|
Assalamulaikum WW
Alangkah naifnya kalau kita mengklaim suatu tanah yang akan kita miliki
landasan nya adalah kitab suci yang kita percaya. Orang yang memiliki sebelumnya
juga mengklaim bahwa dia memiliki tanah itu berdasarkan kitab sucinya. Dalam Al
Quran pun diwahyu kan sebelum Nabi Musa membawa umatnya Bani Israel ke Kanaan,
disana sudah ada bangsa yang mendiami yaitu Bangsa Kanaan yaitu nenek moyang nya
Palestina, yang sebagiannya dari Orang Arab dari keturunan saudara mereka
sendiri yaitu keturunan Ismail. Disini lah terjadinya bentrokan2, kalau kehendak
itu dipaksakan . Jadi sangat tidak etis bahwa tanah yang kita klaim adalah
"Tanah yang dijanjikan Tuhan ke kita" maaf, bisakah dibuktikan keasliannya
dan benar-benar berasal dari Tuhan. "Tidak mungkin rasanya Tuhan akan
memberikan suatu perintah yang akan menyebabkan pertumpahan darah antara sesama
manusia". Karena tuhan sudah pasti mencintai perdamaian sesama manusia,
Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan dimuka
bumi!
Saya
tidak bisa membayangkan kalau kita punya rumah, tiba-tiba ada orang lain yang
mengklaim bahwa tanah itu adalah miliknya, berdasarkan kitab suci yang dia
percaya, dan dia siap-siap hendak membuldozernya.
Mungkin kita akan berpikir " Orang ini kurang waras juga kali ya" Dan
sudah pasti kita akan mempertahankannya mati-matian karena kita mempunyai hak
milik yang diakui oleh negara... Mungkin ini perlu dipertimbangkan oleh Israel
dan orang-orang yang mendukungnya mati-matian, jika seandainya kejadian
itu menimpa rumahnya yang akan dibongkar paksa oleh orang lain yang mengaku
miliknya berdasarkan kitab sucinya.
Jadi
tidak ada kata-kata yang lebih indah, damai! dan hentikanlah bunuh-membunuh! Dan
bagilah seadil-adilnya...
Keep
world peace !
Wassalam
Marven
Konflik
Israel-Palestina L.C. Epafras
"Bumi tertawa ketika
seseorang mengklaim sebuah tempat sebagai miliknya" Pepatah
Hindustan
Pendahuluan
Tanggal 28
September 2000, seharusnya menjadi hari yang istimewa bagi orang
Yahudi dalam mempersiapkan kedatangan hari raya Tahun Baru
(Rosh ha-Shanah), 30 September. Ketika itu mereka berkumpul di Tembok
Ratapan (Kotel, Tembok Barat) di Yerusalem Tua, untuk berdoa. Tembok
ini adalah sisa-sisa reruntuhan tembok yang mengelilingi Bait Allah
zaman Yesus yang dibangun oleh Raja Herodes. Rosh ha-Shanah disebut
juga yom teru'ah (hari peniupan sangkakala, Bil. 29:1) yaitu hari di
mana terompet sangkakala (shofar) ditiup sebagai tanda dibukanya
lembaran baru. Biasanya pada saat itu, setelah ibadah, orang Yahudi
akan saling mengucapkan le-Shanah tovah tehatem ve-tikatev {Semoga
engkau tercatat (dalam kitab kehidupan) dan mengalami tahun yang
baik}. Mereka juga akan makan hallah (roti Sabat), sebagai lambang
kehidupan kekal, dan minum madu (atau makan apel), sebagai lambang
harapan akan tahun yang manis. Sebagian orang Yahudi yang lain
akan menjalankan tradisi tashlikh, yaitu tradisi "membuang dosa" di
sebuah kolam, sungai atau laut dengan menyimbolkannya melalui
membuang semua kotoran dalam kantong celana atau baju. Makna religius
yang lain dari hari raya ini terungkap melalui sebutannya sebagai yom
ha-din (hari penghakiman), yang menurut Talmud (kitab tersuci kedua
setelah Alkitab Yahudi), Allah akan menetapkan siapa-siapa yang akan
tercatat dalam "kitab kehidupan" dan "kitab kematian" untuk tahun
mendatang. Menurut cerita, penetapan itu dilakukan Tuhan selama
sepuluh hari, yang dikenal dengan masa-masa "pertobatan" (aseret
yemei teshuvah), lalu keputusannya diambil pada puncak hari-hari itu,
yaitu hari raya Pendamaian (Yom Kippur, Im. 23:26-32). Selama sepuluh
hari itu orang Yahudi saleh melakukan berbagai ritual pertobatan agar
pada hari Pendamaian mereka ikut tercatat dalam kitab Kehidupan,
sehingga dapat menjalani tahun yang baru dengan jiwa yang baru dan
bersih.
