Ambo sambuang untuak judul salanjuiknyo, ambo agiah banomor bia
sanang mangumpuakannyo, samantaro untuak hari ko ambo cukuikkan sagitu dulu,
insya Allah awak sambuang nanti.
        Maaf bagi nan indak berkenan.
        Wassalam
        Elthaf
        
> Menggapai Hidup Berkah
> K.H. Abdullah Gymnastiar
> 
> Bismillahirrahmaanirrahiim
> Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa pastilah Kami akan
> melimpahkan kepada mereka barokah dari langit dan bumi, tapi mereka
> mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan
> perbuatannya.
> (Q.S. Al-A'raaf : 96)
> Mengapa uang yang banyak, rumah yang besar, istri yang jelita atau suami
> yang tampan, ilmu yang luas tidak mengangkat derajat pemiliknya? Malah
> menghinakannya? bukan kebahagiaan atau ketentraman yang diperoleh
> melainkan masalah dan malapetaka. Apa sebabnya? sebenarnya penyebabnya
> sederhana sekali, yakni bahwa semua itu tidak barokah.
> Kita tidak boleh cukup senang memiliki sesuatu. Tetapi yang harus lebih
> kita senangi adalah keberkahan atas segala sesuatu itu.Jadi bukan takut
> tidak memiliki sesuatu tetapi harus lebih takut sesuatu yang sudah
> dimiliki tidak membawa berkah.
> Kita lihat, misalnya suatu rumah yangga yang penuh dengan percekcokan,
> sebenarnya harus dicurigai jangan-jangan prosedur, keilmuan, dan etika
> dalam mengarungi dunia rumah tangga tidak cocok dengan yang disyariatkan
> Allah.
> Maka, kita harus sangat takut dengan hidup yang tidak berkah, yaitu yang
> tidak bermanfat bagi dunia juga tidak bermanfaat bagi akhirat. Mulailah
> berhati-hati dengan uang. Bagaimana supaya uang menjadi berkah? Seperti
> halnya gelas. Gelas hanya bisa enak digunakan untuk minum kalau terlebih
> dahulu gelas itu kita bersihkan. jangan sekali-kali kita mencoba untuk
> tidak jujur. untuk apa? Jujur atau tidak jujur tetap Allah yang memberi.
> Rizki penjahat datang dari Allah, rizki orang jujur juga datang dari
> Allah. Bedanya, rizki yang diberikan kepada penjahat tadi haram, tidak
> berkah, sedangkah yang diberikan kepada orang jujur adalah rizki yang
> berkah. Sebab sebenarnya meskipun penjahat, kalau Allah tidak memberi,
> tidak pernah dia dapatkan hasilnya. Banyak pencuri yang gagal, koruptor
> yang gagal. Semua itu karena kehendak Allah.
> Sesudah kita jujur, hati-hati pula jangan sampai ada hal-hak orang lain
> yang terampas atau belum tertunaikan, apalagi hak ummat. Na'udzubillahi
> min dzalik. 
> Alkisah, Umar bin Abdul Aziz -semoga Allah meridhainya-, ketika beliau
> sedang mengerjakan tugas negara malam hari di rumahnya, tiba-tiba anaknya
> mengetuk pintu kamar. KEmudian beliau membuka pintu dan lampu di kamar
> tersebut dimatikannya. Si anak lalu bertanya, "Kenapa lampu engkau matikan
> , ya Abi?" lalu beliau menjawab, "Karena minyak pada lampu ini milik
> negara. Tidak layak kita membicarakanurusan keluarga dengan menggunakan
> asilitas negara", begitulah Umar, sangat hati-hatinya karena mengharapkan
> hidupnya mendapat ridha dan berkah dari Allah swt.
> Dari cerita yang dikisahkan di atas mengandung berbagai hikmah yang dapat
> kita teladani.
> Menggunakan jabatan dan wewenang yang sangat membawa berkah tiada lain
> kecuali mengenyampigkan kepentingan dan kesenangan pribadi di atas hak dan
> kesenangan Allah.
> Harta kekayaan yang melimpah yang kita kuasai, yang membawa berkah, tiada
> lain kecuali harta yang bersih yang tertunaikan kewajiban-kewajibannya
> baik hak orang lain apalagi hak ummat.
> Wallahu a'lam bishshawab.
> Rumah Tangga yang Menyenangkan
> (Meminimalkan Potensi Konflik)
> K.H. Abdullah Gymnastiar
> 
> Banyak orang yang menyangka bahwa pernikahan itu indah. Padahal
> sebetulnya? Indah ...sekali. Tak sedikit yang menyesal, kenapa tak dari
> dulu menikah.
> Sahabat, itu adalah secuplik ungkapan yang lazim terdengar tentang
> pernikahan. Namun jelas, tak segampang yang dibayangkan untuk membina
> sebuah keluarga. Membangun sebuah keluarga sakinah adalah suatu proses.
> Keluarga sakinah bukan berarti keluarga yang diam tanpa masalah. Namun
> lebih kepada adanya keterampilan untuk manajemen konflik.
> Ada tiga jenis manajemen konflik dalam rumah tangga, yaitu pencegahan
> terjadinya konflik, menghadapai tatkala konflik terlanjur berlangsung, dan
> apa yang harus dilakukan setelah konflik reda.
> Pada kesempatan pertama, insya Allah kta akan mengurai tentang bagaimana
> meminimalkan terjadinya konflik di dalam rumah tangga kia.
> 1. Siap dengan hal yang tidak kita duga
> Pada dasarnya kita selalu siap untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.
> Mudah bagi kita bila yang terjadi cocok dengan harapan kita. Namun,
> bagaimanapun, setiap orang itu berbeda-beda. Tidak semuanya harus sama
> "gelombangnya" dengan kita. Maka yang harus kita lakukan adalah
> mempersiapkan diri agar potensi konflik akibat perbedaan ini tidak
> merusak.
> Dalam rumah tangga, bisa jadi pasangan kita teryata tidak seideal yang
> kita impikan. Maka kita harus siap melihat ternyata dia tidak rapi, tidak
> secantik yang dibayangkan atau tidak segesit yang kita harapkan.,
> misalnya. Kita harus berlapang dada sekali andai ternyata apa yang kita
> idamkan, tidak ada pada dirinya. Juga sebaliknya, apabila yang luar biasa
> kita benci. Ternyata isteri atau suami kita memiliki sikap tersebut.
> 2. Memperbanyak pesan Aku
> Tindak lanjut dan kesiapan kita menghadapi perbedaan yang ada, adalah
> memeperbanyak pesan aku. Sebab, umumnya makin orang lain menegetahui kita,
> makin siap dia menghadapi kita. Misalnya sebagai isteri kita terbiasa
> katakanlah mengorok ketika tidur. Maka agar suami dapat siap menghadapi
> hal ini, kita bisa mengatakan "Mas, orang bilang, kalau tidur saya itu
> suka ngorok,.... jadi Mas siap-siap saja. Sebab, sebetulnya, saya sendiri
> enggak niat ngorok." 
> Lalu sebagai suami, misalnya kita menyatakan keinginan kita: "Saya kalau
> jam tiga suka bangun. Tolonglah bangunkan saya. Saya suka menyesal kalau
> tidak Tahajjud. Dan kalau sedang Tahajjud, saya tidak ingin ada suara yang
> mengganggu." 
> Dengan demikian, diharapkan tidak terjadi riak-riak masalah akaibat satu
> sama lain tidak memahami nilai-nilai yang dipakai oleh pasangan hidupnya.
> Sebab sangat mungkin orang membuat kesalahan akibat dia tidak tahu tata
> nilai kita. Yang dampaknya akan banyak muncul
> ketersinggungan-ketersinggungan. Maka di sinilah perlunya kita belajar
> memberitahukan. Memberitahukan apa yag kita inginkan. Inilah esensi dari
> pesan aku. 
> Dengan demikian ini akan membuat peluang konflik tidak membesar. Karena
> kita telah mengkondisikan agar orang memahami kita. Sungguh tidak usah
> malu menyatakan harapan ataupun keberatan-keberatan kita. Sebab justru
> dengan keterbukaan seperti ini pasangan hidup kita dapat lebih mudah dalam
> menerima diri kita. Termasuk dalam hal keberadaan orang lain. 
> Misalnya orang tua kita akan datang. Maka adalah suatu tindakan bijaksana
> apabila kita mengatakan kepada suami tentang mereka. Sebagai contoh, orang
> tua kita mempunyai sikap cukup cerewet, senang mengomentari ini itu. Maka
> katakan saja: "Pak... saya tidak bermaksud meremehkan. Namun begitulah
> adanya. Orang tua saya banyak bicara. Jangan terlalu difikirkan, itu
> memang sudah kebiasaan mereka. Juga dalam hal makanan, yang ikhlas saja ya
> Pak...kalau nanti mereka makannya pada lumayan banyak..." 
> Sungguh sahabat, makin kita jujur maka akan semakin menentramkan perasaan
> masing-masing di antara kita. 
> Alkisah, ada sebuah keluarga. Sering sekali terjadi pertengkaran.
