Karena bersifat egaliter, Minang pun menelorkan tokoh macam Agus
Salim, Hatta, M. Natsir, dan Tan Malaka. Kini, kok, defensif?

SIAPAKAH kita dan mereka? Samuel P. Huntington dalam buku Benturan
Antarperadaban dan Masa Depan Politik Dunia (Penerbit Qalam
Yogyakarta, Cetakan Kedua 2001, Red) menjawab: "Kita akan tahu siapa
kita ketika kita mengetahui siapa 'yang bukan kita' dan itu hanya
akan dapat kita ketahui melalui 'dengan siapa kita sedang
berhadapan'." Memang, kata Huntington, "Setelah berakirnya Perang
Dingin, yang menjadi persoalan terpenting bukan persoalan-persoalan
ideologis, politik, atau ekonomi, tetapi persoalan budaya."

Pengantar seperti di atas ditulis Suwarno Wisetrotomo, kritikus seni
rupa dari Yogyakarta, dalam katalog pameran Festival Kesenian
Indonesia II/2001 pada 1-5 September lalu di Padangpanjang Sumatera
Barat. Agaknya itu relevan dengan tema festival, "Pluralisme dan
Budaya Bangsa", sehingga Suwarno sekali lagi mengutip Huntington:
"Orang-orang yang saling terpisahkan oleh iedologi dapat tersatukan
melalui kebudayaan."

Festival ini diikuti 400 peserta yang berdatangan dari STSI Denpasar,
STKW Surabaya, STSI Surakarta, ISI Yogyakarta, STSI Bandung, IKJ
Jakarta, STSI Padangpanjang, dan untusan dari University Teknologi
Mara Malaysia, Sekolah Tinggi Seni Malaka, dan Institut Seni
Kebangsaan Malaysia --dan dibuka Presiden RI Megawati Soekarnoputri.

Wartawan GAMMA, Bersihar Lubis dan Marjeni Rokcalva, mewawancarai
Prof. Dr. Mursal Esten, Ketua STSI Padang Panjang, dan sekaligus
ketua panitia festival. Petikannya:

Mengapa pluralisme menjadi tema?

Di tengah-tengah ancaman disintegrasi bangsa, kesenian dan kebudayaan
merupakan solusi karena budaya keberagaman itu bisa merekatkan.
Ajaran agama juga mengajarkan bahwa manusia dijadikan bergolong-
golongan supaya bisa mengenal dan bersatu.

Logikanya dalam operasional bagaimana?

Kadang-kadang kita tidak sadar bahwa kita berbeda, sehingga
terjadilah konflik. Kalau dari awal kita sadar berbeda, itu suatu
awal yang membuat perbedaan itu menjadi indah. Memang, dalam
kebijaksanaan yang sentralistik dulu, kita (dipaksa) dipersatukan.
Kita lupa bahwa kita bhineka.

Lalu, peran apa yang bisa diambil sekolah tinggi seni?

Selain sekolahan, STSI adalah pusat pengembangan suatu kebudayaan
tradisi menjadi kesenian baru, kesenian Indonesia, kesenian global,
walau tetap memiliki akar masing-masing. Harus diingat bahwa
mengembangkan tradisi itu tidak bisa secara emosi yang berujung pada
euforia kedaerahan. Hal itu harus jernih, rasional, dan akademis.
Emosi dan euforia kedaerahan hanya akan melahirkan budaya yang
mengatakan bahwa budaya daerahnya saja yang adiluhung, sedang yang
lain tidak.

Baiklah. Tapi, mengapa STSI masih memakai nama Indonesia. Bukankah
"seni" itu bersifat universal?.

Masih beruntung dengan nama STSI. Dulu namanya ASKI (Akademi Seni
Karawitan Indonesia). Dalam kosakata Minang, tidak ada kata
karawitan. Itu kosakata Jawa. Tapi saya keberatan memakai nama
sekolah tinggi seni nasional karena mengarah ke sentralistik,
penyeragaman. Apalagi, pengertian nasionalis itu berorientasi kepada
negara (state), dan notabene juga kekuasaaan. Indonesia adalah
Nusantara yang berbeda-beda. Misalnya, Minangkabau yang Indonesia,
Jawa ya Indonesia.

Ngomong-ngomong, yang mana, sih, kesenian tradisi itu

Tradisi itu adalah budaya yang melekat di masyarakat. Kalau tidak
melekat lagi, itu bukan tradisi. Misalnya, di masyarakat kota harus
ada kesenian kota yang membentuk suatu tradisi kesenian ---bukan
kesenian tradisi. Namun, di kota-kota Indonesia tradisi kesenian itu
belum terbangun, sementara kesenian tradisi sudah mulai ditinggalkan.

Oke. Tapi, di banyak ruas jalan kota Padang, kita melihat banyak
gapura yang melambangkan arsitektur> bagonjong Minang.

Minang itu ada dua klasifikasinya. Pertama, dareh (daerah
pedalaman/pegunungan). Itu Minang kental, yakni Luhak Nan Tigo (Tanah
Datar, Agam, dan 50 Kota). Kedua, daerah rantau yang terletak di
kawasan pesisir Sumatera Barat.

Tapi, arsitektur gonjong hingga ke kantor-kantor pemerintahan. Apakah
itu tidak penyeragaman?

Sebetulnya, Minang itu beragam dengan pepatah adat salingkah nagari
(adat selingkar nagari). Nagari satu dengan nagari lain di Minang itu
berbeda. Kesenian di Minang adalah bagian dari adat. Jadi, lain
nagari, lain kesenian.

Jadi, gapura itu berarti penyeragaman, bukan?

Sementara, boleh saja, sekadar pandangan pertama saja. Misalnya, ada
bangunan hotel yang modern. Untuk memberikan benang merah, dibuatlah
hiasan gonjong itu. Ya, sebagai ornamen saja. Dan saya tak kawatir
akan menjurus kepada penyeragaman. Apalagi, gonjong itu sendiri ada
macam-macam bentuknya.

Sekarang, bagaimana visi STSI ke depan?

Jangan lagi tradisional dan konservatif. Jangan setelah menjadi
pengurus LKAAM (Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau) orang yang
tadinya berpikiran maju bisa menjadi tradisional dan konservatif.
Bahkan, kesukaan kalangan eksekutif dan anggota DPRD dengan kata-kata
"kembali ke nagari" atau "kembali ke surau" adalah masa lalu.

Kalau masih defensif, yang terjadi kembali ke seni tradisi dengan
keinginan mempertahankan budaya yang adat basandi syara, syara
basandi kitabullah (ABS-SBK), dan lalu dibuat sebuah perda, seperti
Perda Pemberantasan Maksiat, segala macamnya. Padahal, antisipasinya
harus lewat pendidikan. Seperti mendirikan pondok pesantren yang
bermutu. Sekarang, kan, banyak orang menyekolahkan anaknya ke pondok
pesantren di Jawa. Mestinya di sini dibangun, apalagi di masa silam
pernah ada Madrasah Thawalib Sumatera yang terkenal itu. Kini kondisi
pendidikan di sini di bawah standar. Daerah ini hanya mabuk dengan
moto saja, seperti "Padangpanjang Kota Serambi Mekah".

Tapi, substansi kebudayaan lama itu perlu, kan?

Yang mana substansi kebudayaan lama itu? Di Minang, yang intinya
seolah-olah ABS-SBK. Padahal, daerah-daerah lain lebih dari Minang
dalam soal ketakwaan atau agamanya. Kelebihan Minangkabau itu adalah
masyarakatnya yang egaliter. Di Indonesia tidak ada masyarakat yang
seegaliter orang Minang. Ini dilupakan sekarang. Sekarang orang
Minang atau elite Minang itu kelihatan lebih feodal daripada orang
Jawa, seperti gubernur yang menaruh hormat ke pusat secara
berlebihan.

Substansi egaliter itu apa?

Egaliter itu, ya, terbuka. Masyarakat Minang paling terbuka terhadap
perubahan. Kalau masyarakat sekarang bersifat defensif, itu bukan
sifat orang Minang. Tokoh Minang yang dulunya menjadi hebat, seperti
Muhammad Yamin, Hatta, Agus Salim, M. Natsir, dan Tan Malaka, karena
menganut sikap egaliter. Orang Minang yang pintar mesti mengkritik
dan memperbarui adat. Pengarang Abdul Muis, misalnya. Cerita Siti
Nurbaya itu mengkritik adat. Mengkritik adat akan membuat adat selalu
baik. Hamka, misalnya. Saat itu ada pendapat di kalangan ulama bahwa
menulis roman itu haram. Hamka bahkan menulis roman Tenggelamnya
Kapal Van der Wick.

Adakah contoh pembaruan seni di STSI Padangpanjang?

Ada, tari baru tapi jelas akarnya dari Minang. Kreativitas amat
mutlak diperlukan. Seperti yang dilakukan koreografer Ery Mefri
dengan tari "Bundo Kanduang". Tari-tarinya sangat kontemporer, tapi
jelas akarnya, walaupun telah mendekonstruksikan mitos Minang.

Tapi, banyak orangtua mengkritik tari Ery Mefri itu?

Ada seorang pimpinan DPRD memprotes saya. Namun, setelah menonton
beberapa kali dan mungkin mempelajari, ia menyadari dan minta maaf.
Bahkan, suatu kali saya pernah mendengar kemarahan dari Azwar Anas,
mantan gubernur di sini. Dia marah sekali kalau penari tidak
berpakaian bagus dan cantik-cantik. Jadi, barangkali, ia menonton
seni itu hanya sebagai hiburan, bukan sebagai refleksi budaya yang
mendalam.

-BLU






Buek email gratis di http://sungaipagu.zzn.com
____________________________________________________________
Get your own FREE Web and POP E-mail Service in 14 languages at http://www.zzn.com.

RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ATAU Kirimkan email Ke/To: [EMAIL PROTECTED] Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama: -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda] -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda] Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung ===============================================

Kirim email ke