|
Konflik
Israel-Palestina
L.C. Epafras "Bumi tertawa ketika seseorang mengklaim sebuah tempat sebagai miliknya" Pepatah Hindustan Pendahuluan Tanggal 28 September 2000, seharusnya menjadi hari yang istimewa bagi orang Yahudi dalam mempersiapkan kedatangan hari raya Tahun Baru (Rosh ha-Shanah), 30 September. Ketika itu mereka berkumpul di Tembok Ratapan (Kotel, Tembok Barat) di Yerusalem Tua, untuk berdoa. Tembok ini adalah sisa-sisa reruntuhan tembok yang mengelilingi Bait Allah zaman Yesus yang dibangun oleh Raja Herodes. Rosh ha-Shanah disebut juga yom teru'ah (hari peniupan sangkakala, Bil. 29:1) yaitu hari di mana terompet sangkakala (shofar) ditiup sebagai tanda dibukanya lembaran baru. Biasanya pada saat itu, setelah ibadah, orang Yahudi akan saling mengucapkan le-Shanah tovah tehatem ve-tikatev {Semoga engkau tercatat (dalam kitab kehidupan) dan mengalami tahun yang baik}. Mereka juga akan makan hallah (roti Sabat), sebagai lambang kehidupan kekal, dan minum madu (atau makan apel), sebagai lambang harapan akan tahun yang manis. Sebagian orang Yahudi yang lain akan menjalankan tradisi tashlikh, yaitu tradisi "membuang dosa" di sebuah kolam, sungai atau laut dengan menyimbolkannya melalui membuang semua kotoran dalam kantong celana atau baju. Makna religius yang lain dari hari raya ini terungkap melalui sebutannya sebagai yom ha-din (hari penghakiman), yang menurut Talmud (kitab tersuci kedua setelah Alkitab Yahudi), Allah akan menetapkan siapa-siapa yang akan tercatat dalam "kitab kehidupan" dan "kitab kematian" untuk tahun mendatang. Menurut cerita, penetapan itu dilakukan Tuhan selama sepuluh hari, yang dikenal dengan masa-masa "pertobatan" (aseret yemei teshuvah), lalu keputusannya diambil pada puncak hari-hari itu, yaitu hari raya Pendamaian (Yom Kippur, Im. 23:26-32). Selama sepuluh hari itu orang Yahudi saleh melakukan berbagai ritual pertobatan agar pada hari Pendamaian mereka ikut tercatat dalam kitab Kehidupan, sehingga dapat menjalani tahun yang baru dengan jiwa yang baru dan bersih. Di lain pihak, pada hari itu pula umat Muslim menjalankan ibadah shalat Jum'at di Haram al-Sharif (orang Yahudi menyebutnya Har ha-Bayit, bukit Bait Allah), tempat beradanya dua bangunan suci Islam, Mesjid Al-Aqsa dan Qubbat as-Sakhrah, atau disebut Dome of the Rock dalam bahasa Inggris. Salah satu bagian tembok yang mengelilingi Haram al-Sharif adalah Tembok Ratapan yang merupakan tempat tersuci bagi orang Yahudi saat ini. Memang kompleks itu pada mulanya berasal dari kompleks Bait Allah Israel yang dibangun kembali oleh Raja Herodes tahun 37 SM setelah dirusak oleh penguasa Yunani. Lalu pada tahun 638, Kalifah Ummayah merebut Yerusalem dari tangan Kekaisaran Bizantium, dan tidak lama sesudahnya (685) seluruh kompleks dirubah menjadi tempat ibadah dan ziarah umat Muslim. Bagi umat Muslim Dome of the Rock adalah tujuan ziarah (taqdis) yang menyempurnakan ibadah naik haji karena di tempat ini dipercaya Nabi Muhammad naik ke surga pada malam Isra' Mi'raj. Posisi unik ini menyebabkan Yerusalem menjadi tempat tersuci ketiga bagi umat Muslim, setelah Mekah dan Medinah. Ada ribuan umat Muslim (orang Arab Palestina dan Arab Israel) yang beribadah pada hari itu di Haram al-Sharif, sedangkan ribuan umat Yahudi bersembahyang di Tembok Ratapan (di kaki Haram al-Sharif). Ibadah orang Yahudi seperti biasa dijaga oleh tentara dan polisi Israel. Lalu, entah bagaimana disinilah lahir kerusuhan yang berkepanjangan dan meluas sampai sekarang antara Palestina (didukung oleh negara-negara Arab) dan Israel. Pihak Muslim menuduh penyebab kerusuhan itu adalah Ariel Sharon, politisi sayap kanan dan garis keras Israel, yang 'mampir' ke Haram al-Sharif sehari sebelumnya. Sampai pertengahan abad yang lalu tidak seorang non-Muslimpun yang diizinkan