ANTARA IKHTIAR MANUSIA DAN TAKDIR ALLAH...
Assalamu'alaikum wr.wb. Menurut sebuah hadits yang "konon" menurut sebagian Ulama-Ulama kita berasal dari Rasulullah SAW ....bahwasanya ketika roh manusia pertama kalinya ditiupkan kedalam tubuh, setelah usia tiga bulan makhluk yang bernama manusia itu dalam kandungan ibunya, ketika itulah diputuskan oleh Allah nasib manusia itu dan apa yang akan dijalaninya kelak..... Berapa umurnya nanti.... bagaimana jodohnya.....rezekinya.... masuk surga atau nerakakah dia... semuanya telah ditentukan sejak manusia itu dari dalam kandungan, kemudian apa yang ditetapkan Allah terhadap manusia itu mengiringi manusia itu lahir didunia ini dan selanjutnya juga mengantarkan manusia itu meninggalkan dunia ini kemudian hari. Dengan demikian nasib manusia itu telah ditentukan oleh Allah sebelumnya, sehingga tidak ada kesempatan bagi manusia itu untuk merubah nasibnya dikemudian hari�. "Telah tersurat semenjak di rahim bunda demikian keadaannya, utang bagi kita menjalaninya �", ungkapan sering kita dengar, terutama dari mereka yang merasakan terpaksa menerima nasib yang tidak begitu beruntung didunia ini ...... Kita tidak mempunyai kebebasan sama sekali dalam menentukan pilihan kita. Inilah yang dikatakan sebagai taqdir yang tidak bisa diubah lagi... Bagaimana kita akan mengubahnya pada hal Allah telah menentapkan begitu...? Kewajiban kita adalah menjalani taqdir tersebut bukan mengubahnya. Kita harus mempercayai taqdir, mengimaninya ....qadhar baik dan qadhar buruk yang menimpa kita sesungguhnya telah ditetapkan oleh Allah sebelum Dia ciptakan kita..... Uraian dan ulasan tentang taqdir ini bisa diperpanjang lagi oleh mereka........�Sesungguhnya penetapan takdir itu tidak dapat diubah, dan manusia tidak bisa mengubahnya. Apa saja yang terjadi didunia itu telah terjadi dan akan terjadi sesuai perintah dan ketentuan "taqdir". Peristiwa apa saja yang menimpa seseorang, itu terjadi dengan tepat dalam rangkaian "taqdir". Kebaikan atau kejelekan kita itu tidak dapat melampaui batas-batas yang sudah ditetapkan oleh kekuasaan Tuhan. Perbuatan manusia dan segala gerak geriknya, pendek kata apa saja yang dikerjakannya, atau apa saja yang dia peroleh dan menimpa dirinya- segala-galanya itu telah diatur sebelumnya oleh penetapan Ilahi yang tidak dapat dirubah lagi"........ Demikianlah secara singkat pemikiran dan kata-kata yang sering kita lontarkan dan kita dengar dari kalangan ummat Islam untuk menjelaskan keadaan mereka sehubungan nasib mereka yang tidak begitu beruntung yang mereka rasakan.... Disebabkan nasib kita yang begitu buruk...dan kemalangan yang senantiasa merundung kita...tidak berdayanya kita melepaskan diri kita dari belenggu perbuatan yang buruk....kita kemudian mencoba menghibur diri kita dengan kepercayaan "taqdir" yang harus dipercayai bahwa semuanya itu telah dipilihkan Allah buat kita..... Sebenarnya pelarian kita dari kekecewaan nasib yang begini, kepada hiburan "predestination" itu adalah sebuah penindasan terhadap suara batin kita atas perbuatan-perbuatan yang keliru kita lakukan. Ini adalah hiburan dan permintaan maaf yang sangat mudah untuk menghindari pertanggung jawaban atas perbuatan kita yang salah dan untuk menyingkirkan pedihnya perasaan menyesal. Kita melemparkan kelalaian kita , kelengahaan kita, kemalasankita, kecerobohan kita atau semua kelemahan kita kepada doktrin taqdir tersebut ukan atas kesalahan kita sendiri. Dengan demikian kesempatan terakhir bagi kita untuk memperbaiki nasib itu juga hilang sama sekali..... Semua orang Islam mempercayai adanya taqdir Allah dalam kehidupan manusia dan makhluk semesta ini, tetapi amat disayangkan sekali kebanyakan kita umat Islam justeru telah keliru dalam memahami doktrin taqdir yang merupakan salah satu rukun iman yang dipercayai itu. Bahwa yang sifatnya "taqdir" itu meliputi semua aspek kehidupan manusia benar adanya. Sesungguhnya "taqdir" itu memang merupakan suatu kebenaran, yang tanpa itu agama Islam itu tidak dapat disebut sebagai agama yang benar. Bahkan tujuan agama Islam yang sebenarnya adalah untuk memperkenalkan manusia dengan "taqdir" dan menganjurkan manusia untuk mempercayai dan meyakininya. Jika pembinaan ummat manusia menjadi tujuan wahyu Ilahi, maka hal ini tidak dapat dicapai terkecuali dengan keyakinan terhadap "taqdir Ilahi", dan mengatur tingkah laku kita sebagai manusia menurut taqdir itu. Bagi orang Islam, sebagaimana disebutkan sebelumnya taqdir adalah salah satu Rukun Iman yang merupakan sendi dari bangunan Islam itu. Bahkan kelima Rukun Iman yang mendahuluinya, yaitu Iman kepada Allah, para Maalaikat, Kitab-Kitab Suci, Nabi-Nabi dan Hari Kiamat itu sebenarnya, dimaksudkan untuk memperkuat tuntutan "taqdir" itu. Apa sesungguhnya yang disebut ilmu pengetahuan, itu sebenarnya hanya nama lain saja dari "taqdir Ilahi" . Iman yang benar kepada doktrin "taqdir" adalah jalan satu-satunya meraih sukses dan keselamatan didunia ini.... Manusia itu pada kodratnya condong sekali untuk menghindari tanggung jawab dan sering juga melemparkan pertanggung jawaban kesalahan yang diperbuatnya dari pundaknya. Ia tidak suka menyalahkan dirinya sendiri atas keteledoran yang diperbuatnya, bahkan dosa yang telah dilakukannya sekalipun. Dua kelemahan manusia ini ditutupinya dengan menemukan kepuasan dalam doktrin taqdir. Ia benci dan tidak senang bila dikatakan berbuat salah, kendatipun ia melihatnya sendiri. Maka taqdir kemudian dijadikannya alasan untuk menentramkan perasaan bersalahnya. Alangkah sayangnya.... seandainya ia juga menyadari bahwa Allah juga memberikan dia nafsu yang bisa menyalahkan dirinya pribadi (yaitu "Nafsu lawwamah" ) sesungguhnya dapat dipergunakannya untuk membantunya dalam memperbaiki dirinya. Akan tetapi "taqdir" yang sebagaimana diangan-angankannya itu malah akan menyebabkan dia semakin terperosok dalam kesalahan yang berulang-ulang yang dia perbuat sekaligus juga membebaskan dia dari nikmat yang sebenarnya dapat diperolehnya bila tidak memahami "taqdir" yang berlatar belakang "predestination" itu. Dan taqdir itu tidak hanya sekedar instrument belaka yang berada dalam genggaman nasib yang telah ditentukan sebelumnya. Taqdir bukanlah sebagai surat izin bagi kita untuk bermalas-malasan. Bukankah dengan memahamakan taqdir seperti demikian sama saja dengan kita menjadi korban nafsu rendah yang tak terkendalikan (...yaitu nafsu ammarah) yang menjerumuskan kita kepada kejahatan lagi? Janganlah taqdir itu kita jadikan sebagai kambing hitam menutupi kegagalan kita dalam meraih kesuksesan dalam hidup ini. Bukankah Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang dan menurut sebuah Hadits kecintaan Tuhan terhadap maklukNya itu jauh lebih besar dari pada kecintaan Ibu terhadap anaknya ? Jika demikian keadaanya apakah mungkin dan masuk akal bahwa Tuhan yang cintanya sedemikian itu akan lebih suka terikat keputusan semacam itu? Apakah Tuhan tidak sempurna kesucianNya maka Dia menjadikan kita itu orang jahat dengan penentuan lebih dahulu? Bagaimana mungkin Tuhan itu memerintahkan manusia itu melakukan kejahatan? Bisakah seorang pemabuk, pelacur dan penjudi bisa tenteram berpikir demikian karena Tuhan memang telah menjadikannya begitu sejak semula? Kalau begitu keadaannya Tuhan itu adalah Pencipta kejahatan dan menjadikan manusia itu sebagai seorang penjahat dan pendosa...........Na'udzubillah minzalik.... Wassalamu'alaikum wr.wb. Adi N.S. RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ATAU Kirimkan email Ke/To: [EMAIL PROTECTED] Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama: -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda] -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda] Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung ===============================================