> Akhirnya, suatu ketika si isteri bicara "Pak, maaf ya, keluarga kami
> memang bertabiat keras. Sehingga bagi kami kemarahan itu menjadi hal yang
> amat biasa." 
> Lalu suaminya membalas "Sedangkan Papa lahir dari keluarga pendiam, dan
> jarang sekali ada pertempuran..." 
> Jelas itu akan membuat keadaan berangsur lebih baik dibanding terus
> menerus bergelut dalam pertengkaran-pertengkaran yang semestinya tak
> terjadi. 
> Jadi kita pun harus berani untuk mengumpulkan input-input tentang pasangan
> kita. Misalnya ternyata dia punya BB atau bau badan. Maka kita bisa
> menyarankan untuk meminum jamu, sekaligus memberitahukan bahwa kadar
> ketahanan kita terhadap bau-bauan rendah sekali. Sehingga ketika kita
> tiba-tiba memalingkan muka dari dia, isteri kita itu tidak tersinggung.
> Karena tata nilainya sudah disamakan. 
> Tentunya, dengan saling keterbukaan seperti itu masalah akan menjadi lebih
> mudah dijernihkan dibanding masing-masing saling menutup diri. 
> Ketertutupan, pada akhirnya akan membuat potensi masalah menjadi besar.
> Kita menjadi mengarang kesana kemari, membayangkan hal yang tidak tidak
> berkenaan dengan pasanagan hidup kita. Dongkol, marah, benci dan
> seterusnya. Padahal kalau saja didiskusikan, bisa jadi masalahnya menjadi
> sangat mudah diselesaikan. Dan potensi konflik pun menjadi minimal. 
> 3. Tentang aturan 
> Kita harus memiliki aturan-aturan yang disepakati bersama. Karena kalau
> tak tahu aturan, bagaimana orang bisa nurut? Bagaimana kita bisa selaras?
> Jadi kita harus membuat aturan sekaligus...sosialisasikan! 
> Misalnya isteri kita jarang mematikan kran setelah mengguanakan. Bisa jadi
> kita dongkol. Disisi lain, boleh jadi isteri malah tak merasa bersalah
> sama sekali. Sebab dia berasal dari desa. Dan di desa.. pancuran toh tak
> pernah ditutup. 
> Begitu pula pada anak-anak. Kita harus mensosialisasikan peraturan ini.
> Tidak usah kaku. Buat saja apa yang bisa dilaksanakan oleh semua. Makin
> orang tahu peraturan, maka peluang berbuat salah makin minimal. 
Menakar Kemuliaan Akhlak
K.H. Abdullah Gymnastiar

Setiap orang ingin merasakan kebahagiaan. Ada yang menyangka dengan
datangnyauang maka ia akan menjadi bahgia sehingga iapun mencari uang
mati-matian.Ada juga yang menyangka bahwa kedudukan bisa membuatnya bahagia,
maka ia pun mencoba merebut kedudukan. Ada yang menyangka penampilanlah yang
akan membuatnya bahagia, maka mati-matian ia mengikuti mode. Ada yang
menyangka banyaknya pengikut membuatnya bahagia, begitu seterusnya. 
Setiap kali kita membutuhkan sesuatu dari selain kita, kita menyangka bahwa
itulah yang akan membuat kita bahagia. Kita menggantungkan harapan pada
selain kita, selain Allah. Padahal semakin kita berarap orang lain berbuat
sesuatu untuk kita maka sebenarnya peluang bahagia itu malah akan terus
menurun. Kenapa? Ibarat cahaya matahari yang memancar tanpa membutuhkan
input dari luar, kebahagiaan yang hakiki itu justru datng bukan dari
seseorang atau dari sesuatu. 
Salah satu bentuk kebahagiaan yang sejati adalah ketika kita hanya
menggantungkan segala urusan kepada Allah. Bagi orang yang mengenal Allah
dengan baik, dan ia tidak berharap banyak dari selain Allah, itulah salah
satu kebahagiaan. Maka bagi kita yang selama ini masih sangat ingin
dihargai, masih sangat ingin dihormati, masih sangat ingin dibedakan oleh
orang lain, masih sangat ingin diberi ucapan terima kasih ketika melakukan
sesuatu untuk orang lain, atau masih sangat ingin dipuji, maka sebenarnya
makin tinggi kebutuhan kita akan penghargaan dari orang lain, itulah yang
akan menyempitkan hidup kita. Barang siapa yang berhasil lepas dari
kebutuhan-kebutuhan semacam itu, dan kita sudah mulai bisa menikmati
indahnya memberikan senyuman kepada orang lain dan bukannya diberi senyuman;
atau merasakan nikmatnya bisa menyapa orang lain dan bukan disapa, nikmatnya
menyalami dan bukan menunggu disalami, semakin kita tidak berharap orang
berbuat sesuatu untuk kita, maka inilah fondasi kita dalam menikmati hidup
ini. Kenyataan yang ada di masyarakat kita dengan terjadinya beraneka
kemunkaran, kezhaliman dan kejahatan, itu disebabkan karena kita terlalu
banyak berharap kepada makhluk dan tidak kepada Allah. 
Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah, suatu ketika Rasulullah Saw.
ditanya, "Ya Rasulullah, mengapa engkau diutus ke bumi?" Maka jawaban
Rasulullah sangat singkat sekali, "Sesungguhnya aku diutus ke bumi hanyalah
untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak." Menurut Imam Al Ghazali, berdasarkan
apa yangbisa saya fahami, akhlak itu adalah respon spontan terhadap suatu
kejadian. Pada saat kita diam, tidak akan kelihatan bagaimana akhlak kita.
Akan tetapi ketika kita ditimpa sesuatu baik yang menyenangkan ataupun
sebaliknya, respon terhadap kejadian itulah yang menjadi alat ukur akhlak
kita. Kalau respon spontan kita itu yang keluar adalah kata-kata yang baik,
mulia, berarti memang sudah dari dalamlah kemuliaan kita itu. Tanpa harus
dipikir banyak, tanpa harus direkayasa, sudah muncul kemuliaan itu.
Sebaliknya kalau kita memang sedang dikalem-kalem, tiba-tiba terjadi sesuatu
pada diri kita, misalnya sandal kita hilang, atau ada orang yang menyenggol,
mendengar bunyi klakson yang nyaring lalu tiba-tiba sumpah serapah yang
keluar dari mulut kita, maka lemparan yang keluar sebagai respon spontan
kita itulah yang akan menunjukkan bagaimana akhlak kita. Maka jika bertemu
dengan orang yang meminta sumbangan lalu kita berfikir keras diberi atau
jangan. Kita berfikir, kalau dikasih seribu, malu karena nama kita ditulis,
kalau diberi lima ribu nanti uang kita habis. Terus... berfikir keras hingga
akhirnya kita pun memberi akan tetapi niatnya sudah bukan lagi dari hati
kita karena sudah banyak pertimbangan.Padahal keinginan kita semula adalah
untuk menolong. Kalau sudah demikian, sebetulnya bukan akhlak dermawan yang
muncul. 
Saudar-saudaraku sekalian, inilah sekarang paling menjadi masalah bagi
peradaban kita. Kita empunyai anak, dia memiliki gelar yang bagus,
sekolahnya pun di tempat yang bergengsi, tapi akhlaknya jelek, maka tidak
ada artinya. Kita punya dosen, gelarnya berderet banyak, rumahnya pun
mentereng, tapi jikalau akhlaknya, celetuk-celetukannya atau sinisnya tidak
mencerminkan struktur keilmuan seperti yang dimilikinya, maka jatuhlah ia.
Ada orang yang dianggap dituakan, tetapi akhlaknya jelek, maka walaupun ia
dituakan, dia gagal mendapatkan penghormatan. Atau kita punya atasan,
seorang pejabat yang bagus karirnya akan tetapi akhlaknya, ...masya Allah,
sudah punya isteri tapi ia dikenal berzina dengan perempuan lain, di kantor
ia mengambil harta dengan cara tidak halal, maka jatuhlah ia. 
Sekarang ini krisis terbesar kita memang krisis akhlak. Oleh karena itu,
saya sependapat dengan seorang pengusaha terkenal dari Jepang yang
mengatakan bahwa jikalau seseorang ingin memimpin perusahaan dengan baik,
maka sebetulnya skill atau keahlian itu cukup 10% saja, yang 90% adalah
akhlak. Karena akhlak yang baik, orang yang cerdas pun mau bergabung
denganya. Mereka merasa aman, merasa tersejahterakan lahir batinnya.
Akibatnya, berkumpulah para ahli. Kemudian kepada mereka diberikan motivasi
dengan akhlak yang baik maka jadilah sebuah prestasi yang besar. Oleh karena
itu sebenarnya kesuksesan itu adalah milik orang yang berakhlak mulia. 
Sekedar ilustrasi, suatu saat sedang terjadi dialog antara suami dan isteri.