menginjakkan kakinya ke dalam kompleks ini (ada beberapa perkecualian tentunya). Dulu ada kepercayaan, jika seorang non-Muslim berhasil masuk ke kompleks ini, maka jika ia berdoa, doanya pasti diterima Tuhan, karena itu harus mati-matian dicegah. Meskipun saat ini sudah diizinkan tetapi pihak otoritas Israel melarang keras orang Yahudi untuk menunjukkan simbol-simbol keagamaan mereka (misalnya kippah, tutup kepala) ketika memasuki kompleks ini demi menghindari kemarahan umat Muslim. Larangan itu telah menyebabkan amat sedikit orang Yahudi yang menginjakkan kakinya di tempat itu. Jadi kehadiran Ariel Sharon, seorang Yahudi religius, anti Arab, pahlawan di tiga perang Arab-Israel (Perang Sinai 1956, Perang Enam Hari 1967 dan Perang Yom Kippur 1973), mantan panglima tentara Israel yang menyerbu Libanon untuk mengusir PLO tahun 1982, dianggap memancing kemarahan orang Muslim dan Arab pada umumnya. Mungkin bagi Sharon, sebagai seorang Yahudi religius ia sedang mengunjungi situs Bait Allah, tetapi bagi orang Arab, ini adalah penghinaan agama. Sebagian orang lain menganggap kerusuhan itu bukan dipicu oleh kehadiran Sharon, melainkan kegagalan perundingan Camp David antara Ehud Barak dan Yasir Arafat di mana Ehud bersedia mengkompromikan posisi Yerusalem Timur sedangkan Arafat menetapkan harga mati untuk Yerusalem Timur sebagai ibukota negara Palestina yang akan didirikan. Bagi warga Israel, bahkan dari kelompok yang moderat sekalipun, keinginan Arafat itu sukar diterima. Akibat dari kerusuhan ini jauh di luar dugaan. Di akhir minggu (tepat dengan hari raya Rosh ha-Shanah yang dirayakan selama dua hari), sediki tnya 12 orang Palestina tewas dan ratusan lainnya (termasuk orang Israel) luka-luka. Ratusan tewas terjadi di minggu-minggu berikutnya (sampai hari ini sekitar 250 orang tewas dan 7000 luka-luka, kebanyakan dari pihak Palestina), bom meledak di pasar-pasar Israel, bom bunuh diri, serangan helikopter tempur Israel ke rumah-rumah Palestina, balas membalas, dan seterusnya. Belum berhenti hingga hari ini. Situasi ini diperburuk dengan serangan Hisbullah di Israel Utara dan bangkitnya kelompok-kelompok garis keras Palestina seperti Hammas dan Jihad, dan bangkitnya negara-negara Arab mendukung Palestina (juga di antara negara-negara yang punya hubungan baik dengan Israel seperti Mesir dan Yordania). Umat Yahudi menghadapi tahun baru yang sungguh pahit dan mungkin terburuk sepanjang sejarah Israel modern, termasuk ketika pecah Perang Yom Kippur 1973 yang terjadi pada tahun baru juga. Sejak awal abad ini, yaitu dikala gerakan kembalinya orang Yahudi ke tanah Palestina yang dimotori oleh gerakan Zionis, sudah banyak sekali terjadi konflik antara orang Yahudi dan Arab. Pada era tahun 1930an (1929 dan 1936), terjadinya berbagai pembantaian besar di antara mereka. Situasi ini mencapai puncaknya ketika tanggal 14 Mei 1948, bangsa Yahudi memproklamirkan negara Israel modern. Sejak itu berbagai konflik dan perang silih berganti terjadi. Sedikitnya ada empat perang besar antara Israel dan negara-negara Arab di sekitarnya itu Perang 1948, Perang Sinai 1956, Perang Enam Hari 1967 dan Perang Yom Kippur 1973. Selama masa-masa itu, upaya-upaya perdamaian melulu menyangkut masalah politik-militer, yaitu soal pengembalian wilayah yang berhasil dikuasai Israel. Barulah setelah tahun 1973 ada upaya-upaya yang lebih sungguh-sungguh untuk memperbaiki keadaan. Era 70an ini ditutup dengan peristiwa perdamaian yang mengejutkan dengan berjabat tangannya antara PM Israel Menachem Begin dan Presiden Mesir Anwar Sadat tahun 1979 di Camp David. Upaya-upaya berikutnya masih sangat jauh dari harapan dan membutuhkan waktu 14 tahun untuk tiba pada jabat tangan damai berikutnya. Persetujuan Oslo 1993 dan dilanjutkan dengan jabat tangan antara Yitzhak Rabin