Di lain pihak, pada hari itu pula umat
Muslim menjalankan ibadah shalat Jum'at di Haram al-Sharif (orang
Yahudi menyebutnya Har ha-Bayit, bukit Bait Allah), tempat beradanya
dua bangunan suci Islam, Mesjid Al-Aqsa dan Qubbat as-Sakhrah, atau
disebut Dome of the Rock dalam bahasa Inggris. Salah satu bagian
tembok yang mengelilingi Haram al-Sharif adalah Tembok Ratapan yang
merupakan tempat tersuci bagi orang Yahudi saat ini. Memang kompleks
itu pada mulanya berasal dari kompleks Bait Allah Israel
yang dibangun kembali oleh Raja Herodes tahun 37 SM setelah dirusak
oleh penguasa Yunani. Lalu pada tahun 638, Kalifah Ummayah merebut
Yerusalem dari tangan Kekaisaran Bizantium, dan tidak lama sesudahnya
(685) seluruh kompleks dirubah menjadi tempat ibadah dan ziarah umat
Muslim. Bagi umat Muslim Dome of the Rock adalah tujuan ziarah
(taqdis) yang menyempurnakan ibadah naik haji karena di tempat ini
dipercaya Nabi Muhammad naik ke surga pada malam Isra' Mi'raj. Posisi
unik ini menyebabkan Yerusalem menjadi tempat tersuci ketiga bagi
umat Muslim, setelah Mekah dan Medinah.
Ada
ribuan umat Muslim (orang Arab Palestina dan Arab Israel)
yang beribadah pada hari itu di Haram al-Sharif, sedangkan ribuan
umat Yahudi bersembahyang di Tembok Ratapan (di kaki Haram
al-Sharif). Ibadah orang Yahudi seperti biasa dijaga oleh tentara dan
polisi Israel. Lalu, entah bagaimana disinilah lahir kerusuhan yang
berkepanjangan dan meluas sampai sekarang antara Palestina (didukung
oleh negara-negara Arab) dan Israel. Pihak Muslim menuduh penyebab
kerusuhan itu adalah Ariel Sharon, politisi sayap kanan dan garis
keras Israel, yang 'mampir' ke Haram al-Sharif sehari sebelumnya.
Sampai pertengahan abad yang lalu tidak seorang non-Muslimpun yang
diizinkan menginjakkan kakinya ke dalam kompleks ini (ada
beberapa perkecualian tentunya). Dulu ada kepercayaan, jika seorang
non-Muslim berhasil masuk ke kompleks ini, maka jika ia berdoa,
doanya pasti diterima Tuhan, karena itu harus mati-matian dicegah.
Meskipun saat ini sudah diizinkan tetapi pihak otoritas Israel
melarang keras orang Yahudi untuk menunjukkan simbol-simbol keagamaan
mereka (misalnya kippah, tutup kepala) ketika memasuki kompleks ini
demi menghindari kemarahan umat Muslim. Larangan itu telah
menyebabkan amat sedikit orang Yahudi yang menginjakkan kakinya di
tempat itu. Jadi kehadiran Ariel Sharon, seorang Yahudi religius,
anti Arab, pahlawan di tiga perang Arab-Israel (Perang Sinai 1956,
Perang Enam Hari 1967 dan Perang Yom Kippur 1973), mantan
panglima tentara Israel yang menyerbu Libanon untuk mengusir PLO
tahun 1982, dianggap memancing kemarahan orang Muslim dan Arab pada
umumnya. Mungkin bagi Sharon, sebagai seorang Yahudi religius ia
sedang mengunjungi situs Bait Allah, tetapi bagi orang Arab, ini
adalah penghinaan agama. Sebagian orang lain menganggap kerusuhan itu
bukan dipicu oleh kehadiran Sharon, melainkan kegagalan perundingan
Camp David antara Ehud Barak dan Yasir Arafat di mana Ehud bersedia
mengkompromikan posisi Yerusalem Timur sedangkan Arafat menetapkan
harga mati untuk Yerusalem Timur sebagai ibukota negara Palestina
yang akan didirikan. Bagi warga Israel, bahkan dari kelompok yang
moderat sekalipun, keinginan Arafat itu sukar
diterima.
Akibat dari kerusuhan ini jauh di
luar dugaan. Di akhir minggu (tepat dengan hari raya Rosh ha-Shanah
yang dirayakan selama dua hari), sediki tnya 12 orang
Palestina tewas dan ratusan lainnya (termasuk orang Israel)
luka-luka. Ratusan tewas terjadi di minggu-minggu berikutnya (sampai
hari ini sekitar 250 orang tewas dan 7000 luka-luka, kebanyakan dari
pihak Palestina), bom meledak di pasar-pasar Israel, bom bunuh
diri, serangan helikopter tempur Israel ke rumah-rumah Palestina,
balas membalas, dan seterusnya. Belum berhenti hingga hari ini.
Situasi ini diperburuk dengan serangan Hisbullah di Israel Utara dan
bangkitnya kelompok-kelompok garis keras Palestina seperti Hammas dan
Jihad, dan bangkitnya negara-negara Arab mendukung Palestina (juga di
antara negara-negara yang punya hubungan baik dengan Israel seperti
Mesir dan Yordania).
