Dear Bapak / Ibu di 4 palanta.
Karano attachment yang ambo kirimkan banyak yang indak bisa buka di
PC bp/ibu, dan ado permintaan dari bp/ibu untuak manyambuang mangkopikan
ceramah ustadz Aa GYM yang akan dibukukan untuak koleksi pribadi, ambo cubo
kopikan judul seramah salanjuiknyo, Ini kiriman yang nomor 3.
Semoga amal kopian ini mengalir ke buya Aa GYM, amiin.
Mohon maaf bagi sanak yang nggak berkenan.
Wassalam
Elthaf Hijaz St. Sri Bagindo, 1980, Biaro.
----------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------
------------------
Mengikis Sikap Otoriter
K.H. Abdullah Gymnastiar
Salah satu yang berbahaya diantara penyakit hati yang kita miliki adalah
sifat egois, sifat tidak mau kalah, sifat ingin menang sendiri, sifat ingin
selalu merasa benar, atau sifat ingin selalu merasa bahwa memang dirinya
tidak berpeluang untuk berbuat salah. Sifat seperti ini biasanya banyak
menghinggapi orang-orang yang diamanahi kedudukan-seperti para pimpinan
dalam skala apapun.
Sifat-sifat tadi ujung-ujungnya akan bermuara pada sikap otoriter, bahkan
lebih jauh lagi menjadi seorang diktator (suatu sebutan yang diantaranya
dinisbahkan pada pemimpin pemerintahan NAZI Jerman, Adolf Hitler atau pada
pemerintahan fasis Italia zaman Benito Musolini, dan juga para pemimpin
diktator dunia lainnya).
Pastilah pula kita tidak akan pernah nyaman mendengar kata-kata seperti itu
dan kita juga tidak akan pernah suka melihat orang yang otoriter, yang
segalanya sepertinya harus dalam genggamannya. Dan hasilnya kita tahu
sendiri bahwa orang-orang yang memiliki cap otoriter, orang yang selalu
ingin segalanya dalam kekuasaannya, semuanya tunduk dan patuh kepadanya,
ujungnya adalah kejatuhan dan kehinaan.
Dari segi namanya saja sudah menimbulkan kesan tidak enak untuk didengar
kuping. Simaklah kata, "otoriter", "egois", atau "menang sendiri" sepertinya
kita menangkap kesan yang kurang sreg dengan kata-kata ini. Apalagi jika
melihat langsung orang yang memiliki sifat seperti itu, akan lebih tidak
suka lagi. Tapi sayang, sepertinya kita jarang menyisihkan waktu untuk
bertanya secara jujur pada diri sendiri, apakah sifat-sifat itu ada pada
diri kita atau tidak? Apakah kita ini orang otoriter atau bukan? Maaf-maaf
saja kepada para orang tua, guru, manager, pimpinan, direktur, komandan,
bos, pokoknya orang-orang yang diamanahi kekuasaan oleh ALLOH, biasanya
memiliki kecenderungan sifat seperti ini.
Orang-orang yang otoriter biasanya memiliki versi tersendiri dalam menilai
suatu kejadian, versi yang sesuka dia tentunya. Hal ini karena dia selalu
memandang lebih dirinya sehingga selalu melihat sesuatu itu kurangnya dan
jeleknya saja. Akibatnya sebaik apapun yang dilakukan orang lain selalu saja
dari mulutnya meluncur omelan, gerutuan, dan koreksian. Tepatlah baginya
pepatah, 'nila setitik rusak susu sebelanga'. Artinya, karena kesalahan
sedikit, jeleklah seluruh kelakuannya. Bagi orang otoriter, biasanya tidak
ada pilihan lain selain 100% harus sesuai keinginannya.
Hasil kajian sebuah penelitian menyebutkan bahwa para korban NAPZA
(Narkotika, Pshikotropika, dan Zat Aditif lainya) diantaranya adalah mereka
yang tumbuh besar dari kalangan orang tua otoriter, keras, mau menang
sendiri, tidak mau berkomunikasi, dan tidak ada dialog antar anggota
keluarga sehingga si anak menjadi seorang yang bersikap apatis, acuh, bahkan
akhirnya si anak melarikan rasa ketertekanannya ini ke NAPZA, naudzhubillah.
Ada pula anak yang selalu bentrok dengan ibunya, karena si ibu begitu
menuntut agar dia nurut 100% tanpa reserve. Kondisi ini dibarengi pula
dengan penilaian kepada anak yang selalu negatif, akibat yang diungkapkan si
ibu selalu sisi-sisi yang salah dari diri si anak. Munculah ungkapan,
"Sedikit-sedikit salah-sedikit-sedikit salah!", bahkan saking kesalnya si
anak ini berkata, "Kalau saya ini salah terus, lalu kapan benarnya saya
sebagai manusia ini? Kenapa semua yang saya lakukan selalu disalahkan?!".