dan Yasir Arafat di hadapan Bill Clinton di Washington, membangkitkan harapan baru atas kemungkinan perdamaian yang lebih sejati di Timur Tengah. Konflik terakhir ini sungguh-sungguh mengerikan dan mempersempit kemungkinan perdamaian di antara keduanya. Jika sebelumnya ada keyakinan bahwa pada akhirnya perdamaian antara keduanya akan terwujud yang ujungnya terjadi perdamaian menyeluruh di Timur Tengah, maka sekarang harapan itu hampir pudar. Jawaban teoritis sudah banyak diungkapkan orang. Mulai dari yang murni emosional, politis, hingga yang berbau keagamaan. Bagi kelompok garis keras Palestina penyelesaiannya sudah jelas : usir Israel dari tanah Palestina seluruhnya, dirikan negara Palestina merdeka dan jadikan Yerusalem (Timur) sebagai ibukotanya. Sedangkan penyelesaian politis-diplomatisnya adalah pertemukan pemimpin kedua bangsa ditambah pemimpin-pemimpin Arab lainnya untuk membicarakan upaya-upaya perdamaian dan menjadikan Yerusalem sebagai wilayah internasional bagi ketiga agama Abraham. Sayangnya semua pemimpin itu sedang dalam posisi yang lemah. Ehud Barak, Perdana Menteri Israel sedang berada di ujung tanduk dan posisinya sedang diincar partai-partai kanan pimpinan Benyamin Netanyahu dan Ariel Sharon. Yasir Arafat terpaksa harus mengakomodir keinginan kelompok garis keras dari partainya sendiri (Al-Fatah) maupun dari kelompok-kelompok di luar PLO jika tidak ingin tersingkir dari kepemimpinan Palestina. Negara-negara Arab moderat pun terpaksa bersikap serupa, misalnya seperti Presiden Mesir, Hosni Mubarrak yang pemerintahnya baru-baru ini meresmikan penggantian nama sebuah jalan di depan kedutaan besar Israel di Kairo, menjadi Jalan Mohammed al-Durra, nama bocah Palestina yang terbunuh dalam konflik. Ia juga sedang menghadapi masalah dengan semakin kuatnya pengaruh kelompok garis keras di Parlemen Mesir. Yordania dan Syria, negara-negara tetangga Israel, juga menghadapi masalah yang sama di mana kedua pemimpin belia negara-negara itu (Raja Abdullah II dan Bashar As'ad) tidak punya pilihan selain mengikuti 'aspirasi rakyatnya' untuk mengutuk Israel. Solusi teoritik keagamaan juga tersedia. Bagi sebagian orang Kristen (terutama penganut mileniarisme atau kerajaan seribu tahun), peristiwa ini bisa dianggap sebagai tanda bahwa kedatangan Yesus kedua kalinya sudah semakin dekat. Kedatangan itu diawali dengan pertempuran bangsa-bangsa di Yerusalem (Armageddon) dan didirikannya kembali Bait Allah Israel (soal detil perwujudannya, ada banyak pendapat di kalangan Kristen). Jadi konflik yang terjadi sekarang diterima sebagai keniscayaan belaka dalam pemenuhan nubuat Alkitab. Skenario yang hampir serupa juga dimiliki beberapa kelompok Yahudi Ortodoks dan Ultra Ortodoks yang bersikeras untuk segera mendirikan Bait Allah demi menyongsong kedatangan Mesias Israel. Tidak lama sesudah berakhirnya Perang Enam Hari 1967 yang memungkinkan Israel menguasai Yerusalem Timur, Shlomo Goren, seorang perwira Jendral Moshe Dayan, merasa 'mendengar' tapak kedatangan Mesias. Wangsit ini membawanya pada tanggal 16 Agustus 1967, pada hari Tisha B'Av (hari keagamaan dalam memperingati runtuhnya dua Bait Allah Israel oleh orang Babel dan Romawi), menerobos masuk Haram al-Sharif bersama pengikutnya, melakukan doa dan upacara keagamaan serta bermaksud mendirikan sebuah sinagoge di antara tempat suci Islam (Dome of the Rock dan Mesjid Al-Aqsa). Menghadapi dua skenario di atas, kaum Muslim Arabpun dengan semangat keagamaan yang sama kuatnya berusaha melindungi kepentingan Islam di seluruh Palestina, Yerusalem Timur, kota tua Yerusalem dan yang terpenting dari semuanya itu, Haram al-Sharif. Skenario pemecahan persoalan dari sudut agama bagi mereka adalah dengan menjadikan Yerusalem (Timur) seluruhnya sebagai kota Muslim dengan mengevakuasi orang