http://www.kompas.com/kompas-cetak/0204/15/dikbud/posi32.htm


Senin, 15 April 2002



Posisi Perempuan dalam Konstelasi Politik Sumbar

WACANA dan bahkan perdebatan soal posisi perempuan dalam konstelasi politik 
di Sumatera Barat (Sumbar), ternyata tak habis-habisnya. Apalagi pada era 
kembali ke Pemerintahan Nagari yang telah dicanangkan tahun 2001 lalu, kaum 
perempuan setempat sangat berharap diberi peluang sama dengan laki-laki, 
jangan lagi dianggap sebagai warga negara "kelas dua".

Dari data yang ditampilkan Bakaruddin R Ahmad, peneliti dari Fakultas Ilmu 
Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas, Padang, dari lebih 500 nagari 
yang sudah diresmikan, perempuan yang menduduki jabatan wali nagari hanya 
empat orang, yakni di Nagari Kotobaru Simalanggang dan Nagari Suayan di 
Kabupaten 50 Kota, Nagari Lawang Tigobalai di Kabupaten Agam, dan Nagari 
Simpang Tonang, Kabupaten Pasaman. Sedang di lembaga legislatif di provinsi 
dan kabupaten/kota hanya ada 21 perempuan.

"Dalam era otonomi daerah, di mana Sumbar kembali ke nagari, meski sedih 
kedengarannya, perempuan masih menduduki posisi warga negara kelas dua dalam 
politik lokal Sumbar," katanya, di seminar Posisi Perempuan dalam Konstelasi 
Politik Sumatera Barat, Sabtu (30/3), di Padang.

Menurut sensus tahun 2000, jumlah penduduk perempuan ada 2.160.320 orang dan 
laki-laki 2.067.788. Tetapi, tingkat pendidikan perempuan lebih rendah 
dibandingkan laki-laki. Terdapat bias jender di bidang pendidikan di mana 
semakin tinggi tingkat pendidikan persentase perempuannya semakin kecil, 
kecuali yang menamatkan akademi/universitas. Sekurang-kurangnya inilah yang 
menyebabkan sedikitnya perempuan dalam konstelasi politik lokal Sumatera 
Barat.

Namun demikian, seperti diungkapkan Mantan Menteri Sosial Nani Soedarsono di 
forum sama, kondisi perempuan Sumbar relatif lebih baik dibanding sebagian 
besar kawasan Indonesia lainnya.

Ia menyebutkan, Human Development Index (HDI) Sumbar tahun 1999 meningkat ke 
peringkat ke-9 dari peringkat ke-11 di tahun 1966, dengan skor meningkat 
dari 63,8 menjadi 65,5. Skor Gender-related Development Index (GDI) pada 
tahun 1996 adalah 65,0 dan berada pada peringkat ke-4 nasional. Yang 
menarik, skor GDI-nya justru menurun tahun 1999 menjadi 60,7 dan peringkat 
turun menjadi 5 di bawah Yogyakarta (1), Jakarta (2), Sumatera Utara (3), 
dan Maluku (4). Sementara skor Gender Empowerment Measure (GEM), yang diukur 
antara lain dari keterwakilan perempuan di parlemen, adalah 51,5 dan berada 
di peringkat ke-8, naik dari peringkat ke-9 tahun 1996.

"Kondisi ini seyogianya dijadikan aset. Sejak lama saya melihat kaum 
perempuan Sumbar tangguh, ulet, dan tidak sekadar menunggu. Perempuan Sumbar 
mempunyai karakter tidak mau kalah dari kaum lelakinya, termasuk dalam 
membuat keputusan di tingkat domestik maupun publik. Kultur seperti ini 
yaitu keberanian berkompetisi dengan basis kemauan meningkatkan kualitas 
karya dan kekaryaan adalah aset yang tidak boleh disia-siakan," tambah Nani.


***
PEREMPUAN Minang atau Sumbar secara internal, menurut Ahmad yang intens 
meneliti perempuan Minang sejak tahun 1994 sampai tahun 2002, memiliki 
kekuatan basis kultural mapan, yaitu sistem matrilineal.

Sistem ini membuat perempuan menempati posisi sentral dalam masyarakatnya, 
yang dilukiskan dalam metafora yang bila diterjemahkan berarti "Bunda 
kandung, rama-rama rumah gadang, penguasa rumah pemegang kunci, penguasa 
pemegang harta pusaka, pusat jala himpunan tali, hiasan dalam nagari, waktu 
hidup tempat bernazar, kalau meninggal tempat berniat, sebagai pelindung ke 
Madinah, payung panji ke dalam surga".

Dengan kata lain, posisi perempuan Minang tampil dalam banyak kaitan. 
Pertama, ia berhubungan dengan keberlangsungan ekonomi dan warisan terhadap 
generasi berikutnya. Kedua, ia menjadi pengikat dalam sistem masyarakatnya. 
Ketiga, ia menjadi identitas nagari.

