Iko ado ulasan menarik dari Surau sabalah, mungkin menarik pula jadi bahan kajian di milis RN ko. karena kisah sejarah ini bisa dilihat dari kacamata sosial dan agama, jadi ambo reply sajo kaduo milis nangko.
VOC 400 tahun. kalau kita mau introspeksi, memang setidaknya kisah VOC datang ke sini juga menggambarkan kebodohan bangsa kita. bagi urang awak , sejarah ini bisa jadi instrospeksi pula pada awal belanda datang , ranah Minang adalah salah satu daerah yg makmur dan kaya di Indonesia sekarang menjadi salah satu daerah miskin,kurang air, listriknya sering mati. Belanda pula lah yg menambah bumbu dan memanaskan pertentangan malah mem backing kaum adat melawan kaum paderi yg baru pulang dari Mekah. Pertentangan kaum adat dan kaum paderi masih berlangsung sampai saat ini, bahkan bisa terlihat pula di milis ini. tapi setidaknya Belanda tidak berhasil membawa agama kristen ke ranah Minang sebagaimana halnya di tanah Jawa. Walaupun kota Padang didirikan oleh Belanda , dibangun gereja, didatangkan orang Nias dll . ( Konon dulu urang gaek di luhak agam melarang anaknya kawin dg orang Padang, jaan urang Padang tu urang Nias , urang Cino dll ) tetap saja Belanda tak bisa mengkristenkan ranah minang , justru kini lah urang kristen berani datang lagi. Aneh selama dijajah Belanda ranah minang menjadi semakin matang karena penuh gejolaknya bermunculan para pejuang dan ulama paderi. Namun tetap saja adat budaya minang sedikit meluntur ( atau melentur ? ) ( Mungkin ado yg sedikit bercerita mengenai sejarah masuknya Belanda / VOC ke ranah Minang ) Sekolah hebat seperti tarbiyah Candung, Parabek, Diniyah Putri,Tawalib, INS Kayutanam,kweekschool Bukittinggi, Sekolah Raja Bukittinggi dll , banyak menghasilkan para tokoh bangsa. Malah , setelah negara ini merdeka, ranah minang kok jadi mundur peradaban dan keberagamaannya. Sekolah bermutunya telah menurun, mutu pendidikan nya turun pula , tak banyak lagi lahir orang hebat. nampaknya memang lain dampak kehadiran Belanda di tanah Jawa dan di ranah Minang, sebagaimana lain pula halnya di tanah rencong Aceh. tapi sadarkah kita bahwa sebenarnya saat ini pun sebenarnya kita tetap terjajah dalam penjajahan bentuk lain. dan ranah minang beserta urang awak di rantau tetap belum bisa membangkit batang terendam. wassalam Hendra M Subject: [surau] Peringatan 400 Tahun VOC, Sejarah Kejahatan Peringatan 400 Tahun VOC, Sejarah Kejahatan PERINGATAN 400 tahun berdirinya VOC oleh pemerintah Belanda, yang jatuh pada 20 Maret 2002, seperti membuka luka lama. Apapun yang diinginkan Belanda pada peringatan tersebut, jelas, VOC adalah bagian kelam dalam sejarah Indonesia. Dan sudah sepatutnya, kita sebagai bangsa tidak perlu ikut berpartisipasi dalam perayaan yang sudah berlangsung sejak Januari lalu di negeri kincir angin itu. Peringatan yang dilaksanakan di Amsterdam, Delft, Den Haag, Rotterdam, dan Enkhuizen, berupa presentasi, simposium, studium general, debat, konser musik, sampai dengan festival bunga, seperti terungkap dalam tulisan "Langsungkan Peringatan 400 Tahun VOC: Belanda Dinilai Munafik" (Dadang Bainur, "PR", 18/3/2002), sebagai sikap yang ingin memunculkan kembali luka lama. Namun, menurut pakar sejarah, Dr. Hj. Nina H. Lubis, M.S., yang juga Ketua Masyarakat Sejarahwan Indonesia Cabang Jawa Barat dan Dosen Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Unpad, menuturkan pada "PR", sebagai bangsa kita harus tahu persis, seperti apa bangsa Indonesia diperlakukan dalam zaman VOC. Kongsi dagang Belanda itu datang benar-benar hanya untuk mencari untung. Melakukan eksploitasi habis-habisan, politik adu domba, tanpa peduli pada rakyat yang dijajah. Menurut Nina, pada tahun 1511 orang-orang Portugis menguasai Malaka sebagai pelabuhan dagang besar di Asia Tenggara. Dari sana Portugis melebarkan sayap hingga ke Maluku, pusat rempah-rempah yang menjadi komoditas dagang