginginkan jalan keluar dari bala. Suasana 
> panas pun 
> > segera mendingin. Hadirin menginginkan menarik 
> rambut 
> > dalam tepung, rambut ditarik, tepung tak rusak.
> > "Kita sadar, tentara kita tak sejajar. 
> Majapahit 
> > negeri kuat. Tentara mereka tangguh di laut dan 
> di 
> > darat. Mereka selalu menang dalam setiap 
> perang," 
> > tutur Bundakandung dengan suara hati yang murung.
> > "Tapi kita tidak mau dijajah," kata Datuk 
> > Ketemanggungan dengan gagah.
> > "Daripada berputih mata, lebih baik berputih 
> tulang," 
> > kata Datuk Perpatih nan Sebatang.
> > "Setuju! Setuju!" Hadirin riuh berseru.
> > Bundakandung mengetukkan palu.
> > Hadirin pun diam terpaku.
> > Malin Deman menghatur sembah. Semua mata 
> menatap 
> > dengan rasa gelisah.
> > Bundakandung memberi waktu.
> > "Hamba sependapat, negeri kita tak boleh 
> dijajah. 
> > Biarkan hamba jadi mayat, jika Ranah Minang ada 
> yang 
> > jamah.�," kata Malin Deman dengan nada paling 
> nyaman.> Raut wajah Bundakandung semakin bingung. 
> Apakah Mailn 
> > Deman inginkan juga perang tanding?
> > Malin Deman menarik nafas. Ingin lepaskan 
> seluruh was-
> > was.
> > Hadirin ingin mendengarkan. Adakah solusi yang 
> > menggembirakan?
> > "Adakah jalan keluar yang menggembirakan, 
> > anakkandung?" tanya Bundakandung dalam nada 
> > bersenandung.
> > "Ananda belum tahu pasti, Bunda. Tapi boleh 
> kita 
> > coba," jawab Malin Deman seketika.
> > "Apakah rencanamu, anakkandung?" tanya 
> Bundakandung.> "Kita tak mampu berperang dengan 
> tentara. Tapi kita 
> > mampu berperang dengan otak kita."
> > 
> > *
> > 
> > Mendengar pendapat Malin Deman, hadirin semakin 
> > bersemangat
> > "Kumpulkan orang dewasa yang albino 
> > dari seluruh negeri.
> > Dapatkah dari seluruh negeri, 
> > kita kumpulkan orang dewasa yang albino?"
> > Tanya Malin Deman seketika. Hadirin matanya 
> bertanya-
> > tanya, orang dewasa albino bagaimana berperang 
> lawan 
> > tentara?
> > Bundakandung pun tak mengerti. Apa maksud sang 
> putera 
> > hati.
> > "Sila anakkandung ungkap rencana, agar puas 
> hati kita 
> > semua," kata Bundakandung yang masih bingung.
> > Malin Deman segera menghatur sembah, 
> Bundakandung 
> > ingin mendengar titah.
> > "Maafkan Bundakandung. Bukan lancang 
> anakkandung. Atur 
> > rencana boleh terbentang, hanya pada orang 
> dalam 
> > kalang. Banyak sekali agen rahasia asing, yang 
> mencari 
> > informasi untuk perang tanding," kata Malin 
> Deman 
> > dalam nada paling nyaman.
> > Bundakandung paham. Hadirin setuju pun mendeham.
> > Rapat anak negeri pun ditutup. Detak jantung 
> anak 
> > negeri makin berdegup. Apakah kiranya atur 
> rencana 
> > Malin Deman, sehingga orang dewasa albino 
> dikumpulkan.> Kemudian Bundakandung, Datuk 
> Ketemanggungan, Datuk 
> > Perpatih nan Sabatang dan Malin Deman, masuk ke 
> dalam. 
> > Duduk berempat, atur rencana dalam rapat, 
> bagaimana 
> > caranya serangan Majapahit dapat teredam.
> > Akhirnya lahir kata bulat, hasil dari mufakat.
> > 
> > *
> > 
> > Datanglah menghadap seorang agen rahasia ke 
> balairung. 
> > Di sana ada Bundakandung. Juga Datuk 
> Ketemanggungan, 
> > Datuk Perpatih nan Sabatang dan Malin Deman. 
> Suasana 
> > hening. Semua ingin mendengar kabar penting.