Yahudi dan Kristen (Yerusalem tua sejak dahulu telah dibagi menjadi empat 'kampung', yaitu kampung Kristen, kampung Muslim, termasuk Haram al-Sharif, kampung Armenia yang juga Kristen, dan kampung Yahudi). Hal yang lebih celaka dan memperuwet situasi adalah seluruh isu di atas juga menyerap energi sekalian bangsa di dunia, termasuk Indonesia. Indonesia yang berada 9000 km dari Israelpun ikut tersedot dalam pertikaian ini melalui demonstrasi-demonstrasi anti-Israel. Akar Persoalan Akar dari seluruh konflik ini adalah wilayah Israel modern (Ibr. Eretz Israel) atau tanah Palestina. Akar dari akar konflik itu adalah kota tua Yerusalem, yang adalah kota suci bagi tiga agama wahyu, Yudaisme, Kristen, dan Islam. Mengapa tanah Israel dan Yerusalem menjadi pusat pertengkaran politik dan agama? Nabi Zakaria di masa lampau sudah menubuatkan konflik yang terjadi atas Yerusalem, "Maka pada waktu itu Aku akan membuat Yerusalem menjadi batu untuk diangkat bagi segala bangsa. Siapa yang mengangkatnya pastilah mendapat luka parah. Segala bangsa di bumi akan berkumpul melawannya." (Zak. 12:3). Apakah dengan demikian apapun yang terjadi nubuat Alkitab pasti terjadi? Siapakah yang benar dan yang punya hak atas tanah dan kota itu? Bagaimana memecahkan masalah ini? Apa sih istimewanya tanah ini sehingga diperebutkan banyak orang? Saya mengajak kita semua melihat keseluruhan masalah ini dengan lebih jernih dan teliti. Sikap-sikap yang dangkal hanya akan merusak pengertian kita yang sebenarnya. Sangat mudah bagi kita untuk bersikap begitu saja anti-Israel dan pro-Palestina, sebagaimana yang ditunjukkan banyak orang di seluruh dunia saat ini, atau sebaliknya pro-Israel dan anti-Palestina. Apalagi jika sikap-sikap itu diwarnai dengan semangat keagamaan. Untuk bersikap semacam itu kita tidak perlu berpikir panjang dan mengerti duduk persoalannya dengan lebih mendalam. Kita harus sadar pula bahwa sikap dan perasaan kita pada era informasi ini amat dipengaruhi oleh media masa, sehingga sering kali kita telah membiarkan diri habis-habisan dimanipulasi olehnya. Tetapi jika kita sungguh-sungguh berusaha mengerti keruwetan persoalan ini, mungkin sikap kita akan jadi berbeda. Tulisan ini tentunya sama sekali tidak berani mengatakan bahwa pendapat saya ini yang paling benar. Sesuai dengan judul di atas, ini hanya sebuah pandangan (Kristen) dari sekian banyak pandangan yang lain. Para pembaca tidak harus setuju dengan pendapat saya ini. Sebagian dari kompleksitas masalah ini sudah dikemukakan di atas. Saya akan memulai telaah ini dengan menengok kembali sejarah atas tanah itu secara ringkas. Tanah yang aneh dan jadi rebutan ini luas keseluruhannya, berdasarkan luas wilayah kedaulatan negara Israel modern, hanya 21.920 km-persegi, atau seperlima luas pulau Jawa. Penduduknya 5,6 juta jiwa (di Israel), 1 juta di Jalur Gaza, dan 1.5 juta di Tepi Barat. Di Israel 80% penduduknya Yahudi, sedangkan di daerah pendudukan 90% Arab Palestina. (Ada perbedaan antara penduduk Arab Israel dan Arab Palestina. Yang pertama itu adalah orang Arab, termasuk Arab Palestina yang tinggal tetap di Israel ketika negara itu berdiri dan akhirnya menjadi warga negara Israel dan mendapat hak-hak kewarganegaraan seperti ikut pemilu dan mendapat jaminan sosial. Dan yang kedua adalah Arab Palestina yang tinggal di daerah pendudukan Tepi Barat dan Jalur Gaza. Dalam tulisan ini yang dimaksud dengan orang Palestina adalah Arab Palestina di daerah pendudukan). Namun demikian Alkitab mencatat tanah itu sebagai "... tanah yang permai di antara semua negeri" (Yeh. 20:6). Apanya yang permai? Sebelum sejarah Israel modern, tanah ini tidak lebih sebagai transit di antara negeri-negeri besar di dua benua Afrika dan Timur Tengah. Sejak dahulu kala, jalur sempit ini telah dipakai bagi bangsa Mesir