primadona di Eropa saat itu. Hampir seabad Portugis menjadi pengendali perdagangan rempah-rempah dari Timur hingga ke Eropa. Akhir abad ke-16, Belanda menjadi pedagang perantara.. Di tahun 1580, saat Spanyol bergabung dengan Portugis, maka perdagangan perantara mengalami kesulitan. Akibatnya, orang-orang Belanda berusaha mencari sendiri rempah-rempah ke Timur. Bulan Juni 1596, mendaratlah ekspedisi di bawah Cornelis de Houtman di Banten, yang sudah ditinggali orang Portugis. Konflik terjadi, bukan saja dengan orang Portugis tetapi juga dengan pedagang lokal. De Houtman harus angkat kaki. Sisa ekspedisi pulang ke Belanda, namun dengan membawa banyak rempah-rempah. Keberhasilan yang dibayar mahal itu, papar Nina, menarik ekspedisi-ekspedisi lainnya untuk mencoba peruntungan. Tahun 1598, 22 kapal milik lima perusahaan yang berbeda berlayar ke timur. Setahun kemudian kapal kembali ke Belanda dengan keuntungan empat kali lipat. Tahun 1601, 14 ekspedisi berlayar ke timur. Harga rempah-rempah pun jatuh karena barang melebihi permintaan. Muncullah persaingan dan konflik di antara sesama perusahaan Belanda itu. Pada tahun 1602, untuk mengatasi persaingan yang tidak sehat itu, atas usul parlemen Belanda (Staten General) perusahaan-perusahaan ekspedisi itu bergabung dalam Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC), "Perserikatan Maskapai Hindia Timur". Dalam sumber-sumber tertulis lokal, VOC kita kenal dengan istilah "Kompeni" atau "Kumpeni". Perusahaan-perusahaan dagang yang modalnya bukan saja milik pedagang, tetapi juga milik walikota, ataupun milik elite politik lainnya, diwakili oleh sistem majelis (Kamer) untuk enam wilayah di Negeri Belanda, Setiap kamer mempunyai sejumlah direktur, yang seluruhnya berjumlah 17, dan dikenal sebagai Heren Zeventien (Tuan-tuan Tujuh Belas). Amsterdan sebagai pemeran terbesar yang menjadi markas besar VOC, diwakili oleh delapan tuan. Dari sinilah VOC tumbuh akhirnya bukan sekedar perserikatan dagang, tetapi menjadi semacam "negara dalam negara", yang melakukan penjajahan dari pelabuhan ke pelabuhan di Nusantara. Mengapa disebut demikian? Karena VOC diberi hak-hak khusus oleh parlemen Belanda, misalnya memiliki mata uang sendiri, memiliki tentara (artinya boleh melakukan peperangan), boleh mengadakan perjanjian dengan penguasa pribumi. Dalam perjalanan VOC selama dua abad berkuasa di berbagai pelabuhan di Nusantara (ingat tidak semua wilayah Nusantara dikuasai VOC), VOC-lah yang memperkenalkan konsep "monopoli" dalam perdagangan yang selama ini tidak pernah dikenal dalam perdagangan pribumi. Dengan cara dagang monopoli ini pedagang pribumi dirugikan. VOC juga tak segan-segan melakukan tindakan yang sangat melanggar HAM, misalnya ketika produksi cengkeh berlebihan, dilakukan hongitochten. VOC melakukan pemusnahan pohon-pohon cengkeh milik pribumi, untuk menekan produksi dan menaikkan harga. Korban manusia tentu saja berjatuhan, terjadilah depopulasi rakyat Maluku. VOC pula yang memaksa Kerajaan Mataram yang tadinya terlibat dalam perdagangan maritim, menjadi negara agraris, karena perdagangan maritim dikangkangi VOC. Kerajaan Mataram akhirnya tenggelam dalam barokisasi peradaban, atau penghalusan peradaban, sehingga akhirnya tercipta suatu masyarakat feodal di mana budaya feodal itu tersisa hingga sekarang. Jangan lupa pula bahwa VOC melakukan politik divide et impera (pecah dan kuasai) yang jelas-jelas tidak memperhatikan moral! Mereka mengadu domba elite-elite politik pribumi untuk kemudian menguasainya. Lihatlah bagaimana Sultan Ageng Tirtayasa diadudomba dengan anaknya yaitu Sultan Haji. Lihat juga bagaimana akhirnya Kerajaan Mataram dipecah-pecah hingga menjadi empat kerajaan, itu semua akibat politik adu domba dan kebodohan kita juga. Tahun 1677 Priangan Timur diserahkan oleh Mataram kepada VOC sebagai hadiah atas bantuan VOC dalam menghadapi