Konflik Israel-Palestina
 L.C. Epafras

 "Bumi tertawa ketika seseorang mengklaim sebuah tempat sebagai miliknya"
 Pepatah Hindustan

 Pendahuluan

     Tanggal 28 September 2000, seharusnya menjadi hari yang istimewa bagi
 orang Yahudi dalam mempersiapkan kedatangan hari raya Tahun Baru (Rosh
 ha-Shanah), 30 September. Ketika itu mereka berkumpul di Tembok Ratapan
 (Kotel, Tembok Barat) di Yerusalem Tua, untuk berdoa. Tembok ini adalah
 sisa-sisa reruntuhan tembok yang mengelilingi Bait Allah zaman Yesus yang
 dibangun oleh Raja Herodes. Rosh ha-Shanah disebut juga yom teru'ah (hari
 peniupan sangkakala, Bil. 29:1) yaitu hari di mana terompet sangkakala
 (shofar) ditiup sebagai tanda dibukanya lembaran baru. Biasanya pada saat
 itu, setelah ibadah, orang Yahudi akan saling mengucapkan le-Shanah tovah
 tehatem ve-tikatev {Semoga engkau tercatat (dalam kitab kehidupan) dan
 mengalami tahun yang baik}. Mereka juga akan makan hallah (roti Sabat),
 sebagai lambang kehidupan kekal, dan minum madu (atau makan apel), sebagai
 lambang harapan akan tahun yang manis. Sebagian orang Yahudi yang lain akan
 menjalankan tradisi tashlikh, yaitu tradisi "membuang dosa" di sebuah
 kolam, sungai atau laut dengan menyimbolkannya melalui membuang semua
 kotoran dalam kantong celana atau baju. Makna religius yang lain dari hari
 raya ini terungkap melalui sebutannya sebagai yom ha-din (hari
 penghakiman), yang menurut Talmud (kitab tersuci kedua setelah Alkitab
 Yahudi), Allah akan menetapkan siapa-siapa yang akan tercatat dalam "kitab
 kehidupan" dan "kitab kematian" untuk tahun mendatang. Menurut cerita,
 penetapan itu dilakukan Tuhan selama sepuluh hari, yang dikenal dengan
 masa-masa "pertobatan" (aseret yemei teshuvah), lalu keputusannya diambil
 pada puncak hari-hari itu, yaitu hari raya Pendamaian (Yom Kippur, Im.
 23:26-32). Selama sepuluh hari itu orang Yahudi saleh melakukan berbagai
 ritual pertobatan agar pada hari Pendamaian mereka ikut tercatat dalam
 kitab Kehidupan, sehingga dapat menjalani tahun yang baru dengan jiwa yang
 baru dan bersih.

     Di lain pihak, pada hari itu pula umat Muslim menjalankan ibadah shalat
 Jum'at di Haram al-Sharif (orang Yahudi menyebutnya Har ha-Bayit, bukit
 Bait Allah), tempat beradanya dua bangunan suci Islam, Mesjid Al-Aqsa dan
 Qubbat as-Sakhrah, atau disebut Dome of the Rock dalam bahasa Inggris.
 Salah satu bagian tembok yang mengelilingi Haram al-Sharif adalah Tembok
 Ratapan yang merupakan tempat tersuci bagi orang Yahudi saat ini. Memang
 kompleks itu pada mulanya berasal dari kompleks Bait Allah Israel yang
 dibangun kembali oleh Raja Herodes tahun 37 SM setelah dirusak oleh
 penguasa Yunani. Lalu pada tahun 638, Kalifah Ummayah merebut Yerusalem
 dari tangan Kekaisaran Bizantium, dan tidak lama sesudahnya (685) seluruh
 kompleks dirubah menjadi tempat ibadah dan ziarah umat Muslim. Bagi umat
 Muslim Dome of the Rock adalah tujuan ziarah (taqdis) yang menyempurnakan
 ibadah naik haji karena di tempat ini dipercaya Nabi Muhammad naik ke surga
 pada malam Isra' Mi'raj. Posisi unik ini menyebabkan Yerusalem menjadi
 tempat tersuci ketiga bagi umat Muslim, setelah Mekah dan Medinah.