Padahal kalau si anak belum mengerti seharusnya orang tua yang lebih dulu
mengerti, kalau si anak belum bisa paham seharusnya orang tua yang duluan
paham. Tapi karena orang tuanya tidak mengerti dan kurang ilmu, akhirnya
tanpa disadari si ibu telah menggiring dan menjerumuskan anaknya ke dunia
NAPZA.
Ternyata beginilah, gaya mendidik yang otoriter, yang kaku, dan kurang
komunikatif akan menghasilkan anak-anak dalam kondisi tertekan, tidak aman,
hingga ujungnya ia lari dari kenyataan yang dihadapinya. Begitupun di
kantor-kantor atau perusahaan-perusahaan yang memiliki pimpinan bertife
otoriter, pastilah dia akan membuat karyawannya tertekan. Hal ini dapat
diamati saat pimpinannya datang ke ruang kerja karyawannya, semua karyawan
menjadi tegang, gugup, dan panik. Ini terjadi karena kalau pimpinan datang,
maka yang dilihat hanya kesalahan-kesalahan karyawannya saja. Mengapa
begini? Mengapa begitu? Ini salah! Itu Salah! Jarang memuji, jarang
menghargai, jarang menyapa dengan baik, bahkan wajahnya menyeramkan dan
angker karena sangat jarang senyum. Pada akhirnya karyawan disiplinnya
menjadi disiplin takut atau disiplin semu, padahal sebenarnya karyawan
merasa tertekan, sakit hati, dan bahkan benci ke si pimpinan yang otoriter
ini.
Diantara ciri perusahaan dengan kondisi seperti ini adalah ditandai dengan
perputaran keluar-masuk karyawan yang sangat tinggi. Semua karyawan dari
yang level tertinggi sampai yang level terendah maunya keluar saja. Kalaupun
ada yang bertahan, bukan karena senang bekerja di sana, kebanyakan yang
bertahan memang karena butuh saja. Butuh uangnya, bukan butuh suasananya.
Oleh sebab itu, hati-hatilah bagi para pemimpin yang otoriter, dan
bersiap-siaplah menjadi orang yang tidak disukai karena saking banyaknya
orang yang merasa teraniaya. Orang otoriter itu marahnya saja biasanya
dilakukan di sembarang tempat, asal dia ketemu dengan yang dimarahinya,
marahnya akan meledak-ledak. Padahal kemarahan seperti itu justru akan
mempermalukan si pemarah itu sendiri karena orang yang melihatnya akan
mengeluarkan penilaian yang negatif kepada dia. Misal, "Kok marahnya
gitu-gitu amat, padahal dia haji, padahal dia pejabat". Orang-orang yang
marah biasanya omongannya juga jelek sekali, kata-katanya kasar dan
menyeramkan. Jadi ketika si pemarah itu marah, yang dimarahi bukannya malah
nurut atau bukannya malah simpati, yang terjadi justru orang itu akan
mengeluarkan penilaiannya sendiri. Walaupun nampak seperti nunduk atau
manggut-manggut, tapi hati tidak pernah bisa dibohongi, tidak pernah bisa
dibeli dengan kemarahan. Yang ada justru orang itu akan menjadi sakit hati,
dongkol dan merendahkan orang yang marah walaupun mungkin pada saat itu ia
tidak berani mengekspresikannya.
Hati-hati nih bagi para pimpinan yang suka marah-marah, terutama orang-orang
yang tidak biasa jadi bawahan, kadang-kadang ia agak otoriter. Dalam
keluarga militer memang kecenderungan sifat otoriter muncul di keluarga itu
akan jauh lebih kuat, karena memang jalur komando ala militer kadangkala
diberlakukan oleh pimpinan di keluarga itu dengan konsep militer. Celakanya
di kantor dididik dalam gaya hidup ala militer, sayangnya di rumah mendidik
dengan gaya yang sama, mendidik dengan gaya ala militer, padahal kondisi
kantor dan kondisi rumah berbeda.
Pernah ada sebuah keluarga dengan empat anak, ternyata tiga diantaranya
mengalami depresi berat karena sang ayah terlalu kaku dalam memimpin rumah
tangga yang pengelolaannya disamakan seperti di kantornya. Jangan heran bila
ada orang yang sukses di kantor belum tentu sukses di rumah tangga. Ada yang
"sukses" di kantor itu karena ia begitu tegasnya sebagai seorang komandan,
tapi di rumahnya anak-anak itu beda, karena memang mereka bukanlah militer,
mereka tidak dilatih kemiliteran dan terlebih lagi mereka tidak dikasih
pangkat.
Perlu diwaspadai pula bahwa biasanya pemimpin yang otoriter akan membuahkan
pula bibit-bibit anak didik yang otoriter. Seperti guru yang otoriter, akan
menghasilkan anak-anak didik yang otoriter pula, bahkan nakal. Guru yang
otoriter di kelas, diantara sifat-sifatnya adalah maunya menang sendiri,
kata-katanya tajam, dan suka mempermalukan. Kelakuan ini sebenarnya akan
jadi bumerang bagi guru itu sendiri, seperti tidak disukai pelajarannya,
tidak disenangi perangainya, dan tentu saja ini suatu hal yang kontra
produktif. Apalagi perilaku-perilaku seperti ini sangat bertentangan dengan
sikap-sikap yang dituntunkan Rasulullah SAW yang ternyata memiliki pribadi
yang sangat indah, santun, dan berakhlak mulia.