untuk menyerang negeri Kanaan dan Mesopotamia, bangsa Mesopotamia menyerbu Mesir, bangsa Persia menjajah Mesir, bangsa Romawi memadamkan pemberontakan Mesir dst. Palestina tidak lebih sebagai lorong yang menghubungkan dua ruangan besar dan untuk menguasai salah satunya, orang harus menguasai lorongnya. Menurut riwayat dua belas pengintai yang ditugaskan Musa untuk memeriksa keadaan tanah itu pada saat Israel keluar dari Mesir, tanah Palestina ini "... berlimpah-limpah susu dan madunya." (Bil.13:27). Tetapi ketika Israel benar-benar mendudukinya, mereka harus berkerja keras dan beberapa kali mengalami kekeringan dan kesengsaraan. Demikian juga secara ekonomi, terutama sesudah orang Yahudi terusir dari tanah itu (tahun 70 dan 135), tanah ini tidak mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, sampai kembalinya orang Yahudi ke Palestina. Sebelum negeri ini disebut Palestina, ia dikenal dalam Alkitab dengan nama Kanaan. Nama Palestina berasal dari nama bangsa yang pernah mendiami sebagian tanah itu, yaitu bangsa Filistin, sebuah rumpun bangsa Eropa dari Pulau Kreta (Kaftor) di Laut Tengah di abad ke 12 (lih. Ul. 2:23, Yer. 47:4, Am. 9:7). Pemerintah Romawi (berkuasa di Palestina 62 SM-614 M, termasuk kekuasaan Romawi Bizantium) di kemudian hari menamai (sebagian) daerah jajahan Israel sebagai propinsi Yudaea dan kemudian menamainya Syria Palaistina. Demikianlah sejak saat itu Palestina menjadi nama yang banyak dikenal daripada nama Israel sendiri. Menengok Sejarah Sejak bangsa Israel terusir dari tanah ini pada tahun 70 dan 135 oleh bangsa Romawi, tanah ini telah berganti-ganti penguasanya. Secara ringkas pemerintahan di Palestina adalah : Romawi hingga abad ke 4 Bizantium (Kristen) abad ke 4 - 638 Kalifah-kalifah (Islam) 638 - 1100 Tentara Perang Salib (Kristen) 1100 - 1187 Muslim Mesir (Islam) 1187 - 1516 Turki Usmaniah (Islam) 1516 - 1917 Inggris 1917 - 1948 Israel modern 1948 - sekarang Tepi Barat dikuasai Israel 1967 Butuh waktu kurang lebih 1900 tahun bagi orang Yahudi untuk kembali kepada kedaulatan bangsanya. Persoalan Legitimasi Apa legitimasi Yahudi? Bagi orang Yahudi tanah Israel adalah tanah terjanji (mis. Kel. 13:5) dari Tuhan sejalan dengan pilihan mereka sebagai umat Allah. Janji itu berakar pada janji Tuhan pada Bapa Abraham (Kej. 12:1). Sehingga sekalipun bangsa ini pernah dibuang semasa pendudukan Babilonia tahun 586 SM, mereka tetap kembali lagi ke tanah itu tahun 538 SM (setelah 52 tahun atau 70 tahun menurut tradisi). Dan setelah dibuang sekali lagi tahun 70 dan 135, masih juga mereka kembali lagi menjadi bangsa tahun 1948 (setelah 1900 tahun). Dalam agama Yahudi tanah Israel disebut ha'Aretz (Tanah itu), sedangkan negeri di luar Israel disebut hutz la-Aretz (di luar Tanah itu). Ini jelas menunjukkan keunikan tanah ini bagi identitas kebangsaan Israel dan keagamaan karena janji Tuhan atas tanah itu. Pandangan ini tentu saja menjadi perdebatan hingga sekarang terutama bagi orang-orang non-Yahudi (dan sebagian orang Yahudi sendiri). Hukum-hukum Taurat tentang pertanian juga seringkali mengacu pada tanah ini sebagai tanah terjanji dari Allah (mis. Im. 19:23, 23:10, 25:2, Ul. 26:1). Pada tradisi Yudaisme yang lebih kemudian dikatakan demikian, "Telah diajarkan bahwa : Rabi Simeon ben Yohai (hidup satu abad sesudah Yesus) berkata, 'Sang Maha Kudus (maksudnya Tuhan), terpujilah Ia, mengaruniakan kepada Israel tiga pemberian yang sangat berharga dan kesemuanya itu diberikan melalui penderitaan, yaitu Taurat, tanah Israel, dan dunia yang akan datang ..." (Berakhot 5a). Bahkan ada sebagian Rabi Yahudi zaman dulu yang menganggap kebangkitan hanya bisa terjadi di tanah itu (B'reshith Rabbah 96:5). Dalam naskah kemerdekaan negara Israel modern yang dideklarasikan pada malam Sabat, 14 Mei 1948 (dalam