Umat Yahudi menghadapi
tahun baru yang sungguh pahit dan mungkin terburuk sepanjang sejarah
Israel modern, termasuk ketika pecah Perang Yom Kippur 1973 yang
terjadi pada tahun baru juga. Sejak awal abad ini, yaitu dikala
gerakan kembalinya orang Yahudi ke tanah Palestina yang dimotori oleh
gerakan Zionis, sudah banyak sekali terjadi konflik antara
orang Yahudi dan Arab. Pada era tahun 1930an (1929 dan 1936),
terjadinya berbagai pembantaian besar di antara mereka. Situasi ini
mencapai puncaknya ketika tanggal 14 Mei 1948, bangsa Yahudi
memproklamirkan negara Israel modern. Sejak itu berbagai konflik dan
perang silih berganti terjadi. Sedikitnya ada empat perang besar
antara Israel dan negara-negara Arab di sekitarnya itu Perang 1948,
Perang Sinai 1956, Perang Enam Hari 1967 dan Perang Yom Kippur 1973.
Selama masa-masa itu, upaya-upaya perdamaian melulu menyangkut
masalah politik-militer, yaitu soal pengembalian wilayah
yang berhasil dikuasai Israel. Barulah setelah tahun 1973 ada
upaya-upaya yang lebih sungguh-sungguh untuk memperbaiki keadaan. Era
70an ini ditutup dengan peristiwa perdamaian yang mengejutkan dengan
berjabat tangannya antara PM Israel Menachem Begin dan Presiden Mesir
Anwar Sadat tahun 1979 di Camp David. Upaya-upaya berikutnya masih
sangat jauh dari harapan dan membutuhkan waktu 14 tahun untuk tiba
pada jabat tangan damai berikutnya. Persetujuan Oslo 1993 dan
dilanjutkan dengan jabat tangan antara Yitzhak Rabin dan Yasir Arafat
di hadapan Bill Clinton di Washington, membangkitkan harapan baru
atas kemungkinan perdamaian yang lebih sejati di Timur
Tengah. Konflik terakhir ini sungguh-sungguh mengerikan dan
mempersempit kemungkinan perdamaian di antara keduanya. Jika
sebelumnya ada keyakinan bahwa pada akhirnya perdamaian antara
keduanya akan terwujud yang ujungnya terjadi perdamaian menyeluruh di
Timur Tengah, maka sekarang harapan itu hampir
pudar.
Jawaban teoritis sudah banyak
diungkapkan orang. Mulai dari yang murni emosional, politis, hingga
yang berbau keagamaan. Bagi kelompok garis keras Palestina
penyelesaiannya sudah jelas : usir Israel dari tanah
Palestina seluruhnya, dirikan negara Palestina merdeka dan jadikan
Yerusalem (Timur) sebagai ibukotanya. Sedangkan penyelesaian
politis-diplomatisnya adalah pertemukan pemimpin kedua bangsa
ditambah pemimpin-pemimpin Arab lainnya untuk membicarakan
upaya-upaya perdamaian dan menjadikan Yerusalem sebagai wilayah
internasional bagi ketiga agama Abraham. Sayangnya semua pemimpin itu
sedang dalam posisi yang lemah. Ehud Barak, Perdana Menteri
Israel sedang berada di ujung tanduk dan posisinya sedang diincar
partai-partai kanan pimpinan Benyamin Netanyahu dan Ariel Sharon.
Yasir Arafat terpaksa harus mengakomodir keinginan kelompok garis
keras dari partainya sendiri (Al-Fatah) maupun dari kelompok-kelompok
di luar PLO jika tidak ingin tersingkir dari kepemimpinan Palestina.
Negara-negara Arab moderat pun terpaksa bersikap serupa, misalnya
seperti Presiden Mesir, Hosni Mubarrak yang pemerintahnya baru-baru
ini meresmikan penggantian nama sebuah jalan di depan kedutaan besar
Israel di Kairo, menjadi Jalan Mohammed al-Durra, nama bocah
Palestina yang terbunuh dalam konflik. Ia juga sedang
menghadapi masalah dengan semakin kuatnya pengaruh kelompok garis
keras di Parlemen Mesir. Yordania dan Syria, negara-negara tetangga
Israel, juga menghadapi masalah yang sama di mana kedua pemimpin
belia negara-negara itu (Raja Abdullah II dan Bashar As'ad) tidak
punya pilihan selain mengikuti 'aspirasi rakyatnya' untuk mengutuk
Israel.
Solusi teoritik keagamaan juga
tersedia. Bagi sebagian orang Kristen (terutama penganut mileniarisme
atau kerajaan seribu tahun), peristiwa ini bisa dianggap sebagai
tanda bahwa kedatangan Yesus kedua kalinya sudah semakin dekat.
Kedatangan itu diawali dengan pertempuran bangsa-bangsa di Yerusalem
(Armageddon) dan didirikannya kembali Bait Allah Israel (soal detil
perwujudannya, ada banyak pendapat di kalangan Kristen). Jadi
konflik yang terjadi sekarang diterima sebagai keniscayaan belaka
dalam pemenuhan nubuat Alkitab.