Bagi orang yang bagus perangainya, berwajah ceria, serta mulia akhlaknya
maka ia laksana mawar yang kuncup di musim semi, dia akan beroleh banyak
teman yang membawa kedamaian dan ketentraman, semua pintu terbuka baginya.
Sementara orang pemberang, mudah marah, egois, dan otoriter harus menggedor
pintu untuk bisa sekedar berbincang dengan seorang kawan. Karenanya, yang
terbaik adalah keramahan akhlak dan keceriaan. Rasulullah SAW sendiri adalah
seorang yang senantiasa berwajah cerah ceria penuh sungging senyuman, insya
ALLOH. ***
Nikmati Proses
K.H. Abdullah Gymnastiar
Sebenarnya yang harus kita nikmati dalam hidup ini adalah proses. Mengapa?
Karena yang bernilai dalam hidup ini ternyata adalah proses dan bukan hasil.
Kalau hasil itu ALLOH yang menetapkan, tapi bagi kita punya kewajiban untuk
menikmati dua perkara yang dalam aktivitas sehari-hari harus kita jaga,
yaitu selalu menjaga setiap niat dari apapun yang kita lakukan dan selalu
berusaha menyempurnakan ikhtiar yang dilakukan, selebihnya terserah ALLOH
SWT.
Seperti para mujahidin yang berjuang membela bangsa dan agamanya, sebetulnya
bukan kemenangan yang terpenting bagi mereka, karena menang-kalah itu akan
selalu dipergilirkan kepada siapapun. Tapi yang paling penting baginya
adalah bagaimana selama berjuang itu niatnya benar karena ALLOH dan selama
berjuang itu akhlaknya juga tetap terjaga. Tidak akan rugi orang yang mampu
seperti ini, sebab ketika dapat mengalahkan lawan berarti dapat pahala,
kalaupun terbunuh berarti bisa jadi syuhada.
Ketika jualan dalam rangka mencari nafkah untuk keluarga, maka masalah yang
terpenting bagi kita bukanlah uang dari jualan itu, karena uang itu ada
jalurnya, ada rizkinya dari ALLOH dan semua pasti mendapatkannya. Karena
kalau kita mengukur kesuksesan itu dari untung yang didapat, maka akan
gampang sekali bagi ALLOH untuk memusnahkan untung yang didapat hanya dalam
waktu sekejap. Dibuat musibah menimpanya, dikenai bencana, hingga akhirnya
semua untung yang dicari berpuluh-puluh tahun bisa sirna seketika.
Walhasil yang terpenting dari bisnis dan ikhtiar yang dilakukan adalah
prosesnya. Misal, bagaimana selama berjualan itu kita selalu menjaga niat
agar tidak pernah ada satu miligram pun hak orang lain yang terambil oleh
kita, bagaimana ketika berjualan itu kita tampil penuh keramahan dan penuh
kemuliaan akhlak, bagaimana ketika sedang bisnis benar-benar dijaga
kejujuran kita, tepat waktu, janji-janji kita penuhi.
Dan keuntungan bagi kita ketika sedang berproses mencari nafkah adalah
dengan sangat menjaga nilai-nilai perilaku kita. Perkara uang sebenarya
tidak usah terlalu dipikirkan, karena ALLOH Mahatahu kebutuhan kita lebih
tahu dari kita sendiri. Kita sama sekali tidak akan terangkat oleh
keuntungan yang kita dapatkan, tapi kita akan terangkat oleh proses mulia
yang kita jalani.
Ini perlu dicamkan baik-baik bagi siap pun yang sedang bisnis bahwa yang
termahal dari kita adalah nilai-nilai yang selalu kita jaga dalam proses.
Termasuk ketika kuliah bagi para pelajar, kalau kuliah hanya menikmati hasil
ataupun hanya ingin gelar, bagaimana kalau meninggal sebelum diwisuda?
Apalagi kita tidak tahu kapan akan meninggal. Karenanya yang paling penting
dari perkuliahan, tanya dulu pada diri, mau apa dengan kuliah ini? Kalau
hanya untuk mencari isi perut, kata Imam Ali, "Orang yang pikirannya hanya
pada isi perut, maka derajat dia tidak akan jauh beda dengan yang keluar
dari perutnya". Kalau hanya ingin cari uang, hanya tok uang, maka asal tahu
saja penjahat juga pikirannya hanya uang.
Bagi kita kuliah adalah suatu ikhtiar agar nilai kemanfaatan hidup kita
meningkat. Kita menuntut ilmu supaya tambah luas ilmu hingga akhirnya hidup
kita bisa lebih meningkat manfaatnya. Kita tingkatkan kemampuan salah satu
tujuannya adalah agar dapat meningkatkan kemampuan orang lain. Kita cari
nafkah sebanyak mungkin supaya bisa mensejahterakan orang lain.
