Assalamualaikum Folks,
Saya orang baru di balerong, merasakan udara agak panas 'seputar panggugek dan sekitarnya'.
Tanpa maksud menggurui, barangkali kumpulan artikel tentang Buya Hamka terlampir relevan dalam mengajarkan kita semua menghadapi perbedaan.
Artikel2 ini saya kumpulkan dari Suplemen Republika edisi 2 Maret yang lalu.
Mohon maaf bagi yang sudah membaca.
Semoga balerong kembali sejuk.
Wassalam,
Delil
Ulama Pembaharu yang Toleran
Haji Abdul Malik Karim Amrullah, lebih dikenal dengan Hamka, merupakan salah seorang tokoh Islam yang lengkap keulamaannya. Ia bukan hanya dikenal sebagai mubalig atau dai yang komunikatif, namun juga seorang sastrawan yang piawai dan produktif menulis soal-soal keislaman.
Tak kurang dari 118 buku yang ditulisnya. Ini di luar karangan-karangan panjang dan pendek yang dimuat di berbagai media massa dan disampaikan dalam beberapa kesempatan kuliah atau ceramah ilmiah. Juga di luar buku-buku yang ditulis orang lain mengenai dirinya.
Pendek kata, hampir tidak ada satu bidang keagamaan dan kemasyarakatan yang tidak dikupas Hamka. Dari bidang sastra, seni, sejarah, budaya, biografi, tafsir Alquran, akidah, filsafat, tasawuf, dakwah hingga tanya jawab soal agama. Dalam bidang yang terakhir ini, jawaban Hamka tegas dan tuntas, dari soal perkawinan beda agama seperti dilakukan Emilia Contessa-Rio Tambunan, soal makhluk hi dup di planet lain, kyai dukun, hingga soal pemujaan berlebihan terhadap Sheikh Abdul Qadir Jaelani.
Selain lewat tulisan, Hamka juga giat berdakwah melalui lisan -- baik di radio, teve maupun berceramah secara langsung di depan jamaah. Pada 1959 setelah Konstituante dibubarkan, Hamka -- yang menjadi wakil rakyat dari Masyumi hasil pemilu 1955 -- pun mengakhiri aktivitas politiknya. Sejak itu ia memusatkan kegiatannya pada bidang dakwah. Apalagi ketika itu ia juga menjadi imam Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Dari masjid di kawasan elit Jakarta itu setiap usai salat Subuh Hamka memberikan kuliah. Pada sekitar tahun 1970-an hingga menjelang wafatnya, kuliah subuh Hamka selalu dipadati jamaah dari berbagai kawasan Jakarta. Jamaahnya bahkan membludak hingga tangga masjid. Di RRI dan TVRI, ceramah dan tanya-jawab Hamka -- yang mempunyai acara tetap di dua media itu -- juga selalu ditunggu para pendengar dan pemirsa.
Menyimak berbagai karya tulis, ceramah, dan kuliah-kuliah Hamka seperti diur aikan di atas, sulit memposisikan ulama kelahiran Padang ini dalam peta keulamaan dan pemikiran Islam di Indonesia. Dalam hal yang terakhir ini, Hamka boleh dibilang mempunyai kesamaan dan sekaligus perbedaan dibandingkan dengan dua ulama dan pemikir Islam yang selama ini dikenal mewakili kelompok besar umat Islam di Indonesia: KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy'ari.
KH Ahmad Dahlan adalah pendiri Muhammadiyah. Pengikutnya kini berjumlah puluhan juta orang. Ia dikenal sebagai pembaru ajaran Islam dari 'penyakit' TBC (takhayul, bid'ah, dan c/khurafat). Ungkapan dia yang terkenal di kalangan Muhammadiyah adalah 'Semua ibadah diharamkan kecuali ada perintah dan semua muamalah (masalah dunia) boleh dilakukan kecuali ada larangan.'
Dalam hal itu, Hamka sama dengan KH Ahmad Dahlan. Ia juga dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah dan sekaligus pembaru. Bedanya, kalau ajaran Dahlan 'kering' dari spiritualisme atau kerohanian, Hamka justru sebaliknya. Ia merupakan penganjur dan bahkan menulis sejumlah buku tentang tasawuf. Ia sanga t fasih mengupas sisi kehidupan spiritual Nabi Muhammad dan para sahabat, serta ajaran dan personifikasi dari para tokoh-tokoh sufi/tarekat dari abad pertengahan hingga yang ada di nusantara.