     Ada ribuan umat Muslim (orang Arab Palestina dan Arab Israel) yang
 beribadah pada hari itu di Haram al-Sharif, sedangkan ribuan umat Yahudi
 bersembahyang di Tembok Ratapan (di kaki Haram al-Sharif). Ibadah orang
 Yahudi seperti biasa dijaga oleh tentara dan polisi Israel. Lalu, entah
 bagaimana disinilah lahir kerusuhan yang berkepanjangan dan meluas sampai
 sekarang antara Palestina (didukung oleh negara-negara Arab) dan Israel.
 Pihak Muslim menuduh penyebab kerusuhan itu adalah Ariel Sharon, politisi
 sayap kanan dan garis keras Israel, yang 'mampir' ke Haram al-Sharif sehari
 sebelumnya. Sampai pertengahan abad yang lalu tidak seorang non-Muslimpun
 yang diizinkan menginjakkan kakinya ke dalam kompleks ini (ada beberapa
 perkecualian tentunya). Dulu ada kepercayaan, jika seorang non-Muslim
 berhasil masuk ke kompleks ini, maka jika ia berdoa, doanya pasti diterima
 Tuhan, karena itu harus mati-matian dicegah. Meskipun saat ini sudah
 diizinkan tetapi pihak otoritas Israel melarang keras orang Yahudi untuk
 menunjukkan simbol-simbol keagamaan mereka (misalnya kippah, tutup kepala)
 ketika memasuki kompleks ini demi menghindari kemarahan umat Muslim.
 Larangan itu telah menyebabkan amat sedikit orang Yahudi yang menginjakkan
 kakinya di tempat itu. Jadi kehadiran Ariel Sharon, seorang Yahudi
 religius, anti Arab, pahlawan di tiga perang Arab-Israel (Perang Sinai
 1956, Perang Enam Hari 1967 dan Perang Yom Kippur 1973), mantan panglima
 tentara Israel yang menyerbu Libanon untuk mengusir PLO tahun 1982,
 dianggap memancing kemarahan orang Muslim dan Arab pada umumnya. Mungkin
 bagi Sharon, sebagai seorang Yahudi religius ia sedang mengunjungi situs
 Bait Allah, tetapi bagi orang Arab, ini adalah penghinaan agama. Sebagian
 orang lain menganggap kerusuhan itu bukan dipicu oleh kehadiran Sharon,
 melainkan kegagalan perundingan Camp David antara Ehud Barak dan Yasir
 Arafat di mana Ehud bersedia mengkompromikan posisi Yerusalem Timur
 sedangkan Arafat menetapkan harga mati untuk Yerusalem Timur sebagai
 ibukota negara Palestina yang akan didirikan. Bagi warga Israel, bahkan
 dari kelompok yang moderat sekalipun, keinginan Arafat itu sukar diterima.

     Akibat dari kerusuhan ini jauh di luar dugaan. Di akhir minggu (tepat
 dengan hari raya Rosh ha-Shanah yang dirayakan selama dua hari), sediki
 tnya   12 orang Palestina  tewas dan ratusan lainnya (termasuk orang
 Israel) luka-luka. Ratusan tewas terjadi di minggu-minggu berikutnya
 (sampai hari ini sekitar 250 orang tewas dan 7000 luka-luka, kebanyakan
 dari pihak Palestina), bom meledak di pasar-pasar Israel, bom bunuh diri,
 serangan helikopter tempur Israel ke rumah-rumah Palestina, balas membalas,
 dan seterusnya. Belum berhenti hingga hari ini. Situasi ini diperburuk
 dengan serangan Hisbullah di Israel Utara dan bangkitnya kelompok-kelompok
 garis keras Palestina seperti Hammas dan Jihad, dan bangkitnya
 negara-negara Arab mendukung Palestina (juga di antara negara-negara yang
 punya hubungan baik dengan Israel seperti Mesir dan Yordania).

     Umat Yahudi menghadapi tahun baru yang sungguh pahit dan mungkin
 terburuk sepanjang sejarah Israel modern, termasuk ketika pecah Perang Yom
 Kippur 1973 yang terjadi pada tahun baru juga. Sejak awal abad ini, yaitu
 dikala gerakan kembalinya orang Yahudi ke tanah Palestina yang dimotori
 oleh gerakan Zionis, sudah banyak sekali terjadi konflik antara orang
 Yahudi dan Arab. Pada era tahun 1930an (1929 dan 1936), terjadinya berbagai
 pembantaian besar di antara mereka. Situasi ini mencapai puncaknya ketika
 tanggal 14 Mei 1948, bangsa Yahudi memproklamirkan negara Israel modern.
 Sejak itu berbagai konflik dan perang silih berganti terjadi. Sedikitnya
 ada empat perang besar antara Israel dan negara-negara Arab di
 sekitarnya itu Perang 1948, Perang Sinai 1956, Perang Enam Hari 1967 dan
 Perang Yom Kippur 1973. Selama masa-masa itu, upaya-upaya perdamaian melulu
 menyangkut masalah politik-militer, yaitu soal pengembalian wilayah yang
 berhasil dikuasai Israel. Barulah setelah tahun 1973 ada upaya-upaya yang
 lebih sungguh-sungguh untuk memperbaiki keadaan. Era 70an ini ditutup
 dengan peristiwa perdamaian yang mengejutkan dengan berjabat tangannya
 antara PM Israel Menachem Begin dan Presiden Mesir Anwar Sadat tahun 1979
 di Camp David. Upaya-upaya berikutnya masih sangat jauh dari harapan dan
 membutuhkan waktu 14 tahun untuk tiba pada jabat tangan damai berikutnya.
 Persetujuan Oslo 1993 dan dilanjutkan dengan jabat tangan antara Yitzhak
 Rabin dan Yasir Arafat di hadapan Bill Clinton di Washington, membangkitkan
 harapan baru atas kemungkinan perdamaian yang lebih sejati di Timur Tengah.
 Konflik terakhir ini sungguh-sungguh mengerikan dan mempersempit
 kemungkinan perdamaian di antara keduanya. Jika sebelumnya ada keyakinan
 bahwa pada akhirnya perdamaian antara keduanya akan terwujud yang ujungnya
 terjadi perdamaian menyeluruh di Timur Tengah, maka sekarang harapan itu
 hampir pudar.

