List of the Governors-General of the Dutch East Indies


1610-1614 PIETER BOTH

1614-1615 GERARD REYNST

1616-1619 Dr. LAURENS REAEL

1619-1623 JAN PIETERSZOON COEN

1623-1627 PIETER DE CARPENTIER

1627-1629 JAN PIETERSZOON COEN

1629-1632 JACQUES SPECX

1632-1636 HENDRIK BROUWER

1636-1645 ANTONIO VAN DIEMEN 

1645-1650 CORNELIS VAN DER LIJN 

1650-1653 CAREL REYNIERSZ 

1653-1678 JOAN MAETSUYKER

1678-1681 RIJCKLOF VAN GOENS 

1681-1684 CORNELIS SPEELMAN

1684-1691 JOANNES CAMPHUYS

1691-1704 WILLEM VAN OUTHOORN, Creole

1704-1709 JOAN VAN HOORN

1709-1713 ABRAHAM VAN RIEBEECK, Creole

1713-1718 CHRISTOFFEL VAN SWOLL

1718-1725 HENRICUS ZWAARDECROON

1725-1729 MATTHEUS DE HAAN

1729-1732 DIEDERIK DURVEN

1732-1735 DIRK VAN CLOON, Eurasian

1735-1737 ABRAHAM PATRAS

1737-1741 ADRIAAN VALCKENIER

1741-1743 JOHANNES THEDENS

1743-1750 GUSTAAF WILLEM baron VAN IMHOFF

1750-1761 JACOB MOSSEL

1761-1775 PETRUS ALBERTUS VAN DER PARRA, born in Ceylon

1775-1777 JEREMIAS VAN RIEMSDIJK

1777-1780 REYNIER DE KLERK

1780-1797 WILLEM ARNOLD ALTING

1797-1801 PIETER GERHARDUS VAN OVERSTRATEN

1801-1805 JOANNES SIBERG

1805-1808 ALBERTUS HENRICUS WIESE

1808-1811 HERMAN WILLEM DAENDELS

1811         JAN WILLEM JANSSENS

1816-1826 GODERT A. G. P. baron VAN DER CAPELLEN

1826-1830 LEONARD P. J. burggraaf DU BUS DE GISIGNIES

1830-1833 JOHANNES VAN DEN BOSCH

1833-1836 JEAN-CHRETIEN BAUD

1836-1840 DOMINIQUE JACQUES DE EERENS

1841-1844 PIETER MERKUS

1845-1851 JAN JACOB ROCHUSSEN

1851-1856 ALBERTUS J. DUYMAER VAN TWIST

1856-1861 CHARLES  FERDINAND PAHUD

1861-1866 LUDOLF A. J. W. baron SLOET VAN DE BEELE

1866-1872 PIETER MIJER, Creole

1872-1875 JAMES LOUDON

1875-1881 JOHAN W. VAN LANSBERGE, born in S. America

1881-1884 FREDERIK s'JACOB

1884-1888 OTTO VAN REES

1888-1893 CORNELIS PIJNACKER HORDIJK

1893-1899 Jkhr. CAREL H.A. VAN DER WIJCK, born in Ambon

1899-1904 W. ROOSEBOOM

1904-1909 J. B. VAN HEUTSZ

1909-1916 A.W.F. IDENBURG

1916-1921 J.P. graaf VAN LIMBURG STIRUM

1921-1926 D. FOCK

1926-1931 Jkhr. Mr. A.C.D. DE GRAEFF

1931-1936 Jkhr. Mr. B.C. DE JONGE

1936-1941 Jkhr. Mr. A.W.L.  TJARDA VAN STARKENBORGH STACHOUWER

----- Original Message -----
From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, March 21, 2002 10:04 AM
Subject: [RantauNet] Peringatan 400 Tahun VOC, Sejarah Kebodohan