Ia sering mengutip ayat Alquran Ala bidzikrillahi tathmainnul qulub yang menjadi dasar ajaran tawawuf. Ayat yang bermakna 'Bukankah dengan menyebut Asma Allah (zikir) hati menjadi tenang' (QS 13.30) itu pulalah yang menjadi pegangan kaum nahdliyin dalam mengamalkan kehidupan kesufian/kerohanian. Di sinilah kesamaan Hamka dengan KH Hasyim Asy'ari.
Sebagaimana diketahui, KH Hasyim Asy'ari -- bersama KH Abdul Wahab Hasbullah -- merupakan pendiri NU (Nahdlatul Ulama). Pendirian NU antara lain dimaksudkan untuk menjaga/mempertahankan tradisi Islam dari gerakan pembaharu Wahabiyah di Arab Saudi. Pembentukan NU -- yang pengikutnya kini juga berjumlah puluhan juta -- diawali dengan adanya delegasi ulama Indonesia ke penguasa Arab Saudi yang meminta agar sejumlah peninggalan Islam -- antara lain makam Nabi Muhammad dan sahab at -- di Mekah dan Madinah tetap dilestarikan.
Dari delegasi itulah kemudian muncul ide mendirikan NU. Pada perkembangannya kemudian, pembentukan NU juga untuk melestarikan ajaran dari tradisi Islam. Intinya, ajaran Islam selain bersumber dari Alquran dan Hadis, juga bisa dari teladan dan ijtihad para sahabat dan ulama saleh, termasuk ajaran dan amalan tarekat yang berkembang di kalangan NU.
Namun, berbeda dengan kaum Nahdliyin, sufistik Hamka tidak mengikuti salah satu ajaran maupun amalan tarekat yang diakui oleh NU. Dari buku-buku sufistik yang ditulisnya tampak Hamka tidak menjalani ritual tertentu seperti yang dijalankan pengamal tarekat pada umumnya. Misalnya suluk, baiat, dan amalan-amalan tertentu yang dijalankan pada waktu-waktu tertentu.
Dalam hal ini bahkan Hamka mengritik amalan-amalan sufistik yang dianggap menyimpang yang mengarah pada syirik. Sebagai misal ia mengritik amalan-amalan yang mengarah pada pemujaan berlebihan terhadap Sheikh Abdul Qadir Jaelani, seorang tokoh besar tarekat ke lahiran Baghdad.
Terlepas kritiknya terhadap tarekat, Hamka, seperti dikemukakan di atas, merupakan penganjur dan sekaligus pengamal tasawuf (yang mementingkan sisi rohani) dalam kehidupan sehari-hari. Ini pulalah yang mendekatkan Hamka dengan kalangan warga NU.
Bahkan terhadap kalangan NU, ia dikenal sangat toleran. Meskipun ia seorang tokoh Muhammadiyah, tapi saat menjadi imam salat Subuh di masjid sering memakai qunut manakala ia tahu banyak warga NU yang ikut berjamaah.
Dari puluhan buku yang ditulisnya, Hamka juga tampak sengaja menghindar dari membahas masalah-masalah furi'iyah (cabang), yang seringkali menjadi perdebatan tajam antara kalangan Muhammadiyah dan NU. ikhwanul kiram
Hamka, sang Pelepas Dahaga
Oleh S Sinansari ecip
Hamka bercerita tentang suatu kali mengimami salat Subuh. Dia yang sangat Muhammadiyah kental dengan lapang dada membaca doa Qunut, yang biasanya seperti ''diwajibkan'' di kalangan Nahdlatul Ulama. Mengapa tiba-tiba Hamka menjadi orang NU? Ada apa gerangan? ''Salah seorang yang makmum shalat Subuh itu ialah Kyai Idham Khalid,'' ujarnya.
Dia menyebut tokoh NU dengan rasa hormat yang tinggi. Artinya, ketika salat tersebut, tidak semaunya sendiri, meski Hamka imamnya. Dia menghormati ''anggota'' yang berada di antara jamaah. Luar biasa.
