|
Malang-Payakumbuh
oleh: HERU WIDHI
HANDAYANI
;) DEALISME dan praktis. Dua hal yang senantiasa tarik-menarik dalam
bisnis radio. Lantaran menggunakan ranah publik sudah sewajarnya radio
jadi medium yang menyuarakan kepentingan publik.
Saat ribut-ribut otonomi daerah, radio punya tugas mencorongkan
kenyataan di lapangan. Setahun sudah, 1 Januari 2001, konsep otonomi
daerah diresmikan. Apa konsep itu sudah diterima masyarakat?
Isu itu menggelitik Freidrich Naumann Stiftung, organisasi nirlaba dari
Jerman, yang punya kantor di Jakarta. Mereka menggelar kompetisi Radio
Awards 2001 dengan tema "otonomi daerah" untuk tiga kategori: mini
feature, reportase, dan wawancara.
Ada 44 radio yang mengirimkan 104 karyanya, dan keluar pemenang pertama
kategori mini feature radio Arief FM 105,8 MHz, kategori
reportase radio MAS FM 1007,2 MHz, dan kategori wawancara kantor
berita radio 68H.
Tengok judul program masing-masing pemenang ini: "Otonomi Daerah di
Tengah Konflik," "Aksi Demo Wartawan: Menteri Sama Dengan Kambing," dan
"Pengambilalihan Jasa Pelabuhan oleh Pemerintah Kota Cilegon." Kenyataan
ini memperlihatkan radio mulai menyuarakan kepentingan publik ketimbang
bisnis semata.
Awak radio sendiri bagaimana? Menurut Bambang Pramono, reporter MAS
FM, sebelum jadi radio yang bergerak dalam bidang informasi,
satu-satunya di Malang, awal mulanya ia radio hiburan. "Pool dangdutnya
Malang," komentar Bambang.
Sejak gabung dengan radio ini Desember 2000 lalu, dia dan dua orang
reporter lain jadi ujung tombak dalam penyampaian berita. Sehari
masing-masing harus menyetor tiga macam wawancara. "Yang penting program
informasi terlaksana."
Setelah iklan banyak masuk akhirnya perusahaan tak menutup mata untuk
meningkatkan kesejahteraan. "Lumayan lah di atas upah minimum regional
(Malang)," jawabnya. Bahkan dari motor pinjaman kini dia bisa mengendarai
motor sendiri, beli baru lagi.
Keikutsertaan dalam lomba itu, menurut penuturannya, bukan lantaran
hadiah. Malahan naskahnya "Aksi Demo Wartawan: Menteri Sama Dengan
Kambing" baru dikirim saat-saat terakhir. Siapa sangka dia juara. "Lucunya
pada saat laporan, saking banyaknya wartawan (yang demonstrasi) sempat
saya kelabakan," kenangnya, tawa terdengar dari ujung telepon.
Lain halnya dengan Taufik Bambang dari Arief FM. Dia menyatakan
keinginannya mengikuti lomba radio itu didasarkan atas upaya mengungkap
kejadian di Payakumbuh. Selain itu dia juga ingin mengetahui seberapa
besar kemampuan jurnalismenya.
Apakah kemenangannya itu membuktikan dirinya memang mumpuni? "Saya
merasa masih kurang baik mutu, penulisan maupun penyampaian," jawab
Taufik. "Masalahnya penyampaian di radio dibatasi oleh waktu,"
tambahnya.
Keinginan untuk terus mengungkapkan masalah sosial Payakumbuh memang
telah jadi makanan Taufik. Gara-gara itu pulalah dia didepak dari radio
SIPP FM 106.85 MHz, di Padang, tempat kerjanya dulu.
Pengalaman itu mengantarkan dia ke Arief FM. Bukan berarti dia
tak pernah mengalami perseteruan di sini. Pernah seorang pejabat
Payakumbuh mengutus orang, menuntut agar Taufik tak lagi memberitakan
persoalan Payakumbuh. Ancamannya adalah tuntutan hukum. Taufik bersikukuh
dengan keyakinannya. Tapi Taufik juga mengadakan pendekatan persuasif dan
menjalin hubungan baik dengan perusahaan maupun pemerintahan.
*** |