>
> Iko ado ulasan menarik dari Surau sabalah, mungkin menarik pula jadi bahan
> kajian di milis RN ko.
> karena kisah sejarah ini bisa dilihat dari kacamata sosial dan agama, jadi
> ambo reply sajo kaduo milis nangko.
>
> VOC 400 tahun.
>
> kalau kita mau introspeksi, memang setidaknya kisah VOC datang ke sini juga
> menggambarkan kebodohan bangsa kita.
>
> bagi urang awak , sejarah ini bisa jadi instrospeksi pula
>
> pada awal belanda datang , ranah Minang adalah salah satu daerah yg makmur
> dan kaya di Indonesia
> sekarang menjadi salah satu daerah miskin,kurang air, listriknya sering
> mati.
>
> Belanda pula lah yg menambah bumbu dan memanaskan pertentangan malah mem
> backing kaum adat
> melawan kaum paderi yg baru pulang dari Mekah.
> Pertentangan kaum adat dan kaum paderi masih berlangsung sampai saat ini,
> bahkan bisa terlihat pula di milis ini.
>
> tapi setidaknya Belanda tidak berhasil membawa agama kristen ke ranah
> Minang sebagaimana halnya di tanah Jawa.
> Walaupun kota Padang didirikan oleh Belanda , dibangun gereja, didatangkan
> orang Nias dll . ( Konon dulu urang gaek di luhak agam melarang anaknya
> kawin dg orang Padang, jaan urang Padang tu urang Nias , urang Cino dll )
> tetap saja Belanda tak bisa mengkristenkan ranah minang , justru kini lah
> urang kristen berani datang lagi.
>
> Aneh selama dijajah Belanda ranah minang menjadi semakin matang karena
> penuh gejolaknya
> bermunculan para pejuang dan ulama paderi.
> Namun tetap saja adat budaya minang sedikit meluntur ( atau melentur ? )
>
> ( Mungkin ado yg sedikit bercerita mengenai sejarah masuknya Belanda / VOC
> ke ranah Minang )
>
> Sekolah hebat seperti tarbiyah Candung, Parabek, Diniyah Putri,Tawalib, INS
> Kayutanam,kweekschool Bukittinggi, Sekolah Raja Bukittinggi dll
> ,  banyak menghasilkan para tokoh bangsa.
>
> Malah , setelah negara ini merdeka, ranah minang kok jadi mundur peradaban
> dan keberagamaannya.
> Sekolah bermutunya telah menurun, mutu pendidikan nya turun pula , tak
> banyak lagi lahir orang hebat.
>
> nampaknya memang lain dampak kehadiran Belanda di tanah Jawa dan di ranah
> Minang, sebagaimana lain pula halnya di tanah rencong Aceh.
>
> tapi sadarkah kita bahwa sebenarnya saat ini pun sebenarnya kita tetap
> terjajah dalam penjajahan bentuk lain.
> dan ranah minang beserta urang awak di rantau tetap belum bisa membangkit
> batang terendam.
>
> wassalam
>
> Hendra M
>
>
>
> Subject:    [surau] Peringatan 400 Tahun VOC, Sejarah Kejahatan
>
>
> Peringatan 400 Tahun VOC, Sejarah Kejahatan
>
> PERINGATAN 400 tahun berdirinya VOC oleh pemerintah Belanda, yang jatuh
> pada 20 Maret 2002, seperti membuka luka lama. Apapun yang diinginkan
> Belanda pada peringatan tersebut, jelas, VOC adalah bagian kelam dalam
> sejarah Indonesia. Dan sudah sepatutnya, kita sebagai bangsa tidak perlu
> ikut berpartisipasi dalam perayaan yang sudah berlangsung sejak Januari
> lalu di negeri kincir angin itu.
>
> Peringatan yang dilaksanakan di Amsterdam, Delft, Den Haag, Rotterdam, dan
> Enkhuizen, berupa presentasi, simposium, studium general, debat, konser
> musik, sampai dengan festival bunga, seperti terungkap dalam tulisan
> "Langsungkan Peringatan 400 Tahun VOC: Belanda Dinilai Munafik" (Dadang
> Bainur, "PR", 18/3/2002), sebagai sikap yang ingin memunculkan kembali luka
> lama.
>
> Namun, menurut pakar sejarah, Dr. Hj. Nina H. Lubis, M.S., yang juga Ketua
> Masyarakat Sejarahwan Indonesia Cabang Jawa Barat dan Dosen Jurusan Sejarah
> Fakultas Sastra Unpad,
> menuturkan pada "PR", sebagai bangsa kita harus tahu persis, seperti apa
> bangsa Indonesia diperlakukan dalam zaman VOC. Kongsi dagang Belanda itu
> datang benar-benar hanya untuk
> mencari untung. Melakukan eksploitasi habis-habisan, politik adu domba,
> tanpa peduli pada rakyat yang dijajah.
>
> Menurut Nina, pada tahun 1511 orang-orang Portugis menguasai Malaka sebagai
> pelabuhan dagang besar di Asia Tenggara. Dari sana Portugis melebarkan
> sayap hingga ke Maluku, pusat rempah-rempah yang menjadi komoditas dagang
> primadona di Eropa saat itu. Hampir seabad Portugis menjadi pengendali