Pada waktu Menteri Agama dijabat oleh KH Wahid Hasyim (ayah Gus Dur), pada 1950, Hamka diangkat menjadi pegawai negeri di departemen agama. Ketika itu, usianya sudah 42 tahun. Tugasnya khusus untuk mengajar di berbagai perguruan tinggi Islam.
Dengan dua contoh tersebut, sengaja ingin ditunjukkan dari banyak contoh, betapa di tingkat pimpinan, orang NU dan orang Muhammadiyah saling menghargai dan menghormati dengan nyata.
Sayang, Hamka meninggal 24 Juli 1981, hari Jumat, bertepatan dengan hari ke-22 bulan Ramadhan. Waktu meninggalnya dipilihkan oleh Allah swt, pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.
Karya-karyanya dinikmati masyarakat secara luas. Buku yang ditulis Hamka 118 buah. Romannya monumental, misalnya Di Bawah Lindungan Ka'bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dan Melawat ke Deli. Di bidang keagamaan, tentu saja Tafsir Al Azhar-nya (30 juz) sangat istimewa. Tafsir tersebut dikerjakan sewaktu Hamka dimasukkan tahanan oleh Orde Lama karena difitnah. Pemfitnahnya mengakui sendiri kepada Hamka karena terpaksa dan Hamka memaafkannya. Selain itu, juga ada buku langka, Sejarah Umat Islam Indonesia, yang sayang, kini tidak ada yang meneruskannya.
Seperti kebanyakan para remaja Minang pada masa lalu, Hamka suka merantau. Baru berusia 18 tahun dia naik haji tanpa izin orang tua nya. Sepulang dari haji, sambil bekerja setengah tahun di sana, Hamka tidak balik ke rumah, melainkan ke Medan menjadi guru di perkebunan. Dia baru pulang setelah dipanggil ayahnya, untuk dinikahkan.
Hamka berguru tentang Muhammadiyah kepada AR Sutan Mansur, kakak iparnya di Pekalongan. Sejak itu, dia terus aktif di Muhammadiyah, sampai menjabat di pimpinan pusat. Dia mengundurkan diri dari PP Muhammadiyah pada tahun 1972, ketika muktamar di Makassar. Setelah itu, dia aktif di Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Hamka pada 1931 ditugasi oleh PP Muhammadiyah untuk ke Makassar. Tugasnya adalah menjadi mubaligh. Dia mukim selama tiga tahun. Rupanya dia merekam kenangan hidup di Makassar itu untuk suatu kali muncul dalam romannya yang terkenal, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1939).
Khusus tentang novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, menjelang G-30-S meletus, terjadi polemik hebat. Kalangan kiri, di antaranya Pramudya Ananta Toer, melalui ruang budaya/sastra Lentera di harian Bintang Timur I>, Hamka diserang. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, menurut mereka, plagiat (curian) dari roman Alphonse Karr, sastrawan Prancis, yang sudah disadur ke dalam bahasa Arab oleh Al Manfaluthi. Kehadiran roman tersebut di tengah masyarakat pencintanya tetap tak tergoyahkan.
Di dalam bidang politik, Hamka antara lain menjadi anggota Konstituante, hasil Pemilu 1955. Dia calon dari Masyumi untuk mewakili daerah Jawa Tengah. Presiden Soekarno akan menerapkan ide Demokrasi Terpimpin. Hamka menolaknya dalam sidang Konstituante. Perlawanan yang lebih luas terjadi hingga penyusunan konstitusi baru mendapati jalan buntu. Soekarno membubarkan Konstituante.
Hamka lalu mendirikan majalah Panji Masyarakat pada Juli 1959. Dia menapaki kembali dunia jurnalistik, seperti masa mudanya di Pedoman Masyarakat. Dia sebagai pemimpinnya. Pada 17 Agustus 1960, Panji Masyarakat dibreidel alias dilarang terbit karena memuat karangan Bung Hatta yang terkenal, Demokrasi Kita. Isinya, kritik yang tajam atas Demokrasi Terpimpin. Panji terbit lagi, setelah Orla jatuh, 1967.