> > Bundakandung mempersila agen rahasia untuk 
> bercerita.> "Duhai Bundakandung yang hamba 
> hormati, atur rencana 
> > Majapahit menyerang ini negeri, pada tanggal 
> empat 
> > bulan ke sembilan, mereka datang dengan penuh 
> > kekuatan. Saya dapat kabar, Armada ke Tujuh 
> yang 
> > tenar, akan masuk ke Pauh Kambar. Pariaman 
> menjadi 
> > negeri tempat pendaratan. Atas dukungan seluruh 
> > pasukan marinir Majapahit, dengan sasaran 
> Pagaruyung 
> > pun terjepit. Mereka namakan ini amukti Sumpah 
> Palapa. 
> > Sumpah yang bikin kita menderita," kata agen 
> rahasia 
> > terbata-bata.
> > Bundakandung mendengar kabar dengan tenang. 
> Padahal 
> > hadirin duduk berwajah tegang.
> > "Bila harga diri kita diinjak, kita akan 
> berdiri dan 
> > tegak. Kita tidak akan mau berperang, tapi 
> lawan yang 
> > datang ditolak pantang," kata Bundakandung 
> dalam nada 
> > bersenandung.
> > Kendati Bundakandung terlihat tenang, hati 
> hadirin 
> > yang mendengar tetap terguncang. Tentara 
> Majapahit 
> > yang tenar, sudah tersiar ke mana-mana itu 
> kabar. 
> > Amukti Sumpah Palapa Gajahmada, artinya 
> peperangan 
> > terjadi di mana-mana, sudah bikin banyak negeri 
> > menderita.
> > 
> > *
> > Pada tanggal tiga bulan ke sembilan, berkumpul 
> dua 
> > puluh dua orang albino dewasa, baik laki maupun 
> > perempuan. Wajahnya siap membela negara, mati 
> pun 
> > hadangan jadi pahlawan. Dan mereka berkumpul di 
> > Pariaman.
> > Mereka dicukur gundul. Tak ada rambut yang 
> tersisa. 
> > Segala macam rambut dicukur gundul. Baik di 
> kepala, di 
> > alis mata, kumis dan janggut, di ketiak, dan di 
> mana 
> > saja yang ada rambut. Semua dicukur gundul.
> > Kemudian Malin Deman memperhatikan semua calon 
> > pahlawan. Pukul sembilan malam semua sudah 
> seragam. 
> > Tak ada lagi rambut yang tumbuh. Betul-betul 
> gundul 
> > yang utuh.
> > "Kalian adalah calon pahlawan, pembela ini 
> negeri dari 
> > negeri lawan," kata Malin Deman.
> > Kedua puluh dua orang albino mendengarkan. 
> Gelora di 
> > dada tumbuh menjadi pahlawan.
> > "Malam ini, akan dicabut seluruh gigi. Ini 
> sakit. Tapi 
> > lebih baik daripada dijajah Majapahit," kata 
> Malin 
> > Deman menjelaskan.
> > Dua puluh dua orang albino dewasa nyaris ciut. 
> Seluruh 
> > gigi mereka akan dicabut.
> > Malin Deman paham melihat reaksi. Setelah 
> dicabut tak 
> > pernah tumbuh lagi.
> > "Semua bergantung pada tuan-tuan dan puan-puan. 
> > Pagaruyung mengharapkan pengorbanan tuan-tuan 
> dan puan-
> > puan, agar kita menang berperang, atas ancaman 
> yang 
> > datang. Pagaruyung takan akan melupakan, segala 
> > pengorbanan tuan-tuan dan puan-puan," kata 
> Malin Deman 
> > menenangkan.
> > Kemudian mereka sepakat. Mencabut seluruh gigi 
> yang 
> > melekat.
> > Sesekali terdengar suara mengaduh. Namun 
> ditimpali 
> > dengan suara gaduh. "Pagaruyung menang! 
> Pagaruyung 
> > menang!"
> > Menjelang tengah malam larut. Seluruh gigi 
> telah 
> > dicabut. Hadirin diminta berkumpul. Malin Deman 
> ingin 
> > memberi kata simpul.
> > "Tugas kita sekarang, membakar semua rumah di 
> tepi 
> > pantai. Jangan lupa memanggang beberapa ekor 
> kerbau 
> > yang telah dibantai. Panggang di atas rumah 
> yang 
> > terbakar. Ini juga pengorbanan yang harus kita 
> bayar," 
> > kata Malin Deman penuh pengertian.
> > Seluruh rumah di tepi pantai terbakar sebelum 
> > dinihari. Malam itu langit dipenuhi bunga api. 
> . 
> > 
> > *
> > 
> > Mentari baru saja mencogok di ufuk timur. 
> Tampak 
> > ribuan orang bergolok siap bertempur. Mereka 
> adalah 
> > pasukan Armada ke Tujuh, langsung dipimpin 
> Mahapatih 
> > Gajahmada berlabuh.
> > Pantai dipenuhi marinir Majapahit. Namun 
> Pariaman 
> > terlihat sepi. Terkaget-kaget pasukan 
> Majapahit, 
> > seakan masuk ke suatu negeri, tanpa manusia. 
> Lengang 
> > tak ada siapa-siapa. Di beberapa tempat, hanya 
> ada 
> > onggokan abu. Dan tengkorak beberapa kepala 
> kerbau 
> > mengabu. 
> > Mahapatih Gajahmada menyuruh periksa seksama. 
> Namun 
> > Kolonel Marjono bersama anak buahnya, tidak 
> menemukan 
> > apa-apa. Sebagai pasukan pendarat, baru sekali 
> ini 
> > mendarat, tanpa ada perlawanan. Hanya ada sisa-
> sisa 
> > bakaran.
> > Namun tiba-tiba terdengar suara tangisan. 
> Seperti 
> > suara bayi kelaparan.
> > Kolonel Marjono bersama anak buah mencari arah 
> suara. 
> > Tak ada siapa-siapa, tapi ada suara tangisan 
> bayi 
> > menghiba.
> > Kemudian Kolonel Marjono melihat ke atasnya. 
> Terdapat 
> > gantungan kain antara pohon kelapa dengan pohon 
> > kelapa. Bukan hanya satu. Setelah dihitung, ada 
> dua 
> > puluh dua tergantung. Pikir Sang Kolonel, 
> apakah itu?
> > Diperintahkannya seorang sersan memanjat pohon 
> kelapa. 
> > Ingin tahu ada apa gerangan di sana.
> > Sang Sersan memanjat pohon kelapa. Begitu tiba, 
> dia 
> > kaget. Untung tidak mencret.
> > Tampak seorang bertubuh putih. Meronta 
> merintih. 
> > Tangisan pun lirih. Seperti ingin menyusu. 
> Lapar perut 
> > ingin mengadu kepada ibu. Tubuh bayi itu 
> telanjang. 
> > Tangan-tangan dan kaki-kakinya bergelinjang. 
> Lapar 
> > sekali tentu. Mengapa belum datang sang ibu�.
> > "Inikah suara bayi itu? Besar sekali bayi itu�" 
> gumam 
> > Sang Sersan bergetar, denyut jantungnya segera 
> > berdenyar.
> > Dia pun segera turun. Ingin melapor hasil 
> penglihatan.> "Lapor, Kolonel. Bayi yang menangis 
> itu, di atas sana. 
> > Tubuh bayi itu sebesar kita. Bagaimana pula 
> besar 
> > tubuh orangtuanya?" papar Sang Sersan gemetar.
> > `Hah?" Sang Kolonel pun ikut bergetar.
> > "Betul, Kolonel. Apakah ingin lihat, Kolonel?" 
> tanya 
> > Sang Sersan sambil tangan mempersilakan.
> > Kolonel Marjono pun melapor tergopoh-gopoh. 
> Semua 
> > pasukan heboh. Mahapatih Gajahmada bengong 
> melihat 
> > Kolonel Marjono. Perwira andalannya tampak kuyu 
> dan 
> > loyo.
> > "Sebaiknya kita naik kapal lagi, Paduka�" kata 
> Kolonel 
> > Marjono terbata.
> > "Naik ke kapal lagi?" bentak Mahapatih 
> Gajahmada murka 
> > sekali.
> > "Ya, Paduka. Di sana ada dua puluh dua bayi 
> raksasa. 
> > Bayinya saja sebesar kita, bagaimana tubuh 
> > orangtuanya. Ini negeri raksasa, Paduka. Dan 
> itu, 
> > bekas tungku-tungku yang mengabu. Mereka 
> memasak di 
> > sana. Melihat besar tungkunya saja, hamba yakin 
> ini 
> > negeri raksasa, Paduka. Untung orangtua bayi 
> itu tak 
> > di sana. Jika di sana, entah bagaimana celaka 
> kita,," 
> > ungkap Kolonel Marjono bernada ciut dengan 
> pikiran 
> > yang kalut.
