Ada anekdot yang mengatakan bahwa otak orang Indonesia sangat mahal
dan banyak diburu dibandingkan otak barat. Tapi jangan bangga dulu,
maksud lelucon itu adalah mahalnya otak tersebut karena �kosong� atau
belum pernah digunakan berpikir sama sekali, sedangkan otak orang
barat sudah penuh.
Tersinggung? Ya, tapi ada baiknya jika hal itu dapat menjadi ruang
bagi masyarakat untuk mengaca diri, berhasilkah pendidikan yang telah
berjalan, mampu mencapai sasarannya �Manusia Indonesia Seutuhnya�?
Bicara tentang pendidikan pasti tidak lepas dari siapa pelaku-pelaku
pendidikan itu sendiri dan mutu pendidikan yang dihasilkannya. Dulu
sejak seseorang telah menyandang predikat sebagai guru, ia otomatis
digugu dan ditiru (diteladani)karena disanalah terlihat sosok ideal
manusia. Masyarakat kala itu benar-benar tunduk dan patuh kepada apa
yang dikatakan oleh sang guru. Profesi guru juga benar-benar
menjanjikan kehidupan yang layak. Bahkan dalam kisah Mahabarata,
terdapat nilai-nilai tradisional yang membuktikan keberadaan seorang
guru yang sangat disegani. Singkat diceritakan bahwa keberpihakan
seorang Dorna-guru para Pandawa dan Kurawa- di pihak Kurawa tidak
mengurangi rasa hormat Pandawa kepada mantan gurunya itu.
Namun realita saat ini menunjukkan bahwa kedudukan guru di mata
masyarakat hampir berbalik 180 derajat. Profesi guru tidak lagi
menjadi primadona. Guru identik dengan kemelaratan dan kesusahan,
sehingga orang yang menjadi guru tidak lagi memiliki kebanggaan atas
kewajibannya, parahnya lagi kewibawaan yang seharusnya dipegang oleh
guru sebagai pembawa misi pendidikan bangsa, semakin tergeser oleh
berubahnya nilai budaya masyarakat ataupun karena mereka sendiri yang
kemampuannya semakin terbatas pada kegiatan �mengajar� tanpa
dibarengi dengan kegiatan �mendidik�. Gelar �guru tanpa jasa�pun yang
telah berubah menjadi �guru menuntut jasa�. Dulu mungkin penghargaan
berupa rasa hormat sudah lebih dari cukup, namun semakin meningkatnya
tuntutan hidup, materi juga menjadi suatu yang urgen baginya. Dan
kemungkinan besar atas dasar inilah tuntutan profesinya sebagai guru
terlupakan karena kesibukan mereka di luar. Sehingga tak heran jika
terlihat guru yang sudah lelah sebelum mengajar, karena malam hari
harus ngojek untuk menopang biaya hidupnya, dosen-dosen yang mengejar
proyek sehingga terlalu sibuk untuk mengingat jam mengajarnya, bahkan
sempat terjadi demonstrasi guru besar-besaran di berbagai tempat
untuk menuntut haknya yang sebenarnya tidak dapat menjadi contoh baik
bagi anak didiknya, walaupun itu lebih disebabkan oleh pemerintah
yang kurang adil dalam menetapkan kebijakan bagi mereka.
***
Pada abad V sM muncul sekelompok pendidik yang menyebut dirinya
�sofis�. Kelompok pemberi kontribusi penting bagi sistem pendidikan
Athena ini menentang absolutisme, sebab menurut mereka setiap orang
dapat menginterpretasikan segala sesuatu menurut dirinya sendiri.
Di sinilah ditunjukkan bahwa guru yang baik adalah guru yang mampu
memberikan ruang kebebasan berpikir bagi anak didiknya, dengan tetap
memberikan bimbingan. Membawa mereka untuk menjadi orang yang tidak
hanya berilmu tapi juga berkarakter dan bermoral.
Mengaca kembali pada perlunya pendidikan. Masyarakat Indonesia masih
belum dewasa menanggapi pentingnya pendidikan bagi masa depan mereka.
Contoh konkrit yaitu maraknya perdagangan gelar pada awal tahun 90-an
(ketika gelar kebangsawanan sudah tidak berarti lagi) oleh beberapa
lembaga pendidikan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan
keabsahannya bahkan bisa masuk dalam katagori penipuan yang
transparan.Orientasi pendidikan semakin menciut sebagai penghasil
manusia-manusia yang berpredikat sebagai barang dagangan, pemuas
kebutuhan industri, tanpa sanggup menciptakan lapangan kerja sendiri.
Dan hanya beberapa gelintir saja yang berhasil menjadi
pemikir/ilmuwan. Lalu gurukah yang bertanggung jawab atas kegagalan
pendidikan bangsa, dengan alasan bahwa keberhasilan pendidikan tidak
bisa dilepaskan dari kualifikasi personalnya ?