Perlawanan terhadap ketakbenaran dilanjutkan Hamka. Pada waktu aliran kepercayaan akan ''diresmikan'' oleh Presiden Soeharto, dia tidak setuju. Perlawanan dilakukan di MPR dan Hamka kalah. Aliran kepercayaan dikuatkan dalam bentuk ketetapan MPR
Pada hari-hari berikutnya oleh petinggi pemerintah digencarkan adanya acara Natal Bersama, sampai ke daerah-daerah. Sebagai pimpinan MUI, Hamka tidak menyetujuinya. Keluarlah fatwa MUI, yang melarang ummat Islam untuk ikut Natal Bersama. Menteri Agama Alamsyah marah. Hamka menjawabnya dengan berhenti jadi ketua umum MUI. Tiga bulan kemudian, Hamka meninggal.
Watak pembrontak Hamka tampaknya diperoleh dari Dr Abdul Karim Amrullah, ayahnya. Karena melawan Belanda, ayah Hamka dibuang ke Sukabumi dan kemudian meninggal di Jakarta. Secara khusus, ayahnya memberi julukan Hamka sebagai Si Bujang Jauh, karena kegemarannya merantau.
Pada bulan-bulan menjelang meninggalnya, Hamka sangat ditunggu-tunggu masya rakat. Dia muncul di layar TVRI sekitar Magrib. Dia bertutur sangat baik, tentu saja tanpa teks. Suaranya tenang. Wajahnya teduh. Dia tidak menghujat, tidak mengancam, dan tidak menakut-nakuti. Dengan menatap dan mendengarnya, orang merasa sejuk dalam kerindangannya. Hamka mengayomi. Penulis yang pernah mewarisi memimpin majalah Panji Masyarakat versi baru, seperti halnya jutaan orang yang lain, merindukan kehadirannya.
Tokoh Islam yang cendekia ini, tidak hanya diakui di Indonesia. Di Malaysia, dia sangat dikenal. Tidak heran bila Universitas Kebangsaan, memberikan penghargaan gelar doktor (honoris causa). Universitas Al Azhar, Mesir, juga memberikan gelar doktor HC. Secara resmi, di Indonesia belum ada yang memberi penghargaan. Namun, penghargaan yang tak terucapkan, seperti pasir di pantai, tak terhitung banyaknya.
Pada situasi yang gersang sekarang, orang seperti Hamka diperlukan. Perjalanan kering di padang pasir memerlukan tempat singgah untuk melepas dahaga sambil mengembalikan tenaga baru. Benar, kehadi ran Hamka diperlukan lagi. Dia tidak berkata-kata, tapi juga memberi contoh bersikap yang tegas dan berperilakku yang benar. Siapakah lagi ulama yang seperti dia kini? Mungkin ada, tapi kalibernya tidak sebesar Hamka.
HAMKA
Konsisten pada Pokok Toleran pada Cabang
Moderat dalam cabang (furu'iyah), tapi tegas dan konsisten dalam pokok (akidah). Demikian gambaran sikap beragama Hamka. Ia termasuk salah satu pimpinan teras Muhammadiyah yang kerap memimpin doa Qunut saat mengimami salat Subuh -- masalah khilafiyah yang sering menjadi akar perselisihan antara warga NU dan Muhammadiyah.
Peneliti sejarah Islam, Prof Dr Azyumardi Azra, melihat sikap toleran Hamka itu sebagai pengamalan hadis Nabi SAW bahwa perbedaan adalah rahmat. ''Sikap seperti itulah sebenarnya yang dianjurkan oleh Islam dan dicontohkan oleh para imam mazhab, seperti Hanafi, Abu Hanifah, dan Syafii. Itu sikap tasamuf,'' katanya, di Ciputat, Rabu lalu.
Sekalipun menjadi imam, tambah Dr Sinansari ecip di tempat terpisah, Hamka tampaknya ingin tetap bersikap demokratis. Tiap mengimami salat Subuh ia s ering bertanya, apakah di antara jamaahnya banyak yang dari kalangan nahdliyin (NU). Jika ya, maka tanpa ragu-ragu Hamka akan membaca doa Qunut pada rakaat kedua sesudah rukuk.
Ada kesan Hamka kurang tegas. Tapi, menurut Azyumardi, itu contoh keluwesan (fleksibilitas) seorang ulama dalam menghadapi perbedaan, atau cabang yang tumbuh di kalangan ummat. Sebab, tiap-tiap cabang ada dasar dan rujukannya. Dan, Hamka berusaha merangkul semuanya. ''Tepat jika Buya dijuluki sebagai ulama perangkul ummat,'' ujarnya.