Sang isteri menginginkan anaknya menjadi bintang kelas, akan tetapi sang
suami mengatakan bahwa bintang kelas itu bukan alat ukur kesuksesan anak
sekolah. Menjadi bintang kelas itu tidak harus, tidak wajib. Yang wajib bagi
anak itu adalah memiliki akhlak yang mulia. Apalah artinya ia menjadi
bintang kelas apabila kemudian ia jadi terbelenggu oleh keinginan dipuji
teman-temannya. Jadi dengki terhadap orang-orang yang pandai dikelasnya,
atau menjadi takabbur karena kepandaiannya itu. Apa artinya bintang kelas
seperti ini? Lebih baik lagi jika kita bangun mental anak kita lebih bagus,
matang pada tiap tahapannya. Kalaupun suatu saat ia ditakdirkan menjadi
bintang kelas, maka itu adalah buah dari pemikirannya. Sementara itu ia pun
sudah siap denga mentalnya: tidak dengki, tidak iri, tidak jadi sombong.
Nilai ini tentunya jadi lebih bagus daripada nilai menjadi bintang kelasnya.
Apalah artinya kita lulus terbaik jika kemudian menjadi jalan ujub takabbur.
Lulus itu hanya nilai,nilai, nilai.... 
Saudara-saudara sekalian, inilah yang sepatutnya menjadi bahan pemikiran
kita. Kita berbicara seperti ini sebenarnya bukan untuk memikirkan
seseorang. Siapa yang akhlaknya demikian, demikian...Kita berbicara seperti
ini adalah untuk memikirkan diri kita sendiri. Apakah saya itu berakhlak
benar atau tidak? Bagaimana cara melihatnya?Ya, lihat saja kalau kita
mendapati masalah. Bagaimana respon spontan kita? Bagaimana struktur
kata-kata kita, raut wajah kita? Apakah kita cukup temperamental? Apakah
kata-kata kita keji, menyakiti, arogan? Itulah diri kita. Kesuksesan dan
kegagalan itu bergantung pada hal semacam ini. Bergantung apa yang kita
lakukan. Apakah dengan DT bisa menjadi sebesar ini sudah menjadi tanda
kesuksesan? Belum. Masih jauh. Kalau hanya alat ukur kemajuan bertambahnya
bangunan atau tanah, ah... orang-orang kafir juga bisa melakukannya. Kalau
hanya sekedar jama'ah berhimpun banyak, itupun gampang. Tetapi apakah dakwah
ini elah mampu merobah akhlak kita? Itulah alat ukurnya. 
Sering diungkapkan, bagaimana ukuran kesuksesan seseorang dalam berdakwah?
Gampang. Kesuksesan seseorang yang berdakwah adalah apakah dirinya pun bisa
berubah menjadi lebih baik atau tidak? Kalau hanya berbicara seperti ini,
mengeluarkan dalil tapi yang bersangkutan akhlaknya tidak berubah, itu malah
mencemarkan agama. Kesuksesan dakwah bukan karena banyaknya pendengar atau
jumlah jama'ah karena dakwah itu bukan sekedar menikmati kata-kata.
Kesuksesan berdakwah adalah ketika yang berdakwah ini pun semakin baik
akhlaknya, semakin tinggi nilai kepribadiannya. Insya Allah. Mudah-mudahan
keluhuran pribadi itulah yang menjadi alat dakwah kita. Bukan hanya
mengandalkan kekuatan kata-kata belaka. 
Barakallahu lii wa lakum. 

Getaran Allah di Padang Arafah
K.H. Abdullah Gymnastiar

Saudaraku para tamu Allah dan juga saudaraku di Tanah Air yang kali ini atas
izin Allah bisa merasakan getaran orang - orang yang bersyukur di Tanah
Arafah. Inilah saat yang paling dirindukan oleh orang - orang yang beriman,
saat diundang ke tanah dimana Allah menghadapkan hamba-hamba-Nya kepada para
malaikat di hari Arafah.
Pada saat inilah Allah menjanjikan pembebasan api jahannam sebanyak-banyak
hamba-hamba-Nya. Dan pada hari ini Allah juga menjanjikan diampuni lumuran
dosa-dosa, dihapus aib-aib yang menyelimuti, kerak-kerak kenistaan
disingkirkan, dibukanya lembaran-lembaran baru yang putih bersih.
Saudaraku para tamu Allah.
Begitu banyak orang yang bertawakkal dan bersimpuh di hadapan Allah. Di
seluruh pelosok negeri. Mungkin di pedesaan, di lereng-lereng, maupun di
persawahan. Mereka ini mungkin siang malam bersandar kepada Allah. Mereka
tiada henti memuja Allah. Bahkan mungkin bisa jadi kedudukan mereka lebih
tinggi di sisi Allah dibanding kita yang sehari-hari melumuri diri dengan
dosa, lebih banyak dipakai memuaskan diri kita dibanding memuaskan perintah
allah. Tapi sampai sekarang mereka belum pernah merasakan nikmatnya jamuan
Allah di Arafah ini.
Inilah saatnya kita harus merasa malu. Karena, lebih banyak orang yang
berhak wukuf di Arafah ini dibanding kita. Kita lihat orang dikeningnya
berbekas dengan bekas sujud hanya bisa menangis sepanjang hayatnya untuk
bisa dijamu oleh Allah di Padang Arafah ini. Tapi, kapan kita melakukan
seperti itu ?
Karena itu, saudaraku yang hadir di bumi Arafah ini, hari ini adalah hari
buat kita untuk bersyukur. Bisa jadi kita hadir di tempat ini bukan karena
kesalehan kita. Kehadiran kita di sini mungkin karena ridho Allah atas
orang-orang yang kita sakiti yang mereka balas sakit hatinya dengan doa
kemuliaan bagi kita.
Mungkin kita berada di tempat ini berkat doa fakir miskin yang kita lempar
dengan uang seratus rupiah tapi mereka menerimanya dengan ridla dan memohon
kepada Allah agar mengampuni kita. Mungkin kita berada di tempat ini berkat
doa para pembantu yang tidak pernah kita hargai jasa baiknya tetapi mereka
sabar bangun malam dan meminta kita diberi hidayah. Mungkin kita berada di
tempat ini karena doa orang tua kita yang tiada henti-hentinya agar memiliki
anak yang shaleh dan shalehah, padahal begitu sering kita melukai hatinya.
Atau mungkin kita berada di tempat ini karena doa anak-anak kita yang sering
dikecewakan dengan contoh buruk yang kita lakukan sehingga mereka meminta
kepada Allah agar memiliki orang tua yang shaleh dan shalehah.
Tentunya tiada kebaikan yang mengantar kita ke tempat ini selain kemurahan
Allah Yang Maha Agung. Kita berutang banyak saudara-saudaraku sekalian.
Baiklah saudara-saudaraku sekalian.
Tidak ada jalan bagi kita untuk menjadi sombong dan takabur dengan jamuan
Allah di Arafah ini, kecuali kita harus malu dan jujur kepada diri sendiri.
Harta yang Allah titipkan kepada kita, tak jarang kita nafkahkan sekadar
sisa dari uang jajan kita. Zakat enggan kita bayarkan. Sedekah bagi orang
yang paling lusuh dengan cara yang paling memalukan. Bahkan kita lebih suka
membelikan barang-barang yang mahal untuk kita pamerkan kepada makhluk
daripada menafkahkan harta di jalan Allah untuk bekal kepulangan kita.
Lalu lihatkan bagaimana kita bersujud kepada Allah. Dari 24 jam satu hari
Allah memberikan waktu kepada kita, sujud sering kita percepat. Bahkan kalau
perlu hampir tidak pernah ingat kepada Allah Yang Maha Agung. Dimanakah
letak amal baik kita ? Nikmat dari Allah tiada henti dan tiada putus.
Sedangkan pengkhianatan kita tiada henti dan tiada terputus. Entah mengapa
Allah memberikan kesempatan kita berad di tanah Arafah ini ? Rasanya lebih
banyak orang yang lebih layak untuk dimuliakan Allah saat ini.
Saudara-saudaraku sekalian.
Hari ini Allah menurunkan para malaikat di sekitar kita. Sebagian para
malaikat sudah menyaksikan aib-aib yang ada pada diri kita. Sebagian para
malaikat yang lain tahu secara persis siapa diri kita, ada yang mencatat
kata-kata kita yang begitu jarang menyebut nama Allah. Lalu mereka tahu
betapa banyak orang yang terluka hatinya, tercabik-cabik perasaannya. Allah
Maha Tahu fitnah yang tersebar karena lisan kita selama ini, berapa banyak
orang terjerumus ke dalam maksiat karena kita yang menunjukkannya. Diantara
malaikat yang hadir saat ini ada yang menyaksikan kita mendekati zina dengan
mata kita, dengan lisan kita, karena tiada yang tersembunyi bagi Allah.
Sesungguhnya hari ini adalah hari yang paling malu bagi kita. orang yang
busuk seperti kita ini diberi kesempatan di tempat yang mulia, bahkan
amal-amal yang paling tidak disukai Allah kita pun sering melakukannya.
Kesombongan, ketakaburan adalah amal yang membuat iblis dilaknat oleh Allah
selamanya. Tidak akan pernah selamat masuk syurga bagi orang yang di dalam
hatinya ada takabur walau sebesar biji zarrah.