> perdagangan rempah-rempah dari Timur hingga ke Eropa. Akhir
> abad ke-16, Belanda menjadi pedagang perantara..
>
> Di tahun 1580, saat Spanyol bergabung dengan Portugis, maka perdagangan
> perantara mengalami kesulitan. Akibatnya, orang-orang Belanda berusaha
> mencari sendiri rempah-rempah ke Timur. Bulan Juni 1596, mendaratlah
> ekspedisi di bawah Cornelis de Houtman di Banten, yang sudah ditinggali
> orang Portugis. Konflik terjadi, bukan saja dengan orang Portugis tetapi
> juga dengan pedagang lokal. De Houtman harus angkat kaki. Sisa ekspedisi
> pulang ke Belanda, namun dengan membawa banyak rempah-rempah.
>
> Keberhasilan yang dibayar mahal itu, papar Nina, menarik
> ekspedisi-ekspedisi lainnya untuk mencoba peruntungan. Tahun 1598, 22 kapal
> milik lima perusahaan yang berbeda berlayar ke timur. Setahun kemudian
> kapal kembali ke Belanda dengan keuntungan empat kali lipat. Tahun 1601, 14
> ekspedisi berlayar ke timur. Harga rempah-rempah pun jatuh karena barang
> melebihi permintaan. Muncullah persaingan dan konflik di antara sesama
> perusahaan Belanda itu.
>
> Pada tahun 1602, untuk mengatasi persaingan yang tidak sehat itu, atas usul
> parlemen Belanda (Staten General) perusahaan-perusahaan ekspedisi itu
> bergabung dalam Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC), "Perserikatan
> Maskapai Hindia Timur". Dalam sumber-sumber tertulis lokal, VOC kita kenal
> dengan istilah "Kompeni" atau "Kumpeni". Perusahaan-perusahaan dagang yang
> modalnya bukan saja milik pedagang, tetapi juga milik walikota, ataupun
> milik elite politik lainnya, diwakili oleh sistem majelis (Kamer) untuk
> enam wilayah di Negeri Belanda,
>
> Setiap kamer mempunyai sejumlah direktur, yang seluruhnya berjumlah 17, dan
> dikenal sebagai Heren Zeventien (Tuan-tuan Tujuh Belas). Amsterdan sebagai
> pemeran terbesar yang menjadi markas besar VOC, diwakili oleh delapan tuan.
> Dari sinilah VOC tumbuh akhirnya bukan sekedar perserikatan dagang, tetapi
> menjadi semacam "negara dalam negara", yang melakukan penjajahan dari
> pelabuhan ke pelabuhan di Nusantara. Mengapa disebut demikian? Karena VOC
> diberi hak-hak khusus oleh parlemen Belanda, misalnya memiliki mata uang
> sendiri, memiliki tentara (artinya boleh melakukan peperangan), boleh
> mengadakan perjanjian dengan penguasa
> pribumi.
>
> Dalam perjalanan VOC selama dua abad berkuasa di berbagai pelabuhan di
> Nusantara (ingat tidak semua wilayah Nusantara dikuasai VOC), VOC-lah yang
> memperkenalkan konsep "monopoli" dalam perdagangan yang selama ini tidak
> pernah dikenal dalam perdagangan pribumi. Dengan cara dagang monopoli ini
> pedagang pribumi dirugikan.
>
> VOC juga tak segan-segan melakukan tindakan yang sangat melanggar HAM,
> misalnya ketika produksi cengkeh berlebihan, dilakukan hongitochten. VOC
> melakukan pemusnahan pohon-pohon cengkeh milik pribumi, untuk menekan
> produksi dan menaikkan harga. Korban manusia tentu saja berjatuhan,
> terjadilah depopulasi rakyat Maluku.
>
> VOC pula yang memaksa Kerajaan Mataram yang tadinya terlibat dalam
> perdagangan maritim, menjadi negara agraris, karena perdagangan maritim
> dikangkangi VOC. Kerajaan Mataram akhirnya tenggelam dalam barokisasi
> peradaban, atau penghalusan peradaban, sehingga akhirnya tercipta suatu
> masyarakat feodal di mana budaya feodal itu tersisa hingga sekarang.
>
> Jangan lupa pula bahwa VOC melakukan politik divide et impera (pecah dan
> kuasai) yang jelas-jelas tidak memperhatikan moral! Mereka mengadu domba
> elite-elite politik pribumi untuk kemudian menguasainya. Lihatlah bagaimana
> Sultan Ageng Tirtayasa diadudomba dengan anaknya yaitu Sultan Haji. Lihat
> juga bagaimana akhirnya Kerajaan Mataram dipecah-pecah hingga menjadi empat
> kerajaan, itu semua akibat politik adu domba dan kebodohan kita juga.
>
> Tahun 1677 Priangan Timur diserahkan oleh Mataram kepada VOC sebagai hadiah
> atas bantuan VOC dalam menghadapi Trunojoyo. Tahun 1705, Priangan Tengah
> dan Barat juga diserahkan oleh Mataram kepada VOC sebagai hadiah dan ganti