Sikap itu, tambah rektor IAIN Syarif Hidayatullah ini, justru menunjukkan keluasan wawasan agama Hamka. Dan, itu juga dikatakan tokoh lain yang dekat dengan Hamka, Sekjen DDI Drs H Husein Umar. ''Karena keluasan wawasan dan sikap tolerannya itu, Hamka dicintai ummat,'' katanya dalam sebuah diskusi di Republika, pekan lalu.
Pengaruh dan peminat dakwah Hamka, tambah Husein, juga meluas sampai ke Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina dan Thailand. Bahkan, mendiang perdana menteri Malaysia, Tun Abdul Razak, pernah mengatakan Hamka bukan hanya milik Indonesia, tapi milik seluruh rumpun Melayu.
Justru karena sikap tolerannya itu, acara-cara dakwah Hamka selalu dibanjiri jamaah, dan mimbar agamanya di TVRI digemari banyak kalangan. Karena, kata-katanya sangat menyejukkan hati. Bahkan, kalangan non-Muslim pun banyak yang tertarik pada dakwah Hamka. Sikap itu, menurut Husein, juga tercermin dalam semua karyanya, baik buku sastra maupun agama. Tak ada satupun dari 118 buku karya Hamka yang menyinggung masalah furu'iyah -- untuk menghindari perdebatan yang tidak perlu.
Dan itu, tambah Azyumardi, merupakan pengaruh dari bacaan-bacaan Hamka yang luas, terutama buku-buku tasawuf, yang kemudian ia uraikan dalam buku Tasawuf Modern. ''Hamka adalah penganjur neo sufisme. Ia mengamalkan kehidupan tasawuf, tapi tidak meninggalkan keduniaan. Ia seorang fuqaha (ahli fiqih -- pen) sekaligus sufi,'' ujar mantan wartawan Panjimasy -- majalah yang pernah dipimpin Hamka -- itu.
Jika hanya memahami fiqih, lanjut Azyumardi, seorang ulama akan cenderung kaku. Tapi, kalau juga mempelajari tasawuf, maka kekakuan itu akan terbuka, sehingga menjadi toleran dan inklusif. ''Ini hikmah penting yang perlu kita petik, bahwa dalam memahami Islam hendaknya secara kaffah (utuh -- pen). Tidak hanya bertumpu pada syariat, tapi juga tasawuf, sehingga ada keseimbangan,'' katanya.
Ada sisi lunak, ada juga sisi kerasnya. Jika sudah menyangkut akidah, menurut Husein Umar, Hamka tidak kenal kompromi. Ia sangat tegas dan konsisten. ''Ketika orang lain ragu-ragu untuk bersikap, Hamka bisa dengan cepat bersikap tegas, dengan segala risikonya,'' kata cendekiawan yang juga pernah menjadi wartawan Panjimasy ini.
Husein menyebut contoh sikap Hamka terhadap perayaan Natal Bersama yang pada tahun 1970-an digalakkan pemerintahan Soeharto. Selaku ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) saat itu, Hamka mengeluarkan fatwa yang mengharamkan umat Islam untuk mengikuti Natal Bersama, karena merupakan ritual umat Na srani. Ketika itu pemerintah mendesak Hamka agar mencabut fatwanya. Tapi, ia menolaknya. ''Kalau ulama mau dipaksa mencabut fatwanya, lebih baik berhenti menjadi ulama,'' kata Hamka ketika itu.
Tekanan dari pemerintah tersebut, menurut Husein, memang lebih bersifat politis. Karena itu, Hamka memilih mundur dari jabatan ketua MUI daripada harus mengikuti desakan pemerintah. Itu, tambah Azyumardi, adalah sikap politik Hamka. Ia memang tidak mau terlibat politik praktis -- seperti dilakukan banyak ulama sekarang -- tapi bukan berarti Hamka tidak berpolitik. Azyumardi menyebut strategi politik Hamka adalah low politic.