Skenario yang hampir serupa juga dimiliki beberapa kelompok
Yahudi Ortodoks dan Ultra Ortodoks yang bersikeras untuk segera
mendirikan Bait Allah demi menyongsong kedatangan Mesias Israel.
Tidak lama sesudah berakhirnya Perang Enam Hari 1967 yang
memungkinkan Israel menguasai Yerusalem Timur, Shlomo Goren, seorang
perwira Jendral Moshe Dayan, merasa 'mendengar' tapak kedatangan
Mesias. Wangsit ini membawanya pada tanggal 16 Agustus 1967, pada
hari Tisha B'Av (hari keagamaan dalam memperingati runtuhnya dua Bait
Allah Israel oleh orang Babel dan Romawi), menerobos masuk Haram
al-Sharif bersama pengikutnya, melakukan doa dan upacara keagamaan
serta bermaksud mendirikan sebuah sinagoge di antara tempat
suci Islam (Dome of the Rock dan Mesjid
Al-Aqsa).
Menghadapi dua skenario di atas,
kaum Muslim Arabpun dengan semangat keagamaan yang sama kuatnya
berusaha melindungi kepentingan Islam di seluruh Palestina, Yerusalem
Timur, kota tua Yerusalem dan yang terpenting dari semuanya itu,
Haram al-Sharif. Skenario pemecahan persoalan dari sudut agama bagi
mereka adalah dengan menjadikan Yerusalem (Timur) seluruhnya sebagai
kota Muslim dengan mengevakuasi orang Yahudi dan Kristen
(Yerusalem tua sejak dahulu telah dibagi menjadi empat 'kampung',
yaitu kampung Kristen, kampung Muslim, termasuk Haram al-Sharif,
kampung Armenia yang juga Kristen, dan kampung
Yahudi).
Hal yang lebih celaka dan
memperuwet situasi adalah seluruh isu di atas juga menyerap energi
sekalian bangsa di dunia, termasuk Indonesia. Indonesia yang berada
9000 km dari Israelpun ikut tersedot dalam pertikaian ini melalui
demonstrasi-demonstrasi anti-Israel.
Akar
Persoalan
Akar dari seluruh konflik ini
adalah wilayah Israel modern (Ibr. Eretz Israel) atau tanah
Palestina. Akar dari akar konflik itu adalah kota tua Yerusalem, yang
adalah kota suci bagi tiga agama wahyu, Yudaisme, Kristen, dan
Islam.
Mengapa tanah Israel dan Yerusalem
menjadi pusat pertengkaran politik dan agama? Nabi Zakaria di masa
lampau sudah menubuatkan konflik yang terjadi atas Yerusalem, "Maka
pada waktu itu Aku akan membuat Yerusalem menjadi batu untuk diangkat
bagi segala bangsa. Siapa yang mengangkatnya pastilah mendapat luka
parah. Segala bangsa di bumi akan berkumpul melawannya." (Zak. 12:3).
Apakah dengan demikian apapun yang terjadi nubuat Alkitab pasti
terjadi? Siapakah yang benar dan yang punya hak atas tanah dan kota
itu? Bagaimana memecahkan masalah ini? Apa sih istimewanya tanah ini
sehingga diperebutkan banyak orang?
Saya
mengajak kita semua melihat keseluruhan masalah ini dengan
lebih jernih dan teliti. Sikap-sikap yang dangkal hanya akan merusak
pengertian kita yang sebenarnya. Sangat mudah bagi kita untuk
bersikap begitu saja anti-Israel dan pro-Palestina, sebagaimana yang
ditunjukkan banyak orang di seluruh dunia saat ini, atau sebaliknya
pro-Israel dan anti-Palestina. Apalagi jika sikap-sikap itu diwarnai
dengan semangat keagamaan. Untuk bersikap semacam itu kita tidak
perlu berpikir panjang dan mengerti duduk persoalannya dengan lebih
mendalam. Kita harus sadar pula bahwa sikap dan perasaan kita pada
era informasi ini amat dipengaruhi oleh media masa, sehingga sering
kali kita telah membiarkan diri habis-habisan dimanipulasi olehnya.
Tetapi jika kita sungguh-sungguh berusaha mengerti
keruwetan persoalan ini, mungkin sikap kita akan jadi berbeda.
Tulisan ini tentunya sama sekali tidak berani mengatakan bahwa
pendapat saya ini yang paling benar. Sesuai dengan judul di atas, ini
hanya sebuah pandangan (Kristen) dari sekian banyak pandangan yang
lain. Para pembaca tidak harus setuju dengan pendapat saya
ini.
Sebagian dari kompleksitas masalah
ini sudah dikemukakan di atas. Saya akan memulai telaah ini dengan
menengok kembali sejarah atas tanah itu secara
ringkas.