Dalam mencari rizki ada dua perkara yang perlu selalu kita jaga, ketika
sedang mencari kita sangat jaga nilai-nilainya, dan ketika dapat kita
distribusikan sekuat-kuatnya. Inilah yang sangat penting. Dalam perkuliahan,
niat kita mau apa nih? Kalau mau sekolah, mau kuliah, mau kursus, selalu
tanyakan mau apa nih? Karena belum tentu kita masih hidup ketika diwisuda,
karena belum tentu kita masih hidup ketika kursus selesai.
Ah, Sahabat. Kalau kita selama kuliah, selama sekolah, selama kursus kita
jaga sekuat-kuatnya mutu kehormatan, nilai kejujuran, etika, dan tidak mau
nyontek lalu kita meninggal sebelum diwisuda? Tidak ada masalah, karena apa
yang kita lakukan sudah jadi amal kebaikan. Karenanya jangan terlalu
terpukau dengan hasil.
Saat melamar seseorang, kita harus siap menerima kenyataan bahwa yang
dilamar itu belum tentu jodoh kita. Persoalan kita sudah datang ke calon
mertua, sudah bicara baik-baik, sudah menentukan tanggal, tiba-tiba
menjelang pernikahan ternyata ia mengundurkan diri atau akan menikah dengan
yang lain. Sakit hati sih wajar dan manusiawi, tapi ingat bahwa kita tidak
pernah rugi kalau niatnya sudah baik, caranya sudah benar, kalaupun tidak
jadi nikah dengan dia. Siapa tahu ALLOH telah menyiapkan kandidat lain yang
lebih cocok.
Atau sudah daftar mau pergi haji, sudah dipotret, sudah manasik, dan sudah
siap untuk berangkat, tiba-tiba kita menderita sakit sehingga batal untuk
berangkat. Apakah ini suatu kerugian? Belum tentu! Siapa tahu ini merupakan
nikmat dan pertolongan dari ALLOH, karena kalau berangkat haji belum tentu
mabrur, mungkin ALLOH tahu kapasitas keimanan dan kapasitas keilmuan kita.
Oleh sebab itu, sekali lagi jangan terpukau oleh hasil, karena hasil yang
bagus menurut kita belum tentu bagus menurut perhitungan ALLOH. Kalau
misalnya kualifikasi mental kita hanya uang 50 juta yang mampu kita kelola.
Suatu saat ALLOH memberikan untung satu milyar, nah untung ini justru bisa
jadi musibah buat kita. Karena setiap datangnya rizki akan efektif kalau
iman kitanya bagus dan kalau ilmu kitanya bagus. Kalau tidak, datangnya
uang, datangnya gelar, datangnya pangkat, datangnya kedudukan, yang tidak
dibarengi kualitas pribadi kita yang bermutu sama dengan datangnya musibah.
Ada orang yang hina gara-gara dia punya kedudukan, karena kedudukannya tidak
dibarengi dengan kemampuan mental yang bagus, jadi petantang-petenteng, jadi
sombong, jadi sok tahu, maka dia jadi nista dan hina karena kedudukannya.
Ada orang yang terjerumus, bergelimang maksiat gara-gara dapat untung. Hal
ini karena ketika belum dapat untung akan susah ke tempat maksiat karena
uangnya juga tidak ada, tapi ketika punya untung sehingga uang melimpah-ruah
tiba-tiba dia begitu mudahnya mengakses tempat-tempat maksiat.
Nah, Sahabat. Selalulah kita nikmati proses. Seperti saat seorang ibu
membuat kue lebaran, ternyata kue lebaran yang hasilnya begitu enak itu
telah melewati proses yang begitu panjang dan lama. Mulai dari mencari
bahan-bahannya, memilah-milahnya, menyediakan peralatan yang pas, hingga
memadukannya dengan takaran yang tepat, dan sampai menungguinya di open. Dan
lihatlah ketika sudah jadi kue, baru dihidangkan beberapa menit saja, sudah
habis. Apalagi biasanya tidak dimakan sendirian oleh yang membuatnya.
Bayangkan kalau orang membuat kue tadi tidak menikmati proses membuatnya,
dia akan rugi karena dapat capeknya saja, karena hasil proses membuat kuenya
pun habis dengan seketika oleh orang lain. Artinya, ternyata yang kita
nikmati itu bukan sekedar hasil, tapi proses.