Lihatlah apa yang Allah titipkan bagi jalan kesombongan bagi kita. Otak
dicerdaskan sedikit oleh Allah. Kita diberi kesempatan sekolah, kesempatan
kuliah. Namun malah membuat kita petantang-petenteng menganggap remeh orang
tua kita yang pendidikannya tidak setinggi kita.
Padahal demi Allah saudara-saudaraku, otak ini adalah milik Allah. Jikalau
Allah mengambil beberapa bagian saja, niscaya kita tidak bisa mengingat
apapun. Sungguh ! Gelar, pangkat adalah lambang kebodohan bagi orang-orang
yang takabur. Malu kita mengapa diberi otak yang sulit mengenal Allah.
Padahal otak kita ini tunduk mengejar keagungan Allah.
Kita diberikan harta yang cukup. Tapi kita sering tidak mempedulikan
darimana harta itu kita dapatkan. Yang haram kita ambil, hak orang lain kita
tahan. Zakat lupa kita bayarkan. Kita lumuri diri kita dengan kenistaan.
Naudzubillaahi min dzalik. Tapi kita bangga dengan kendaraan yang mewah,
dengan rumah yang megah, dengan perhiasan. Padahal, sungguh semua itu adalah
sekadar titipan Allah, yang Allah juga berikan kepada makhluk-makhluk nista
lainnya. Para penjahat, para pelacur, pezina, orang-orang yang durjana
diberi dunia oleh Allah. Karena dunia bukan tanda kemuliaan bagi seseorang.
Dunia adalah fitnah, cobaan bagi manusia. Sungguh malang bagi orang yang
takabur dengan tempelan duniawi, padahal Allah menghinakan seseorang dengan
duniawi itu sendiri.
Saudara-saudaraku sekalian.
Waspadalah sepulang dari tempat ini. Haji yang mabrur adalah haji yang
merasa malu kepada Allah. Allah memberikan nikmat tiada henti. Kita jarang
mensyukurinya bahkan kita mengkhianatinya. Allah Yang Maha Agung, Allah Yang
Maha Perkasa, memberikan kesempatan kali ini kepada kita untuk mengubah sisa
umur kita.
Mungkin, mungkin kali ini adalah yang terakhir kali kita berada di tanah
Arafah ini. Tidak ada jaminan kita tahun depan dapat bertemu kembali di
tempat ini. Tanah yang kita duduki ini akan menjadi saksi di akhirat nanti.
Kita berangkat mengeluarkan harta, waktu, tenaga. Kita lalui jalan
berjam-jam sampai tempat ini, tapi nikmat sekali. Itulah nikmat yang datang
dari Allah.
Nikmat adalah pengorbanan. Rasulullah Saw mulia bukan karena apa yang
dimilikinya, tapi pengorbanan untuk ummat. Harta yang dikorbankan, tenaga
yang dikorbankan, waktu yang dikorbankan, perhatian yang dikorbankan, demi
kemaslahatan ummat.
Sepulang dari sini tidak pernah akan bahagia kecuali orang yang paling
menikmati berkorban untuk orang lain. Yakinkanlah bahwa apapun yang kita
miliki agar bermanfaat sebanyak-banyaknya bagi hamba Allah. Sebaik-baik
manusia adalah orang yang banyak manfaatnya.
Saudaraku, Percayalah bahwa kita tidak akan bahagia dengan mengumpulkan
uang. Justru kebahagiaan datang dengan menafkahkan uang. Kita tidak bahagia
dengan ingin ditolong orang lain. Kita bahagia justru dengan menolong orang
lain. Kebahagiaan hati kita dengan menghargai orang lain. Jadikanlah diri
kita menjadi orang yang tidak pernah berharap apapun selain dari Allah.
Itulah kebahagiaan yang awal dari pelajaran kita.
Yang kedua, ingatlah baik-baik. Kain ihram yang kita pakai ini ternyata
inilah yang menemani kita saat pulang nanti, tidaklah harta, tidak pangkat,
dan juga tidak jabatan. Semua itu adalah topeng sejenak saja yang tidak
berharga sama sekali, kecuali penyandangnya memiliki rasa syukur dan takwa
kepada Allah.
Saudaraku, sepulang dari tempat ini pastikan jangan sembunyi di balik
jabatan. Jangan sembunyi di balik penampilan yang bagus. Jangan bersembunyi
di balik rumah yang megah. Jangan bersembunyi di balik gelar yang berenteng.
Tapi bersembunyilah di balik Allah.
Harta, pangkat dan jabatan tidaklah berharga kecuali orang bertaqwa
kepada-Nya. Sekuat-kuatnya jangan ubah yang Allah titpkan ini menjadi jalan
kesombongan kita. Tiada yang dimuliakan oleh Allah. Tiada satupun yang
diangkat derajatnya oleh Allah, kecuali orang yang tawadhu. Tiada seorangpun
yang tawadhu diantara kamu, semata-mata karena Allah, kecuali Allah akan
meninggikan derajatnya.
Oleh karena itu, sepulang dari sini pastikanlah menjadi orang yang paling
rendah hati, yang tidak akan memamerkan topeng seperti ini, kecuali insya
Allah, kemuliaan akhlak yang menjadi andalan bekal kepulangan dan
kemuliaannya.
Dan yang ketiga, saudaraku sekalian, sepulang dari haji ini ingatlah
baik-baik bahwa Alah menciptakan haji dengan pertemuan dari segala bangssa.
Kulit hitam, mata sipit, yang tingi, yang buruk, yang cacat ; mereka semua
adalah saudara kita. Terkadang kita merasa saudara karena darah,
persaudaraan karena tempat, persaudaaraan karena bangsa, tapi kita lihat di
sini, saudara kita begitu bnayak. Pepatah mengatakan satu musuh sudah
mempersempit kehidupan kita, tapi memperbanyak teman tidak akan pernah
cukup, sebab memperbanyak teman adalah memperbanyak saudara. Sesungguhnya
orang yang beriman itu bersaudara.
Orang-orang yang merasakan banyak saudara hidupnaya akan lebih ringan. Kita
berbelanja dengan harga yang mahal, kita bersyukur karena bisa menafkahi,
pedagang yang masih saudara kita sendiri.
Kita naik kendaraan umum dengan membayar kelebihan kita bahagia karena sudah
memberikan bekal bagi para keluarga keturunan para sopir saudara kita
sendiri. Kita mendidik orang sehingga maju, namun tidak berterima kasih
tidak apa-apa, karena mereka adalah saudara kita sendiri. Semakin banyak
yang kita bantu, Insya Allah semakin berbahagia dan ringan hidup kita ini.
Dan yang terakhir ingatlah baik-baik.
Hari ini adalah penutup lembaran lama kita. Sudah terlaalu lama kita gunakan
untuk mengkhianati Allah. Sudah terlalu banyak nafas kita diisi lalai kepada
Allah. Sudah terlalu banyak keringat kita untuk mendzolimi kebenaran. Sudah
terlalu banyak harta yang kita nafkahkan kita tidak di jalan Allah.
Saudaraku sekalian, mau kemana lagi, hidup hanya satu kali dan sebentar.
esok lusa mungkin malaikat maut sudah berada di hadapan kita. Pastikan mulai
saat ini, tekadkan dalam hati kita Insya Allah tiada tujuan dalam hidup kami
selain Engkau. Tiada yang kami tuju selain pulang kepad-Mu, Ya Allah. Dunia
pasti kita tinggalkan, harta kami tinggalkan, keluarga kami tinggalkan, kami
ingin bisa berjumpa denganmu Ya Allah. Tuntun dengan amal yang bisa membuat
berjumpa dengan-Mu. Tingkatkan kepada kami segala bekal yang bisa membuat
kami berjumpa dengan-Mu, Ya Allah karuniakan segala nimat yang bisa membuat
kami bisa mensyukuri, agar kami bisa berjumpa dengan--Mu, bebaskan kami dari
setiap harta dan kesibukan apapun yang tidak bisa membuat kami berjumpa
dengan-Mu. Barangsiapa yang merindukan berjumpa dengan Allah, niscaya
hari-hari yang dia nanti adalah hari-hari pertemuan dengan Allah. Hari-hari
yang diisi dengan bekal; untuk pulang hidup di dunia adalah kesenangan yang
menipu sejenak saja.

Menjaga Akhlak kepada Allah
K.H. Abdullah Gymnastiar

Mudah-mudahan ALLOH SWT yang Maha Mengetahui siapa diri kita yang
sebenarnya, menolong kita agar dapat mengetahui kekurangan yang harus
diperbaiki, memberitahu jalan yang harus ditempuh, dan memberikan karunia
semangat terus-menerus sehingga kita tidak dikalahkan oleh kemalasan, tidak
dikalahkan oleh kebosanan, dan tidak dikalahkan oleh hawa nafsu. 
Dan mudah-mudahan pula warisan terbaik diri kita yang dapat diwariskan
kepada keluarga, keturunan, dan lingkungan adalah keindahan akhlak kita.