Hamka memilih sikap tegas itu untuk menjaga integritas pribadinya sebagai ulama. Dan, itu, menurut Azyumardi dan Husein, makin menegaskan bahwa Hamka memang tokoh yang memiliki integritas tinggi. Hamka menunjukkan pribadi yang marwah, yang punya harga diri. Ia tidak gampang tergoda oleh kekuasaan dan fasilitas. ''Saat diangkat menjadi ketua MUI, Hamka mendapat fasilitas mobil, tapi dia menolak nya,'' kata Azyumardi. ''Itu cermin sikap sufistik Hamka yang mencontoh pribadi Imam Ghazali.''
Tak pelak, sikap tegas itu sering menempatkan Hamka pada posisi yang kurang nyaman. Selaku ketua MUI, misalnya, Hamka sempat mengibaratkan dirinya sebagai kue bika yang dibakar di antara dua api: di atas pemerintah dan di bawah ummat. Memang, salah satu fungsi MUI adalah menjembatani antara pemerintah dan ummat dalam memasyarakatkan program-program pembangunan.
Sikap Hamka tidak berbeda ketika menghadapi persoalan Pancasila. Menurutnya, sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa, tidak bisa disejajarkan dengan empat sila lainnya. Secara tegas, ia mengatakan, ''Saya sebagai seorang Muslim tidak dapat berpikir lain, dan tidak dapat dipaksa berpikir lain, dari bahwa sila yang pokok ialah sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa. Kalau sekiranya pemerintah menganjurkan paham bahwa kelima sila itu sama kedudukannya, maka anjuran pemerintah itu sebagai penguasa hanyalah akan dianggukkan orang karena takut menentang kekuasaa n. Namun, orang akan tetap pada keyakinan hidupnya, yaitu Tauhid.''
Itulah sisi keras dari Hamka. Namun, sekali lagi, dalam menghadapi masalah cabang, Hamka sangat toleran. Terhadap kelompok ummat yang berbeda cabang, seperti NU dan Muhammadiyah, Hamka dengan arif merangkul keduanya. ''Secara implisit Buya memang memiliki cita-cita untuk mewujudkan masyarakat Muslim di mana furu'iyah tidak lagi menjadi pertikaian,'' kata Azyumardi.
Sikap toleran yang dicontohkan Hamka, tambah Azyumardi, penting untuk menjadi rujukan sikap beragama masyarakat. Lebih-lebih, ketika fragmentasi antar-kelompok umat cenderung menajam. Sikap luwes itu, menurutnya, dapat menjadi stimulus untuk merekatkan kembali ukhuwah Islamiyah. Sebab, dari sikap toleran itu akan muncul sikap tenggang rasa, saling menghargai dan sensibilitas mazhab.
Sikap itu, lanjutnya, juga penting menjadi rujukan para elit politik Islam yang kini sedang terpecah, seperti elit PKB dan PPP. Ini juga yang dilihat cendekiawan Dr Bahtiar Effendy. Kontekst ualitas kiprah Hamka itu, menurutnya, makin penting jika kita melihat kondisi bangsa yang penuh dengan krisis multi-dimensional.
Pemikiran-pemikiran dan kiprah Hamka, tambah Bahtiar, dapat memberikan kekuatan batin tersendiri, karena selalu menawarkan daya spiritualitas yang cukup tinggi. Dalam setiap pemikirannya, Hamka selalu berusaha menampilkan Islam sebagai solusi bagi kehidupan.
Dimensi spiritual itu, kata Bahtiar -- juga diakui oleh Dr Abdul Hadi WM, sangat kita perlukan dalam menghadapi krisis kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahtiar memberi contoh yang dilakukan Presiden Bush senior (ayah Presiden AS sekarang). Tiap akan melancarkan suatu serangan, Bush berkonsultasi dulu dengan para rohaniawan. Aspek spiritual menjadi bagian dari strateginya.
Mestinya, menurut Bahtiar, para elit politik kita juga demikian, agar upaya pemecahan persoalan bangsa dapat menemukan pencerahan atau titik terang. Sayangnya, para elit politik kita, juga pemerintah, tidak pernah mengaitkan persoalan bangsa dengan dimensi spir itual.
hery sucipto/ahmadun yh
Delil Khairat
London Guildhall University
84 Moorgate
London
Mobile: +44 77 89 202 204
Home: +44 20 899 50 435
Do You Yahoo!?
Get personalised at My Yahoo!.