     Jawaban teoritis sudah banyak diungkapkan orang. Mulai dari yang murni
 emosional, politis, hingga yang berbau keagamaan. Bagi kelompok garis keras
 Palestina penyelesaiannya sudah jelas : usir Israel dari tanah Palestina
 seluruhnya, dirikan negara Palestina merdeka dan jadikan Yerusalem (Timur)
 sebagai ibukotanya. Sedangkan penyelesaian politis-diplomatisnya adalah
 pertemukan pemimpin kedua bangsa ditambah pemimpin-pemimpin Arab lainnya
 untuk membicarakan upaya-upaya perdamaian dan menjadikan Yerusalem sebagai
 wilayah internasional bagi ketiga agama Abraham. Sayangnya semua pemimpin
 itu sedang dalam posisi yang lemah. Ehud Barak, Perdana Menteri Israel
 sedang berada di ujung tanduk dan posisinya sedang diincar partai-partai
 kanan pimpinan Benyamin Netanyahu dan Ariel Sharon. Yasir Arafat terpaksa
 harus mengakomodir keinginan kelompok garis keras dari partainya sendiri
 (Al-Fatah) maupun dari kelompok-kelompok di luar PLO jika tidak ingin
 tersingkir dari kepemimpinan Palestina. Negara-negara Arab moderat pun
 terpaksa bersikap serupa, misalnya seperti Presiden Mesir, Hosni Mubarrak
 yang pemerintahnya baru-baru ini meresmikan penggantian nama sebuah jalan
 di depan kedutaan besar Israel di Kairo, menjadi Jalan Mohammed al-Durra,
 nama bocah Palestina yang terbunuh dalam konflik. Ia juga sedang menghadapi
 masalah dengan semakin kuatnya pengaruh kelompok garis keras di Parlemen
 Mesir. Yordania dan Syria, negara-negara tetangga Israel, juga menghadapi
 masalah yang sama di mana kedua pemimpin belia negara-negara itu (Raja
 Abdullah II dan Bashar As'ad) tidak punya pilihan selain mengikuti
 'aspirasi rakyatnya' untuk mengutuk Israel.

     Solusi teoritik keagamaan juga tersedia. Bagi sebagian orang Kristen
 (terutama penganut mileniarisme atau kerajaan seribu tahun), peristiwa ini
 bisa dianggap sebagai tanda bahwa kedatangan Yesus kedua kalinya sudah
 semakin dekat. Kedatangan itu diawali dengan pertempuran bangsa-bangsa di
 Yerusalem (Armageddon) dan didirikannya kembali Bait Allah Israel (soal
 detil perwujudannya, ada banyak pendapat di kalangan Kristen). Jadi konflik
 yang terjadi sekarang diterima sebagai keniscayaan belaka dalam pemenuhan
 nubuat Alkitab.

     Skenario yang hampir serupa juga dimiliki beberapa kelompok Yahudi
 Ortodoks dan Ultra Ortodoks yang bersikeras untuk segera mendirikan Bait
 Allah demi menyongsong kedatangan Mesias Israel. Tidak lama sesudah
 berakhirnya Perang Enam Hari 1967 yang memungkinkan Israel menguasai
 Yerusalem Timur, Shlomo Goren, seorang perwira Jendral Moshe Dayan, merasa
 'mendengar' tapak kedatangan Mesias. Wangsit ini membawanya pada tanggal 16
 Agustus 1967, pada hari Tisha B'Av (hari keagamaan dalam memperingati
 runtuhnya dua Bait Allah Israel oleh orang Babel dan Romawi), menerobos
 masuk Haram al-Sharif bersama pengikutnya, melakukan doa dan upacara
 keagamaan serta bermaksud mendirikan sebuah sinagoge di antara tempat suci
 Islam (Dome of the Rock dan Mesjid Al-Aqsa).