> rugi atas bantuan VOC dalam perebutan kekuasaan di Kerajaan Mataram.
>
> Itulah sebabnya, mungkin, Gubernur Jenderal VOC, dalam naskah Sunda kadang
> disebut sebagai Jenderal Pinter Rebut (diambil dari nama "Pieter Both",
> salah seorang Gubernur
> Jenderal VOC). Jangan lupa peranan VOC memecah belah Kesultanan Cirebon.
> VOC pula yang menghancurkan Palembang yang tidak mau tunduk pada
> hegemoninya. Kerajaan Gowa, Bone
> di Sulawesi Selatan, diobrak-abrik oleh VOC pula.
>
> Kejahatan yang juga dilakukan VOC tahun 1740 di Batavia, hampir 10.000
> orang Cina tewas dibunuh, ada yang ditenggelamkan ke laut..! Ini dilakukan
> VOC karena jumlah orang Cina di Batavia yang dianggap berlebih, sehingga
> sering terjadi kerusuhan. Orang-orang Cina ini dicurigai akan berontak,
> sehingga Gubernur Jenderal Valckenier memutuskan untuk membiarkan
> terjadinya peristiwa mengerikan ini.
>
> Perlawanan terhadap VOC yang bukan lagi sekedar pedagang, bukannya tak
> pernah dilakukan. Seperti susah disebut, Sultan Agung dari Mataram
> menyerang Batavia, jantungnya VOC tahun
> 1628 dan 1629, dua-duanya gagal, karena VOC pandai melakukan politik adu
> domba. Sultan Ageng Tirtayasa, melakukan perang dengan VOC hampir 30 tahun
> dan berakhir ketika Sultan akhirnya ditawan dan penjara hingga 12 tahun
> lamanya.
>
> Di Priangan sejak tahun 1677, VOC menjalankan Preangerstelsel (Sistem
> Priangan) yang kemudian menjadi cikalbakal Kulturstelsel yang kemudian
> diberlakukan di seluruh Pulau Jawa, kecuali Priangan. Dalam sistem Priangan
> ini, para bupati diminta menanam kopi sebanyak-banyaknya. Kopi menjadi
> komiditi primadona di Eropa pada awal abad ke-18. Tentu saja bupati
> menyuruh rakyat yang menanam kopi.
>
> Produksi kopi yang berlimpah sangat menguntungkan Kompeni. Hingga muncul
> ungkapan bahwa kopi dari Priangan-lah yang mengapungkan Nederland di atas
> permukaan air. Ya, dam-dam yang dibangun di pantai Laut Utara, dibiayai
> dari hasil tanam paksa kopi ini. Bayangkan saja, Negeri Kincir Angin ini
> makanya disebut Nederland, artinya "tanah di bawah
> (permukaan laut)." Karena tanpa adanya dam-dam di tepi pantai ini, sebagian
> daratan Belanda tenggelam di bawah laut.
>
> Kekuasaan VOC selama hampir dua abad, membentang dari Kaapstad (Capetown)
> di Afrika Selatan hingga Decima di Timur jauh. Berapa banyak kekayaan yang
> berhasil diangkut ke negeri yang luasnya hanya seperlima Pulau Jawa itu,
> menunjukkan keberhasilan VOC sebagai negara penjajah. Akhirnya VOC harus
> dibubarkan pada tanggal 31 Desember 1799, karena VOC dijalankan oleh para
> pejabat yang korup, sehingga meninggalkan utang yang sangat besar.
> Kekuasaan VOC pun beralih ke tangan Pemerintah Hindia Belanda sejak tahun
> 1800. Inilah negara penjajah yang sesungguhnya. Kadang-kadang orang awam
> suka mencampuradukkan, asal penjajah Belanda disebut Kompeni saja, padahal
> keduanya berbeda, meskipun sama-sama Belanda penjajah.
>
> Bagi Nina, apapun yang diperingati pemerintah Belanda tentang VOC, adalah
> peringatan tentang kejahatan yang pernah mereka lakukan terhadap bangsa
> Indonesia, "Itu semua jelas terungkap dalam sejarah, omong kosong jika
> dikatakan semacam kebaikan untuk orang pribumi. Kalau sekarang misalnya
> dikatakan, bahwa VOC lah yang memperkenalkan ilmu pengetahuan Barat, dalam
> berbagai cabangnya, itu kan merupakan hasil tidak langsung. Mereka membawa
> teknologi, itu kan untuk melancarkan usaha mereka. Jadi lihatlah dari
> niatnya apa," ungkapnya. (diro/"PR")***
>
>
>
>
>
> RantauNet
http://www.rantaunet.com
>
> Isikan data keanggotaan anda di
http://www.rantaunet.com/register.php3
> ===============================================
> Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
>
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
>
> ATAU Kirimkan email
> Ke/To:
[EMAIL PROTECTED]
> Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
> -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
> -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
> Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
> ===============================================
>

Kirim email ke