Begitu pula ketika ibu-ibu punya anak, lihatlah prosesnya. Hamilnya sembilan
bulan, sungguh begitu berat, tidur susah, berbaring sulit, berdiri berat,
jalan juga limbung, masya ALLOH. Kemudian saat melahirkannya pun berat dan
sakitnya juga setengah mati. Padahal setelah si anak lahir belum tentu balas
budi. Sudah perjuangan sekuat tenaga melahirkan, sewaktu kecil ngencingin,
ngeberakin, sekolah ditungguin, cengengnya luar biasa, di SD tidak mau
belajar (bahkan yang belajar, yang mengerjakan PR justru malah ibunya) dan
si anak malah jajan saja, saat masuk SMP mulai kumincir, masuk SMU mulai
coba-coba jatuh cinta. Bayangkanlah kalau semua proses mendidik dan mengurus
anak itu tidak pakai keikhlasan, maka akan sangat tidak sebanding antara
balas budi anak dengan pengorbanan ibu bapaknya. Bayangkan pula kalau
menunggu anaknya berhasil, sedangkan prosesnya sudah capek setengah mati
seperti itu, tiba-tiba anak meninggal, naudzhubillah, apa yang kita
dapatkan?
Oleh sebab itu, bagi para ibu, nikmatilah proses hamil sebagai ladang amal.
Nikmatilah proses mengurus anak, pusingnya, ngadat-nya, dan rewelnya anak
sebagai ladang amal. Nikmatilah proses mendidik anak, menyekolahkan anak,
dengan penuh jerih payah dan tetesan keringat sebagai ladang amal. Jangan
pikirkan apakah anak mau balas budi atau tidak, sebab kalau kita ikhlas
menjalani proses ini, insya ALLOH tidak akan pernah rugi. Karena memang
rizki kita bukan apa yang kita dapatkan, tapi apa yang dengan ikhlas dapat
kita lakukan. ***
Amal yang Tetap Bermakna
K.H. Abdullah Gymnastiar
Berhati-hatilah bagi orang-orang yang ibadahnya temporal, karena bisa jadi
perbuatan tersebut merupakan tanda-tanda keikhlasannya belum sempurna.
Karena aktivitas ibadah yang dilakukan secara temporal tiada lain, ukurannya
adalah urusan duniawi. Ia hanya akan dilakukan kalau sedang butuh, sedang
dilanda musibah, atau sedang disempitkan oleh ujian dan kesusahan,
meningkatlah amal ibadahnya. Tidak demikian halnya ketika pertolongan ALLOH
datang, kemudahan menghampiri, kesenangan berdatangan, justru kemampuannya
bersenang-senangnya bersama ALLOH malah menghilang.
Bagi yang amalnya temporal, ketika menjelang pernikahan tiba-tiba saja
ibadahnya jadi meningkat, shalat wajib tepat waktu, tahajud nampak khusu,
tapi anehnya ketika sudah menikah, jangankan tahajud, shalat subuh pun
terlambat. Ini perbuatan yang memalukan. Sudah diberi kesenangan, justru
malah melalaikan perintah-Nya. Harusnya sesudah menikah berusaha lebih gigih
lagi dalam ber-taqarrub kepada ALLOH sebagai bentuk ungkapan rasa syukur.
Ketika berwudhu, misalnya, ternyata disamping ada seorang ulama yang cukup
terkenal dan disegani, wudhu kita pun secara sadar atau tidak tiba-tiba
dibagus-baguskan. Lain lagi ketika tidak ada siapa pun yang melihat, wudhu
kitapun kembali dilakukan dengan seadanya dan lebih dipercepat.
Atau ketika menjadi imam shalat, bacaan Quran kita kadangkala
digetar-getarkan atau disedih-sedihkan agar orang lain ikut sedih. Tapi
sebaliknya ketika shalat sendiri, shalat kita menjadi kilat, padat, dan
cepat. Kalau shalat sendirian dia begitu gesit, tapi kalau ada orang lain
jadi kelihatan lebih bagus. Hati-hatilah bisa jadi ada sesuatu dibalik
ketidakikhlasan ibadah-ibadah kita ini. Karenanya kalau melihat amal-amal
yang kita lakukan jadi melemah kualitas dan kuantitasnya ketika diberi
kesenangan, maka itulah tanda bahwa kita kurang ikhlas dalam beramal.
Hal ini berbeda dengan hamba-hamba-Nya yang telah menggapai maqam ikhlas,
maqam dimana seorang hamba mampu beribadah secara istiqamah dan
terus-menerus berkesinambungan. Ketika diberi kesusahan, dia akan segera
saja bersimpuh sujud merindukan pertolongan ALLOH. Sedangkan ketika diberi
kelapangan dan kesenangan yang lebih lagi, justru dia semakin bersimpuh dan
bersyukur lagi atas nikmat-Nya ini.
Orang-orang yang ikhlas adalah orang yang kualitas beramalnya dalam kondisi
ada atau tidak ada orang yang memperhatikannya adalah sama saja. Berbeda
dengan orang yang kurang ikhlas, ibadahnya justru akan dilakukan lebih bagus
ketika ada orang lain memperhatikannya, apalagi bila orang tersebut
dihormati dan disegani.
Sungguh suatu keberuntungan yang sangat besar bagi orang-orang yang ikhlas
ini. Betapa tidak? Orang-orang yang ikhlas akan senantiasa dianugerahi
pahala, bahkan bagi orang-orang ikhlas, amal-amal mubah pun pahalanya akan
berubah jadi pahala amalan sunah atau wajib. Hal ini akibat niatnya yang
bagus.