Tanah yang aneh dan jadi
rebutan ini luas keseluruhannya, berdasarkan luas wilayah kedaulatan
negara Israel modern, hanya 21.920 km-persegi, atau seperlima luas
pulau Jawa. Penduduknya 5,6 juta jiwa (di Israel), 1 juta di Jalur
Gaza, dan 1.5 juta di Tepi Barat. Di Israel 80% penduduknya
Yahudi, sedangkan di daerah pendudukan 90% Arab Palestina. (Ada
perbedaan antara penduduk Arab Israel dan Arab Palestina. Yang
pertama itu adalah orang Arab, termasuk Arab Palestina yang tinggal
tetap di Israel ketika negara itu berdiri dan akhirnya menjadi warga
negara Israel dan mendapat hak-hak kewarganegaraan seperti ikut
pemilu dan mendapat jaminan sosial. Dan yang kedua adalah Arab
Palestina yang tinggal di daerah pendudukan Tepi Barat dan Jalur
Gaza. Dalam tulisan ini yang dimaksud dengan orang Palestina adalah
Arab Palestina di daerah pendudukan).
Namun
demikian Alkitab mencatat tanah itu sebagai "... tanah yang permai di
antara semua negeri" (Yeh. 20:6). Apanya yang permai? Sebelum sejarah
Israel modern, tanah ini tidak lebih sebagai transit di
antara negeri-negeri besar di dua benua Afrika dan Timur Tengah.
Sejak dahulu kala, jalur sempit ini telah dipakai bagi bangsa Mesir
untuk menyerang negeri Kanaan dan Mesopotamia, bangsa Mesopotamia
menyerbu Mesir, bangsa Persia menjajah Mesir, bangsa Romawi
memadamkan pemberontakan Mesir dst. Palestina tidak lebih sebagai
lorong yang menghubungkan dua ruangan besar dan untuk menguasai salah
satunya, orang harus menguasai lorongnya. Menurut riwayat dua belas
pengintai yang ditugaskan Musa untuk memeriksa keadaan tanah itu pada
saat Israel keluar dari Mesir, tanah Palestina ini
"... berlimpah-limpah susu dan madunya." (Bil.13:27). Tetapi ketika
Israel benar-benar mendudukinya, mereka harus berkerja keras dan
beberapa kali mengalami kekeringan dan kesengsaraan. Demikian juga
secara ekonomi, terutama sesudah orang Yahudi terusir dari tanah itu
(tahun 70 dan 135), tanah ini tidak mempunyai nilai ekonomi yang
tinggi, sampai kembalinya orang Yahudi ke
Palestina.
Sebelum negeri ini disebut
Palestina, ia dikenal dalam Alkitab dengan nama Kanaan. Nama
Palestina berasal dari nama bangsa yang pernah mendiami sebagian
tanah itu, yaitu bangsa Filistin, sebuah rumpun bangsa Eropa
dari Pulau Kreta (Kaftor) di Laut Tengah di abad ke 12 (lih. Ul.
2:23, Yer. 47:4, Am. 9:7). Pemerintah Romawi (berkuasa di Palestina
62 SM-614 M, termasuk kekuasaan Romawi Bizantium) di kemudian hari
menamai (sebagian) daerah jajahan Israel sebagai propinsi Yudaea dan
kemudian menamainya Syria Palaistina. Demikianlah sejak saat itu
Palestina menjadi nama yang banyak dikenal daripada nama Israel
sendiri.
Menengok Sejarah
Sejak bangsa Israel terusir dari tanah ini pada tahun 70 dan 135
oleh bangsa Romawi, tanah ini telah berganti-ganti penguasanya.
Secara ringkas pemerintahan di Palestina adalah
: Romawi hingga abad ke 4 Bizantium
(Kristen) abad ke 4 - 638 Kalifah-kalifah (Islam) 638 -
1100 Tentara Perang Salib (Kristen) 1100 - 1187 Muslim Mesir
(Islam) 1187 - 1516 Turki Usmaniah (Islam) 1516 -
1917 Inggris 1917 - 1948 Israel
modern 1948 - sekarang Tepi Barat dikuasai Israel
1967
Butuh waktu kurang lebih 1900 tahun bagi
orang Yahudi untuk kembali kepada kedaulatan
bangsanya.
Persoalan Legitimasi
Apa legitimasi Yahudi? Bagi orang Yahudi tanah Israel adalah
tanah terjanji (mis. Kel. 13:5) dari Tuhan sejalan dengan pilihan
mereka sebagai umat Allah. Janji itu berakar pada janji Tuhan pada
Bapa Abraham (Kej. 12:1). Sehingga sekalipun bangsa ini pernah
dibuang semasa pendudukan Babilonia tahun 586 SM, mereka tetap
kembali lagi ke tanah itu tahun 538 SM (setelah 52 tahun atau 70
tahun menurut tradisi). Dan setelah dibuang sekali lagi tahun 70 dan
135, masih juga mereka kembali lagi menjadi bangsa tahun 1948
(setelah 1900 tahun).