Karena ternyata keislaman seseorang tidak diukur oleh luasnya ilmu. Keimanan
seseorang tidak diukur oleh hebatnya pembicaraan. Kedudukan seseorang disisi
ALLOH tidak juga diukur oleh kekuatan ibadahnya semata. Tapi semua kemuliaan
seorang yang paling benar Islamnya, yang paling baik imannya, yang paling
dicintai oleh ALLOH, yang paling tinggi kedudukannya dalam pandangan ALLOH
dan yang akan menemani Rasulullah SAW ternyata sangat khas, yaitu orang yang
paling mulia akhlaknya.
Walhasil sehebat apapun pengetahuan dan amal kita, sebanyak apapun harta
kita, setinggi apapun kedudukan kita, jikalau akhlaknya rusak maka tidak
bernilai. Kadang kita terpesona kepada topeng duniawi tapi segera sesudah
tahu akhlaknya buruk, pesona pun akan pudar. 
Yakinlah bahwa Rasulullah SAW diutus ke dunia ini adalah untuk
menyempurnakan akhlak. Hal ini dinyatakan sendiri oleh beliau ketika
menjawab pertanyaan seorang sahabatnya, "Mengapa engkau diutus ke dunia ini
ya Rasul?". Rasul menjawab, "Innama buitsu liutamimma makarimal akhlak"
"Sesungguhnya aku diutus ke dunia hanyalah untuk menyempurnakan akhlak".
Sayangnya kalau kita mendengar kata akhlak seakan fokus pikiran kita hanya
terbentuk pada senyuman dan keramahan. Padahal maksud akhlak yang sebenarnya
jauh melampaui sekedar senyuman dan keramahan. Karenanya penjabaran akhlak
dalam perilaku sehari-hari bukanlah suatu hal yang terpecah-pecah, semua
terintegrasi dalam satu kesatuan utuh, termasuk bagaimana akhlak kita kepada
ALLOH. 
Akhlak kita kepada ALLOH SWT harus dipastikan benar-benar bersih. Orang yang
menjaga akhlaknya kepada ALLOH, hatinya benar-benar putih seperti putihnya
air susu yang tidak pernah tercampuri apapun. Bersih sebersih-bersihnya.
Bersih keyakinannya, tidak ada sekutu lain selain ALLOH. Tidak ada satu
tetes pun di hatinya meyakini kekuatan di alam semesta ini selain kekuatan
ALLOH SWT sehingga ia sangat jauh dari sifat munafik.
Bagaimanakah sifat orang munafik itu? Berikut ini kita kutif tulisan dari
Imam Al Ghazali yang menuturkan ucapan Imam Hatim Al Ashom, seorang ulama
yang shalih ketika mengupas perbedaan antara orang mukmim dengan orang
munafik. 
"Seorang mukmin senantiasa disibukan dengan bertafakur, merenung, mengambil
pelajaran dari aneka kejadian apapun di muka bumi ini, sementara orang
munafik disibukan dengan ketamakan dan angan-angan kosong terhadap dunia
ini. 
Seorang mukim berputus asa dari siapa saja dan kepada siapa saja kecuali
hanya kepada ALLOH, sementara orang munafik mengharap dari siapa saja
kecuali dari mengharap kepada ALLOH. 
Seorang mukmin merasa aman, tidak gentar, tidak takut oleh ancaman siapa pun
kecuali takut hanya kepada ALLOH karena dia yakin bahwa apapun yang
mengancam dia ada dalam genggaman ALLOH, di lain pihak orang munafik justru
takut kepada siapa saja kecuali takut kepada ALLOH, naudzhubilah, yang tidak
dia takuti malah ALLOH SWT.
Seorang mukmin menawarkan hartanya demi mempertahankan agamanya, sementara
seorang munafik menawarkan agamanya demi mempertahankan hartanya. 
Seorang mukmin menangis karena malunya kepada ALLOH meskipun dia berbuat
kebajikan, sementara seorang munafik tetap tertawa meskipun dia berbuat
keburukan. 
Seorang mukmin senang berkhalwat dengan menyendiri bermunajat kepada ALLOH,
sementara seorang munafik senang berkumpul dengan bersukaria bercampur baur
dengan khalayak yang tidak ingat kepada ALLOH. 
Seorang mukmin ketika menanam merasa takut jikalau merusak, sedangkan
seorang munafik mencabuti seraya mengharapkan panen. 
Seorang mukmin memerintahkan dan melarang sebagai siasat dan cara sehingga
berhasil memperbaiki, larangan dan perintah seorang mukmin adalah upaya
untuk memperbaiki sementara seorang munafik memerintah dan melarang demi
meraih jabatan dan kedudukan sehingga dia malah merusak, naudzhubillah".
Ah, Sahabat. Nampak demikian jauh beda akhlak antara seorang mukmin dengan
seorang munafik. Oleh karenanya kita harus benar-benar berusaha menjauhi
perilaku-perilaku munafik seperti diuraikan di atas. Kita harus benar-benar
mencegah diri kita untuk meyakini adanya penguasa yang menandingi kebesaran
dan keagungan ALLOH. Kita harus yakin siapa pun yang punya jabatan di dunia
ini hanyalah sekedar makhluk yang hidup sebentar dan bakal mati, seperti
halnya kita juga. Jangan terperangah dan terpesona dengan kedudukan,
pangkat, dan jabatan, sebab itu cuma tempelan sebentar saja, yang kalau
tidak hati-hati justru itulah yang akan menghinakan dirinya. 
Sayangnya kalau kita simak di media massa sekarang, sepertinya ada sesuatu
yang menyedihkan dimana cara menyampaikan pendapat, kritik, dan saran serta
koreksi dilakukan dengan akhlak yang kurang terpuji, kotor, kasar, dan
nista. Saling memukul, saling menjatuhkan, saling mencemarkan, dan saling
membeberkan aib. Apa yang dicari? Padahal kalaulah didapat jabatannya, baik
presiden, menteri, gubernur, walikota, rektor, atau dekan di kampus, asal
tahu saja bahwa jabatan yang disandang itu tidak akan lama, hanya beberapa
tahun saja dan kalau tidak hati-hati justru aibnya tetap melekat lama.
Harusnya kita anggap semuanya biasa-biasa saja, anggap sebagai hiburan yang
justru kalau tidak hati-hati, pangkat dan jabatan itulah yang akan
mencemarkan, menjatuhkan, dan menghinakan kedudukan dunia dan akhirat kita. 
Karenanya jangan terperangah melihat orang punya kedudukan, sebab itu cuma
tempelan ringan yang berat tanggung jawabnya. Jangan pula mendatangi orang
yang dianggap memiliki kekuatan dahsyat sehingga kita merasa aman. Para
dukun, ahlik klenik, tukang sihir, atau paranormal, mereka sama saja dengan
kita yaitu makhluk yang pasti binasa. Mereka hanya orang lapar yang mencari
makan dengan menjadi dukun atau yang sejenisnya. Seharusnya kalau mereka
hebat, tidak usah mencari nafkah dengan seperti itu. Pernah suatu ketika ada
seseorang yang mengaku ahli pengobatan yang ternyata hanya menjual
kata-kata, pengobatan yang dia maksudkan ternyata berasal dari obat yang dia
beli di apotek dan dijual kembali dengan harga berpuluh dan beratus kali
lipat dari harga aslinya. 
Makanya jangan yakini kekuatan dukun atau kekuatan paranormal, untuk apa?
Mereka hanya sekedar makhluk yang hidup sebentar dan lama-lama akan binasa.
Bagi kita hidup di dunia hanya mampir sebentar, sehingga yang paling patut
harus kita lakukan adalah mempersiapkan bekal untuk kepulangan kita nanti.
Oleh karenanya ketika kita memandang manusia adalah hal yang biasa-biasa
saja. Hanya ALLOH-lah segala-galanya, Dia penguasa tunggal, Dia Pemilik,
Penggenggam, Penentu satu-satunya tiada yang lain selain ALLOH Azza wa
Jalla. 
Bulatkan dan bersihkan hati kita hanya kepada ALLOH dengan dibuktikan oleh
kesungguhan ibadah dan amal kita. Sehingga tidak usah menyimpan keris
sekecil apapun di rumah kita hanya untuk menjadi penolak bala. ALLOH yang
Mahaagung dan Mahakuasa dapat menolong kita tanpa harus kita menyimpan
jimat. Tidak usah pakai susuk, untuk apa? Susuk itu katanya nama sejenis
keluarga jin, yaitu Shuk-shuk. Tidak usah pula memelihara tuyul untuk
mendatangkan rizki. ALLOH Mahakaya untuk menjamin makhluk-makhluknya
sekalipun tanpa bantuan makhluk jin atau yang sejenisnya. Insya ALLOH orang
yang bersih keyakinannya tiada yang akan dituju selain ALLOH. 
Nah, Sahabat. Tiadalah yang dituju selain ALLOH, tiadalah yang diharap
selain harap dari ALLOH, tiadalah yang ditakuti selain hanya ALLOH, tiadalah
yang dimaksud selain ALLOH, tiadalah yang bulat mencuri hati selain ALLOH.