> > Mahapatih Gajahmada mendengarkan seksama. 
> Kolonel 
> > Marjono adalah perwira andalannya. Tak mungkin 
> sampai 
> > salah menilai sebuah masalah.
> > "Baiklah. Pasukan kembali ke kapal, ini 
> perintah!" 
> > tegas sekali suara Mahapatih Gajahmada.
> > Seketika seluruh pasukan kembali. Dan kemudian 
> kapal 
> > berlayar menuju Majapahit lagi. Esok lusa, 
> entah 
> > negeri mana lagi, akan jadi korban amukti 
> Sumpah 
> > Palapa.
> > Pagaruyung pun kembali tenang. Suasana rakyat 
> pun 
> > senang.
> > Sejak saat itu, seluruh orang albino di ranah 
> Minang 
> > dihormati. Bila bertemu, segera mencium 
> tangannya, 
> > puaslah hati.
> > 
> > *
> > 
> > "Begitulah orang Minang menghormati pahlawan," 
> kata 
> > Ajo Buyung Blando yang albino itu berkisah di 
> lepau 
> > Kampung Sudut, Pariaman.
> > Berkisah yang dikenal sebagai bakaba 
> (berkabar), 
> > bercerita sambil berdendang. Suara Ajo Buyung 
> Blando 
> > merdu ikut melenakan pendengarnya di lepau.
> > "Masak begitu?" tanya Herman Pengkar tak percaya.
> > "Kalian ini tak tahu sejarah. Tak mau 
> menghormati 
> > pahlawan kalian. Kalian di sini hanya mengolok-
> olok 
> > pada orang albino seperti saya. Kalau saja 
> kalian tahu 
> > sejarah seperti Pak Guru Usman, kalian akan 
> lakukan 
> > hal yang sama. Akan mencium tangan saya. 
> Mengucapkan 
> > terimakasih atas kepahlawanan orang albino 
> seperti 
> > saya," kata Ajo Buyung Blando,
> > "Apa Pak Gubernur akan mencium tangan Ajo 
> Buyung?" 
> > tanya Herman Pengkar lagi.
> > "Sayang, Pak Gubernur belum mendengar cerita 
> ini. 
> > Kalau sudah, dia musti cium tangan orang albino 
> > seperti saya," katanya mengkahiri kisahnya 
> sambil 
> > beranjak dari duduknya, dan meninggalkan para 
> > pendengarnya.. 
> > Pendengarnya masih duduk terpana.
> > 
> > 
> > Ragunan � Jakarta Agustus 2001 � Pebruari 2002
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > mau baca karanganku:
> > http://www.angelfire.com/id2/iwansoekri
> > mau baca berita:
> > http://www.wacanamarket.com/
> > mau baca karangan sastra lainnya:
> > http://www.cybersastra.net
> > selamat membaca
> > 
> > 
> > 
> 
_______________________________________________________
> _________________
> > Layanan e-mail gratis, cepat dan terpercaya - 
> > http://webmail.astaga.com
> > 
> > 
> > 
> > RantauNet http://www.rantaunet.com
> > 
> > Isikan data keanggotaan anda di 
> http://www.rantaunet.com/register.php3
> > =======================Mendaftar atau berhenti 
> menerima RantauNet 
> Mailing List di
> > http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
> > 
> > ATAU Kirimkan email
> > Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
> > Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
> > -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
> > -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
> > Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email 
> anda tanpa tanda 
> kurung
> > =======================
> 
> 
> RantauNet http://www.rantaunet.com
> 
> Isikan data keanggotaan anda di 
> 
http://www.rantaunet.com/register.php3fffffffffffffff=
> Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet 
> Mailing List di
> http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
> 
> ATAU Kirimkan email
> Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
> Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
> -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
> -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
> Keterangan: [email_anda] sikan alamat email anda 
> tanpa tanda kurung
> fffffffffffffff=
> 

_______________________________________________________
_________________
Layanan e-mail gratis, cepat dan terpercaya - 
http://webmail.astaga.com



RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
==============================================Mendaftar atau berhenti menerima 
RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
==============================================

Kirim email ke