     Menghadapi dua skenario di atas, kaum Muslim Arabpun dengan semangat
 keagamaan yang sama kuatnya berusaha melindungi kepentingan Islam di
 seluruh Palestina, Yerusalem Timur, kota tua Yerusalem dan yang terpenting
 dari semuanya itu, Haram al-Sharif. Skenario pemecahan persoalan dari sudut
 agama bagi mereka adalah dengan menjadikan Yerusalem (Timur) seluruhnya
 sebagai kota Muslim dengan mengevakuasi orang Yahudi dan Kristen (Yerusalem
 tua sejak dahulu telah dibagi menjadi empat 'kampung', yaitu kampung
 Kristen, kampung Muslim, termasuk Haram al-Sharif, kampung Armenia yang
 juga Kristen, dan kampung Yahudi).

      Hal yang lebih celaka dan memperuwet situasi adalah seluruh isu di
atas
 juga menyerap energi sekalian bangsa di dunia, termasuk Indonesia.
 Indonesia yang berada 9000 km dari Israelpun ikut tersedot dalam pertikaian
 ini melalui demonstrasi-demonstrasi anti-Israel.

 Akar Persoalan

      Akar dari seluruh konflik ini adalah wilayah Israel modern (Ibr. Eretz
 Israel) atau tanah Palestina. Akar dari akar konflik itu adalah kota tua
 Yerusalem, yang adalah kota suci bagi tiga agama wahyu, Yudaisme, Kristen,
 dan Islam.

     Mengapa tanah Israel dan Yerusalem menjadi pusat pertengkaran politik
 dan agama? Nabi Zakaria di masa lampau sudah menubuatkan konflik yang
 terjadi atas Yerusalem, "Maka pada waktu itu Aku akan membuat Yerusalem
 menjadi batu untuk diangkat bagi segala bangsa. Siapa yang mengangkatnya
 pastilah mendapat luka parah. Segala bangsa di bumi akan berkumpul
 melawannya." (Zak. 12:3). Apakah dengan demikian apapun yang terjadi nubuat
 Alkitab pasti terjadi? Siapakah yang benar dan yang punya hak atas tanah
 dan kota itu? Bagaimana memecahkan masalah ini? Apa sih istimewanya tanah
 ini sehingga diperebutkan banyak orang?

      Saya mengajak kita semua melihat keseluruhan masalah ini dengan lebih
 jernih dan teliti. Sikap-sikap yang dangkal hanya akan merusak pengertian
 kita yang sebenarnya. Sangat mudah bagi kita untuk bersikap begitu saja
 anti-Israel dan pro-Palestina, sebagaimana yang ditunjukkan banyak orang di
 seluruh dunia saat ini, atau sebaliknya pro-Israel dan anti-Palestina.
 Apalagi jika sikap-sikap itu diwarnai dengan semangat keagamaan. Untuk
 bersikap semacam itu kita tidak perlu berpikir panjang dan mengerti duduk
 persoalannya dengan lebih mendalam. Kita harus sadar pula bahwa sikap dan
 perasaan kita pada era informasi ini amat dipengaruhi oleh media masa,
 sehingga sering kali kita telah membiarkan diri habis-habisan dimanipulasi
 olehnya. Tetapi jika kita sungguh-sungguh berusaha mengerti keruwetan
 persoalan ini, mungkin sikap kita akan jadi berbeda. Tulisan ini tentunya
 sama sekali tidak berani mengatakan bahwa pendapat saya ini yang paling
 benar. Sesuai dengan judul di atas, ini hanya sebuah pandangan (Kristen)
 dari sekian banyak pandangan yang lain. Para pembaca tidak harus setuju
 dengan pendapat saya ini.

      Sebagian dari kompleksitas masalah ini sudah dikemukakan di atas. Saya
 akan memulai telaah ini dengan menengok kembali sejarah atas tanah itu
 secara ringkas.

      Tanah yang aneh dan jadi rebutan ini luas keseluruhannya, berdasarkan
 luas wilayah kedaulatan negara Israel modern, hanya 21.920 km-persegi, atau
 seperlima luas pulau Jawa. Penduduknya 5,6 juta jiwa (di Israel), 1 juta di
 Jalur Gaza, dan 1.5 juta di Tepi Barat. Di Israel 80% penduduknya Yahudi,
 sedangkan di daerah pendudukan 90% Arab Palestina. (Ada perbedaan antara
 penduduk Arab Israel dan Arab Palestina. Yang pertama itu adalah orang
 Arab, termasuk Arab Palestina yang tinggal tetap di Israel ketika negara
 itu berdiri dan akhirnya menjadi warga negara Israel dan mendapat hak-hak
 kewarganegaraan seperti ikut pemilu dan mendapat jaminan sosial. Dan yang
 kedua adalah Arab Palestina yang tinggal di daerah pendudukan Tepi Barat
 dan Jalur Gaza. Dalam tulisan ini yang dimaksud dengan orang Palestina
 adalah Arab Palestina di daerah pendudukan).

