|
----- Original Message -----
From: panggugek panggugek <[EMAIL PROTECTED]> > >Bergetar hati saya membaca mail,ini,berlinang air > >mata,betapa Agungnya Enkau Ya Allah..Aku bersyukur > >telah dilahirkan langsung memeluk Islam. > > Izinkan saya melihat dari sisi yang berbeda tentang kelahiran. > Kita tercipta hanya kebetulan saja, sebagai orang minang, sebagai orang > islam, sebagai orang orang rusia, sebagai orang ateis, dan sebagainya. Jadi, > kalau anda dilahirkan tuhan di daerah siberia sana, kemungkinan besar anda > penganut ateis. Itu adalah kehendak tuhan. > > Pang ============== Dear Pang, Beberapa hari yang lalu aku didongengi orang ttg Narcissus, who adopt his own self as his own love object. Ceritanya seru. Katanya, sebagai manusia kita ini adalah mahkluk yang tool-using, power- and status-seeking, symbolizing and culture-creating, aggressive and assertive, immortality-fascinated, sexual and pleasure-seeking, safety and relationship-seeking beings. Terus katanya lagi, narcissism is our natural state, one we are born with. It means that we are immersed in our selves, in our own pleasures and pains and our point of view. We are the center of our world. Pokoke kelakuannya persis seperti Narcissus yang tidak merasa kehilangan apapun saat menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk mengagumi diri sendiri. Betapa bagusnya awak, betapa relijiusnya awak, dan betapa orang yang kita sebut sebagai orang lain itu tak lebih dan tak kurang hanya sebagai latar dari altar awak sendiri. So, we measure what we encounter by its effect on us and we seek pleasure and avoid pain. Saking terlalu lamanya narcissism ini terkubur dalam diri awak this being a part of our instinctual and physical inheritance. Tapi narcissistic beings tidak bisa hidup sendiri. We flock together and take narcissistic pleasure in the joys of withness. We organize to serve our own interests. We derive social pleasure from being together, from exchanging symbolic parts of ourselves in conversation. We don't merely interact with other people as other narcissistic selves, but we expand our narcissism to include them, through identification. We judge them according to how they affect our projects: are they obstacles or allies; are they like us or different. We conspire with them, exchanging secrets, knowing glances and covert communications, and ultimately we symbolically taken them in or we spit them out and designate them as Other. Thus, from this solitary individual, interaction between narcissism and association, men can together produce a human environment and... sim sala bim...that's it much of society takes shape. Narcissistic beings yang sudah berkumpul dengan pola2 kesamaannya juga memproduksi bermacam2 kebanggaan. Ada masyarakat yang bangga dengan totality of its socio-cultural and psychological formations seperti adat basandi syarak, syarak bersandi kitabullah di Minangkabau. Sebenarnya sederhana saja untuk memahami ini kalau berangkat dari pemikiran sederhana bahwa normalnya setiap manusia diciptakan Allah dengan dua kaki, dua tangan, dua mata, dan satu hidung (entah berapa cinta hehehe...), sudah jelas2 tampak bahwa none of those formations may be understood as products of man's biological constitution. Oleh karena itu aku menolak pernyataan kalau kita dilahirkan Tuhan di daerah siberia dan kemungkinan besar kita menjadi penganut ateis atau kita lahir ditengah masyarakat minang dan kita menjadi islam adalah sebagai kehendak Tuhan. Itu BUKAN LAH kehendak Tuhan. Itu adalah konstruksi sosial. That's why my favorite verses of Al Quran for "keberagaman" jatuh pada "Aku ciptakan kalian bersuku-suku adalah untuk saling mengenal." Salam hangat dari lingkar luar Jakarta. Evi |