Maka, bagi orang-orang yang ikhlas, dia tidak akan melakukan sesuatu kecuali
ia kemas niatnya lurus kepada ALLOH saja. Kalau hendak duduk di kursi
diucapkannya, "Bismilahirrahmanirrahiim, ya ALLOH semoga aktivitas duduk ini
menjadi amal kebaikan". Lisannya yang bening senantiasa memuji ALLOH atas
nikmatnya berupa karunia bisa duduk sehingga ia dapat beristirahat
menghilangkan kepenatan. Jadilah aktivitas duduk ini sarana taqarrub kepada
ALLOH.
Karena banyak pula orang yang melakukan aktivitas duduk, namun tidak
mendapatkan pertambahan nilai apapun, selain menaruh [maaf!] pantat di
kursi. Tidak usah heran bila suatu saat ALLOH memberi peringatan dengan
sakit ambaien atau bisul, sekedar kenang-kenangan bahwa aktivitas duduk
adalah anugerah nikmat yang ALLOH karuniakan kepada kita.
Begitupun ketika makan, sempurnakan niat dalam hati, sebab sudah seharusnya
di lubuk hati yang paling dalam kita meyakini bahwa ALLOH-lah yang memberi
makan tiap hari, tiada satu hari pun yang luput dari limpahan curahan
nikmatnya.
Kalau membeli sesuatu, perhitungkan juga bahwa apa yang dibeli diniatkan
karena ALLOH. Ketika membeli kendaraan, niatkan karena ALLOH. Karena menurut
Rasulullah SAW, kendaraan itu ada tiga jenis, 1) Kendaraan untuk ALLOH, 2)
Kendaraan untuk setan, 3) Kendaraan untuk dirinya sendiri. Apa cirinya?
Kalau niatnya benar, dipakai untuk maslahat ibadah, maslahat agama, maka
inilah kendaraan untuk ALLOH. Tapi kalau sekedar untuk pamer, ria, ujub,
maka inilah kendaraan untuk setan. Sedangkan kendaraan untuk dirinya
sendiri, misakan kuda dipelihara, dikembangbiakan, dipakai tanpa niat, maka
inilah kendaran untuk diri sendiri.
Pastikan bahwa jikalau kita membeli kendaraan, niat kita tiada lain hanyalah
karena ALLOH. Karenanya bermohon saja kepada ALLOH, "Ya ALLOH saya butuh
kendaraan yang layak, yang bisa meringankan untuk menuntut ilmu, yang bisa
meringankan untuk berbuat amal, yang bisa meringankan dalam menjaga amanah".
Subhanallah bagi orang yang telah meniatkan seperti ini, maka, bensinnya,
tempat duduknya, shockbreaker-nya, dan semuanya dari kendaraan itu ada dalam
timbangan kebaikan, insya ALLOH. Sebaliknya jika digunakan untuk maksiyat,
maka kita juga yang akan menanggungnya.
Kedahsyatan lain dari seorang hamba yang ikhlas adalah akan memperoleh
pahala amal, walaupun sebenarnya belum menyempurnakan amalnya, bahkan belum
mengamalkanya. Inilah istimewanya amalan orang yang ikhlas. Suatu saat hati
sudah meniatkan mau bangun malam untuk tahajud, "Ya ALLOH saya ingin
tahajud, bangunkan jam 03. 30 ya ALLOH". Weker pun diputar, istri diberi
tahu, "Mah, kalau mamah bangun duluan, bangunkan Papah. Jam setengah empat
kita akan tahajud. Ya ALLOH saya ingin bisa bersujud kepadamu di waktu
ijabahnya doa". Berdoa dan tidurlah ia dengan tekad bulat akan bangun
tahajud.
Sayangnya, ketika terbangun ternyata sudah azan subuh. Bagi hamba yang
ikhlas, justru dia akan gembira bercampur sedih. Sedih karena tidak kebagian
shalat tahajud dan gembira karena ia masih kebagian pahalanya. Bagi orang
yang sudah berniat untuk tahajud dan tidak dibangunkan oleh ALOH, maka kalau
ia sudah bertekad, ALLOH pasti akan memberikan pahalanya. Mungkin ALLOH
tahu, hari-hari yang kita lalui akan menguras banyak tenaga. ALLOH Mahatahu
apa yang akan terjadi, ALLOH juga Mahatahu bahwa kita mungkin telah defisit
energi karena kesibukan kita terlalu banyak. Hanya ALLOH-lah yang menidurkan
kita dengan pulas.
Sungguh apapun amal yang dilakukan seorang hamba yang ikhlas akan tetap
bermakna, akan tetap bernilai, dan akan tetap mendapatkan balasan pahala
yang setimpal. Subhanallah. ***
Suami, Pemimpin Bagi Keluarga
K.H. Abdullah Gymnastiar
Awal mula kehidupan seseorang berumah tangga dimulai dengan ijab-kabul. Saat
itulah yang halal bisa jadi haram, atau sebaliknya yang haram bisa jadi
halal. Demikianlah ALLOH telah menetapkan bahwa ijab-kabul walau hanya
beberapa patah kata dan hanya beberapa saat saja, tapi ternyata bisa
menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.