     Namun demikian Alkitab mencatat tanah itu sebagai "... tanah yang
 permai di antara semua negeri" (Yeh. 20:6). Apanya yang permai? Sebelum
 sejarah Israel modern, tanah ini tidak lebih sebagai transit di antara
 negeri-negeri besar di dua benua Afrika dan Timur Tengah. Sejak dahulu
 kala, jalur sempit ini telah dipakai bagi bangsa Mesir untuk menyerang
 negeri Kanaan dan Mesopotamia, bangsa Mesopotamia menyerbu Mesir, bangsa
 Persia menjajah Mesir, bangsa Romawi memadamkan pemberontakan Mesir dst.
 Palestina tidak lebih sebagai lorong yang menghubungkan dua ruangan besar
 dan untuk menguasai salah satunya, orang harus menguasai lorongnya. Menurut
 riwayat dua belas pengintai yang ditugaskan Musa untuk memeriksa keadaan
 tanah itu pada saat Israel keluar dari Mesir, tanah Palestina ini "...
 berlimpah-limpah susu dan madunya." (Bil.13:27). Tetapi ketika Israel
 benar-benar mendudukinya, mereka harus berkerja keras dan beberapa kali
 mengalami kekeringan dan kesengsaraan. Demikian juga secara ekonomi,
 terutama sesudah orang Yahudi terusir dari tanah itu (tahun 70 dan 135),
 tanah ini tidak mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, sampai kembalinya
 orang Yahudi ke Palestina.

      Sebelum negeri ini disebut Palestina, ia dikenal dalam Alkitab dengan
 nama Kanaan. Nama Palestina berasal dari nama bangsa yang pernah mendiami
 sebagian tanah itu, yaitu bangsa Filistin, sebuah rumpun bangsa Eropa dari
 Pulau Kreta (Kaftor) di Laut Tengah di abad ke 12 (lih. Ul. 2:23, Yer.
 47:4, Am. 9:7). Pemerintah Romawi (berkuasa di Palestina 62 SM-614 M,
 termasuk kekuasaan Romawi Bizantium) di kemudian hari menamai (sebagian)
 daerah jajahan Israel sebagai propinsi Yudaea dan kemudian menamainya Syria
 Palaistina. Demikianlah sejak saat itu Palestina menjadi nama yang banyak
 dikenal daripada nama Israel sendiri.

 Menengok Sejarah

      Sejak bangsa Israel terusir dari tanah ini pada tahun 70 dan 135 oleh
 bangsa Romawi, tanah ini telah berganti-ganti penguasanya. Secara ringkas
 pemerintahan di Palestina adalah :
 Romawi    hingga abad ke 4
 Bizantium (Kristen)  abad ke 4 - 638
 Kalifah-kalifah (Islam) 638 - 1100
 Tentara Perang Salib (Kristen) 1100 - 1187
 Muslim Mesir (Islam)  1187 - 1516
 Turki Usmaniah (Islam) 1516 - 1917
 Inggris    1917 - 1948
 Israel modern   1948 - sekarang
 Tepi Barat dikuasai Israel 1967

     Butuh waktu kurang lebih 1900 tahun bagi orang Yahudi untuk kembali
 kepada kedaulatan bangsanya.

 Persoalan Legitimasi
      Apa legitimasi Yahudi? Bagi orang Yahudi tanah Israel adalah tanah
 terjanji (mis. Kel. 13:5) dari Tuhan sejalan dengan pilihan mereka sebagai
 umat Allah. Janji itu berakar pada janji Tuhan pada Bapa Abraham (Kej.
 12:1). Sehingga sekalipun bangsa ini pernah dibuang semasa pendudukan
 Babilonia tahun 586 SM, mereka tetap kembali lagi ke tanah itu tahun 538 SM
 (setelah 52 tahun atau 70 tahun menurut tradisi). Dan setelah dibuang
 sekali lagi tahun 70 dan 135, masih juga mereka kembali lagi menjadi bangsa
 tahun 1948 (setelah 1900 tahun).