Dalam agama Yahudi tanah
Israel disebut ha'Aretz (Tanah itu), sedangkan negeri di luar Israel
disebut hutz la-Aretz (di luar Tanah itu). Ini jelas menunjukkan
keunikan tanah ini bagi identitas kebangsaan Israel dan keagamaan
karena janji Tuhan atas tanah itu. Pandangan ini tentu saja menjadi
perdebatan hingga sekarang terutama bagi orang-orang non-Yahudi (dan
sebagian orang Yahudi sendiri). Hukum-hukum Taurat tentang
pertanian juga seringkali mengacu pada tanah ini sebagai tanah
terjanji dari Allah (mis. Im. 19:23, 23:10, 25:2, Ul. 26:1). Pada
tradisi Yudaisme yang lebih kemudian dikatakan demikian, "Telah
diajarkan bahwa : Rabi Simeon ben Yohai (hidup satu abad sesudah
Yesus) berkata, 'Sang Maha Kudus (maksudnya Tuhan), terpujilah Ia,
mengaruniakan kepada Israel tiga pemberian yang sangat berharga dan
kesemuanya itu diberikan melalui penderitaan, yaitu Taurat, tanah
Israel, dan dunia yang akan datang ..." (Berakhot 5a). Bahkan ada
sebagian Rabi Yahudi zaman dulu yang menganggap kebangkitan hanya
bisa terjadi di tanah itu (B'reshith Rabbah 96:5). Dalam naskah
kemerdekaan negara Israel modern yang dideklarasikan pada malam
Sabat, 14 Mei 1948 (dalam tahun Ibrani, 5 Iyyar 5708), pembukaannya
didahului dengan, "Eretz-Israel (tanah Israel) adalah tempat lahir
bangsa Yahudi ... Setelah dipaksa meninggalkan tanah itu, bangsa ini
tetap memelihara iman kepada tanah itu sepanjang masa penyerakan
(Diaspora, Ing. Dispersion) dan tida dk pernah berhenti berdoa dan
berharap akan kembalinya mereka ke tanah, demi mengembalikan
kebebasan politik mereka." Juga pada lagu kebangsaan
Israel, Ha-Tikvah (Pengharapan) disebut, "Untuk kembali ke tanah
nenek moyang kita, ke kota tempat Raja Daud bersemayam." (ini adalah
teks lagu asli yang diciptakan tahun 1878, jauh sebelum negara Israel
berdiri. Teks modernnya telah diganti menjadi, "Untuk menjadi manusia
bebas di tanah kita, negeri tempat Zion dan Yerusalem berada."). Jadi
bagi mereka tanah Israel keseluruhan adalah terjanji dan pusat tanah
terjanji itu adalah Yudea dan Samaria (Tepi Barat) di mana Yerusalem
berada.
Yerusalem sejak masa Raja Daud menjadi pusat pemerintahan
dan keagaaman Israel (2Sam. 5:1-13, 24:18-25). Kota ini menjadi
tempat berdirinya Bait Allah yang dipercaya sebagai lambang kehadiran
Allah di Israel. Kota ini oleh nabi Yesaya disebut kota keadilan
(Yes. 1:26) dan pemazmur menciptakan pujian khusus baginya (Maz.
122). Yerusalem sudah dipilih Tuhan sebagai tempat kedudukannya (Maz.
132:13-14).
Sejak mereka terusir, di penghujung ibadah hari raya
Paskah, mereka tidak lupa mengucapkan doa le-shana ha ba'a ve
Yerushalahayim {tahun depan kita (merayakan Paskah) di Yerusalem}.
Ungkapan liturgi doa ini di ucapkan terus menerus tiap tahun
sepanjang berabad-abad di mana saja mereka berada, sebagai ungkapan
kerinduan untuk kembali ke tanah dan kota
Allah.
Jadi legitimasi orang Yahudi adalah
keyakinaneagamannya yang sungguh khas, suatu hal yang sukar dipahami
oleh orang modern. Teman saya, seorang Muslim, pernah mengatakan
bahwa orang Yahudi menang 'ngotot' dibanding orang Palestina. Mungkin
saja, saya tidak tahu. Yang jelas orang Yahudi melalui keyakinan
agamanya itu (lebih dari keyakinan politis) berhasil mewujudkan
kembali impian ribuan tahunnya. Namun demikian terlepas dari
argumentasi orang Yahudi soal tanah dan Yerusalem, menurut mereka
berdasarkan sejarah belum pernah ada negara Palestina yang didirikan
oleh orang Arab Palestina sendiri. Meskipun kekuasaan Islam berusia
1300 tahun di tanah itu, seluruh penguasanya sama sekali bukan orang
setempat atau mewakili kepentingan setempat. Mereka adalah
penguasa-penguasa dari Damaskus-Syria, Bagdad-Irak, Kairo-Mesir,
dan Istanbul-Turki. Jadi sukar juga buat orang Palestina untuk
mengklaim sebuah negara Palestina berdasarkan sejarah. (Seorang tokoh
Palestina belum lama ini mengatakan legitimasi mereka adalah karena
mereka keturunan orang Filistin yang diusir oleh bangsa Israel. Saya
kira tokoh ini kurang memahami bahwa orang Filistin itu suku bangsa
Eropa, bukan orang Semit atau Arab, yang bahkan sudah punah jauh
sebelum zaman Yesus). Kedua, juga masih masalah sejarah, sejak
Inggris melepaskan kekuasaannya di Timur Tengah pada tahun 1947,
Perserikatan Bangsa-bangsa membagi Palestina menjadi tiga bagian.