"Secara kultural antara perempuan dan laki-laki Minang tidaklah saling 
mendominasi, tetapi mungkin saja terjadi dominasi dalam bidang kehidupan 
tertentu yang memang sudah diatur secara struktural," katanya.

Kelemahannya, penegasan tafsir basis kultural tersebut bias laki-laki. 
Tafsir ini telah memosisikan perempuan Minang bertentangan dengan posisi 
laki-laki. Padahal, meskipun sistem matrilineal bukanlah sistem matriarkhat 
(perempuan yang berkuasa), tetapi keduanya saling melengkapi. Jadi, meski 
adat Minang mutlak menetapkan penghulu hanyalah laki-laki dan tidak boleh 
perempuan, tetapi keduanya tidak dapat dipertentangkan. Perempuan harus 
ditempatkan sebagai sumber kebijakan karena ia sentral masyarakatnya, dan 
laki-laki sebagai agen melalui kebijakan yang diimplementasikan.

Menurut Bakaruddin, di bidang politik perempuan Minang memang kurang 
pengalaman akibat budaya selama ini. Ini mengakibatkan mereka tidak saja 
kurang berminat di bidang politik, tetapi juga menerima saja posisi mereka 
baik dalam partai politik, parlemen, dan birokrasi sebagaimana dipilihkan 
laki-laki.

Hal ini tampak pada misalnya, jarang sekali perempuan di Sumbar menempati 
posisi strategis dalam jabatan partai, parlemen, dan birokrasi. Kalaupun 
ada, perempuan yang terpilih sebagai ketua partai, anggota parlemen dan 
kemudian menempati posisi strategis di lembaga ini, hampir bisa dipastikan 
disebabkan pilihan laki-laki atas nama "demi keseimbangan" atau "demi ini 
dan itu", bukan persaingan atas dasar meritokrasi. Meskipun tidak dapat 
dimungkiri ada perempuan yang pantas terpilih karena memang berprestasi, 
tetapi jumlahnya belum banyak di Sumbar.

Di samping kurang pengalaman, juga masih ada kecenderungan aktivis partai 
politik yang meminta "jatah" jabatan di partai atau menjadi anggota 
legislatif ketimbang bersaing untuk jabatan itu. Ini, lanjut Bakaruddin, 
tidak saja menegaskan dominasi laki-laki atas perempuan, tetapi juga 
menghambat kemandirian perempuan di bidang politik.


***
BAIK Nani maupun Bakaruddin meminta gerakan perempuan mengkritisi tantangan 
besar yang akan dihadapi. Secara nasional telah terjadi pergeseran, 
reformasi menghasilkan kebijakan kepartaian yang melahirkan lebih kurang 48 
partai kontestan pemilu multipartai.

Keadaan ini, menurut Nani, menguntungkan perempuan karena memberi lebih 
banyak pilihan untuk menyalurkan aspirasi politik. Kelemahannya, sebagai 
wadah baru maka perempuan berhadapan dengan laki-laki yang sama-sama baru di 
partai baru itu. Sebagai organisasi yang relatif lebih bersifat lelaki, maka 
biasanya tatanan dan kultur partai politik lebih menguntungkan laki-laki 
daripada perempuan, khususnya pada tahap awal.

Kenyataan kedua, rancangan pemilu model distrik untuk tahun 2004. 
Diperkirakan, Indonesia dibagi atas 500-600 distrik. Para pengamat politik 
jender memperkirakan kondisi ini semakin kurang menguntungkan perempuan 
karena tingkat kompetisi semakin tinggi. "Dalam kompetisi yang amat ketat, 
seperti biasa, politisi perempuan berada dalam posisi paling rentan untuk 
dipinggirkan karena prioritas persaingan akan lebih diberikan kepada 
politisi laki-laki," kata Nani Soedarsono.

Sedang menurut Bakaruddin, tantangan lebih serius adalah era globalisasi 
yang telah dan akan menciptakan persaingan sangat ketat. Tidak ada lagi 
tempat bagi mereka yang tidak mempunyai kualitas individu, pola like and 
dislike diganti pola meritokrasi. Globalisasi juga membawa berbagai sistem 
nilai yang boleh jadi akan bertabrakan dengan nilai Minang selama ini.

Kekacauan sistem politik dalam era otonomi daerah juga merupakan tantangan 
yang tidak kalah penting. Konflik kepentingan elite politik yang cenderung 
menganut pola patriarki, bisa berdampak negatif pada gerakan perempuan yang 
telah susah payah dibangun selama ini. "Tantangan tersebut itu yang mesti 
diubah menjadi peluang untuk menafsirkan kembali posisi perempuan yang 
disubordinasikan di bawah laki-laki," kata Bakaruddin.




======================================================================
                       Alam Takambang Jadi Guru
======================================================================


_________________________________________________________________
MSN Photos is the easiest way to share and print your photos: 
http://photos.msn.com/support/worldwide.aspx


RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
===============================================

Kirim email ke