tahun Ibrani, 5 Iyyar 5708), pembukaannya didahului dengan, "Eretz-Israel (tanah Israel) adalah tempat lahir bangsa Yahudi ... Setelah dipaksa meninggalkan tanah itu, bangsa ini tetap memelihara iman kepada tanah itu sepanjang masa penyerakan (Diaspora, Ing. Dispersion) dan tida dk pernah berhenti berdoa dan berharap akan kembalinya mereka ke tanah, demi mengembalikan kebebasan politik mereka." Juga pada lagu kebangsaan Israel, Ha-Tikvah (Pengharapan) disebut, "Untuk kembali ke tanah nenek moyang kita, ke kota tempat Raja Daud bersemayam." (ini adalah teks lagu asli yang diciptakan tahun 1878, jauh sebelum negara Israel berdiri. Teks modernnya telah diganti menjadi, "Untuk menjadi manusia bebas di tanah kita, negeri tempat Zion dan Yerusalem berada."). Jadi bagi mereka tanah Israel keseluruhan adalah terjanji dan pusat tanah terjanji itu adalah Yudea dan Samaria (Tepi Barat) di mana Yerusalem berada. Yerusalem sejak masa Raja Daud menjadi pusat pemerintahan dan keagaaman Israel (2Sam. 5:1-13, 24:18-25). Kota ini menjadi tempat berdirinya Bait Allah yang dipercaya sebagai lambang kehadiran Allah di Israel. Kota ini oleh nabi Yesaya disebut kota keadilan (Yes. 1:26) dan pemazmur menciptakan pujian khusus baginya (Maz. 122). Yerusalem sudah dipilih Tuhan sebagai tempat kedudukannya (Maz. 132:13-14). Sejak mereka terusir, di penghujung ibadah hari raya Paskah, mereka tidak lupa mengucapkan doa le-shana ha ba'a ve Yerushalahayim {tahun depan kita (merayakan Paskah) di Yerusalem}. Ungkapan liturgi doa ini di ucapkan terus menerus tiap tahun sepanjang berabad-abad di mana saja mereka berada, sebagai ungkapan kerinduan untuk kembali ke tanah dan kota Allah. Jadi legitimasi orang Yahudi adalah keyakinaneagamannya yang sungguh khas, suatu hal yang sukar dipahami oleh orang modern. Teman saya, seorang Muslim, pernah mengatakan bahwa orang Yahudi menang 'ngotot' dibanding orang Palestina. Mungkin saja, saya tidak tahu. Yang jelas orang Yahudi melalui keyakinan agamanya itu (lebih dari keyakinan politis) berhasil mewujudkan kembali impian ribuan tahunnya. Namun demikian terlepas dari argumentasi orang Yahudi soal tanah dan Yerusalem, menurut mereka berdasarkan sejarah belum pernah ada negara Palestina yang didirikan oleh orang Arab Palestina sendiri. Meskipun kekuasaan Islam berusia 1300 tahun di tanah itu, seluruh penguasanya sama sekali bukan orang setempat atau mewakili kepentingan setempat. Mereka adalah penguasa-penguasa dari Damaskus-Syria, Bagdad-Irak, Kairo-Mesir, dan Istanbul-Turki. Jadi sukar juga buat orang Palestina untuk mengklaim sebuah negara Palestina berdasarkan sejarah. (Seorang tokoh Palestina belum lama ini mengatakan legitimasi mereka adalah karena mereka keturunan orang Filistin yang diusir oleh bangsa Israel. Saya kira tokoh ini kurang memahami bahwa orang Filistin itu suku bangsa Eropa, bukan orang Semit atau Arab, yang bahkan sudah punah jauh sebelum zaman Yesus). Kedua, juga masih masalah sejarah, sejak Inggris melepaskan kekuasaannya di Timur Tengah pada tahun 1947, Perserikatan Bangsa-bangsa membagi Palestina menjadi tiga bagian. Daerah pantai, Galilea dan gurun Negev menjadi jatah orang Yahudi, Tepi Barat yang menjadi 'jatah' orang Palestina, berada di bawah kekuasaan Kerajaan Hashemit Yordania, dan Yerusalem Timur (termasuk kota tuanya) menjadi daerah internasional. Jadi ketika terjadi perang Enam Hari, secara politis dan militer Israel merebutnya Tepi Barat dari tangan Yordania dan Jalur Gaza dari Mesir dengan mengalahkan pasukan Liga Arab (gabungan pasukan Irak, Syria, Yordania, Mesir, Palestina dan negara-negara Arab lainnya). Argumentasi selanjutnya tentang klaim negara Palestina adalah pada kenyataan bahwa tidak ada gerakan pendirian negara Palestina sebelum tahun 1967. Aspirasi untuk mendirikan