Saat itu terdapat mempelai pria, mempelai wanita, wali, dan saksi, lalu
ijab-kabul dilakukan, sahlah keduanya sebagai suami-istri. Status keduanya
pun berubah, asalnya kenalan biasa tiba-tiba jadi suami, asalnya tetangga
rumah tiba-tiba jadi istri. Orang tua pun yang tadinya sepasang, saat itu
tambah lagi sepasang. Karenanya, andaikata seseorang berumah tangga dan dia
tidak siap serta tidak mengerti bagaimana memposisikan diri, maka rumah
tangganya hanya akan menjadi awal berdatangannya aneka masalah.
Ketika seorang suami tidak sadar bahwa dirinya sudah beristri, lalu bersikap
seperti seorang yang belum beristri, akan jadi masalah. Dia juga punya
mertua, itupun harus menjadi bagian yang harus disadari oleh seorang suami.
Setahun, dua tahun kalau ALLOH mengijinkan akan punya anak, yang berarti
bertambah lagi status sebagai bapak. Ke mertua jadi anak, ke istri jadi
suami, ke anak jadi bapak. Bayangkan begitu banyak status yang disandang
yang kalau tidak tahu ilmunya justru status ini akan membawa mudharat.
Karenanya menikah itu tidak semudah yang diduga, pernikahan yang tanpa ilmu
berarti segera bersiaplah untuk mengarungi aneka derita. Kenapa ada orang
yang stress dalam rumah tangganya? Hal ini terjadi karena ilmunya tidak
memadai dengan masalah yang dihadapinya.
Begitu juga bagi wanita yang menikah, ia akan jadi seorang istri. Tentusaja
tidak bisa sembarangan kalau sudah menjadi istri, karena memang sudah ada
ikatan tersendiri. Status juga bertambah, jadi anak dari mertua, ketika
punya anak jadi ibu. Demikianlah, ALLOH telah menyetingnya sedemikian rupa,
sehingga suami dan istri, keduanya mempunyai peran yang berbeda-beda.
Tidak bisa menuntut emansipasi, karena memang tidak perlu ada emansipasi,
yang diperlukan adalah saling melengkapi. Seperti halnya sebuah bangunan
yang menjulang tinggi, ternyata dapat berdiri kokoh karena adanya prinsip
saling melengkapi. Ada semen, bata, pasir, beton, kayu, dan bahan-bahan
bangunan lainnya lalu bergabung dengan tepat sesuai posisi dan proporsinya
sehingga kokohlah bangunan itu.
Sebuah rumah tangga juga demikian, jika suami tidak tahu posisi, tidak tahu
hak dan kewajiban, begitu juga istri tidak tahu posisi, anak tidak tahu
posisi, mertua tidak tahu posisi, maka akan seperti bangunan yang tidak
diatur komposisi bahan-bahan pembangunnya, ia akan segera ambruk tidak
karu-karuan. Begitu juga jika mertua tidak pandai-pandai jaga diri, misal
dengan mengintervensi langsung pada manajemen rumah tangga anak, maka sang
mertua sebenarnya tengah mengaduk-aduk rumah tangga anaknya sendiri.
Seorang suami juga harus sadar bahwa ia pemimpin dalam rumah tangga. ALLOH
SWT berfirman, "Laki-laki adalah pemimpin kaum wanita, karena ALLOH telah
melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lainnya dan karena mereka
telah membelanjakan sebagian harta mereka..." (Q.S. An-Nissa [4]: 34).
Dan seorang pemimpin hanya akan jadi pemimpin jika ada yang dipimpin.
Artinya, jangan merasa lebih dari yang dipimpin. Seperti halnya presiden
tidak usah sombong kepada rakyatnya, karena kalau tidak ada rakyat lalu
mengaku jadi presiden, bisa dianggap orang gila. Makanya, presiden jangan
merendahkan rakyat, karena dengan adanya rakyat dia jadi presiden.
Sama halnya dengan kasus orang yang menghina tukang jahit, padahal bajunya
sendiri dijahit, "Hmm, tukang jahit itu pegawai rendahan". Coba kalau
bajunya tidak dijahitkan oleh tukang jahit, tentu dia akan kerepotan menutup
auratnya. Dia dihormati karena bajunya diselesaikan tukang jahit. Lain lagi
dengan yang menghina tukang sepatu, "Ah, dia mah cuma tukang sepatu". Sambil
dia kemana-mana bergaya memakai sepatu.
Tidak layak seorang pemimpin merasa lebih dari yang dipimpin, karena status
pemimpin itu ada jikalau ada yang dipimpin. Misalkan, istrinya bergelar
master lulusan luar negeri sedangkan suaminya lulusan SMU, dalam hal
kepemimpinan rumah tangga tetap tidak bisa jadi berbalik dengan istri
menjadi pemimpin keluarga. Dalam kasus lain, misalkan, di kantornya istri
jadi atasan, suami kebetulan stafnya, saat di rumah beda urusannya. Seorang
suami tetaplah pemimpin bagi istri dan anak-anaknya.