     Dalam agama Yahudi tanah Israel disebut ha'Aretz (Tanah itu), sedangkan
 negeri di luar Israel disebut hutz la-Aretz (di luar Tanah itu). Ini jelas
 menunjukkan keunikan tanah ini bagi identitas kebangsaan Israel dan
 keagamaan karena janji Tuhan atas tanah itu. Pandangan ini tentu saja
 menjadi perdebatan hingga sekarang terutama bagi orang-orang non-Yahudi
 (dan sebagian orang Yahudi sendiri). Hukum-hukum Taurat tentang pertanian
 juga seringkali mengacu pada tanah ini sebagai tanah terjanji dari Allah
 (mis. Im. 19:23, 23:10, 25:2, Ul. 26:1). Pada tradisi Yudaisme yang lebih
 kemudian dikatakan demikian, "Telah diajarkan bahwa : Rabi Simeon ben Yohai
 (hidup satu abad sesudah Yesus) berkata, 'Sang Maha Kudus (maksudnya
 Tuhan), terpujilah Ia, mengaruniakan kepada Israel tiga pemberian yang
 sangat berharga dan kesemuanya itu diberikan melalui penderitaan, yaitu
 Taurat, tanah Israel, dan dunia yang akan datang ..." (Berakhot 5a). Bahkan
 ada sebagian Rabi Yahudi zaman dulu yang menganggap kebangkitan hanya bisa
 terjadi di tanah itu (B'reshith Rabbah 96:5). Dalam naskah kemerdekaan
 negara Israel modern yang dideklarasikan pada malam Sabat, 14 Mei 1948
 (dalam tahun Ibrani, 5 Iyyar 5708), pembukaannya didahului dengan,
 "Eretz-Israel (tanah Israel) adalah tempat lahir bangsa Yahudi ... Setelah
 dipaksa meninggalkan tanah itu, bangsa ini tetap memelihara iman kepada
 tanah itu sepanjang masa penyerakan (Diaspora, Ing. Dispersion) dan tida dk
 pernah berhenti berdoa dan berharap akan kembalinya mereka ke tanah, demi
 mengembalikan kebebasan politik mereka." Juga pada lagu kebangsaan Israel,
 Ha-Tikvah (Pengharapan) disebut, "Untuk kembali ke tanah nenek moyang kita,
 ke kota tempat Raja Daud bersemayam." (ini adalah teks lagu asli yang
 diciptakan tahun 1878, jauh sebelum negara Israel berdiri. Teks modernnya
 telah diganti menjadi, "Untuk menjadi manusia bebas di tanah kita, negeri
 tempat Zion dan Yerusalem berada."). Jadi bagi mereka tanah Israel
 keseluruhan adalah terjanji dan pusat tanah terjanji itu adalah Yudea dan
 Samaria (Tepi Barat) di mana Yerusalem berada.

 Yerusalem sejak masa Raja Daud menjadi pusat pemerintahan dan keagaaman
 Israel (2Sam. 5:1-13, 24:18-25). Kota ini menjadi tempat berdirinya Bait
 Allah yang dipercaya sebagai lambang kehadiran Allah di Israel. Kota ini
 oleh nabi Yesaya disebut kota keadilan (Yes. 1:26) dan pemazmur menciptakan
 pujian khusus baginya (Maz. 122). Yerusalem sudah dipilih Tuhan sebagai
 tempat kedudukannya (Maz. 132:13-14).

 Sejak mereka terusir, di penghujung ibadah hari raya Paskah, mereka tidak
 lupa mengucapkan doa le-shana ha ba'a ve Yerushalahayim {tahun depan kita
 (merayakan Paskah) di Yerusalem}. Ungkapan liturgi doa ini di ucapkan terus
 menerus tiap tahun sepanjang berabad-abad di mana saja mereka berada,
 sebagai ungkapan kerinduan untuk kembali ke tanah dan kota Allah.

     Jadi legitimasi orang Yahudi adalah keyakinaneagamannya yang sungguh
 khas, suatu hal yang sukar dipahami oleh orang modern. Teman saya, seorang
 Muslim, pernah mengatakan bahwa orang Yahudi menang 'ngotot' dibanding
 orang Palestina. Mungkin saja, saya tidak tahu. Yang jelas orang Yahudi
 melalui keyakinan agamanya itu (lebih dari keyakinan politis) berhasil
 mewujudkan kembali impian ribuan tahunnya.
 Namun demikian terlepas dari argumentasi orang Yahudi soal tanah dan
 Yerusalem, menurut mereka berdasarkan sejarah belum pernah ada negara
 Palestina yang didirikan oleh orang Arab Palestina sendiri. Meskipun
 kekuasaan Islam berusia 1300 tahun di tanah itu, seluruh penguasanya sama
 sekali bukan orang setempat atau mewakili kepentingan setempat. Mereka
 adalah penguasa-penguasa dari Damaskus-Syria, Bagdad-Irak, Kairo-Mesir, dan
 Istanbul-Turki. Jadi sukar juga buat orang Palestina untuk mengklaim sebuah
 negara Palestina berdasarkan sejarah. (Seorang tokoh Palestina belum lama
 ini mengatakan legitimasi mereka adalah karena mereka keturunan orang
 Filistin yang diusir oleh bangsa Israel. Saya kira tokoh ini kurang
 memahami bahwa orang Filistin itu suku bangsa Eropa, bukan orang Semit atau
 Arab, yang bahkan sudah punah jauh sebelum zaman Yesus). Kedua, juga masih
 masalah sejarah, sejak Inggris melepaskan kekuasaannya di Timur Tengah pada
 tahun 1947, Perserikatan Bangsa-bangsa membagi Palestina menjadi tiga
 bagian. Daerah pantai, Galilea dan gurun Negev menjadi jatah orang Yahudi,
 Tepi Barat yang menjadi 'jatah' orang Palestina, berada di bawah kekuasaan
 Kerajaan Hashemit Yordania, dan Yerusalem Timur (termasuk kota tuanya)
 menjadi daerah internasional. Jadi ketika terjadi perang Enam Hari, secara
 politis dan militer Israel merebutnya Tepi Barat dari tangan Yordania dan
 Jalur Gaza dari Mesir dengan mengalahkan pasukan Liga Arab (gabungan
 pasukan Irak, Syria, Yordania, Mesir, Palestina dan negara-negara Arab
 lainnya).