negara Palestina muncul setelah Israel menguasai Tepi Barat. Jadi ketika orang Palestina di bawah kekuasaan Yordania mereka sendiri tidak berniat mendirikan negara Palestina. Bagi orang Palestina, tentu saja bangsa yang sudah tidak pernah mendiami tanahnya selama hampir 2000 tahun tidak bisa disebut tuan rumah. Bangsa Palestina lahir dari tanah Palestina sehingga sungguh tidak adil mengusir mereka dari negeri nenek moyang mereka. Mereka menyerang anggapan organisasi Zionisme Internasional yang mengklaim tanah Palestina sebagai "tanah air tanpa bangsa untuk bangsa tanpa tanah air" (land without people for people without land). Penduduk Arab Palestina telah hidup sejak masa Kalifah-kalifah berdiam di tanah itu. Orang Palestina sudah sangat at home dengan tanahnya meskipun mereka sendiri dulunya kaum pendatang (dari jazirah Arab, Mesir, Turki, atau keturunan bangsa Eropa melalui tentara Perang Salib). Banyak sekali warga Palestina yang masih bisa menunjukkan garis keturunan keluarganya surut hingga delapan ratus tahun yang lalu. Jika sisipan penguasaan tentara Perang Salib ditiadakan, maka kekuasaan Islam di tanah itu sudah kurang lebih 1300 tahun. Wajar jika mereka menuntut tanah yang dikuasai Israel beserta Yerusalemnya. Bagi orang Muslim, kota Yerusalem adalah kota tersuci ketiga setelah Mekkah dan Medinah. Mereka menyebut kota ini Baitul Muqqadas (Rumah Suci) atau Al-Quds (kota Suci). Di sinilah Nabi Muhammad dipercaya mi'raj dalam peristiwa Isra' Mi'raj. Tradisi yang mendorong ketika Kalifah Abdul Al-Malik dari Kalifah Ummayah menduduki Yerusalem tahun 638, mendirikan tempat ziarah Qubbat as-Sakrah di atas reruntuhan Bait Suci Yahudi. (sejak dihancurkan oleh orang Romawi, bait ini dibiarkan menjadi reruntuhan, bahkan oleh penguasa Kristen Bizantium). Sikap Diskriminatif Israel Apakah Israel memang tidak memperhatikan nasib orang Palestina? Selain masalah legitimasi tanah dan status Yerusalem, sebenarnya ironis sekali bahwa kehidupan orang Palestina di Israel relatif lebih baik daripada di negara-negara Arab. Hanya di Israel saja orang Arab Palestina mempunyai wakilnya di parlemen Israel (Knesset). Orang Palestina memiliki perguruan tinggi juga hanya di Israel (Universitas Bethlehem, Universitas Bir-Zeit, Universitas Al-Najah, Institut Agama Islam Hebron, Sekolah Tinggi Teknik Abu Dis). Pemerintah Israel memberikan Suatu kondisi yang sama sekali tidak ditawarkan oleh bangsa Arab lain. Di negara-negara Arab (Libanon, Tunisia, Kuwait), kebanyakan orang Palestina hanya menjadi pekerja dan tinggal di kamp-kamp pengungsian. (Mengenai sikap mendua orang-orang Arab terhadap orang Palestian, beberapa minggu yang lalu Arafat menyerukan pada dunia Arab agar bertindak kepada Israel dan bukan sekedar omong saja). Namun demikian ada juga kenyataan yang lain di mana pemerintah Israel memang bersikap diskriminatif terhadap warga Palestina. Untuk wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza sebelum pendudukan, orang Palestina sebagian besar hidup dari tanah pertanian, namun setelah pendudukan sebagian besar dari mereka bekerja untuk kepentingan Israel, misalnya di bidang konstruksi. Jadi 90% ekonominya bergantung pada Israel. Demikian juga fasilitas-fasilitas umum seperti air dan listrik sepenuhnya dikontrol Israel. Pemerintah Israel sangat memperhatikan segi keamanan dan karenanya tidak sepenuhnya percaya kepada orang Palestina, terutama karena masih kuatnya kelompok garis keras. Akibatnya mereka sangat membatasi ruang gerak orang Palestina. Sejak jatuh ke dalam pendudukan Israel, Tepi Barat dan terutama Jalur Gaza secara ekonomi merosot drastis. Apalagi ditambah efek dari Perang Teluk, di mana Yasir Arafat membela Saddam Hussein yang mengakibatkan banyak pekerja Palestina di negara Arab dipecat sehingga menimbulkan