Dilema yang dihadapi guru memang tidak dapat begitu saja
melepaskannya sebagai penanggung-jawab keberhasilan pendidikan.
Tetapi bagaimana peran sistem pendidikan yang ada,sebagai pencipta
iklim yang kondusif dalam membentuk proses belajar-mengajar yang
efektif.
Menurut data survey tahun 1999, dari 79 universitas di dunia yang
masuk ranking (mutu), Indonesia paling tinggi hanya berada nomor 67
yaitu UGM sedangkan UI di nomor 70 , sedangkan Malaysia sa ja sudah
mencapai ranking 27 yang lumayan jauh dari kita. Apa yang menyebabkan
rendahnya mutu pendidikan kita, sehingga setiap tahunnya orang
berbondong-bondong untuk belajar ke luar negeri ?
Selama ini sistem pendidikan yang telah diterapkan telah berhasil
meninabobokkan rasa ingin tahu, bahkan menurut Mochtar Bukhori
seorang pengamat pendidikan, universtias kita kini telah kehilangan
keingintahuannya, padahal curiousitas inilah yang mutlak diperlukan
untuk melahirkan penelitian-penelitian yang merupakan cara bagi
civitas akademika menjaga dan meningkatkan kualitasnya sebagai
ilmuwan.
Campur tangan pemerintah juga masih cukup besar dalam dunia
pendidikan. Sampai saat ini saja kurikulum nasional dibandingkan
lokal 80 : 20, sedangkan anggaran yang diberikan sangat minim.
Menurut salah satu staf pusat penelitian Unmer Malang, Drs. Budi
Prianto, MS .�Seorang pengajar tidak bisa disalahkan 100 %, lihat
sistem pendidikan Indonesia selama ini. Pada masa Orde baru,
pendidikan menganut sistem sentralistik yang bertujuan untuk
memperkuat kedudukan penguasa. Kita sudah digiring untuk selalu
berpikiran �lurus�, misalnya saja sejarah. Murid tidak pernah tahu,
siapa sebenarnya Tan Malaka, Sutan Sahrir, dan pemikir-pemikir bangsa
yang lain, kita dibiasakan menerima begitu saja sejarah yang dibuat,
diciptakan sebagai pembebek atau pengikut, dan salah satu dampaknya,
kita tetap dijajah (ekonomi) oleh negara yang lebih maju. Selain itu
sistem juga membatasi ruang gerak seorang dosen. Mereka diharuskan
untuk mematuhi kurikulum nasional yang telah ditetapkan, dan tuntutan
di luar seperti IPK tinggi bagi lulusan sarjana, diperlukan dalam
dunia kerja sehingga mutu pendidikan yang berlaku hanya berorientasi
pada nilai yang tinggi saja dan akhirnya dosen pun berusaha membantu
mahasiswanya untuk mendapat IPK yang bagus.�
Berkaitan dengan mutu guru, di Amerika seorang calon guru harus
terlebih dahulu memiliki lisensi untuk menyatakan dirinya layak
mengajar. Sedangkan di Indonesia ujian yang diberikan kepada calon
guru belum menjamin mutu guru tersebut. Menurut salah satu dosen
satra Universitas Negeri Malang, Djoko Saryono, Mpd. dalam diskusi
�Sastrawan Bangsa� pada Bazar Murah TP, �Memang sulit bagi kita
sebagai salah satu institusi (yang telah mencetak ratusan guru) untuk
membentuk sosok guru ideal. Misalnya di jurusan saya, mahasiswa akan
bingung jika disuruh menghabiskan 25 buku sastra dalam sebulan,
padahal di Malaysia hal itu sudah biasa bagi anak-anak. Belum lagi
usaha pemerintah yang kurang untuk menyediakan bacaan sastra atau
bacaan lainnya yang bermutu, bahkan jaman Orba, sastrawan-sastrawan
yang kreatif dan produktif menghasilkan karya berbobot banyak yang
ditangkap. Jadi sangat sulit bagi kami sendiri untuk mengembangkan
kemampuan mereka di bidangnya sendiri, karena faktor kebiasaan juga
sangat berperan di dalamnya.�
Memang jika dibandingkan dengan Indonesia, di negara maju sudah
disadari bahwa 90% karakter seseorang dibentuk dari lingkungannya
sehingga untuk menciptakan sikap kritis dan curious telah dikenalkan
pada anak usia sekolah dasar. Pada momen inilah guru sebagai pelempar
kain, telah memberikan umpan-umpan untuk pengembangan pola pikir
mereka, sehingga setelah makin meningkat jenjang pendidikannya,
dengan sendirinya ilmu akan mudah diserap dan dikembangkan, dan ilmu
sendiri menjadi tetap hidup bukan menjadi harga mati, dan tentu saja
dengan dukungan sistem yang ada.
Buek email gratis di http://sungaipagu.zzn.com
____________________________________________________________
Get your own FREE Web and POP E-mail Service in 14 languages at http://www.zzn.com.
RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
==============================================Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
==============================================