Oleh karena itu, bagi para suami jangan sampai kehilangan kewajiban sebagai
suami. Suami adalah tulang punggung keluarga, seumpama pilot bagi pesawat
terbang, nakhoda bagi kapal laut, masinis bagi kereta api, sopir bagi
angkutan kota, atau sais bagi sebuah delman. Demikianlah suami adalah
seorang pemimpin bagi keluarganya. Sebagai seorang pemimpin harus berpikir
bagaimana nih mengatur bahtera rumah tangga ini mampu berkelok-kelok dalam
mengarungi badai gelombang agar bisa mendarat bersama semua awak kapal lain
untuk menepi di pantai harapan, suatu tempat di akhirat nanti, yaitu surga.
Karenanya seorang suami harus tahu ilmu bagaimana mengarungi badai, ombak,
relung, dan pusaran air, supaya selamat tiba di pantai harapan. Tidak ada
salahnya ketika akan menikah kita merenung sejenak, "Saya ini sudah punya
kemampuan atau belum untuk menyelamatkan anak dan istri dalam mengarungi
bahtera kehidupan sehingga bisa kembali ke pantai pulang nanti?!". Karena
menikah bukan hanya masalah mampu cari uang, walau ini juga penting, tapi
bukan salah satu yang terpenting. Suami bekerja keras membanting tulang
memeras keringat, tapi ternyata tidak shalat, sungguh sangat merugi.
Ingatlah karena kalau sekedar cari uang, harap tahu saja bahwa garong juga
tujuannya cuma cari uang, lalu apa bedanya dengan garong?! Hanya beda cara
saja, tapi kalau cita-citanya sama, apa bedanya?
Buat kita cari nafkah itu termasuk dalam proses mengendalikan bahtera. Tiada
lain supaya makanan yang jadi keringat statusnya halal, supaya baju yang
dipakai statusnya halal, atau agar kalau beli buku juga dari rijki yang
statusnya halal. Hati-hatilah, walaupun di kantong terlihat banyak uang,
tetap harus pintar-pintar mengendalikan penggunaannya, jangan sampai asal
main comot. Seperti halnya ketika mancing ikan di tengah lautan, walaupun
nampak banyak ikan, tetap harus hati-hati, siapa tahu yang nyangkut
dipancing ikan hiu yang justru bisa mengunyah kita, atau nampak manis
gemulai tapi ternyata ikan duyung.
Ketika ijab kabul, seorang suami harusnya bertekad, "Saya harus mampu
memimpin rumah tangga ini mengarungi episode hidup yang sebentar di dunia
agar seluruh anggota awak kapal dan penumpang bisa selamat sampai tujuan
akhir, yaitu surga". Bahkan jikalau dalam kapal ikut penumpang lain,
misalkan ada pembantu, ponakan, atau yang lainnya, maka sebagai pemimpin
tugasnya sama juga, yaitu harus membawa mereka ke tujuan akhir yang sama,
yaitu surga.
ALLOH Azza wa Jalla mengingatkan kita dalam sabdanya, "Hai orang-orang yang
beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan
bakarnya adalah manusia dan batu..." (Q.S. At Tahriim [66]:6).
Kepada pembantu jangan hanya mampu nyuruh kerja saja, karena kalau saja dulu
lahirnya ALLOH tukarkan, majikan lahir dari orang tua pembantu, dan pembantu
lahir dari orang tua majikan, maka si majikan yang justru sekarang lagi
ngepel. Pembantu adalah titipan ALLOH, kita harus mendidiknya dengan baik,
kita sejahterakan lahir batinnya, kita tambah ilmunya, mudah-mudahan orang
tuanya bantu-bantu di kita, anaknya bisa lebih tinggi pendidikannya, dan
yang terpenting lagi lebih tinggi akhlaknya.
Inilah pemimpin ideal, yaitu pemimpin yang bersungguh-sungguh mau memajukan
setiap orang yang dipimpinnya. Siapapun orangnya didorong agar menjadi lebih
maju. ***
> ----------
> From: Elthaf[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Reply To: [EMAIL PROTECTED]
> Sent: Tuesday, March 19, 2002 4:00 PM
> To: '[EMAIL PROTECTED]'; '[EMAIL PROTECTED]';
> '[EMAIL PROTECTED]'; '[EMAIL PROTECTED]'
> Subject: RE: [IASMA1/B-BKT] Kopian Ceramah Aa GYM (2)
>
> Ambo sambuang untuak judul salanjuiknyo, ambo agiah banomor bia
> sanang mangumpuakannyo, samantaro untuak hari ko ambo cukuikkan sagitu
> dulu,
> insya Allah awak sambuang nanti.
> Maaf bagi nan indak berkenan.
> Wassalam
> Elthaf
>
> > Menggapai Hidup Berkah
> > K.H. Abdullah Gymnastiar
> >
> > Bismillahirrahmaanirrahiim
>
RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================