Trunojoyo. Tahun 1705, Priangan Tengah dan Barat juga diserahkan oleh Mataram kepada VOC sebagai hadiah dan ganti rugi atas bantuan VOC dalam perebutan kekuasaan di Kerajaan Mataram. Itulah sebabnya, mungkin, Gubernur Jenderal VOC, dalam naskah Sunda kadang disebut sebagai Jenderal Pinter Rebut (diambil dari nama "Pieter Both", salah seorang Gubernur Jenderal VOC). Jangan lupa peranan VOC memecah belah Kesultanan Cirebon. VOC pula yang menghancurkan Palembang yang tidak mau tunduk pada hegemoninya. Kerajaan Gowa, Bone di Sulawesi Selatan, diobrak-abrik oleh VOC pula. Kejahatan yang juga dilakukan VOC tahun 1740 di Batavia, hampir 10.000 orang Cina tewas dibunuh, ada yang ditenggelamkan ke laut..! Ini dilakukan VOC karena jumlah orang Cina di Batavia yang dianggap berlebih, sehingga sering terjadi kerusuhan. Orang-orang Cina ini dicurigai akan berontak, sehingga Gubernur Jenderal Valckenier memutuskan untuk membiarkan terjadinya peristiwa mengerikan ini. Perlawanan terhadap VOC yang bukan lagi sekedar pedagang, bukannya tak pernah dilakukan. Seperti susah disebut, Sultan Agung dari Mataram menyerang Batavia, jantungnya VOC tahun 1628 dan 1629, dua-duanya gagal, karena VOC pandai melakukan politik adu domba. Sultan Ageng Tirtayasa, melakukan perang dengan VOC hampir 30 tahun dan berakhir ketika Sultan akhirnya ditawan dan penjara hingga 12 tahun lamanya. Di Priangan sejak tahun 1677, VOC menjalankan Preangerstelsel (Sistem Priangan) yang kemudian menjadi cikalbakal Kulturstelsel yang kemudian diberlakukan di seluruh Pulau Jawa, kecuali Priangan. Dalam sistem Priangan ini, para bupati diminta menanam kopi sebanyak-banyaknya. Kopi menjadi komiditi primadona di Eropa pada awal abad ke-18. Tentu saja bupati menyuruh rakyat yang menanam kopi. Produksi kopi yang berlimpah sangat menguntungkan Kompeni. Hingga muncul ungkapan bahwa kopi dari Priangan-lah yang mengapungkan Nederland di atas permukaan air. Ya, dam-dam yang dibangun di pantai Laut Utara, dibiayai dari hasil tanam paksa kopi ini. Bayangkan saja, Negeri Kincir Angin ini makanya disebut Nederland, artinya "tanah di bawah (permukaan laut)." Karena tanpa adanya dam-dam di tepi pantai ini, sebagian daratan Belanda tenggelam di bawah laut. Kekuasaan VOC selama hampir dua abad, membentang dari Kaapstad (Capetown) di Afrika Selatan hingga Decima di Timur jauh. Berapa banyak kekayaan yang berhasil diangkut ke negeri yang luasnya hanya seperlima Pulau Jawa itu, menunjukkan keberhasilan VOC sebagai negara penjajah. Akhirnya VOC harus dibubarkan pada tanggal 31 Desember 1799, karena VOC dijalankan oleh para pejabat yang korup, sehingga meninggalkan utang yang sangat besar. Kekuasaan VOC pun beralih ke tangan Pemerintah Hindia Belanda sejak tahun 1800. Inilah negara penjajah yang sesungguhnya. Kadang-kadang orang awam suka mencampuradukkan, asal penjajah Belanda disebut Kompeni saja, padahal keduanya berbeda, meskipun sama-sama Belanda penjajah. Bagi Nina, apapun yang diperingati pemerintah Belanda tentang VOC, adalah peringatan tentang kejahatan yang pernah mereka lakukan terhadap bangsa Indonesia, "Itu semua jelas terungkap dalam sejarah, omong kosong jika dikatakan semacam kebaikan untuk orang pribumi. Kalau sekarang misalnya dikatakan, bahwa VOC lah yang memperkenalkan ilmu pengetahuan Barat, dalam berbagai cabangnya, itu kan merupakan hasil tidak langsung. Mereka membawa teknologi, itu kan untuk melancarkan usaha mereka. Jadi lihatlah dari niatnya apa," ungkapnya. (diro/"PR")*** RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ATAU Kirimkan email Ke/To: [EMAIL PROTECTED] Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama: -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda] -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda] Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung ===============================================