Daerah pantai, Galilea dan gurun Negev menjadi jatah orang
Yahudi, Tepi Barat yang menjadi 'jatah' orang Palestina, berada di
bawah kekuasaan Kerajaan Hashemit Yordania, dan Yerusalem Timur
(termasuk kota tuanya) menjadi daerah internasional. Jadi ketika
terjadi perang Enam Hari, secara politis dan militer Israel
merebutnya Tepi Barat dari tangan Yordania dan Jalur Gaza dari Mesir
dengan mengalahkan pasukan Liga Arab (gabungan pasukan Irak, Syria,
Yordania, Mesir, Palestina dan negara-negara
Arab lainnya).
Argumentasi
selanjutnya tentang klaim negara Palestina adalah pada kenyataan
bahwa tidak ada gerakan pendirian negara Palestina sebelum
tahun 1967. Aspirasi untuk mendirikan negara Palestina muncul setelah
Israel menguasai Tepi Barat. Jadi ketika orang Palestina di bawah
kekuasaan Yordania mereka sendiri tidak berniat mendirikan negara
Palestina.
Bagi orang Palestina, tentu saja
bangsa yang sudah tidak pernah mendiami tanahnya selama hampir 2000
tahun tidak bisa disebut tuan rumah. Bangsa Palestina lahir dari
tanah Palestina sehingga sungguh tidak adil mengusir mereka dari
negeri nenek moyang mereka. Mereka menyerang anggapan organisasi
Zionisme Internasional yang mengklaim tanah Palestina sebagai "tanah
air tanpa bangsa untuk bangsa tanpa tanah air" (land without
people for people without land). Penduduk Arab Palestina telah hidup
sejak masa Kalifah-kalifah berdiam di tanah itu. Orang Palestina
sudah sangat at home dengan tanahnya meskipun mereka sendiri dulunya
kaum pendatang (dari jazirah Arab, Mesir, Turki, atau keturunan
bangsa Eropa melalui tentara Perang Salib). Banyak sekali warga
Palestina yang masih bisa menunjukkan garis keturunan keluarganya
surut hingga delapan ratus tahun yang lalu. Jika sisipan penguasaan
tentara Perang Salib ditiadakan, maka kekuasaan Islam di tanah itu
sudah kurang lebih 1300 tahun. Wajar jika mereka menuntut tanah yang
dikuasai Israel beserta Yerusalemnya.
Bagi
orang Muslim, kota Yerusalem adalah kota tersuci ketiga
setelah Mekkah dan Medinah. Mereka menyebut kota ini Baitul Muqqadas
(Rumah Suci) atau Al-Quds (kota Suci). Di sinilah Nabi Muhammad
dipercaya mi'raj dalam peristiwa Isra' Mi'raj. Tradisi yang mendorong
ketika Kalifah Abdul Al-Malik dari Kalifah Ummayah menduduki
Yerusalem tahun 638, mendirikan tempat ziarah Qubbat as-Sakrah di
atas reruntuhan Bait Suci Yahudi. (sejak dihancurkan oleh orang
Romawi, bait ini dibiarkan menjadi reruntuhan, bahkan oleh penguasa
Kristen Bizantium).
Sikap Diskriminatif
Israel
Apakah Israel memang tidak
memperhatikan nasib orang Palestina? Selain masalah legitimasi tanah
dan status Yerusalem, sebenarnya ironis sekali bahwa kehidupan orang
Palestina di Israel relatif lebih baik daripada di negara-negara
Arab. Hanya di Israel saja orang Arab Palestina mempunyai wakilnya di
parlemen Israel (Knesset). Orang Palestina memiliki perguruan tinggi
juga hanya di Israel (Universitas Bethlehem, Universitas
Bir-Zeit, Universitas Al-Najah, Institut Agama Islam Hebron, Sekolah
Tinggi Teknik Abu Dis). Pemerintah Israel memberikan Suatu kondisi
yang sama sekali tidak ditawarkan oleh bangsa Arab lain. Di
negara-negara Arab (Libanon, Tunisia, Kuwait), kebanyakan orang
Palestina hanya menjadi pekerja dan tinggal di kamp-kamp pengungsian.
(Mengenai sikap mendua orang-orang Arab terhadap orang Palestian,
beberapa minggu yang lalu Arafat menyerukan pada dunia Arab agar
bertindak kepada Israel dan bukan sekedar omong
saja).