Orang yang bersih tauhidnya, itulah yang benar akhlaknya, insya ALLOH. Sebab
baik amalnya, ramah, dan dermawan orangnnya tetapi dia termasuk orang yang
menyekutukan ALLOH, maka dia tidak termasuk orang yang berakhak mulia. ***

> ----------
> From:         Elthaf[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Reply To:     [EMAIL PROTECTED]
> Sent:         Tuesday, March 19, 2002 3:44 PM
> To:   '[EMAIL PROTECTED]'; '[EMAIL PROTECTED]';
> '[EMAIL PROTECTED]'; '[EMAIL PROTECTED]'
> Subject:      [IASMA1/B-BKT] Kopian Ceramah Aa GYM
> 
>       Dear Bapak / Ibu di 4 balerong ko,
>       Assalaamualaikum wr.wb.,
>       Ambo dapek kiriman satu bundel Kumpulan Tausyiah Manajemen Qalbu K.
> H. Abdullah Qymnastiar  atau lebih tenarnyo adolah  Aa GYM dari uda Epi,(
> IASMA 1 Bkt. 73 ), karena di balerong awak ko indak bisa manarimo
> attachment
> dengan segala pertimbangan nyo, bialah ambo ansua-ansua mangopikan ka
> sanak
> saudaro ambo di balerong ko, ambo cubo ciek-ciek dih... kali ko bia ambo
> kirimkan 3 judul.
>       Semoga amal dari kiriman ini mengalir ke K. H. Aa GYM, Amiin.
>       Semoga bamanfaat.
>       Kalau attachmentnyo ado 547 KB.
>       Wassalam
>       Elthaf Hijaz St. Sri Bagindo
> 
> > KUMPULAN TAUSYIAH Aa GYM    
> > 
> > MANAJEMEN QOLBU     
> > Apa itu MQ? Sebenarnya tidak ada perbedaan antara MQ dengan metode
> dakwah
> > Islam lainnya. di dalamnya pun tidak ada yang baru, semuanya merupakan
> > penjabaran ajaran Islam. Hanya pembahasannya lebih diperdalam,
> dibeberkan
> > dengan cara yang aktual, dengan inovasi dan kreativitas dakwah yang
> lebih
> > sesuai dengan kebutuhan zaman. Inti pembelajarannya sendiri ada pada
> > qolbu. Di dalam tubuh ini ada akal, jasad, dan qolbu. Akal membuat orang
> > bisa bertindak lebih efektif dan efisien dalam melakukan apa yang ia
> > inginkan. Sedangkan tubuh bertugas melakukan apa yang diperintahkan oleh
> > akal. Sebagai contoh, apabila akal menginginkan tubuh mampu berkelahi,
> > maka tubuh akan berlatih agar menjadi kuat. Sayangnya, tidak sedikit
> orang
> > yang cerdas, orang yang begitu gagah perkasa, tapi tidak menjadi mulia,
> > bahkan sebagian diantaranya membuat kehinaan karena berbuat jahat.
> > Mengapa? Sebab ada satu yang membimbing akal dan tubuh yang belum
> > diefektifkan, itulah qolbu. ...
> > 
> >     
> > Itulah sebagian dari cuplikan Tausyiah yang ada dalam bundel ini. Mudah
> -
> > mudahan dengan hadirnya kumpulan tausyiah dari Aa Gym ini dapat
> > meningkatkan kecerdasan ruhiyah kita, sehingga kita dapat mengendalikan
> > diri (akal dan tubuh) menjadi lebih efektif dan produktif.
> > Editor mengumpulkan tausyiah2 ini dari berbagai situs dan mailing list
> di
> > internet. Semoga ada manfaatnya buat kita semua. Dan hanya kepada Allah
> > sajalah saya mohon keridhaan dan ampunan-Nya.
> > Wassalammu'alaikum wr. wb.
> > Hamba Allah 
> > 
> >  <<...OLE_Obj...>>  <<...OLE_Obj...>> Seni Menata Hati dalam Bergaul
> > K.H. Abdullah Gymnastiar 
> > 
> >
> --------------------------------------------------------------------------
> > ------
> > Pergaulan yang asli adalah pergaulan dari hati ke hati yang penuh
> > keikhlasan, yang insya Allah akan terasa sangat indah dan menyenangkan.
> > Pergaulan yang penuh rekayasa dan tipu daya demi kepentingan yang
> bernilai
> > rendah tidak akan pernah langgeng dan cenderung menjadi masalah.
> > 1. Aku Bukan Ancaman Bagimu
> > Kita tidak boleh menjadi seorang yang merugikan orang lain, terlebih
> kalau
> > kita simak Rasulullah Saw. bersabda, "Muslim yang terbaik adalah muslim
> > yang muslim lainnya selamat/merasa aman dari gangguan lisan dan
> tagannya."
> > (HR. Bukhari)
> > Hindari penghinaan 
> > Apapun yang bersifat merendahkan, ejekan, penghinaan dalam bentuk apapun
> > terhadap seseorang, baik tentang kepribadian, bentuk tubuh, dan
> > sebagainya, jangan pernah dilakukan, karena tak ada masalah yang selesai
> > dengan penghinaan, mencela, merendahkan, yang ada adalah perasaan sakit
> > hati serta rasa dendam.
> > Hindari ikut campur urusan pribadi 
> > Hindari pula ikut campur urusan pribadi seseorang yang tidak ada
> > manfaatnya jika kita terlibat. Seperti yang kita maklumi setiap orang
> > punya urusan pribadi yang sangat sensitif, yang bila terusik niscaya
> akan
> > menimbulkan keberangan.
> > Hindari memotong pembicaraan 
> > Sungguh dongkol bila kita sedang berbicara kemudian tiba-tiba dipotong
> dan
> > disangkal, berbeda halnya bila uraian tuntas dan kemudian dikoreksi
> dengan
> > cara yag arif, niscaya kita pun berkecenderungan menghargainya bahkan
> > mungkin menerimanya. Maka latihlah diri kita untuk bersabar dalam
> > mendengar dan mengoreksi dengan cara yang terbak pada waktu yang tepat.
> > Hindari membandingkan 
> > Jangan pernah dengan sengaja membandingkan jasa, kebaikan, penamplan,
> > harta, kedudukan seseorang sehingga yang mendengarnya merasa dirinya
> tidak
> > berharga, rendah atau merasa terhina.
> > Jangan membela musuhnya, mencaci kawannya 
> > Membela musuh maka dianggap bergabung dengan musuhnya, begitu pula
> mencaci
> > kawannya berarti memusuhi dirinya. Bersikaplah yang netral, sepanjang
> diri
> > kita menginginkan kebaikan bagi semua pihak, dan sadar bahwa untuk
> berubah
> > harus siap menjalani proses dan tahapan.
> > Hindari merusak kebahagiannya 
> > Bila seseorang sedang berbahagia, janganlah melakukan tindakan yang akan
> > merusak kebahagiaanya. Misalkan ada seseorang yang merasa beruntung
> > mendapatkan hadiah dari luar negeri, padahal kita tauh persis bahwa
> barang
> > tersebut buatan dalam negeri, maka kita tak perlu menyampaikannya,
> biarlah
> > dia berbahagia mendapatkan oleh-oleh tersebut.
> > Jangan mengungkit masa lalu 
> > Apalagi jika yang diungkit adalah kesalahan, aib atau kekurangan yang
> > sedang berusaha ditutupi.
> > Ingatlah bahwa setiap orang memiliki kesalahan yang sangat ingin
> > disembunyikannya, termasuk diri kita, maka jangan pernah usil untuk
> > mengungkit dan membeberkannya, hal seperti ini sama denga mengajak
> > bermusuhan.
> > Jangan mengambil haknya 
> > Jangan pernah terpikir untuk menikmati hak orang lain, setiap gangguan
> > terhadap hak seseorang akan menimbulkan asa tidak suka dan perlawanan
> yang
> > tentu akan merusak hubungan.. Sepatutnya kita harus belajar menikmati
> hak
> > kita, agar bermanfaat dan menjadi bahan kebahagiaan orang lain.
> > Hati-hati engan kemarahan 
> > Bila anda marah, maka waspadalah karenan kemarahan yang tak terkendali
> > biasanya menghasilkankata dan perilaku yang keji, yang sangat melukai,
> dan
> > tentu perbuatan ini akan menghancurkan hubungan baik di lingkungan
> > manapun. Kita harus mulai berlatih mengendalikan kemarahan sekuat tenaga
> > dan tak usah sungkan untuk meminta maaf andai kata ucaan dirasakan
> > berlebihan.
> > Jangan menertawakannya 
> > Sebagian besar dari sikap menertawakan seseorang adalah karena
> > kekurangannnya, baik sikap, penampilan, bentuk rupa, ucapan dan lain
> > sebagainya, dan ingatlah bahwa tertawa yang tidak pada tempatnya serta
> > berlebihan akan mengundang rasa sakit hati.
> > Hati-hati dengan penampilan, bau badan dan bau mulut 
> > Tidak ada salahnya kita selalu mengontrol penampilan, bau badan atau
> mulut
> > kita, karena penampilan atau bau badan yang tidak segar akan membuat
> orang
> > lain merasa terusik kenyamanannya, dan cenderung ingin menghindari kita.
