----- Original Message -----



Setelah sekian lama, saya mencigap milis rantaunet dan ternyata ada
semacam polemik atas pemberhentian saya sebagai "manusia" di sana.

Penguasa milis dan beberapa penganutnya tetap menuding saya sebagai
pelaku flaming di milis tersebut, yaitu menggunakan kata-kata yang kasar.
Sayangnya, tidak diutarakan secara konkrit kata kasar yang dimaksud dan
juga tidak dianggap sebagai "kata kasar" ketika anggotanya menyemburkan
ludahnya ke muka saya dengan kata-kata sopan seperti "iblis" dan
sebagainya. Penerapan standar ganda oleh sisa manusia berpikiran gelap
gulita dan represif yang persis seperti pemerintahan orde baru.>>>>>
 
 
 
Evi:
 
Yth. Pang si Pengugugat Ideologi Padang Pasir,
 
Kata kasar yang di maksud adalah "menggugat ideologi padang pasir". Aku sudah pelajari beberapa arsip postingan kamu. Tampaknya belakangan kamu memang sudah mulai jadi anak manis dengan mulai belajar bahasa manisnya "urpas dan JD". Cuma yang tak lapung dek hujan dan tak lekang dek paneh dari merek kamu adalah "ideologi padang pasir tandus". Ini lah kosa kata yang paling "mematikan" yang membuat maut dengan cepat menjemputmu.
 
Tapi sudah lah, aku tak ingin berleha-leha dengan apa yang menjadi merk kamu dan sesuatu yang menjadi "tolakan" bagi sebagian besar warga RN. Aku adalah perempuan manis (hehe...) dan tetap pengen jadi anak manis. Mendingan aku  belajar menjadi seorang deepthinkers, sapa tahu suatu hari hadiah nobel jatuh ke RN.
 
Pernah dengar kosa kata immaturity? (hehehe...Rasain! Biar dikau tidak nyindir aku terus yang sedang belajar bahasa inggris). Ya, itu, ketidak dewasaan atau ketidak matangan kita sebagai human beings dalam human affairs. Immaturity ini nongol dalam banyak bentuk tapi antara lain dapat kamu temukan pada sifat kita yang mo menang sendiri, egotism, animality, ketidak pedulian, ketakutan, dan kekerasan.Sebetulnya jika setiap orang mengenali kualitas kemanusiaannya yang lainnya seperti selflessness, compassion, courage, wisdom, and love(yang sebenarnya setiap orang pasti juga punya) lalu menempatkannya sebagai porsi pembanding,pada akhirnya setiap orang akan menyadari bahwa immaturity sebetulnya hanyalah sebentuk uncompleted stage of evolution in the natural state of mankind, atau evolusi yang belum sempurna dalam perjalanan kemanusiaan kita. Dan kita juga adalah individu yang self-awareness dan cukup pintar untuk membangun sebuah personal ego yang kuat tapi karena sebagian besar dari kita belum cukup cerdik untuk mengembangkan the spiritual insight dalam berinteraksi, yah, akibatnya seperti yang kamu temui in your used to be battlefield, Rantaunet.
 
Memaki is okey asal itu dalam korider kesadaran bersama. Menghina orang is alright asal itu dalam rangka menjaga nilai-nilai yang dipercayai menjadi milik bersama. Analogi kejadian ini persis seperti cerita sebuah film buatan Iran (seperti biasa sudah tidak ingat apa judulnya) di situ ada seorang suami yang memukuli istrinya sambil melantunkan ayat2 suci al Quran dan diikuti oleh beberapa hadist. Katanya sih itu semua dia lakukan karena cinta pada istri agar istrinya kelak tidak masuk neraka. Kekerasan is alright in the name of Allah. Tapi tampaknya si suami tidak sedang berpijak di atas bumi, dia terkurung dalam menara gadingnya sendiri. Juga ia cuma punya mata sebelah karena dia tidak bisa melihat sisi lain dari sebuah koin bahwa sebelum  sang istri masuk neraka akhirat dia terlebih dahulu sudah mencobai bagaimana "sedapnya" neraka dunia sehingga konsep neraka akhirat tidak seberapa menakutkan lagi.
 
We are all nothing if we could not practicing understanding, compassion in all aspects of our personal development.
 
 
Evi
 

Kirim email ke