Namun demikian ada juga kenyataan yang
lain di mana pemerintah Israel memang bersikap diskriminatif terhadap
warga Palestina. Untuk wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza sebelum
pendudukan, orang Palestina sebagian besar hidup dari tanah
pertanian, namun setelah pendudukan sebagian besar dari mereka
bekerja untuk kepentingan Israel, misalnya di bidang konstruksi. Jadi
90% ekonominya bergantung pada Israel. Demikian
juga fasilitas-fasilitas umum seperti air dan listrik sepenuhnya
dikontrol Israel. Pemerintah Israel sangat memperhatikan segi
keamanan dan karenanya tidak sepenuhnya percaya kepada orang
Palestina, terutama karena masih kuatnya kelompok garis keras.
Akibatnya mereka sangat membatasi ruang gerak orang Palestina. Sejak
jatuh ke dalam pendudukan Israel, Tepi Barat dan terutama Jalur Gaza
secara ekonomi merosot drastis. Apalagi ditambah efek dari Perang
Teluk, di mana Yasir Arafat membela Saddam Hussein yang mengakibatkan
banyak pekerja Palestina di negara Arab dipecat sehingga menimbulkan
pengangguran yang sangat tinggi (28%). Meskipun setelah perjanjian
Olso 1993, Palestina diberi otonomi terbatas melalui
Otoritas Palestina yang dipimpin Arafat, namun Otoritas ini sangat
mengandalkan bantuan keuangan Israel dan luar negeri yang jumlahnya
terbatas. Kondisi ini diperburuk dengan merajalelanya korupsi di
kalangan Otoritas sendiri. (Sebenarnya PLO pimpinan Arafat sudah
sejak dulu diduga mengkorupsi uang sumbangan negara-negara
Arab).
Pendeknya, kehidupan orang Palestina
sangat sulit dan menyedihkan. Kehidupan sulit itu juga diperburuk
dengan pertentangan internal di antara mereka antara kelompok moderat
dan garis keras, dan antara Palestina Kristen dan Islam. Pertentangan
Kristen dan Islam memang berada jauh dari permukaan sehingga luput
dari perhatian kita.
Orang Palestina Kristen
mencakup 8% dari 1.5 juta orang di Tepi Barat dan 0.6% dari 1 juta
orang di Jalur Gaza. Secara sosial-ekonomi mereka relatif lebih baik
karena sejak dahulu sudah mempunyai sistem pendidikan, kesehatan yang
baik hasil kerja misionaris (tidak selalu dari Barat), kebanyakan
berprofesi pedagang dan pengrajin. (Istri Yasir Arafat, Suha, seorang
Kristen, Master lulusan Sorbonne-Paris). Mereka juga adalah kelompok
yang paling lunak di antara orang Palestina (memang dulu ada kelompok
garis keras Front Rakyat Palestina yang dipimpin George
Habash, seorang Kristen yang menjadi Marxis). Mereka tinggal di
sekitar Bethelem, Beit Jalla, Beit Sahur dan Ramallah. Bahkan di
Ramallah mereka mempunyai Liga Persahabatan Yahudi-Arab (didirikan
sebelum perjanjian Oslo 1993) yang berusaha membangun perdamaian di
antara Palestina-Yahudi. Orang Kristen ini sejak dulu secara sporadis
menjadi sasaran kelompok fundamentalis Islam. Meskipun banyak dari
antara mereka yang patriotik namun posisi mereka terjepit dalam
konflik terakhir ini karena sikap lunak mereka (baca : memilih dialog
dari pada kekerasan) seringkali dibaca sebagai sikap khianat terhadap
perjuangan Palestina. (lih. laporan Newsweek 27 Nopember,
tentang rumah-rumah orang Kristen di Beit Jala yang dijadikan tempat
penembak gelap Palestina menembaki orang Israel, yang mengakibatkan
mereka diserang balik oleh Israel).
Dari kedua ekstrim yang sudah dipaparkan di atas, apakah tidak
pernah terjadi jalan tengah? Sebenarnya sudah ada dan selalu ada.
Upaya-upaya perdamaian sudah mulai terjadi terutama di era tahun 80an
dan 90an. Ada banyak kelompok yang berusaha menjembatani dan
mengatasi persoalan itu dengan cara berdialog, misalnya seperti
kelompok Liga Persahabatan Yahudi-Arab di Ramallah, kelompok Peace
Now di Israel, atau forum dialog agama Israel Inter-faith Association
(IIA). Sebagian orang Palestina bahkan percaya bahwa persoalan mereka
bisa diatasi melalui sebuah pemerintahan campuran yang demokratis. Di
lapis yang lebih bawah, telah terjadi beberapa perkawinan campuran
antara Yahudi-Arab dan Arab-Yahudi yang membentuk suatu 'perdamaian'
yang khas.
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor
---------------------~--> Buy Stock for $4 and no minimums. FREE
Money 2002. http://us.click.yahoo.com/k6cvND/n97DAA/ySSFAA/TXWolB/TM ---------------------------------------------------------------------~->
To
unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED]
Your use of Yahoo! Groups is
subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/
|