> > 2. Aku menyenangkan bagimu
> > Wajah yang selalu cerah ceria 
> > Rasulullah senantiasa berwajah ceria, beliau pernah besabda, "Janganlah
> > terlalu membebani jiwamu dengan segala kesungguhan hati. Hiburlah dirimu
> > dengan hal-hal yang ringan dan lucu, sebab bila hati terus dipaksakan
> > memikul beban-beban yang berat, ia akan menjadi buta". (Sunan Abu
> Dawud).
> > Senyum tulus 
> > Rasulullah senantiasa tersenyum manis sekali dan ini sangat menyenangkan
> > bagi siapapun yang menatapnya. Senyum adalah sedekah, senyuman yang
> tulus
> > memiliki daya sentuh yang dalam ke dalam lubuk hati siapapun, senyum
> > adalah nikmat Allah yang besar bagi manusia yang mencintai kebaikan.
> > Senyum tidak dimiliki oleh orang-orang yang keji, sombong, angkuh, dan
> > orang yang busuk hati.
> > Kata-kata yang santun dan lembut 
> > Pilihlah kata-kata yang paling sopan dengan dan sampaikan dengan cara
> yang
> > lembut, karena sikap seperti itulah yang dilakukan Rasulullah, ketika
> > berbincang dengan para sahabatnya, sehingga terbangun suasana yang
> > menyenangkan. Hindari kata yang kasar, menyakitkan, merendahkan,
> > mempermalukan, serta hindari pula nada suara yang keras dan berlebihan.
> > Senang menyapa dan mengucapkan salam 
> > Upayakanlah kita selalu menjadi orang yang paling dahulu dalam menyapa
> dan
> > mengucapkan salam. Jabatlah tagan kawan kita penuh dengan kehangatan dan
> > lepaslah tangan sesudah diepaskan oleh orang lain, karena demikianlah
> yang
> > dicontohkan Rasulullah.
> > Jangan lupa untuk menjawab salam dengan sempurna dan penuh perhatian.
> > Bersikap sangat sopan dan penuh penghormatan 
> > Rsulullah jikalau berbincang dengan para sahabatnya selalu berusaha
> > menghormati dengan cara duduk yang penuh perhatian, ikut tersenyum jika
> > sahabatnya melucu, dan ikut merasa takjub ketika sahabatnya mengisahkan
> > hal yang mempesona, sehingga setiap orang merasa dirinya sangat
> diutamakan
> > oleh Rasulullah.
> > Senangkan perasaannya 
> > Pujilah dengan tulus dan tepat terhadap sesuatu yang layak dipuji sambil
> > kita kaitkan dengan kebesaran Allah sehingga yang dipuji pun teringat
> akan
> > asal muasal nikmat yang diraihnya, nyatakan terima kasih dan do'akan.
> Hal
> > ini akan membuatnya merasa bahagia. Dan ingat jangan pernah kikir untuk
> > berterima kasih.
> > Penampilan yang menyenangkan 
> > Gunakanlah pakaian yang rapi, serasi dan harum. Menggunakan pakaian yang
> > baik bukanlah tanda kesombongan, Allah Maha Indah dan menyukai
> keindahan,
> > tentu saja dalam batas yang sesuai syariat yang disukai Allah.
> > Maafkan kesalahannya 
> > Jadilah pemaaf yang lapang dan tulus terhadap kekurangan dan kesalahan
> > orang lain kepada kita, karena hal ini akan membuat bahagia dan senang
> > siapapun yang pernah melakukan kekhilafan terhadap kita, dan tentu hal
> ini
> > pun akan mengangkat citra kita dihatinya.
> > 3. Aku Bermanfaat Bagimu
> > Keberuntungan kita bukanlah diukur dari apa yang kita dapatkan tapi dari
> > nilai manfaat yang ada dari kehadiran kita, bukankah sebaik-baik di
> antara
> > manusia adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi hamba-hamba
> Allah
> > lainnya.
> > Rajin bersilaturahmi 
> > Silaturahmi secara berkala, penuh perhatian, kasih sayang dan ketulusan
> > walaupun hanya beberapa saat, benar-benar akan memiliki kesan yang
> > mendalam, apalagi jikalau membawa hadiah, insya Allah akan menumbuhkan
> > kasih sayang.
> > Saling berkirim hadiah 
> > Seperti yang telah diungkap sebelumnya bahwa saling memberi dan berkirim
> > hadiah akan menumbuhkan kasih sayang. Jangan pernah takut miskin dengan
> > memberikan sesuatu, karena Allah yang Maha Kaya telah menjanjikan
> ganjaran
> > dan jaminan tak akan miskin bagi ahli sedekah yang tulus.
> > Tolong dengan apapun 
> > Bersegeralah menolong dengan segala kemampuan, harta, tenaga, wakt atau
> > setidaknya perhatian yang tulus, walau perhatian untuk mendengar keluh
> > kesahnya.
> > Apabila tidak mampu, maka do'akanlah, dan percayalah bahwa kebaikan
> > sekecil apapun akan diperhatikan dan dibalas dengan sempurna oleh Allah.
> > Sumbangan ilmu dan pengalaman 
> > Jangan pernah sungkan untuk mengajarkan ilmu dan pengalaman yang
> dimiliki,
> > kita harus berupaya agar ilmu dan pengalaman yang ada pada diri kita
> bisa
> > menjadi jalan bagi kesuksesan orang lain.
> > Insya Allah jikalau hidup kita penuh manfaat dengan tulus ikhlas maka,
> > kebahagiaan dalam bergaul dengan siapapun akan tersa nikmat, karena
> tidak
> > mengharapkan sesuatu dari orang melainkan kenikmatan kita adalah
> melakukan
> > sesuatu untuk orang lain. Semata karena Allah Swt.
> > 
> > Diam Itu Emas
> > (Diam Aktif)
> > K.H. Abdullah Gymnastiar
> > 
> > Dalam upaya mendewasakan diri kita, salah satu langkah awal yang harus
> > kita pelajari adalah bagaimana menjadi pribadi yang berkemampuan dalam
> > menjaga juga memelihara lisan dengan baik dan benar. Sebagaimana yang
> > disabdakan Rasulullah saw, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan
> hari
> > akhir hendaklah berkata benar atau diam.", hadits diriwayatkan oleh
> > Bukhari.
> > 1. Jenis-jenis Diam
> > Sesungguhnya diam itu sangat bermacam-macam penyebab dan dampaknya. Ada
> > yang dengan diam jadi emas, tapi ada pula dengan diam malah menjadi
> > masalah. Semuanya bergantung kepada niat, cara, situasi, juga kondisi
> pada
> > diri dan lingkungannya. Berikut ini bisa kita lihat jenis-jenis diam:
> > a. Diam Bodoh
> > Yaitu diam karena memang tidak tahu apa yang harus dikatakan. Hal ini
> bisa
> > karena kekurangan ilmu pengetahuan dan ketidakmengertiannya, atau
> > kelemahan pemahaman dan alasan ketidakmampuan lainnya. Namun diam ini
> jauh
> > lebih baik dan aman daripada memaksakan diri bicara sok tahu.
> > b. Diam Malas
> > Diam jenis merupakan keburukan, karena diam pada saat orang memerlukan
> > perkataannya, dia enggan berbicara karena merasa sedang tidak mood,
> tidak
> > berselera atau malas.
> > c. Diam Sombong
> > Ini pun termasuk diam negatif karena dia bersikap diam berdasarkan
> > anggapan bahwa orang yang diajak bicara tidak selevel dengannya.
> > d. Diam Khianat
> > Ini diamnya orang jahat karena dia diam untuk mencelakakan orang lain.
> > Diam pada saat dibutuhkan kesaksian yang menyelamatkan adalah diam yang
> > keji.
> > e. Diam Marah
> > Diam seperti ini ada baiknya dan adapula buruknya, baiknya adalah jah
> > lebih terpelihara dari perkataan keji yang akan lebih memperkeruh
> suasana.
> > Namun, buruknya adalah dia berniat bukan untuk mencari solusi tapi untuk
> > memperlihatkan kemurkaannya, sehingga boleh jadi diamnya ini juga
> menambah
> > masalah.
> > f. Diam Utama (Diam Aktif)
> > Yang dimaksud diam keutamaan adalah bersikap diam hasil dari pemikiran
> dan
> > perenungan niat yang membuahkan keyakinan bahwa engan bersikap menahan
> > diri (diam) maka akan menjadi maslahat lebih besardibanding dengan
> > berbicara.
> > 2. Keutaam Diam Aktif
> > a. Hemat Masalah
> > Dengan memilih diam aktif, kita akan menghemat kata-kata yang berpeluang
> > menimbulkan masalah.
> > b. Hemat dari Dosa
> > Dengan diam aktif maka peluang tergelincir kata menjadi dosapun menipis,
> > terhindar dari kesalahan kata yang menimbulkan kemurkaan Allah.
> > c. Hati Selalu Terjaga dan Tenang
> > Dengan diam aktif berarti hati akan terjaga dari riya, ujub, takabbur
> atau
> > aneka penyakit hati lainnya yang akan mengeraskan dan mematikan hati
> kita.