     Argumentasi selanjutnya tentang klaim negara Palestina adalah pada
 kenyataan bahwa tidak ada gerakan pendirian negara Palestina sebelum tahun
 1967. Aspirasi untuk mendirikan negara Palestina muncul setelah Israel
 menguasai Tepi Barat. Jadi ketika orang Palestina di bawah kekuasaan
 Yordania mereka sendiri tidak berniat mendirikan negara Palestina.

     Bagi orang Palestina, tentu saja bangsa yang sudah tidak pernah
 mendiami tanahnya selama hampir 2000 tahun tidak bisa disebut tuan rumah.
 Bangsa Palestina lahir dari tanah Palestina sehingga sungguh tidak adil
 mengusir mereka dari negeri nenek moyang mereka. Mereka menyerang anggapan
 organisasi Zionisme Internasional yang mengklaim tanah Palestina sebagai
 "tanah air tanpa bangsa untuk bangsa tanpa tanah air" (land without people
 for people without land). Penduduk Arab Palestina telah hidup sejak masa
 Kalifah-kalifah berdiam di tanah itu. Orang Palestina sudah sangat at home
 dengan tanahnya meskipun mereka sendiri dulunya kaum pendatang (dari
 jazirah Arab, Mesir, Turki, atau keturunan bangsa Eropa melalui tentara
 Perang Salib). Banyak sekali warga Palestina yang masih bisa menunjukkan
 garis keturunan keluarganya surut hingga delapan ratus tahun yang lalu.
 Jika sisipan penguasaan tentara Perang Salib ditiadakan, maka kekuasaan
 Islam di tanah itu sudah kurang lebih 1300 tahun. Wajar jika mereka
 menuntut tanah yang dikuasai Israel beserta Yerusalemnya.

     Bagi orang Muslim, kota Yerusalem adalah kota tersuci ketiga setelah
 Mekkah dan Medinah. Mereka menyebut kota ini Baitul Muqqadas (Rumah Suci)
 atau Al-Quds (kota Suci). Di sinilah Nabi Muhammad dipercaya mi'raj dalam
 peristiwa Isra' Mi'raj. Tradisi yang mendorong ketika Kalifah Abdul
 Al-Malik dari Kalifah Ummayah menduduki Yerusalem tahun 638, mendirikan
 tempat ziarah Qubbat as-Sakrah di atas reruntuhan Bait Suci Yahudi. (sejak
 dihancurkan oleh orang Romawi, bait ini dibiarkan menjadi reruntuhan,
 bahkan oleh penguasa Kristen Bizantium).

 Sikap Diskriminatif Israel

     Apakah Israel memang tidak memperhatikan nasib orang Palestina? Selain
 masalah legitimasi tanah dan status Yerusalem, sebenarnya ironis sekali
 bahwa kehidupan orang Palestina di Israel relatif lebih baik daripada di
 negara-negara Arab. Hanya di Israel saja orang Arab Palestina mempunyai
 wakilnya di parlemen Israel (Knesset). Orang Palestina memiliki perguruan
 tinggi juga hanya di Israel (Universitas Bethlehem, Universitas Bir-Zeit,
 Universitas Al-Najah, Institut Agama Islam Hebron, Sekolah Tinggi Teknik
 Abu Dis). Pemerintah Israel memberikan Suatu kondisi yang sama sekali tidak
 ditawarkan oleh bangsa Arab lain. Di negara-negara Arab (Libanon, Tunisia,
 Kuwait), kebanyakan orang Palestina hanya menjadi pekerja dan tinggal di
 kamp-kamp pengungsian. (Mengenai sikap mendua orang-orang Arab terhadap
 orang Palestian, beberapa minggu yang lalu Arafat menyerukan pada dunia
 Arab agar bertindak kepada Israel dan bukan sekedar omong saja).

     Namun demikian ada juga kenyataan yang lain di mana pemerintah Israel
 memang bersikap diskriminatif terhadap warga Palestina. Untuk wilayah Tepi
 Barat dan Jalur Gaza sebelum pendudukan, orang Palestina sebagian besar
 hidup dari tanah pertanian, namun setelah pendudukan sebagian besar dari
 mereka bekerja untuk kepentingan Israel, misalnya di bidang konstruksi.
 Jadi 90% ekonominya bergantung pada Israel. Demikian juga
 fasilitas-fasilitas umum seperti air dan listrik sepenuhnya dikontrol
 Israel. Pemerintah Israel sangat memperhatikan segi keamanan dan karenanya
 tidak sepenuhnya percaya kepada orang Palestina, terutama karena masih
 kuatnya kelompok garis keras. Akibatnya mereka sangat membatasi ruang gerak
 orang Palestina. Sejak jatuh ke dalam pendudukan Israel, Tepi Barat dan
 terutama Jalur Gaza secara ekonomi merosot drastis. Apalagi ditambah efek
 dari Perang Teluk, di mana Yasir Arafat membela Saddam Hussein yang
 mengakibatkan banyak pekerja Palestina di negara Arab dipecat sehingga
 menimbulkan pengangguran yang sangat tinggi (28%). Meskipun setelah
 perjanjian Olso 1993, Palestina diberi otonomi terbatas melalui Otoritas
 Palestina yang dipimpin Arafat, namun Otoritas ini sangat mengandalkan
 bantuan keuangan Israel dan luar negeri yang jumlahnya terbatas. Kondisi
 ini diperburuk dengan merajalelanya korupsi di kalangan Otoritas sendiri.
 (Sebenarnya PLO pimpinan Arafat sudah sejak dulu diduga mengkorupsi uang
 sumbangan negara-negara Arab).

     Pendeknya, kehidupan orang Palestina sangat sulit dan menyedihkan.
 Kehidupan sulit itu juga diperburuk dengan pertentangan internal di antara
 mereka antara kelompok moderat dan garis keras, dan antara Palestina
 Kristen dan Islam. Pertentangan Kristen dan Islam memang berada jauh dari
 permukaan sehingga luput dari perhatian kita.

     Orang Palestina Kristen mencakup 8% dari 1.5 juta orang di Tepi Barat
 dan 0.6% dari 1 juta orang di Jalur Gaza. Secara sosial-ekonomi mereka
 relatif lebih baik karena sejak dahulu sudah mempunyai sistem pendidikan,
 kesehatan yang baik hasil kerja misionaris (tidak selalu dari Barat),
 kebanyakan berprofesi pedagang dan pengrajin. (Istri Yasir Arafat, Suha,
 seorang Kristen, Master lulusan Sorbonne-Paris). Mereka juga adalah
 kelompok yang paling lunak di antara orang Palestina (memang dulu ada
 kelompok garis keras Front Rakyat Palestina yang dipimpin George Habash,
 seorang Kristen yang menjadi Marxis). Mereka tinggal di sekitar Bethelem,
 Beit Jalla, Beit Sahur dan Ramallah. Bahkan di Ramallah mereka mempunyai
 Liga Persahabatan Yahudi-Arab (didirikan sebelum perjanjian Oslo 1993) yang
 berusaha membangun perdamaian di antara Palestina-Yahudi. Orang Kristen ini
 sejak dulu secara sporadis menjadi sasaran kelompok fundamentalis Islam.
 Meskipun banyak dari antara mereka yang patriotik namun posisi mereka
 terjepit dalam konflik terakhir ini karena sikap lunak mereka (baca :
 memilih dialog dari pada kekerasan) seringkali dibaca sebagai sikap khianat
 terhadap perjuangan Palestina. (lih. laporan Newsweek 27 Nopember, tentang
 rumah-rumah orang Kristen di Beit Jala yang dijadikan tempat penembak gelap
 Palestina menembaki orang Israel, yang mengakibatkan mereka diserang balik
 oleh Israel).

     Dari kedua ekstrim yang sudah dipaparkan di atas, apakah tidak pernah
 terjadi jalan tengah? Sebenarnya sudah ada dan selalu ada. Upaya-upaya
 perdamaian sudah mulai terjadi terutama di era tahun 80an dan 90an. Ada
 banyak kelompok yang berusaha menjembatani dan mengatasi persoalan itu
 dengan cara berdialog, misalnya seperti kelompok Liga Persahabatan
 Yahudi-Arab di Ramallah, kelompok Peace Now di Israel, atau forum dialog
 agama Israel Inter-faith Association (IIA). Sebagian orang Palestina bahkan
 percaya bahwa persoalan mereka bisa diatasi melalui sebuah pemerintahan
 campuran yang demokratis. Di lapis yang lebih bawah, telah terjadi beberapa
 perkawinan campuran antara Yahudi-Arab dan Arab-Yahudi yang membentuk suatu
 'perdamaian' yang khas.




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Stock for $4
and no minimums.
FREE Money 2002.
http://us.click.yahoo.com/k6cvND/n97DAA/ySSFAA/TXWolB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]

 

Your use of Yahoo! Groups is subject to
http://docs.yahoo.com/info/terms/


Kirim email ke