pengangguran yang sangat tinggi (28%). Meskipun setelah perjanjian Olso 1993, Palestina diberi otonomi terbatas melalui Otoritas Palestina yang dipimpin Arafat, namun Otoritas ini sangat mengandalkan bantuan keuangan Israel dan luar negeri yang jumlahnya terbatas. Kondisi ini diperburuk dengan merajalelanya korupsi di kalangan Otoritas sendiri. (Sebenarnya PLO pimpinan Arafat sudah sejak dulu diduga mengkorupsi uang sumbangan negara-negara Arab). Pendeknya, kehidupan orang Palestina sangat sulit dan menyedihkan. Kehidupan sulit itu juga diperburuk dengan pertentangan internal di antara mereka antara kelompok moderat dan garis keras, dan antara Palestina Kristen dan Islam. Pertentangan Kristen dan Islam memang berada jauh dari permukaan sehingga luput dari perhatian kita. Orang Palestina Kristen mencakup 8% dari 1.5 juta orang di Tepi Barat dan 0.6% dari 1 juta orang di Jalur Gaza. Secara sosial-ekonomi mereka relatif lebih baik karena sejak dahulu sudah mempunyai sistem pendidikan, kesehatan yang baik hasil kerja misionaris (tidak selalu dari Barat), kebanyakan berprofesi pedagang dan pengrajin. (Istri Yasir Arafat, Suha, seorang Kristen, Master lulusan Sorbonne-Paris). Mereka juga adalah kelompok yang paling lunak di antara orang Palestina (memang dulu ada kelompok garis keras Front Rakyat Palestina yang dipimpin George Habash, seorang Kristen yang menjadi Marxis). Mereka tinggal di sekitar Bethelem, Beit Jalla, Beit Sahur dan Ramallah. Bahkan di Ramallah mereka mempunyai Liga Persahabatan Yahudi-Arab (didirikan sebelum perjanjian Oslo 1993) yang berusaha membangun perdamaian di antara Palestina-Yahudi. Orang Kristen ini sejak dulu secara sporadis menjadi sasaran kelompok fundamentalis Islam. Meskipun banyak dari antara mereka yang patriotik namun posisi mereka terjepit dalam konflik terakhir ini karena sikap lunak mereka (baca : memilih dialog dari pada kekerasan) seringkali dibaca sebagai sikap khianat terhadap perjuangan Palestina. (lih. laporan Newsweek 27 Nopember, tentang rumah-rumah orang Kristen di Beit Jala yang dijadikan tempat penembak gelap Palestina menembaki orang Israel, yang mengakibatkan mereka diserang balik oleh Israel). Dari kedua ekstrim yang sudah dipaparkan di atas, apakah tidak pernah terjadi jalan tengah? Sebenarnya sudah ada dan selalu ada. Upaya-upaya perdamaian sudah mulai terjadi terutama di era tahun 80an dan 90an. Ada banyak kelompok yang berusaha menjembatani dan mengatasi persoalan itu dengan cara berdialog, misalnya seperti kelompok Liga Persahabatan Yahudi-Arab di Ramallah, kelompok Peace Now di Israel, atau forum dialog agama Israel Inter-faith Association (IIA). Sebagian orang Palestina bahkan percaya bahwa persoalan mereka bisa diatasi melalui sebuah pemerintahan campuran yang demokratis. Di lapis yang lebih bawah, telah terjadi beberapa perkawinan campuran antara Yahudi-Arab dan Arab-Yahudi yang membentuk suatu 'perdamaian' yang khas. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~--> Buy Stock for $4 and no minimums. FREE Money 2002. http://us.click.yahoo.com/k6cvND/n97DAA/ySSFAA/TXWolB/TM ---------------------------------------------------------------------~-> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/ |
- RE: [RantauNet] informasi konflik tim-teng Titik
- RE: [RantauNet] informasi konflik tim-teng Marven
- RE: [RantauNet] informasi konflik tim-teng gantino
- [RantauNet] posting gadang Titik
- Re: [RantauNet] posting gadang abdurrahman rahim
- [RantauNet] posting gadang (tar... Muhammad Dafiq Saib
- RE: [RantauNet] posting gad... Dewis Natra
- Re: [RantauNet] posting gad... Hayatun Nismah Rumzy
- [RantauNet] Tata Tertib RN Hayatun Nismah Rumzy
- RE: [RantauNet] informasi konflik tim-teng Madahar
- [RantauNet] Kok Aku gak dipanggil-panggil (c... C Aswandi Asmar