> > d. Lebih Bijak
> > Dengan diam aktif berarti kita menjadi pesdengar dan pemerhati yang
> baik,
> > diharapkan dalam menghadapi sesuatu persoalan, pemahamannya jauh lebih
> > mendaam sehingga pengambilan keputusan pun jauh lebih bijak dan arif.
> > e. Hikmah Akan Muncul
> > Yang tak kalah pentingnya, orang yang mampu menahan diri dengan diam
> aktif
> > adalah bercahayanya qolbu, memberikan ide dan gagasan yang cemerlang,
> > hikmah tuntunan dari Allah swtakan menyelimuti hati, lisan, serta sikap
> > dan perilakunya.
> > f. Lebih Berwibawa
> > Tanpa disadari, sikap dan penampilan orang yang diam aktif akan
> > menimbulkan wibawa tersendiri. Orang akan menjadi lebih segan untuk
> > mempermainkan atau meremehkan.
> > Selain itu, diam aktif merupakan upaya menahan diri dari beberapa hal,
> > seperti:
> > Diam dari perkataan dusta 
> > Diamdari perkataan sia-sia 
> > Diam dari komentar spontan dan celetukan 
> > Diam dari kata yang berlebihan 
> > Diam dari keluh kesah 
> > Diam dari niat riya dan ujub 
> > Diam dari kata yang menyakiti 
> > Diam dari sok tahu dan sok pintar 
> > Mudah-mudahan kita menjadi terbiasa berkata benar atau diam. Semoga pula
> > Allah ridha hingga akhir hayat nanti, saat ajal menjemput, lisan ini
> > diperkenankan untuk mengantar kepergian ruh kita dengan sebaik-baik
> > perkataan yaitu kalimat tauhiid "laa ilaha illallah" puncak perkataan
> yang
> > menghantarkan ke surga.
> > 
> > 
> 5 Tipe Karyawan di Kantor Kita
> K.H. Abdullah Gymnastiar
> 
> Pengklasifikasian karyawan dan pejabat kantor ini diekati dengan istilah
> hukum yang digunakan dalam agama Islam. Pendekatan ini samasekali bukan
> untuk mencampuradukkan atau merendahkan nilai istilah hukum tersebut,
> melainkan hanya sekedar guna mempermudah pemahaman kita karenamakna dari
> istilah hukum tersebut sangat sederhana dan akrab bagi kita. Mudah-mudahan
> bisa jadi cara yang praktis untuk mengukur dan menilai diri sendiri.
> (Ide dasar ini diambil dari pendapat Emha Ainun Najib)
> 1. Karyawan / Pejabat "Wajib"
> Tipe karyawan atau pejabat wajib ini memiliki ciri : keberadaannya sangat
> disukai, dibutuhkan, harus ada sehingga ketiadaannya sangat dirasakan
> kehilangan.
>       *       Dia sangat disukai karena pribadinya sangat mengesankan,
> wajahnya yang selalu bersih, cerah dengan senyum tulus yang dapat
> membahagiaan siapapun yang berjumpa dengannya. 
>       *       Tutur katanya yang sopan tak pernah melukai siapapun yang
> mendengarnya, bahkan pembicaraannya sangat bijak, menjadi penyejuk bagi
> hati
> yang gersang, penuntun bagi yang tersesat, perintahnya tak dirasakan
> sebagai
> suruhan, orang merasa terhormat dan bahagia untuk memenuhi harapannya
> tanpa
> rasa tertekan. 
>       *       Akhlaknya sangat mulia, membuat setiap orang meraskan
> bahagia dan senang dengankehadirannya, dia sangat menghargai hak-hak dan
> pendapat orang lain, setiap orang akan merasa aman dan nyaman serta
> mendapat
> manfaat dengan keberadaannya 
> 2. Karyawan / Pejabat "Sunnah"
> Ciri dari karyawan/pejabat tipe ini adalah : kehadiran dan keberadaannya
> memang menyenangkan, tapi ketiadaannya tidak terasa kehilangan..
> Kelompok ini hampir mirip dengan sebagian yang telah diuraikan,
> berprestasi,
> etos kerjanya baik, pribadinya menyenangkan hanya saja ketika tiada,
> lingkungannya tidak merasa kehilangan, kenangannya tidak begitu mendalam.
> Andai saja kelompok kedua ini lebih berilmu dan bertekad mempersembahkan
> yang terbaik dari kehidupannya dengan tulus dan sungguh-sungguh, niscaya
> dia
> akan naik peringkatnya ke golongan yang lebih atas, yang lebih utama.
> 3. Karyawan / Pejabat "Mubah"
> Ciri khas karyawan atau pejabat tipe ini adalah : ada dan tiadanya sama
> saja.
> Sungguh menyedihkan memang menjadi manusia mubadzir seperti ini,
> kehadirannya tak membawa arti apapun baik manfaat maupun mudharat, dan
> kepergiannya pun tak terasa kehilangan. 
> Karyawan tipe ini adalah orang yang tidak mempunyai motivasi, asal-asalan
> saja, asal kerja, asal ada, tidak memikirkan kualitas, prestasi, kemajuan,
> perbaikan dan hal produktiflainnya. Sehingga kehidupannya pun tidak
> menarik,
> datar-datar saja.
> Sungguh menyedihkan memang jika hidup yang sekali-kalinya ini tak
> bermakna.
> Harus segera dipelajarilatar belakang dan penyebabnya, andaikata bisa
> dimotivasi dengan kursus, pelatihan, rotasi kerja, mudah-mudahan bisa
> meningkat semangatnya.
> 4. Karyawan / Pejabat "Makruh"
> Ciri dari karyawan dan pejabat kelompok ini adalah : adanya menimbulkan
> masalah tiadanya tidak menjadi masalah.
> Bila dia ada di kantor akan mengganggu kinerja dan suasana walaupun tidak
> sampai menimbulkan kerugian besar, setidaknya membuat suasana tidak nyaman
> dan kenyamanan kerjaserta kinerja yang baik dapat terwujud bila ia tidak
> ada.
> Misalkan dari penampilan dan kebersihan badannya mengganggu, kalau bicara
> banyak kesia-siaan, kalau diberi tugas dan pekerjaan selain tidak tuntas,
> tidak memuaskan juga mengganggu kinerja karyawan lainnya.
> 5. Karyawan / Pejabat "Haram"
> Ciri khas dari kelompok ini adalah : kehadirannya sangat merugikan dan
> ketiadaannya sangat diharapkan karena menguntungkan.
> Orang tipe ini adalah manusia termalang dan terhina karena sangat
> dirindukan
> "ketiadaannya". Tentu saja semua ini adalah karena buah perilakunya
> sendiri,
> tiada perbuatan yang tidak kembali kepada dirinya sendiri.
> Akhlaknya sangat buruk bagai penyakit kronis yang bisa menjalar. Sering
> memfinah, mengadu domba, suka membual, tidak amanah, serakah, tamak,
> sangat
> tidak disiplin, pekerjaannya tidak pernah jelas ujungnya, bukan
> menyelesaikan pekerjaan malah sebaliknya menjadi pembuat masalah. Pendek
> kata di adalah "trouble maker".
> Silahkan anda renungkan, kita termasuk kategori yang mana...?
> Semoga semua ini menjadi bahan renungan agar hidup yang hanya sekali ini
> kita bisa merobah diri dan mempersembahkan yang terbaik dan yang
> bermanfaat
> bagi dunia dan akhirat nanti. Jadilah manusia yang "wajib ada". Semoga!
> 
> 
> ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
> Buy Stock for $4.
> No Minimums.
> FREE Money 2002.
> http://us.click.yahoo.com/BgmYkB/VovDAA/ySSFAA/IYOolB/TM
> ---------------------------------------------------------------------~->
> 
> ----- Media komunikasi sasamo Alumni SMA1/B Landbouw Bukittinggi ---
> http://geocities.com/SouthBeach/Disco/5732 atau
> http://campus.fortunecity.com/angelo/952/main.html
> Subscribe: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED] disertai
> data pribadi ke [EMAIL PROTECTED] Cantumkan nama, tahun tamat,
> dan kota domisili utk setiap pengiriman berita. Berhenti sementara:
> [EMAIL PROTECTED] utk aktif kembali
> [EMAIL PROTECTED]
> Rekening Bank (1):YAYASAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA BANGSA (YPSDB) Rek. No.
> 222.351.001 Bank BNI Kantor Capem Cipulir, Jakarta Selatan.
> Rekening Bank (2): IASMA 1 Landbouw Bukittinggi, Rek. No. 455-3009084, BCA
> - Gondangdia, Jakarta Pusat.
> Alamat Sekretariat YPSDB: Komplek Lemigas Blok A-30, Jl. Panjang Jakarta
> 12230, Telp/Fax. (021)7243421, u/p: Maizar Rahman ('66) e-mail:
> [EMAIL PROTECTED]
> Bukti Transfer mohon dikirim ke sekretariat YPSDB, atau fax ke:
> (021)57903619 u/p: Feri Lasman, e-mail: [EMAIL PROTECTED] 
> 
> Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/ 
> 
> 

RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke